NovelToon NovelToon
Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / CEO / Kontras Takdir / Pernikahan rahasia
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.

Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.

Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.

Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.

Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.

Mereka dibayar oleh suaminya.

Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.

Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.

Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:

tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 — LAPOR

BAB 13 — LAPOR

Ruang praktik Dr. Mira masih sama seperti terakhir kali aku datang.

Dinding warna krem. Rak buku yang terlalu rapi. Sebuah jam tanpa suara di atas lemari. Dua kursi yang sengaja tidak diletakkan saling berhadapan lurus agar pasien tidak merasa sedang diinterogasi.

Dulu aku menyukai ruangan itu karena tidak ada benda yang terasa mengancam.

Pagi ini, bahkan kotak tisu di meja terlihat seperti bagian dari persiapan seseorang yang sudah tahu kapan aku akan menangis.

Damar duduk di kursi dekat pintu. Ia tidak membawa kopi kali ini. Sebelum kami masuk, ia sudah meminta persetujuan tertulis agar percakapan boleh direkam dan digunakan dalam penyelidikan hukum.

Dr. Mira membaca surat tersebut sampai selesai.

“Saya akan menjawab bagian yang menjadi hak Nadira,” katanya. “Untuk dokumen medis lengkap, kita perlu mengikuti prosedur.”

“Aku bukan meminta catatan terapi,” kataku. “Aku ingin tahu apa yang Ibu berikan kepada Rendra.”

Mira meletakkan formulir di atas meja.

Usianya awal empat puluhan. Rambutnya dipotong pendek dan tidak pernah dibiarkan menyentuh wajah. Selama dua tahun terapi, aku jarang melihatnya menunjukkan keterkejutan. Bahkan sekarang, setelah mengetahui namanya tercantum dalam buku pembayaran suamiku, ekspresinya tetap tenang.

Hanya kedua tangannya yang bertumpuk terlalu rapat di atas pangkuan.

“Sebelum menjawab, saya harus mengatakan bahwa saya melakukan pelanggaran batas profesional,” katanya. “Tidak seluruhnya seperti yang mungkin Anda bayangkan, tetapi tetap pelanggaran.”

“Berapa banyak sesi yang Ibu laporkan?”

Mira menahan pandanganku.

“Tidak ada isi sesi lengkap. Tujuh peringatan tertulis selama empat tahun.”

Angkanya lebih sedikit daripada laporan Tara. Tetap saja, rasanya sama buruknya.

“Peringatan tentang apa?”

Mira menarik satu map dari laci.

“Saya menyiapkan salinan untuk Anda dan pengacara Anda.”

Damar memeriksa isinya sebelum menyerahkannya kepadaku.

Laporan pertama dibuat tiga bulan setelah aku mulai terapi. Hanya satu halaman. Tidak ada kutipan percakapan. Di bagian atas tertulis:

Risiko isolasi berkepanjangan setelah tanggal peringatan kematian keluarga. Disarankan ada orang tepercaya yang dapat dihubungi.

Laporan kedua menyebut pola tidur buruk dan serangan panik. Laporan ketiga menyebut aku menghentikan obat lambung karena merasa tidak membutuhkan bantuan siapa pun.

Tidak ada isi tentang rasa bersalahku kepada Ibu.

Tidak ada pengakuan tentang ketakutanku menjadi istri yang kehilangan dirinya.

Setidaknya, tidak di atas kertas.

“Laporan ini dikirim kepada siapa?” tanyaku.

Mira menjelaskan bahwa Yayasan Jembatan Keluarga—sponsor seminar kami—membayar sebagian terapi dan, setelah aku menikah, menempatkan Rendra sebagai kontak darurat untuk menerima peringatan berisiko tinggi.

Ia membuka lembar persetujuan lama. Tanda tanganku hanya mengizinkan informasi terbatas bila aku berisiko menyakiti diri atau berada dalam ancaman langsung.

“Aku tidak pernah berniat menyakiti diri sendiri. Mengapa dia tetap menerima laporan serangan panik dan pola tidur?”

“Yayasan memperluas definisi risiko. Pada awalnya saya mengira itu perlindungan dari ancaman eksternal.”

“Ibu sudah tahu pada tahun kedua pernikahanku bahwa Rendra memakainya untuk mengawasi. Laporan terakhir tetap dibuat delapan bulan lalu.”

Mira menerima kalimat itu tanpa bergerak.

Aku melihat lembar persetujuan yang pernah kutandatangani. Baris tentang keadaan darurat masih sama; yang berubah adalah cara orang-orang di luar ruangan itu memperluas artinya. Satu tanda tangan yang kuberikan untuk mencegah bahaya telah dipakai sebagai pintu bagi kecemasan, pola tidur, dan serangan panik yang tidak pernah kuizinkan menjadi laporan keluarga.

Damar menyela.

“Apakah ada pembayaran pribadi dari Rendra Kalyana?”

“Tidak pernah masuk ke rekening saya. Klinik menerima dana program dari yayasan.”

“Apakah dana tersebut bergantung pada laporan mengenai Nadira?”

“Pada dua tahun pertama, tidak. Setelah itu, pembaruan kontrak mencantumkan kewajiban evaluasi risiko.”

“Siapa yang menandatangani dari pihak yayasan?”

Mira membuka halaman terakhir.

Tanda tangan pejabat yayasan tidak kukenal. Nama yang dicetak di bawahnya adalah perusahaan pengelola, bukan seseorang.

Damar memotretnya.

Aku kembali melihat laporan.

