NovelToon NovelToon
The Last Survivors

The Last Survivors

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:122
Nilai: 5
Nama Author: Pineapple banana

Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Api membumbung tinggi di depan gedung sekolah, menerangi langit malam yang gelap dengan cahaya merah menyala. Asap tebal mengepul ke udara, menyembunyikan bintang. Pagar, gerbang, hingga sebagian dinding depan gedung hancur lebur akibat ledakan dahsyat tadi. Melalui celah-celah yang terbuka, kawanan zombie mulai berdatangan masuk, berjalan tertatih ke dalam ruangan-ruangan, seolah mencari sesuatu yang tak mereka ketahui.

Tak hanya mereka. Di antara bayang-bayang asap, sosok-sosok manusia juga menyusup masuk — orang-orang yang memimpin gerakan itu.

"Mereka tidak ada di sini..." bisik salah seorang sambil memeriksa ruangan yang kosong. Temannya hanya mengangguk tegang.

"Cari ke tempat lain," perintah pemimpin itu pelan. Mereka pun bergerak menyusuri lorong, memeriksa setiap sudut, mencari jejak kelompok Danu.

Sementara itu, jauh di bawah tanah, kelompok Danu bergerak pelan menyusuri jalan tikus yang telah mereka siapkan — bekas saluran pembuangan tua yang kering dan sempit. Tidak ada suara, tak ada yang berbicara. Hanya suara langkah kaki yang teratur, bergema di dinding batu, saat mereka berjalan beriringan mencari jalan keluar.

Di barisan depan, Rafli tiba-tiba mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti.

"Kalian dengar itu?" tanyanya berbisik.

"Apa?" jawab Jodie pelan.

"Suara mengalir... air. Aku naik duluan untuk memastikan keamanan tempat itu," ucap Rafli. Ia menginjak bahu Jodie, lalu perlahan memanjat keluar melalui lubang yang mengarah ke permukaan.

Di atas, Rafli memeriksa sekeliling dengan hati-hati. Tempat itu sepi, aman. Ia kembali menurunkan kepala ke lubang. "Naiklah, di sini, aman."

Mereka pun naik bergantian — Nenek dan Kakek didahulukan, lalu Mega, Sheena, Wenda, Natalia, Andri, Dokter Rizal, Toni, Amar, Zacky, dan Dimas.

Di bawah, Danu masih terdiam duduk di sudut lorong, tatapannya kosong. Hendrik mendekat, menepuk bahunya pelan. "Danu... kita harus terus bergerak. Bahaya masih di depan mata kita,.Jika masih diam di sini, kita tak akan selamat."

Danu menoleh perlahan, menatap mata Hendrik yang penuh pengertian. Ia mengangguk pelan, lalu mulai memanjat dibantu tangan Jodie yang menjulur dari atas. Hendrik menyusul di belakang, lalu Jodie menarik diri dengan bantuan seutas tali yang ditemukan Rafli saat memeriksa daerah itu.

"Kau berat sekali, kawan..." keluh Rafli sambil menahan beban saat mereka sampai di atas.

Hendrik tertawa kecil, meski matanya masih sayu. "aku rasa dia selalu memakan MBG sebelum kiamat datang?"

"Aku selalu makan sisa MBG dan kau itu enak sekali" sahut Jodie sambil tersenyum getir, sudah berdiri di tanah yang aman. "Sayang sekali... dunia yang indah ini hancur begitu saja."

Ketiganya segera bergabung dengan teman-teman yang lain, di tempat yang tersembunyi di balik rimbunnya semak belukar, jauh dari gedung yang kini terbakar. Napas mereka masih memburu, namun setidaknya untuk saat ini — mereka semua masih bernapas.

Mereka duduk berkelompok di tepian sungai yang airnya jernih mengalir tenang. Beberapa orang mendekat ke air, membasuh wajah yang kotor dan lelah, lalu kembali duduk melingkar di sekitar api unggun yang dinyalakan Rafli. Di tengah kegelapan malam yang masih mencekam, cahaya api itu terasa begitu hangat, seperti satu-satunya tempat yang aman di dunia ini.

