Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.
Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.
Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.
Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?
Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.
Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.
“Kau... masih hidup?”
Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Bantuan Dari Dito
Namun Retha tidak buta. Gadis itu mulai mencatat setiap interaksi. Cara Alena tertawa pada lelucon Arka, cara dia membiarkan Arka berdiri terlalu dekat, cara matanya selalu kembali pada artefak bulan sabit seolah ada tujuan lain. Retha semakin yakin, Alena bukan sekadar rekan riset. Ada niat tersembunyi.
Suatu sore, saat Alena sudah pulang lebih dulu, Retha akhirnya menemui Arka di ruang arsip.
“Kita perlu bicara,” kata Retha tanpa basa-basi.
Arka yang sedang memeriksa catatan lapangan mengangkat wajah. “Ada apa?”
Retha menutup pintu, lalu berdiri di depan mejanya. “Alena itu tidak tulus. Dia mendekatimu dengan tujuan lain.”
Arka mengerutkan dahi. “Maksudmu?”
“Aku sudah perhatikan sejak hari pertama. Dia terlalu fokus pada artefak itu. Bukan pada penelitian… tapi pada bagaimana caranya mendekati benda itu lebih dekat. Dan dia memakai kau untuk itu.” Retha menatapnya serius. “Dia sedang memanfaatkanmu, Arka. Sadarlah kau itu cuma dijadikan batu loncatannya.”
Arka terdiam beberapa detik, lalu tersenyum kecil, seolah mendengar lelucon. “Retha, kau berlebihan. Alena memang tertarik pada artefak. Itu wajar. Dia dari perusahaan yang butuh referensi motif kuno.”
“Bukan hanya tertarik,” desak Retha. “Aku melihat caranya menatap benda itu. Seperti seseorang yang sedang mencari kunci, bukan data. Dan tiba-tiba dia mau menerima ajakanmu berkali-kali? Padahal di pertemuan pertama dia jelas menjaga jarak.”
Arka menghela napas, menutup folder di depannya. “Aku tahu kau tidak suka dia datang ke lab. Tapi jangan sampai perasaanmu membuatmu menuduh orang tanpa bukti.”
Retha memerah. “Ini bukan soal perasaan. Aku bilang karena aku peduli pada pekerjaan kita… dan padamu. Kalau artefak itu sampai hilang atau rusak karena ulah orang luar, tanggung jawabnya ada di tanganmu.”
Arka berdiri, menatap Retha dengan tenang tapi tegas. “Aku menghargai peringatanmu. Tapi aku tidak percaya Alena punya niat buruk. Dia hanya… berbeda. Dan aku ingin mengenalnya lebih jauh.”
Retha mengatupkan bibir, kecewa. “Jadi kau memilih percaya padanya daripada padaku?”
“Aku memilih untuk tidak langsung menuduh,” jawab Arka. “Kalau kau punya bukti konkret, tunjukkan. Kalau hanya dugaan… jangan buat suasana lab menjadi tidak nyaman.”
Retha terdiam. Dia menatap Arka lama, lalu akhirnya menggeleng pelan. “Baik. Terserah kau. Tapi jangan bilang aku tidak pernah memperingatkan.”
Dia berbalik dan keluar dari ruang arsip, meninggalkan Arka sendirian.
Arka menyandarkan tubuh ke meja, mengusap wajahnya. Kata-kata Retha sempat membuatnya berpikir. Tapi setiap kali dia mengingat cara Alena mendengarkan penjelasannya, cara gadis itu tersenyum tipis, dan tatapan matanya yang dalam… dia lebih memilih percaya pada perasaannya sendiri.
“Dia tidak seperti itu,” gumam Arka pelan.
Sementara itu, di rumah Raka, Alena duduk di ruang kerja, menatap kalung dan foto-foto artefak di ponsel. Dia tidak tahu bahwa Retha sudah mulai mencurigainya dan bahkan sudah berbicara pada Arka. Yang dia tahu, waktunya semakin mepet. Dan dia harus segera mendapatkan artefak itu… sebelum semuanya terlambat.
Beberapa hari kemudian, Alena dipanggil ke ruang Dito. Pria paruh baya itu duduk di belakang meja dengan wajah tenang seperti biasa. Di atas mejanya tergeletak sebuah kotak beludru gelap yang tidak asing.
“Duduk,” kata Dito singkat.
Alena menurut. Dito mendorong kotak itu ke arahnya. “Buka.”
