Huo Li hidup sebagai murid pelayan kasta terendah di Sekte Pedang Mendalam. Diperlakukan bak sampah, dan hampir mati, ia kehilangan seluruh harapan hingga diselamatkan oleh seorang pria misterius.
Pria itu memberinya sebuah teknik kultivasi terlarang dan sebuah artefak yang mampu mengubah seluruh harta dunia menjadi sumber kekuatan. Sebagai gantinya, Huo Li menerima satu syarat yang mustahil: meruntuhkan langit.
Dengan dendam yang membara namun hati yang tetap terkendali, ia bersumpah akan bangkit dari dasar dunia kultivasi, membalaskan dendamnya dan meruntuhkan langit.
Bagaimanakah kisah Huo Li? Saksikan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 1 — Huo Li
...Ranah Kultivasi Umum...
***
Lembah Gunung Hijau, Sekte Pedang Mendalam.
Sore hari ini, matahari menggantung rendah di ufuk barat, menumpahkan warna merah darah yang pekat dan menyapu seluruh lembah Sekte Pedang Mendalam.
Angin gunung berembus kencang, membawa hawa dingin yang menggigit tulang, namun tak mampu mengusir rasa panas yang membakar pundak.
"Ukhhh... kuatkan dirimu Huo Li!" rintihnya pelan dengan napas tersengal kepada dirinya sendiri.
Kaki remaja berusia tujuh belas tahun itu gemetar menapaki jalan setapak lembah yang curam dan dipenuhi batuan tajam.
Di atas pundaknya yang kurus, sebongkah besar kayu gelondongan yang baru saja ia tebang dari hutan atas terpikul berat, menekan tubuhnya hingga nyaris membungkuk menyentuh tanah.
Huo Li mengenakan jubah abu-abu kusam yang kebesaran, seragam khas murid pelayan Sekte Pedang Mendalam.
Di balik peluh, debu, dan noda tanah, remaja itu memiliki raut wajah yang luar biasa tampan. Alisnya setajam pedang, hidungnya mancung, dan rambut hitam panjangnya diikat seadanya.
Namun, ketampanan itu tertutupi oleh kenyataan pahit. Di sekujur lengan, leher, dan pergelangan kaki yang mengintip dari balik jubah, memar biru keunguan dan luka gores baru tampak menghiasi kulitnya.
Srek.
Di pinggangnya, tersampir sebuah pedang tua bersarung usang. Itu adalah peninggalan mendiang ayahnya, harta satu-satunya yang ia jaga bagaikan nyawanya sendiri.
Nasib seolah tak pernah berpihak pada Huo Li. Setelah kedua orang tuanya tiada, ia sempat mengecap sedikit keberuntungan saat Nenek Hai, seorang Tetua sekte yang baik hati memungutnya. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Nenek Hai tewas mengenaskan dalam sebuah konflik berdarah saat Huo Li berusia tiga belas tahun.
Tanpa pelindung, ia langsung terperosok ke dasar jurang hierarki sekte, menjadi samsak, hidup yang bisa diinjak siapa saja.
Huo Li menyeka keringat yang merembes deras di dahinya menggunakan lengan jubah yang kasar. Matanya menatap penuh harap ke arah halaman belakang kediaman Tetua Bai di dasar lembah.
'Yah! Sedikit lagi...' batin Huo Li, memaksakan senyum tipis.
'Setelah aku menyelesaikan pembuatan kandang ayam spiritual ini, Tetua Bai berjanji akan mempromosikanku menjadi murid luar.'
Janji manis itulah satu-satunya bahan bakar yang menjaga kewarasannya. Di usianya yang sekarang, ia baru menyentuh Ranah Pembentukan Fondasi tahap akhir.
Tubuhnya telah melewati penempaan fisik dan pembukaan 9 meridian utama, namun ia belum mampu membentuk dantian. Energi spiritual yang susah payah ia kumpulkan hanya numpang lewat, terbuang sia-sia kembali ke udara.
Tanpa herbal spiritual atau pil esensi, menjadi kultivator sejati hanyalah angan-angan kosong bagi seorang pelayan miskin sepertinya.
Dalam kepolosan harapannya tentang masa depan, bahaya justru mengintai dari balik tikungan batu di depan.
BUAGHH!
"AGHGHHH!"
Sebuah tendangan keras dan tiba-tiba menghantam tulang rusuk Huo Li dari arah titik butanya.
Trak!
Trak!
Kekuatan hantaman itu membuat keseimbangannya hancur.
Kayu gelondongan di pundaknya terlepas, menggelinding dan hancur berantakan ke dasar jurang.
