NovelToon NovelToon
KONTRAK LIMA MILIAR

KONTRAK LIMA MILIAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: mbu'na Banafsha

"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"

"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"

"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."

"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"

"Itu hakmu untuk menyimpulkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1. KESEPAKATAN

BAB 1. Kesepakatan

"Sudah tahu, kenapa hari ini saya mengundang Anda untuk datang?"

Pertanyaan itu terdengar datar dari balik meja kerja besar yang memisahkan mereka.

Hagia mengangkat bahu, tidak memperlihatkan rasa penasaran di wajahnya dengan pertanyaan itu.

"Mungkin... karena tiga hari yang lalu saya datang memohon penangguhan utang studio ibu saya." Dia hanya menebak asal.

Kalandra tidak langsung menjawab. Ia hanya menyandarkan punggung pada kursinya. Tatapannya tetap lurus, dingin, dan sulit ditebak.

"Tapi," lanjut Hagia, "bukannya waktu itu Anda sudah menolak permohonan saya mentah-mentah?"

Ingatan itu masih terasa begitu jelas. Ia masih mengingat bagaimana sekretaris pribadi Kalandra menyampaikan keputusan sang CEO tanpa sedikit pun memberi ruang untuk bernegosiasi.

"Tolong sampaikan kepada Nona Hagia, Arshaka Group adalah institusi bisnis, bukan panti sosial. Jika uang lima miliar itu tidak masuk minggu ini, silakan kosongkan studio Anda."

Kalimat itu bukan hanya menolak permohonannya, tetapi juga menginjak harga dirinya.

"Ya," jawab Kalandra tenang. "Itu salah satunya." Ruangan menjadi sunyi. "Karena saya tahu Anda sedang mengalami kesulitan. Tapi, bukan itu poin pentingnya."

"Maksud Anda?"

Untuk sesaat, Hagia mengira pria itu berubah pikiran. Mungkin akhirnya ia bersedia memberi kelonggaran waktu. Meski jauh di dalam hatinya, Hagia masih sulit percaya bahwa seorang Kalandra bisa tiba-tiba berbelas kasih.

Namun, dugaan itu runtuh seketika saat Kalandra kembali membuka suara. Kalimatnya, benar-benar di luar dugaan.

"Menikahlah dengan saya."

Hagia spontan menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang lain di dalam ruangan itu.

"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"

"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."

Tatapan Kalandra tidak bergeser sedikit pun darinya. Hagia kembali menatap pria itu.

"Saya ulangi sekali lagi." Nada suara itu tetap tenang.

"Menikahlah dengan saya."

Ruang CEO kembali hening. Beberapa detik berlalu sebelum Kalandra melanjutkan kalimatnya.

"Utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan."

Hagia memandangnya tanpa berkedip.

"Tawaran Anda bisa saya dengar dengan sangat jelas." Ia menarik napas perlahan.

"Tapi, saya tidak mengerti. Apa hubungan utang saya dengan ajakan menikah?"

"Ini hanya sebuah solusi."

"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"

"Itu hakmu untuk menyimpulkan."

"Dan kalau saya menolak?"

"Tidak akan ada yang berubah." Jawaban itu begitu singkat.

Hagia menggigit bibir bawahnya pelan.

"Yang saya butuhkan hanya sedikit waktu, Tuan, untuk bisa melunasi utang itu dengan usaha saya sendiri."

Kalandra tidak langsung menjawab.

Tatapannya tetap tenang hingga ponsel di atas meja tiba-tiba bergetar. Nama Haris muncul di layar. Kalandra segera menerima panggilan itu.

"Ya."

Hagia tidak berniat menguping. Namun, ruang kerja yang begitu sunyi membuat sebagian percakapan dari seberang tetap bisa terdengar.

"Pak, telepon dari rumah sakit."

Rahang Kalandra perlahan mengeras.

"Kondisi Tuan Besar kembali menurun."

Hening beberapa detik.

"Beliau terus bertanya soal pernikahan Anda."

Sorot mata Kalandra berubah sedikit.

"Pengacara keluarga juga sudah menunggu di sana."

Beberapa saat ia tidak menjawab.

"Saya akan ke sana."

