NovelToon NovelToon
Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Liza Navy

Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.

Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.

Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.

Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.

Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Tiket Terbang ke Paris

Suatu sore setelah pulang kerja, Ara sengaja mampir ke sebuah pusat perbelanjaan. Seorang bodyguard mengikuti dari kejauhan.

Ara masuk ke toko pakaian. Setengah jam kemudian, ia keluar membawa beberapa kantong belanja. Ia pergi ke toko kosmetik. Langkah kakinya berhenti di sebuah ruko tempat agen perjalanan.

Bodyguard yang mengawasinya tersenyum kecil.

"Mungkin nyonya ingin liburan."

Ara sengaja memperlihatkan secarik kertas kepada kasir agar terlihat jelas dari luar.

Bodyguard itu sempat melihat tulisan besar di atasnya. "Flight Ticket." Ia segera memotret dari kejauhan dan mengirimkannya kepada Dante.

"Tuan."

Dante menerima foto itu saat sedang rapat. Ia tidak heran. Seperti dugaannya, cacing itu sudah kepanasan.

"Nyonya membeli tiket pesawat."

Dante memperbesar detail foto di tampilan layar ponselnya. Tujuan penerbangan "Paris". Ia mengernyit.

"Perlu kami sita tiketnya?"

Dante berpikir sejenak. Lalu menggeleng. "Tidak perlu," katanya acuh. Tetapi tak seorangpun benar-benar tahu apakah ia memang mengabaikan tiket itu atau justru menyiapkan hal lain yang menanti Ara.

"Tikus sudah memakan umpan. Biarkan saja," gumam Dante pada Luca. Ia meminta Luca mundur.

"Kalau dia benar-benar mencoba kabur lewat bandara, lebih mudah menangkapnya di sana."

"Baik, Tuan."

Dante tersenyum tipis. Kali ini ia yakin sudah membaca pikiran Ara. Ia lupa Ara juga sedang membaca pikirannya.

Tiga hari kemudian. Hari Jumat. Ara menjalankan rutinitas seperti biasa. Ia berangkat kerja. Di kantor, ia menyelesaikan seluruh desain yang ditugaskan padanya. Sesekali ia bercanda dengan rekan kantor. Sepulang dari tempat kerja, ia menunggu Dante di ruang makan. Mereka masih melalui makan tanpa bicara.

Usai makan malam, Ara masuk ke dalam kamar dan mematikan lampu.

"Nyonya sudah tidur," kata pelayan yang melewati kamar Ara. Pelayan itu pergi ke ruang kerja Dante untuk mengantarkan kopi.

Malam semakin larut. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat. Rumah besar itu benar-benar sunyi. Saat itulah jendela kamar Ara perlahan terbuka.

Ara memakai baju serba hitam. Rambut panjangnya disanggul. Ia membuka ventilasi kecil yang selama dua minggu terakhir diam-diam ia longgarkan sekrupnya. Tubuh mungilnya berhasil melewati celah sempit itu.

Begitu turun ke taman belakang, ia langsung berlari. Untungnya tak ada yang melihatnya saat ia keluar dari ujung ventilasi yang lain.

Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, ia sudah mencapai pagar belakang rumah. Sebuah tangga lipat kecil sudah disembunyikannya sejak dua hari lalu. Ia memanjat. Ia kemudian melompati pagar itu.

Siapa yang sangka, malam ini Ara akhirnya berhasil keluar dari rumah keluarga Theo. Ia tidak menuju bandara. Sebaliknya, ia sudah memesan ojek online menuju kota sebelah. Ia menggunakan nomor yang berbeda dari hape lamanya untuk memesan kendaraan malam ini. Hpnya sendiri ia tinggal di mansion suaminya. Ia tidak bodoh. Ia tidak mungkin mengambil resiko membawa hapenya. Siapa yang tahu, mungkin suami di atas kertasnya itu bisa jadi menaruh chip rahasia untuk memata-matainya.