Hendrik sibuk menaburkan bumbu yang ia bawa dari tasnya, mengoleskannya pada ikan segar yang ditangkap Rafli tadi.

"Di dunia yang sudah berakhir begini, kau masih bisa meracik bumbu, meski tak lengkap," ucap Rafli sambil tersenyum tipis.

Hendrik tertawa pelan, tangannya bergerak lincah. "Aku selalu membawanya ke mana pun aku pergi, sejak dulu — saat mendaki, saat bepergian... sebelum semua ini terjadi."

"Kau koki?" tebak Rafli.

Hendrik menggeleng pelan, lalu menatap nyala api. "Bukan. Aku seorang profesor. Ahli kedokteran yang dulu bekerja di pabrik yang kini menjadi sumber malapetaka ini."

Suasana seketika hening. Rafli terdiam, menatapnya tak percaya. Hendrik meletakkan ikan di atas bara api, lalu duduk di samping Danu, mulai bercerita dengan suara rendah namun tegas.

"Nama ku Hendrik Setiawan. Dulu aku bekerja di Farmasi Darma — saat itu tempat itu masih sah dan legal. Namun lambat laun arah pengelolaannya berubah. Kegiatan yang mereka lakukan di sana mulai menyimpang, melanggar aturan. Aku meminta mereka berhenti memproduksi obat-obatan yang berbahaya dan belum lulus uji. Tapi tak ada satu pun yang mau mendengar. Aku pun mencari teman kepercayaanku, Arga, untuk menyelidiki apa sebenarnya yang mereka sembunyikan di balik dinding gedung itu. Sayangnya... semuanya hancur berantakan. Arga tak sengaja menumpahkan zat berbahaya, terjadilah kebakaran besar itu."

"Jadi... kau adalah profesor di sana?" tanya Jodie pelan.

"Benar. Dan aku masih berusaha mencari tahu apa yang mereka ciptakan — sesuatu yang begitu dahsyat hingga mengubah manusia menjadi makhluk itu, menyebar ke seluruh kota, dan hampir menelan dunia."

"Tapi yang kudengar, mereka hanya membuat obat tidur untuk penderita insomnia..." timpal Dokter Rizal.

"Itu hanya kedok," jawab Hendrik tegas. "Obat itu sebenarnya adalah senjata rahasia yang dikembangkan atas perintah pihak berwenang — untuk menguasai dan menaklukkan musuh. Sayangnya, semuanya lepas kendali. Kebakaran-kebakaran yang terjadi di beberapa kota saat itu? Itu sengaja diatur untuk menutupi jejak dan kesalahan mereka."

Natalia yang sedari tadi mendengarkan, tiba-tiba bertanya dengan suara bergetar. "Kantor Darma... tempat aku bekerja... apakah ada hubungannya dengan Farmasi Darma?"

Hendrik mengangguk pelan. "Ada."

Natalia menutup mulutnya, matanya membelalak. "Ya Tuhan... selama ini aku..."

"Jangan menyalahkan dirimu," potong Hendrik lembut namun tegas. "Kita semua tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu tertutup itu. Sekarang, tak ada gunanya menyesali masa lalu. Yang bisa kita lakukan hanyalah bertahan hidup — dan mencari cara untuk menghentikan wabah ini."

"Kau benar," sahut Dimas pelan.

Hendrik lalu mengangkat ikan yang sudah matang, membaginya kepada semua orang. "Baiklah, mari makan. Setelah itu kita istirahat, besok masih panjang perjalanan kita."

Ia lalu berjalan mendekati Danu yang duduk termenung sendirian, menyerahkan ikan bakar itu kepadanya.

"Aku tahu betapa berat perasaanmu, Danu. Aku tak lama mengenal Aldo, tapi aku sudah tahu siapa dirinya. Dia luar biasa... sangat berani. Dia mengorbankan nyawanya agar kita bisa selamat."