Dengan tangan sedikit gemetar, Alena membuka tutupnya. Di dalam, artefak cincin permata kusam dari museum tergeletak di atas kain hitam. Kilau permata merahnya terlihat lebih jelas di bawah lampu ruangan.
Alena membelalak. “Ini… bagaimana…?”
“Saya mendapatkannya dengan harga yang… fantastis,” jawab Dito datar. “Prosesnya tidak mudah, tapi berhasil. Anggap saja ini hadiah dari Pak Raka. Beliau sempat berpesan sebelum pergi, jika ada sesuatu yang kau butuhkan terkait barang lama, saya harus membantu.”
Alena menatap kotak itu, lalu menatap Dito. Jantungnya berdegup kencang. “Pak Dito… terima kasih.”
Dito mengangguk pelan. “Simpan baik-baik. Dan jangan ceritakan pada siapa pun bagaimana cara kita mendapatkannya. Termasuk pada Arka.”
Alena mengangguk. Dia menutup kotak, lalu memeluknya di pangkuan. Akhirnya… benda itu ada di tangannya.
Sejak hari itu, Alena berhenti datang ke museum. Pesan-pesan Arka yang menanyakan jadwal lab berikutnya dia balas singkat, lalu semakin jarang direspons. Panggilan masuk dibiarkan tidak terjawab. Dalam hitungan hari, komunikasi mereka hampir putus sepenuhnya.
Arka tentu menyadari. Awalnya dia mencoba bersabar. Lalu menjadi gelisah. Hingga akhirnya, rasa frustasi mengalahkan. Suatu sore, saat jam pulang kerja hampir tiba, Arka nekat datang ke gedung kantor Alena. Dia berdiri di depan lobi, menunggu.
Alena melihatnya dari balik kaca saat hendak keluar bersama Mira. Wajahnya langsung tegang. “Mira,” bisiknya cepat, “tolong bantu aku. Pria itu… Arka. Aku tidak ingin bertemu dengannya sekarang. Bisa kau minta dia pergi?”
Mira mengerutkan dahi, lalu melihat ke arah lobi. “Arka? Kenapa dia ke sini?”
“Panjang ceritanya. Tolong.”
Mira menghela napas, lalu maju lebih dulu. “Arka? Kau di sini apa?”
Arka menoleh, wajahnya serius. “Aku ingin ketemu Alena. Dia tiba-tiba menghilang. Tidak membalas pesan, tidak angkat telepon. Aku hanya ingin bicara.”
“Dia sedang sibuk,” kata Mira tegas. “Pulang saja. Kalau ada urusan, hubungi lewat pesan.”
Arka menggeleng. “Tidak. Aku sudah cukup menunggu. Aku tahu dia di dalam. Aku tidak akan pergi sebelum bertemu dengannya.”
Mira menatapnya kesal. “Arka, jangan keras kepala. Ini kantor. Kau tidak bisa memaksa.”
“Aku tidak memaksa,” jawab Arka, suaranya rendah tapi keras kepala. “Aku hanya ingin penjelasan. Setelah sedekat itu, tiba-tiba dia menghilang. Aku berhak tahu kenapa.”
Dari balik pilar, Alena mendengar semuanya. Dia menggigit bibir. Arka ternyata jauh lebih keras kepala dari yang dia duga—bahkan lebih sulit ditangani daripada Raka saat pria itu memaksakan kehendaknya.
Mira mencoba sekali lagi. “Pergi, Arka. Jangan buat masalah di sini.”
Arka tetap berdiri di tempat, menatap pintu lobi tanpa bergeming. “Katakan pada Alena… aku akan tetap di sini sampai dia keluar.”
Mira kembali ke arah Alena dengan wajah pucat. “Dia tidak mau pergi. Lebih keras kepala dari yang kukira. Bahkan lebih parah dari Pak Raka.”
Alena menghela napas panjang, memegang kotak artefak di dalam tasnya erat-erat. Dia tahu dia tidak bisa bersembunyi selamanya. Tapi untuk saat ini… dia belum siap menghadapi Arka.
Dari dalam lobi, Dito yang baru saja turun dari lift langsung melihat kerumunan kecil di depan. Mira berdiri tegang, Alena bersembunyi di balik pilar, dan Arka masih bertahan di tempat dengan wajah keras kepala. Dito hanya butuh beberapa detik untuk memahami situasi. Tanpa banyak bicara, dia melangkah keluar dan menghampiri Arka.
“Kau Arka, ya?” tanyanya datar.
Arka menoleh, sedikit terkejut. “Iya. Ada apa?”