Setelah sampai di pertigaan pusat kota, ia berganti mobil. Ada tiga kali ia berganti mobil. Baru setelah itu ia naik bus antarkota. Ia harap jejaknya benar-benar hilang.

Pukul dua dini hari. Ara sudah berada ratusan kilometer dari mansion suaminya. Ia menatap jalanan dari balik jendela bus. Matanya berkaca-kaca.

"Aku berhasil," katanya lega. Kesesakan yang mati-matian ditahannya selama sebulan ini akhirnya berakhir juga.

Pukul lima pagi, Dante baru keluar dari ruang kerja. Kesibukannya membuat ia lupa waktu. Ia tidak menyangka ia sudah bekerja sampai pagi. Pagi itu entah mengapa hatinya tergerak untuk melihat Ara. Ia berdiri di depan pintu kamar cukup lama. Beberapa kali ia mengetuk pintu tapi tidak ada sahutan. Ia memeriksa pintu. Pintu masih terkunci. Ia memanggil nama Ara lagi. Tetap tak ada jawaban dari dalam kamar.

Ia memanggil Luca untuk mengecek kamar nyonya dari sisi luar. Beberapa menit kemudian, Luca melaporkan jika pintu balkon nyonya sudah terbuka.

Dante berpikir. Ia menatap pintu kayu di depannya lagi. Ia meminta Luca mendobraknya.

"Tapi Tuan.."

"Dobrak pintunya. Aku ingin tahu apa yang dilakukan nyonyamu di dalam, sampai tidak mendengar suaraku!" rahang Dante tampak mengeras. Ia kelihatan menahan amarahnya.

Begitu pintu terbuka, mereka melihat di atas ranjang, masih ada sosok yang tertutup selimut.

Dante mendekat. Ia menyentuh bahu sosok itu di balik selimut itu. Tapi tubuh itu tidak bergerak. Dalam gerak cepat, ia menyingkap selimut yang menutupinya. Di baliknya muncul banyak bantal yang disusun begitu rupa hingga menyerupai sosok manusia yang sedang meringkuk.

Wajah Dante berubah merah padam. "Ara Milano!!!"

Seluruh rumah mendadak gempar. Sirene keamanan berbunyi. Bodyguard berlarian menyusuri seluruh penjuru rumah. Mereka memeriksa seluruh pagar, seluruh cerobong dan ventilasi rumah. Juga seluruh rekaman cctv.

Dante berdiri di ruang kontrol. Puluhan layar rekaman cctv memenuhi dinding. Ia melihat satu demi satu rekaman.

Ara ternyata keluar lewat ventilasi, melompat pagar, dan menghilang.

Dante mengepalkan tangan. "Dia benar-benar belajar dari kegagalan sebelumnya."

"Sekarang, Cari dia! Cari di bandara!" Perintah Dante kepada Luca.

"Cari juga di stasiun, terminal dan seluruh jalur keluar kota," instruksinya lagi kepada beberapa pengawal yang lain.

Pagi itu jam belum genap menunjukkan pukul enam pagi, tetapi puluhan mobil dari mansion Theo sudah bergerak keluar menyusuri jalan keluar kota dan di dalam kota. Mereka tidak melewatkan satu sudut kota pun.

Dante sendiri menuju bandara. Bodyguard yang mengikuti Ara jelas melihat Ara membeli tiket ke Paris. Ia menuju gate penerbangan internasional. Ia menemui petugas yang memeriksa daftar penumpang. Ia memperlihatkan identitasnya.

"Penumpang atas nama Ara Milano?"

Petugas di depannya mengetik cepat.

"Sudah check-in?"

"Tidak ada."

"Sudah masuk imigrasi?"

"Tidak ada."

"Bagasi?"

"Tidak ada."

Leonardo mengernyit.

"Tiketnya masih aktif?"

"Ya."

"Namun penumpangnya tidak datang," beritahu petugas itu.