Sambungan terputus. Perlahan Kalandra meletakkan ponselnya kembali di atas meja. Untuk pertama kalinya, Hagia melihat pria itu menarik napas sedikit lebih panjang sebelum kembali menatapnya.

"Saya tidak bisa memberi Anda waktu." Suara Kalandra tetap tenang. "Karena saya sendiri tidak punya waktu untuk menunggu."

Kalimat itu membuat Hagia terdiam. Kini ia mulai menyadari bahwa di ruangan itu bukan hanya dirinya yang sedang berada dalam keadaan terdesak.

"Bagaimana kalau selain melunasi utang lima miliar," Ia berhenti sejenak. "Saya juga akan memberi Anda kebebasan mengajukan syarat apa pun."

Hagia mengernyit. "Syarat apa pun?"

"Ya," jawab Kalandra mantap.

Tidak ada keraguan sedikit pun dalam jawaban itu. Untuk beberapa saat Hagia hanya memandang pria di depannya. Ia memang sedang terdesak. Namun, lelaki yang selama ini ia anggap tidak pernah kehilangan kendali ternyata sedang berada dalam tekanan yang sama. Bahkan mungkin lebih besar daripada dirinya.

Ia mengembuskan napas panjang.

"Baik." Suara Hagia akhirnya memecah keheningan. "Saya setuju."

Ia berhenti sesaat. Padahal, ia masih menimbang keputusannya sendiri yang dia ambil begitu cepat.

"Dengan catatan... saya bebas mengajukan syarat sebanyak yang saya mau."

Kalandra mengangguk.

"Silakan."

Ia menarik beberapa lembar kertas kosong beserta sebuah bolpoin dari dalam map, lalu mendorongnya ke hadapan Hagia.

"Tulis di sini."

Hagia memandang kertas itu beberapa saat.

"Kenapa Anda begitu yakin jika syarat ini tidak akan memberatkan Anda?"

"Saya tidak berpikir ke sana. Saya hanya akan berusaha memenuhi semua syarat selama itu masih masuk akal."

Hagia kembali terdiam. Lelaki ini benar-benar sedang dikejar sesuatu. Kalau tidak, mustahil ia memberikan kebebasan sebesar ini kepada perempuan yang bahkan tiga hari lalu tidak diberi kesempatan dan kepercayaan.

Kalandra berdiri dari kursinya. Ia melirik jam tangan di pergelangan kirinya, lalu meraih jas yang tergantung di sandaran kursi.

"Seperti yang saya katakan, saya tidak punya waktu."

Tatapannya kembali jatuh kepada Hagia.

"Tetaplah di sini sampai saya kembali satu jam lagi."

"Siapkan syarat Anda. Setelah itu kita mengurus seluruh dokumen ke KUA."

Hagia mendongak tak percaya.

"Hari ini juga?"

"Hari ini."

Tanpa menunggu pertanyaan berikutnya, Kalandra melangkah keluar dari ruangannya. Pintu tertutup pelan. Menyisakan Hagia seorang diri bersama beberapa lembar kertas kosong dan ruangan yang begitu hening.

Hagia sendiri hampir tak percaya jika beberapa menit lalu ia telah menerima tawaran Kalandra. Ia sadar, keputusannya bukan langkah terbaik. Namun, selama ia bebas mengajukan syarat, ia pastikan bahwa pernikahan transaksional ini tidak akan merugikannya di kemudian hari.

Sekitar satu jam berlalu. Sesekali ia membalik halaman berikutnya, lalu kembali ke halaman sebelumnya. Tidak ada lagi yang ingin ia tambahkan. Semua syarat yang menurutnya penting telah tertulis rapi. Namun, bukan isi kertas itu yang ia baca berulang-ulang melainkan keputusan yang dia ambil lah yang ia pikirkan terus berulang.

Ia masih punya waktu untuk membatalkannya. Kalau sekarang ia berdiri, meninggalkan ruangan ini, lalu menganggap semua yang terjadi tadi tidak pernah ada, tidak akan ada seorang pun yang bisa menghentikan langkahnya. Ia hanya akan kehilangan Studio ibunya karena tak dapat melunasi utang lima miliar. Namun, ia akan selamat dari lelaki yang menganggap pernikahan ini sebagai bisnis saling menguntungkan.