"Ukh..."
Huo Li terhuyung, napasnya tercekat seketika karena nyeri yang menusuk dada.
Belum sempat ia menyeimbangkan tubuh, embusan angin kencang menyambar pelipisnya. Mengandalkan insting bertarung yang terasah murni karena sering dipukuli, Huo Li menyilangkan kedua lengan untuk menangkis.
BUM!
"Ohhh, sekarang kau berani menangkis, ya? Dasar sampah!"
Suara melengking penuh ejekan itu merobek udara. Huo Li mendongak, menahan perih di lengannya. Di hadapannya berdiri Tuo Gu, murid luar bertubuh gempal yang dibalut pakaian mewah.
Di belakangnya, empat orang kaki tangan berdiri menyeringai, memblokir satu-satunya jalan menuju gerbang kediaman Tetua Bai.
"Ughh... Tuan Muda Tuo Gu..." Suara Huo Li terdengar getir dan memohon.
"Tolong, untuk hari ini saja, jangan ganggu aku. Ada hal penting yang harus aku selesaikan..."
"Memangnya kami peduli?" potong Tuo Gu dingin.
Tap.
Salah satu antek Tuo Gu melesat maju dengan kecepatan yang didorong energi spiritual. Tinjuannya mengarah tepat ke ulu hati Huo Li. Sadar dirinya kalah cepat, Huo Li mengeraskan otot perutnya, bersiap menerima rasa sakit.
Namun, itu hanyalah umpan.
Begitu fokus pertahanan Huo Li terpusat di perut, keempat pengikut Tuo Gu merangsek dari berbagai sisi. Tendangan dan pukulan mendarat bertubi-tubi tanpa ampun di punggung, wajah, dan kaki Huo Li.
BUAGHH!
BUAK!
"Ughhh!" Huo Li terjerembap ke atas tanah berbatu. Mulutnya memuntahkan seteguk darah segar yang menodai bebatuan.
Sambil meringkuk menahan organ dalamnya yang seolah remuk, ia mendongak dengan mata memerah. "Kenapa... kenapa kalian terus menyiksaku?!"
Tuo Gu melangkah maju, menatap Huo Li dengan tatapan jijik sebelum meludah ke tanah.
Cuih!
"Jaga wajahmu itu, sialan!" bentaknya, kilat cemburu memancar jelas dari matanya.
"Berani-beraninya pelayan sampah sepertimu menarik perhatian wanita-wanita di sekte ini. Wajahmu itu terlalu bagus untuk ukuran seonggok sampah! Kau tidak pantas hidup dengan wajah itu!"
Huo Li tertegun. Alasan dangkal dan konyol semacam itu yang membuatnya menderita selama ini? Padahal ia selalu menunduk dan menghindar setiap kali berpapasan dengan murid wanita.
Trang!
Krk...
Tuo Gu menginjak pedang usang peninggalan ayah Huo Li yang terlempar dari pinggangnya, mematahkannya menjadi dua bagian.
Melihat satu-satunya pusaka keluarganya hancur, kewarasan Huo Li terputus. Kemarahan yang bertahun-tahun terpendam meledak ruah.
"SIALAN KAU!"
Mengabaikan rusuknya yang mungkin sudah patah, Huo Li menerjang maju dengan sisa tenaga. Tangan kanannya melayangkan tinju putus asa yang membelah udara.
"Oh, si pelayan ini sudah berani menggigit?!" Tuo Gu mundur selangkah, matanya membelalak kaget bercampur murka.
"Tangkap dia! Ikat dan buat dia berharap dia tidak pernah dilahirkan!" perintah Tuo Gu kepada 4 pengikutnya.
"Hahaha! Baik, Kakak Gu!" teriak keempat pengikutnya serempak.
Jauh di atas tebing yang mengawasi lembah tersebut, berdiri seorang pria paruh baya berjubah putih bersih. Lambang pedang emas di dadanya menunjukkan otoritas mutlak.
Tetua Bai menatap datar ke bawah sana, menyaksikan dengan jelas bagaimana Huo Li dikeroyok, ditendang, dan diinjak-injak bagai binatang. Namun, tidak ada sedikit pun niat di matanya untuk menghentikan kekejaman itu.
Promosi menjadi murid luar? Itu hanyalah bualan kosong agar si pelayan yatim piatu mau bekerja keras membuat kandang ayam tanpa bayaran.
"Huh, perkelahian anak-anak," gumam Tetua Bai dingin.
"Jika kau bahkan tidak bisa bertahan dari hal sepele ini, kau memang tidak layak bernapas di sekte ini."