Dante terdiam. Beberapa detik kemudian, ia tertawa kecil. "Tikus kecilku ternyata jauh lebih pintar dari dugaanku."

Dari awal, Ara sama sekali tidak berniat naik pesawat dan pergi ke Paris. Ia sengaja membeli tiket itu agar seluruh perhatian tertuju ke bandara. Sementara mungkin ia sudah pergi ke arah yang berlawanan.

"Cerdik."

Pagi mulai menyingsing. Ara sudah tiba di sebuah kota kecil dekat pesisir. Ia menyewa kamar sederhana. Ia juga mengganti pakaian. Ia bahkan memotong rambutnya hingga sebahu. Ia menggunakan kacamata dan melepas lensa kontaknya.

"Semoga tidak ada yang mengenaliku." gumamnya sembari melihat pantulan dirinya di cermin.

Hari itu ia bisa membeli secangkir kopi tanpa ditemani bodyguard. Ia bisa berjalan santai di tepi pantai dan menghirup udara laut.

"Akhirnya aku bebas" Ia merentangkan tangannya berjalan di pesisir. Ia berjongkok di atas pasir dan mengamati kerang-kerang yang bersembunyi di bawah pasir.

Ia mulai mencari informasi lowongan kerja. Mungkin di kota ini ia bisa memulai hidup baru. Tentunya ia tidak akan menggunakan nama keluarga Milano. Tokh dari kecil aku sudah biasa pergi kemanapun tanpa nama itu.

Namun di tempat lain, Dante masih tidak berhenti mencari. Ia memanggil kepala divisi intelijen keluarganya.

"Temukan dia, bagaimanapun caranya!"

Dante menatap layar besar yang penuh data.

"Ara mungkin telah berhasil menipunya. Tapi ia tetap manusia. Manusia pasti meninggalkan jejak."

Dua hari berlalu. Ara menjalani kehidupan tanpa Dante. Tak ada bodyguard yang mengikutinya. Ia mulai percaya Dante telah menyerah.

Sore itu ia duduk di sebuah kafe kecil. Pelayan datang membawa kopi.

"Silakan, Nona."

"Terima kasih."

Pelayan itu tersenyum.

"Lama tinggal di kota ini?"

"Baru dua hari."

"Oh..."

Pelayan itu pergi.

Ara tidak menyadari pelayan yang baru datang tadi diam-diam menyentuh sebuah earphone kecil di balik rambutnya.

"Target terkonfirmasi."

Setengah jam kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di seberang jalan. Dante turun perlahan. Matanya langsung menemukan sosok wanita yang sedang membaca buku di dekat jendela kafe. Rambutnya memang lebih pendek. Penampilannya berbeda. Namun, ia tetap mengenali istri yang berhasil kabur darinya.

"Ara."

Ara tiba-tiba merasakan firasat buruk. Ia menoleh ke luar jendela. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Dante berdiri di sana. Tatapan mereka bertemu. Cangkir kopi di tangan Ara jatuh ke lantai.

Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari keluar melalui pintu belakang kafe. Dante mengejar.

"Ara!"

Wanita itu menerobos gang sempit. Naik ke jalan utama. Ia menyebrang tanpa melihat kendaraan. Klakson bersahutan.

Dante terus mengejar. Bodyguard mulai mengepung dari segala arah.

Ara berlari sekuat tenaga. Namun kota kecil itu bukan tempat yang dikenalnya. Gang yang dipilihnya...

Buntu!!!

Ia berhenti. Napasnya memburu. Saat berbalik, Dante sudah berdiri hanya beberapa langkah di depannya.

Arabella menggigit bibir.

"Sudah kukatakan aku akan menemukanmu."

Dante menatapnya lama.

"Dunia ini terlalu kecil bagimu untuk bersembunyi dariku."

Ara menutup mata. Seluruh perjuangannya selama berminggu-minggu berakhir di sebuah gang sempit tanpa menyisakan jalan keluar baginya. Sungguh ironis.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!