NovelToon NovelToon
PENYIHIR TANPA SIHIR

PENYIHIR TANPA SIHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Pelindung Tak Terlihat dan Tebasan Pamungkas

Pertarungan di dalam aula batu itu semakin kacau. Suhu udara melonjak ekstrem hingga membuat keringat yang mengalir di pelipis langsung menguap. Inferno Kong raksasa itu seolah tidak kehabisan energi; ia terus mengamuk, menghantamkan tinju lavanya ke tanah dan melontarkan gelombang panas yang mematikan.

"Tahan posisiiiii!" teriak Guntur, suaranya parau karena terlalu banyak menghirup asap.

Beberapa anggota kelompok Wild Boar mulai bertumbangan.

Energi sihir pertahanan mereka retak, meninggalkan luka bakar serius di sekujur tubuh. Di saat para penyihir itu melemah dan panik, Askara bergerak dengan efisien. Mengandalkan kekuatan fisik murninya yang sudah terlatih sejak kecil, ia berlari ke tengah medan pertempuran tanpa rasa takut. Satu per satu anggota yang terluka ia bopong di pundaknya, memindahkan mereka ke balik pilar-pilar batu besar yang cukup aman dari jangkauan area serangan monster.

Setelah memastikan anggota yang sekarat berada di tempat aman, Askara segera membalikkan badan. Matanya menyipit menembus kobaran api, kembali fokus ke pusat pertempuran.

Di sana, Jaka sedang dalam bahaya besar.

Kapak besarnya terlempar, dan ia terduduk lemas di lantai batu dengan luka bakar parah di kaki kirinya. Di depannya, Inferno Kong mengaum keras, mengangkat sebelah tangannya yang besar. Sebuah bola api raksasa yang pekat berkumpul di telapak tangan monster itu, siap dilemparkan untuk menghabisi nyawa Jaka.

"Sialan... bangkitlah, tubuh keparat!" kutuk Jaka, memukul kakinya sendiri yang tidak bisa digerakkan. Ia memejamkan mata, pasrah menghadapi ajal.

Wusss! Bola api raksasa itu melesat cepat menghantam udara.

Namun, sebelum maut itu menyentuh kulit Jaka, bayangan tubuh tegap Askara melesat di depannya. Askara dengan sengaja memposisikan dirinya sebagai perisai manusia, merentangkan kedua telapak tangannya ke depan untuk melindungi Jaka yang berada di belakangnya.

"Bocah bodoh! Apa yang kau lakukan?! Menyingkir!" teriak Jaka histeris saat membuka mata. Di matanya, Askara hanyalah seorang Nirmala yang sedang mengantarkan nyawa dengan konyol.

Syuuuuut—!

Jeritan Jaka terhenti seketika. Ruangan itu mendadak hening dari suara ledakan.

Bola api raksasa yang seharusnya meledakkan tubuh mereka berdua dan menghancurkan pilar batu di belakang mereka justru meliuk aneh di udara. Begitu menyentuh telapak tangan Askara, kobaran api masif itu berputar ke dalam, mengecil menjadi pusaran spiral, lalu tersedot habis tanpa sisa ke dalam dada Askara.

Tidak ada ledakan. Tidak ada luka bakar. Hanya ada pendaran merah redup yang sesaat melintas di pembuluh darah lengan Askara, sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya.

Jaka membelalakkan matanya hingga hampir melompat keluar. Mulutnya menganga lebar, menatap punggung Askara yang bahkan tidak sepeser pun bergetar akibat benturan sihir tadi.

"A-apa... ke mana bola api tadi? Apa yang baru saja kau lakukan?!" gumam Jaka bergetar, luar biasa heran melihat sihir mematikan itu lenyap begitu saja seperti ditelan hantu.

Askara tidak menjawab. Jauh di dalam dadanya, ia merasakan staminanya terkuras cukup banyak karena menyerap sihir tingkat tinggi ini, tetapi jiwanya terpuaskan.

Wadahnya kini terisi penuh oleh sihir api murni yang sangat padat dari Inferno Kong.

Inferno Kong ikut tertegun. Monster itu menatap tangannya sendiri, lalu menatap Askara dengan kebingungan insting binatangnya. Bagaimana bisa manusia kecil tanpa hawa sihir itu melenyapkan serangannya?

Kelengahan monster itu tidak disia-siakan oleh Guntur.

"Sekarang atau tidak sama sekali! Menerjanglah, Kerak

Bumi!"

Melihat perhatian monster itu teralih sepenuhnya pada Askara, Guntur mengumpulkan sisa-sisa seluruh energi sihir tanahnya ke bilah kapak besarnya. Batuan runcing dan tajam melapisi kapak tersebut hingga ukurannya membesar tiga kali lipat. Dengan satu lompatan tinggi yang ekstrem, Guntur mengayunkan serangan pamungkasnya dari atas langit-langit dungeon.

CRASH! BOOM!

Tebasan kapak raksasa Guntur menghantam tepat di leher Inferno Kong. Ledakan energi tanah yang masif meretakkan kulit lava monster tersebut. Makhluk raksasa itu melolong panjang untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya tubuh besarnya ambruk ke lantai batu, hancur menjadi serpihan batu bara dingin yang tak bernyawa.

Guntur jatuh terduduk di dekat bangkai monster, napasnya memburu hebat, tangannya gemetar karena kehabisan mana. Namun, alih-alih merayakan kemenangan mereka, tatapan mata Guntur langsung tertuju ke arah Askara dan Jaka di sudut ruangan.

Suasana di dalam aula dungeon itu mendadak menjadi sangat sunyi dan tegang. Rahasia tentang apa yang terjadi pada bola api tadi kini menggantung berat di udara, menunggu untuk dijawab.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!