Ia membalikkan badan dan pergi, meninggalkan Huo Li sendirian di tangan para penyiksanya.
Beberapa saat kemudian, di ujung tebing yang menjorok langsung ke arah sungai pegunungan berarus deras, pemandangan berubah menjadi jauh lebih kejam.
Huo Li telah diikat kuat dengan tambang kasar, digantung terbalik dengan kepala menjuntai hanya beberapa jengkal dari tepi jurang. Mulutnya disumpal paksa dengan kain kotor.
"Uffff! Ufff!" Huo Li meronta, urat-urat di lehernya menonjol, tetapi ikatan itu terlalu kuat.
"Kikiki, lihat dia! Kau persis seperti babi guling yang siap dibakar!" ejek Wei Yu sambil menusuk-nusuk perut Huo Li dengan ranting.
Tuo Gu berjalan mendekat, menyeringai sadis melihat wajah Huo Li yang memerah pekat akibat aliran darah yang menumpuk di kepala.
"Buka celana kalian," perintah Tuo Gu santai.
"Dengan senang hati, Kakak Gu!" balas keemlat pengikutnya serempak.
Cuurrrr!
Tanpa belas kasihan, air seni yang pesing dan hangat disiramkan langsung ke wajah Huo Li. Cairan menjijikkan itu masuk ke mata, hidung, dan merembes ke kain penyumbat mulutnya.
‘BAJINGAAAAAN!’
Jeritan batin Huo Li menggelegar. Matanya melebar hingga pembuluh darahnya pecah, menatap mereka dengan kebencian absolut.
Trrkk... Trk...
Giginya bergemeretak hingga gusinya berdarah. Jika ia memiliki kekuatan, ia bersumpah akan mencabik-cabik daging dan meminum darah mereka detik ini juga!
Tawa kelima pemuda itu menggelegar, sangat menikmati kekuasaan mereka untuk menghancurkan martabat seseorang hingga tak tersisa.
Qiu Dong, salah satu antek bertubuh kekar, melangkah maju sambil memainkan belati.
"Kakak Tuo, biar aku yang menyelesaikannya."
Tuo Gu melambaikan tangan dengan bosan.
"Lakukan. Melihat wajahnya membuatku muak."
Qiu Dong menyeringai lebar. Dengan satu tebasan kilat, ia memotong tali tambang utama.
"Bersiaplah ke neraka... pelayan sampah!" ucap Qiu Dong terkekeh.
SRET!
Seketika, gravitasi menarik tubuh Huo Li ke bawah. Dengan kepala pusing yang luar biasa dan mata yang perih, pandangannya kabur. Hal terakhir yang terekam di matanya adalah siluet kelima bajingan itu yang berbalik pergi sambil tertawa lepas.
BYUUUUR!
Tubuh Huo Li menghantam air pegunungan sedingin es purba dengan sangat keras.
Dinginnya air langsung menusuk tulang, menyentak kesadarannya yang nyaris pudar. Dalam posisi terikat, ia terseret pusaran arus liar sungai berbatu.
Air es masuk paksa ke paru-parunya. Napasnya putus.
"Kuff!"
Di tengah kegelapan sungai, batas antara hidup dan mati menipis. Jiwa Huo Li menjerit menolak takdir ini.
'Sialan! Aku tidak mau mati seperti ini!'
'Aku tidak akan pernah memaafkan mereka!'
Saat kesadarannya perlahan tertelan kegelapan absolut sungai...
TRENGGG!
Sebuah resonansi aura yang teramat agung dan purba tiba-tiba membelah ruang di atas permukaan sungai.
Waktu membeku.
"...."
Derasnya arus air terhenti seketika, daun jatuh yang hendak menyentuh permukaan air tertahan saat itu juga.
Dari robekan dimensi itu, melangkah keluar seorang pria dengan pakaian kebesaran biru, merah, dan emas.
Sebuah selendang sutra pusaka melayang anggun di sekitar bahunya, dan di dahinya, sebuah mata ketiga berwarna biru jernih memancarkan otoritas mutlak atas alam semesta.
"Ketemu... Kaisar... dari... masa..." gumam pria itu santai.
Dengan satu jentikan jari, tubuh Huo Li yang tak sadarkan diri ditarik keluar dari pusaran air.
"Hmm..."
"Kita urus sisanya di tempat lain."
JRENGG!
Dalam kedipan mata, ruang melipat sendirinya.
Kedua sosok itu lenyap tanpa jejak, meninggalkan sungai yang kembali bergemuruh menabrak bebatuan, seolah keajaiban tadi tak pernah terjadi.