“Tara bilang Ibu memberikan informasi ketika aku ingin pergi.”

Mira berhenti sejenak.

“Itu kejadian yang paling saya sesali.”

“Kejadian mana?”

“Tiga tahun lalu, Anda menerima sebuah amplop tanpa pengirim di kantor lama.”

Ingatan itu kembali dalam potongan kecil.

Amplop putih. Tidak ada tulisan selain namaku. Di dalamnya hanya ada foto mobil Ayah setelah kecelakaan dan satu potongan halaman laporan audit.

Aku tidak pernah memberi tahu polisi karena Rendra mengatakan gambar tersebut mungkin hanya usaha pemerasan. Aku juga tidak memberi tahu Tara.

Aku menceritakannya kepada Mira.

“Aku berencana pergi ke Yogyakarta untuk menemui mantan rekan Ayah. Ibu tahu nama dan lokasinya karena kusebut dalam sesi, lalu memberikannya kepada Rendra.”

“Saya mengatakan Anda akan menemui seseorang yang mungkin terkait ancaman. Saya percaya ia akan mengatur perlindungan, bukan membatalkan perjalanan.”

Tiketku kemudian tidak dapat digunakan. Rendra datang, membawaku pulang, dan dua hari setelahnya mengatakan orang yang hendak kutemui sudah pindah ke luar negeri. Aku memercayainya.

“Apakah ancamannya nyata?” tanyaku.

Mira menatapku.

“Saya percaya begitu, tetapi saya tidak tahu.”

“Setelah perjalanan dibatalkan?”

“Saya meminta penjelasan. Dia mengatakan risikonya terlalu tinggi, dan kami berdebat.”

Aku menatapnya. Aku tidak mengira akan mendengar bagian itu. Perlawanan Mira tidak menghapus bahwa ia lebih dahulu menyerahkan rencanaku, tetapi setidaknya aku tahu ia sempat melawan. Itu membuat semuanya terasa lebih rumit. Dan lebih buruk. Seseorang bisa tahu batas yang benar, menentang pelanggaran setelahnya, lalu tetap diam kepada orang yang paling dirugikan selama bertahun-tahun.

Mira membuka laci lain dan mengeluarkan cetakan surel. Di dalamnya ada percakapan antara dirinya dan Rendra.

Informasi yang saya berikan tidak dapat digunakan untuk membatalkan keputusan pasien.

Balasan Rendra:

Keputusan yang dibuat tanpa memahami bahaya bukan keputusan bebas.

Mira menjawab:

Maka jelaskan bahayanya. Jangan mengambil pilihannya.

Tidak ada balasan setelah itu.

Untuk sesaat, aku melihat Rendra bukan sebagai pusat seluruh jaringan, melainkan salah satu orang yang berusaha mengambil alih sesuatu yang sudah ada. Ia tetap bersalah. Hanya saja, tidak semua orang menuruti perintahnya tanpa perlawanan.

“Kenapa Ibu tidak memberitahuku?”

“Saya takut kehilangan izin program dan membuat terapi Anda berhenti.”

“Jadi Ibu mempertahankan tempat aman dengan menyembunyikan bahwa tempat itu tidak sepenuhnya aman.”

“Iya.”

Jawaban itu singkat. Aku lebih mudah menerimanya daripada alasan panjang, meski tetap tidak lebih mudah dimaafkan.

Aku mengakhiri hubungan profesional kami dan meminta laporan tertulis tentang setiap informasi yang pernah diberikan, kepada siapa, serta dasar yang dipakai. Mira sempat menawarkan rujukan psikolog independen.

“Jangan pilihkan,” kataku.

Ia menutup map rujukan.

“Benar. Maaf. Laporan akan saya kirim hanya kepada Anda dan Damar.”

Damar menanyakan beberapa hal tambahan mengenai kontrak, metode penyimpanan, dan staf yang memiliki akses ke catatan. Mira menjawab satu per satu.

Sebelum kami pergi, aku berhenti di dekat pintu.

“Tadi Ibu bilang tidak pernah mengirim isi sesi lengkap. Rendra pernah memintanya?”

Ketenangan di wajah Mira akhirnya retak.

“Tiga kali—sekali langsung, dua kali melalui stafnya. Saya menolak semuanya.”

Aku mengangguk, tetapi ia belum selesai.

“Tiga bulan setelah penolakan terakhir,” lanjutnya, “Rendra datang membawa ringkasan mengenai keadaan mental Anda. Isinya lebih rinci daripada laporan risiko yang pernah saya kirim.”

Aku berbalik penuh.

“Dari mana dia mendapatkannya? Apakah isinya berasal dari sesi kita?”

“Saya tidak tahu. Sebagian informasi hanya pernah Anda sampaikan di ruangan ini.”

Damar berdiri.

“Siapa saja yang memiliki akses?”

“Saya, satu administrator klinik, dan auditor program dari yayasan.”

Ketika diminta menyebut nama auditor, Mira ragu.

“Dokter,” kataku, “aku sudah selesai menerima perlindungan dalam bentuk kebohongan.”

Ia membuka folder kontrak dan menunjuk satu tanda tangan penerimaan data.

Nama penerimanya ditutup kode jabatan. Tidak ada identitas pribadi.

Pada kolom organisasi tertulis jelas:

Kalyana Family Welfare Foundation.

Mira menatapku dengan wajah pucat.

“Rendra meminta akses penuh dan saya menolaknya,” katanya. “Tapi seseorang yang lain menerima salinan ringkasan itu.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!