Hagia mengembuskan napas panjang. Tatapannya jatuh pada poin terakhir yang baru saja dia tulis.

"Setelah satu tahun pernikahan, saya Hagia, berhak menggugat cerai."

Ia kembali menutup mata sejenak. Terus meyakinkan hatinya bahwa satu tahun, bukan waktu yang lama. Bukan waktu yang akan sulit dilalui. Belum selesai ia dengan kekacauan di kepalanya, suara langkah kaki kembali terdengar dari balik pintu.

Pintu ruang CEO terbuka. Kalandra masuk dengan langkah cepat. Jas hitam masih tersampir rapi di bahunya. Wajahnya tetap setenang tadi, meski ada sisa ketegangan yang belum sepenuhnya hilang dari sorot matanya. Sekilas, pandangannya langsung jatuh kepada Hagia. Wanita itu masih duduk di tempat yang sama.

Tidak pergi. Tidak menghilang. Entah mengapa, ada sedikit kelegaan yang muncul di dalam dirinya. Setidaknya, Hagia tidak berubah pikiran. Kalandra berjalan menuju kursinya, lalu duduk tanpa membuang waktu.

"Sudah selesai?"

Hagia mengangguk samar "Ya." Namun, kertas itu masih erat dalam genggamannya sampai ia menyadari tatapan Kalandra tertuju pada benda itu.

Hagia akhirnya, mendorong lembar-lembar kertas itu lebih dekat pada Kalandra.

"Ini," ucapnya ragu.

Namun, Kalandra sama sekali tidak berniat mengambilnya. Ia menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu menatap Hagia dengan tenang.

"Bacakan saja."

Hagia sempat terdiam.

"Anda tidak mau membacanya sendiri?"

"Tidak." Jawaban itu singkat.

Hagia menarik kembali kertas yang tadi sudah ia dorong. Jemarinya merapikan sudut-sudutnya yang sedikit bergeser seakan sedang mengulur waktu. Kalandra yang menyadari hal itu, sampai beberapa kali mengalihkan pandangan pada jam tangannya.

Napas Hagia terdengar pelan sebelum akhirnya ia mengangkat lembar pertama lebih dekat ke depan wajahnya. Matanya sempat bertemu dengan tatapan Kalandra.

Entah mengapa, ia kembali merasa gugup.

Beberapa detik berlalu. Dan Hagia mengangguk kecil kepada dirinya sendiri. "Baik."

Ia mulai membaca.

"Poin pertama..."

"Setelah utang studio ibu saya dinyatakan lunas, seluruh kepemilikan studio beserta asetnya kembali menjadi hak saya sepenuhnya. Arshaka Group tidak lagi memiliki hak atas studio itu."

Selesai membacanya, Hagia mengangkat kepala. Kalandra hanya mengangguk sekali.

Hagia pun menunduk kembali.

"Poin kedua."

"Tidak ada kegiatan biologis antar suami istri, selama pernikahan ini berlangsung."

Kalandra sampai membuang muka ke arah lain sebelum akhirnya menanggapi.

"Lanjutkan." Tatapannya kembali pada Hagia.

"Poin ketiga."

"Di luar kewajiban saya sebagai istri di hadapan keluarga Anda, saya tetap memiliki ruang pribadi yang harus Anda hormati."

Tanpa menunggu satu detik, Kalandra langsung mengangguk.

Gadis itu menarik napas pelan. Ia membalik lembar berikutnya. Masih ada beberapa syarat lain yang ia tulis. Tidak ada yang berlebihan. Sebagian besar hanya berisi batasan-batasan yang menurutnya perlu agar pernikahan itu tidak sepenuhnya menghilangkan kebebasannya.

Setiap kali Hagia selesai membacakan satu poin, ia selalu mengangkat pandangan. Dan setiap kali itu pula, Kalandra hanya memberi respons yang sama.

Sebuah anggukan. Sesekali hanya ada satu kata. "Lanjut."

Sampai akhirnya Hagia tiba pada bagian terakhir. Ia berhenti beberapa detik.

"Poin terakhir."

Hagia membaca kalimat itu perlahan dan hati-hati.

"Setelah satu tahun, saya berhak menggugat cerai."

