Riuh derap langkah di koridor kampus hari itu menjadi saksi hangatnya hubungan yang membendung segala keraguan. Di bawah naungan pohon angsana yang menggugurkan bunganya, Amanda duduk bersama Zahra, menatap lembaran tugas akhir yang hampir rampung. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk merajut benang persahabatan. Sejak mengenakan seragam putih-biru di bangku SMP, Zahra selalu menjadi tempat Amanda pulang, berbagi tawa, hingga rahasia terkecil sekalipun. Bagi Amanda, Zahra bukan sekadar teman biasa, melainkan saudara kandung yang tidak terikat oleh darah. Setiap keputusan besar dalam hidup Amanda selalu melewati pertimbangan Zahra, termasuk ketika seorang pria bernama Zidan datang mengisi hatinya dua tahun lalu.
Zidan adalah sesosok pria berkarisma dengan senyum menenangkan yang berhasil meluluhkan hati Amanda. Selama masa perkuliahan, ketiganya hampir tidak pernah terpisahkan. Di mana ada Amanda dan Zidan, di situ pula ada Zahra. Amanda sering kali merasa menjadi wanita paling
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Umpan Yang Terpasang Lengkap
"Terima kasih, Arya," ucap Amanda lirih namun tulus, merasakan hangatnya dorongan semangat yang disalurkan melalui sentuhan dan kehadiran pria itu. Arya mengangguk pelan, menarik tangannya kembali sembari memberikan senyuman menenangkan yang tak sempat terlihat dari balik kacamata hitam Amanda. Namun, momen haru di antara mereka mendadak terputus saat dering nyaring telepon rumah membelah kesunyian ruang tamu.
Kringgg... Kringgg...
Amanda dan Arya saling bertukar pandang sejenak. Dengan tenang namun pasti, Amanda melangkah mendekati meja telepon, berpura-pura meraba gagang telepon kayu di atas meja sebelum mengangkatnya. "Halo?" sapa Amanda dengan suara lembut yang dipenuhi kebingungan manis khas orang yang memegang peran amnesia.
"Halo, Amanda... ini aku, Zahra," suara di seberang sana terdengar begitu ceria namun dibungkus nada penyesalan palsu. Zahra mendesah pelan di telepon, berusaha meyakinkan Amanda. "Duh, Amanda... maaf banget ya, sepertinya hari ini aku belum bisa datang ke rumahmu untuk menemani. Tiba-tiba ada urusan pekerjaan mendadak di luar kota yang harus kukerjakan sampai besok. Kamu tidak apa-apa kan di rumah sendirian sebentar?"
Di balik gagang telepon, bibir Amanda menyunggingkan senyum dingin yang penuh keharuan busuk. Amanda tahu betul, alasan pekerjaan di luar kota itu hanyalah kebohongan murahan. Zahra merasa berada di atas angin; ia berpikir Zidan yang sedang tugas luar kota dan Amanda yang buta serta amnesia tidak akan pernah menyadari bahwa mereka sebenarnya sedang pergi berlibur bersama ke luar kota.
"Oh... begitu ya, Zahra? Tidak apa-apa, kok. Pekerjaanmu tentu lebih penting," jawab Amanda dengan nada polos dan sangat memahami, seolah-olah ia benar-benar percaya. "Hati-hati di jalan ya, Zahra. Terima kasih sudah mengabariku."
"Iya, Amanda sayang. Nanti kalau sudah selesai aku langsung ke rumahmu ya. Istirahat yang cukup!" tutup Zahra sebelum memutus sambungan telepon dengan tawa kecil gembira yang nyaris tak tertahan.
Saat gagang telepon diletakkan kembali pada tempatnya, Amanda berbalik menghadap ke arah Arya. Matanya yang tajam di balik kacamata menyala dengan bara pembalasan. "Dia pikir rencana liburan mereka ke luar kota aman dari jangkauanku," bisik Amanda dingin. Arya melipat kedua tangannya di dada, menyunggingkan senyum penuh arti saat melihat aplikasi monitor CCTV di ponsel Amanda sudah siap menangkap setiap detik kebusukan yang mereka sembunyikan.
"Mungkin CCTV ini akan bekerja beberapa hari lagi setelah mereka kembali," ucap Amanda pelan sembari menatap layar ponselnya yang kini menayangkan sudut-sudut rumahnya secara real-time. Meski saat ini rumah terasa sepi karena Zidan dan Zahra sedang menikmati liburan terlarang mereka di luar kota, Amanda tahu keberadaan kamera-kamera mikro ini akan menjadi jerat maut begitu kedua pengkhianat itu melangkah kembali ke dalam rumah. Kebebasan yang sedang mereka nikmati saat ini hanyalah ketenangan sesaat sebelum badai menghancurkan hidup mereka.
Arya mengangguk setuju, mengemas kembali tas perkakas kerjanya dan memastikan tidak ada jejak keberadaannya yang tertinggal. Ia memandang Amanda dengan tatapan yang dipenuhi rasa hangat dan perlindungan. "Baiklah, aku akan pulang. Kabari aku nanti kalau ada hal lain yang kamu butuhkan, atau saat mereka sudah kembali," ucap Arya penuh perhatian, suaranya terdengar begitu menenangkan di tengah situasi yang rumit ini.
Amanda menuntun Arya hingga ke pintu depan, membiarkan Arya melangkah pergi meninggalkan pekarangan rumah. Begitu pintu kayu besar itu terkunci rapat kembali, Amanda bersandar di balik pintu, menyunggingkan senyum dingin. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tidak lagi merasa menjadi korban yang malang. Dengan kamera-kamera pengawas yang kini siap merekam setiap inci pengkhianatan di sudut rumahnya, dan Arya yang siap mendukungnya dari sisi hukum, Amanda kini siap menunggu kembalinya Zidan dan Zahra untuk menyaksikan awal dari kehancuran mereka sendiri.