Danu menerima ikan itu dengan tangan gemetar, menunduk menahan tangis. "Terima kasih... bagiku Aldo itu seperti adik sendiri. Kami bertemu saat wabah ini baru dimulai. Dia menyelamatkanku saat aku hampir digigit... dia perwira yang tegas, baik hati, dan tak pernah ragu menolong siapa pun."

Hendrik hanya mendengarkan dalam diam, membiarkan Danu bercerita tentang kebaikan sahabatnya yang kini telah tiada. Di sana, di bawah langit yang masih berasap, mereka makan dalam kesunyian — merayakan nyawa yang tersisa, dan mengenang nyawa yang telah dikorbankan demi mereka.

*****

Tiba-tiba suara dengungan membelah udara — sebuah helikopter melesat turun dari kegelapan, menembakkan roket ke arah kawanan zombie dan gedung sekolah itu. Ledakan dahsyat menyusul, menghancurkan gerbang, dinding, dan makhluk-makhluk di sana hingga tak tersisa. Api menjilat tinggi, melahap apa saja yang berada di dalamnya.

Dari kejauhan, Damian menyaksikan semuanya. "Maju!" perintahnya tegas. Mereka bergerak mendekati bangunan yang kini berasap dan terbakar hebat. Saat tiba, mereka melihat kobaran api yang menelan setiap sudut gedung itu.

"Habisi sisa-sisa zombie yang masih hidup! Yang lain ikut aku masuk — periksa apakah masih ada ruangan yang utuh, cari apakah mereka masih bertahan di dalam!" seru Damian.

Helikopter pun mendarat, pasukan elit yang datang bersama segera turun dan ikut membantu membereskan makhluk yang masih tersisa. Di dalam gedung yang sebagian sudah runtuh, Damian dan beberapa rekannya menyisir setiap ruangan, mencari tanda kehidupan — namun tak ditemukan siapa pun.

Hingga Jagad menemukan sesuatu di sudut belakang: sebuah pintu bulat tertutup lumut, bekas saluran pembuangan air yang sudah lama tak terpakai. Ia membukanya perlahan.

"Aku rasa mereka sudah lewat sini..." bisik Jagad pada Hilda.

Damian mendekat, menatap lubang yang mengarah ke bawah tanah itu. "Mereka cerdik... jalur keluar yang tak terpikirkan siapa pun. Ayo, kita pergi dari sini — bangunan ini bisa runtuh kapan saja."

Saat hendak beranjak, salah satu anggota menemukan sepotong pakaian yang terbakar sebagian dan sudah lusuh. Di bagian dadanya, nama tertulis jelas — Aldo.

"Ini... ada namanya," orang itu menyerahkan pakaian itu kepada Damian.

"Aldo..." gumam Damian pelan.

Hilda yang berdiri tak jauh mendengar nama itu, ia segera mendekat dan mengambil pakaian itu dari tangan Damian. Matanya memerah, napasnya Tercekat.

"Dia... dia teman ku. dulu kami satu kelompok sebelum terpisah..." suaranya bergetar. "berarti tadi dia yang meledakkan bom itu... Dia berkorban demi yang lain."

Damian meletakkan tangan di bahu Hilda. "kami turut prihatin, Hilda. Dia pahlawan sejati. Dia melakukan tugas terakhirnya sebagai perwira saat semua terdesak. Dan kawan-kawannya... mereka tidak ada di sini."

"Berarti mereka berhasil lolos lewat jalur yang kita temukan tadi," sahut Jagad lembut.

Hilda memeluk pakaian itu erat-erat, menahan isak tangis. Damian menepuk punggungnya pelan.

"Hilda... ayo kita pergi dari sini. Mereka sudah aman, dan kita harus menyusul mereka."

Hilda mengangguk pelan, menyeka air matanya, lalu ikut beranjak meninggalkan gedung yang kini tinggal puing — membawa kenangan tentang sahabat yang gugur, dan harapan untuk segera bertemu kembali dengan teman-temannya yang selamat.

Bersambung

1
Abyyasdemons
keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!