Ruangan kembali sunyi. Untuk pertama kalinya sejak Hagia mulai membacakan syarat-syaratnya, Kalandra mengangkat pandangan penuh ke arahnya.

"Jadi, pernikahan ini hanya akan berlangsung selama satu tahun."

Kali ini tidak ada anggukan. Tidak ada pula kata "lanjut" Tatapan Kalandra tetap tenang, tetapi terasa lebih lama daripada sebelumnya.

Beberapa detik berlalu.

Hagia mulai bertanya-tanya apakah syarat terakhir itu terlalu jauh.

"Tuan, syarat saya tidak memberatkan, Bukan?"

"Hanya itu?"

"Ya."

"Padahal, saya sudah menyiapkan kemungkinan terburuk."

"Maksudnya?"

"Kamu minta saham perusahaan atau uang bulanan yang fantastis, mungkin."

"Saya tidak seserakah itu."

"Saya hanya butuh studio ibu saya, selebihnya saya hanya menuliskan syarat yang tidak merugikan diri saya sendiri."

"Kalau begitu..." Kalandra berdiri sambil melonggarkan ikatan dasi. "Ayo."

Hagia mengernyit. "Jadi, bagaimana dengan syarat saya?"

Kalandra menoleh sekilas.

"Kalau saya mengajak Anda ke KUA sekarang juga, bukankah itu berarti seluruh syarat Anda saya terima?"

"Maksud saya, kertas ini belum memiliki kekuatan apa pun ketika suatu hari nanti saya ingin menggunakannya."

Kalandra mengambil lembaran itu.

Bukan untuk membacanya. Jemarinya langsung meraih bolpoin di atas meja.

Sret.

Tanda tangan itu tergores cepat di halaman terakhir. Di bawah seluruh syarat yang ditulis tangan oleh Hagia. Kalandra kemudian mendorong kembali lembaran tersebut.

"Sudah."

"Ada lagi?"

Hagia terdiam lalu menggeleng.

"Kalau sudah selesai..." Ia melirik jam tangan. "Kita berangkat."

Hagia memandangi tanda tangan itu beberapa detik sebelum akhirnya melipat kembali lembaran-lembaran tersebut. Kini bukan hanya ucapan Kalandra yang mengikatnya, tetapi juga tinta hitam yang baru saja dibubuhkan di atas seluruh syarat yang ia tulis sendiri. Ia menarik napas panjang, lalu bangkit dari kursinya mengikuti langkah pria itu keluar dari ruang CEO.

Next--->

1
alfian Agel
bagus
🍾⃝ sͩᴀᷞᴍͧsᷡʏͣ ⏤͟͟͞R
baru sempet mampir Mbu🙏
semoga bukunya sukses
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ternyata pernah ngalamin kekurung diruangan juga Kalandra, tapi dia terkurung apa di kurung mamanya ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
apakah yang terjadi dengan Hagia disengaja 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
syukurlah Hagia gak kenapa napa
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semoga saja Hagia selamat 🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
cepat tolongin Hagia Kalandra 😔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Hagia terkurung dia ruang arsip 🤔
semoga saja ada yang menolong 😔🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
makan pun yang dibahas soal kerjaan dan harga diri, apa orang kaya kalau makan selalu begitu ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
kan kan benar Kalandra dah curiga 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
sepertinya Kalandra mulai curiga 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ini apa maksudnya ya , apa sebenarnya dia sudah tau siapa Hagia 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semangat Hagia, semoga berhasil mengerjakan tantangan itu💪
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gimana ya rasanya jadi Hagia,
pada penasaran dengan sosoknya, tapi dia ada didepan orang² yang penasaran padanya 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
wah gimana reaksi mereka kalau tau orang yang mereka cari berada dalam ruangan yang sama mereka 🤔🤭
sunshine wings
bagus ceritanya.. 👍👍👍👍👍
enak dibaca.. ❤️❤️❤️❤️❤️
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
Angga Gati
ah dgantung....lanjut kal👍
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gak papa terlambat Hagia🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
studio itu ternyata peninggalan mendiang ibunya Hagia, kirain ibunya masih ada 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Kalandra sama Hagia sama² terdesak 🤭🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!