NovelToon NovelToon
Wanita Sang Raja Iblis

Wanita Sang Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:732
Nilai: 5
Nama Author: Jee44

Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Kabut Langit yang Mengendus

Perubahan cuaca di kaki Gunung Han pagi itu terjadi dengan sangat tidak wajar. Hutan Bambu Ungu yang biasanya diselimuti oleh kabut putih tipis beraroma embun, kini mendadak ditekan oleh gumpalan awan kelabu yang tebal.

Angin gunung berembus terlalu kencang, meliuk-liuk di antara batang bambu hingga mengeluarkan suara siulan yang nyaring dan mencekam, seolah-olah sedang mengabarkan datangnya sebuah petaka.

Di dalam pondok kayu, Shen Liya berdiri terpaku di depan jendela kamar. Kedua tangannya mencengkeram erat kusen jendela hingga urat-urat halusnya terlihat.

Jantung sang Dewi berdegup kencang, memukul dadanya dengan rasa cemas yang teramat sangat. Di langit tertinggi, jauh di balik gumpalan awan hitam fana tersebut, ia bisa merasakan sebuah getaran energi yang sangat ia kenali sekaligus ia takuti. Itu adalah energi dari Cermin Pemindai Delapan Arah—sebuah artefak suci milik Alam Langit yang biasa digunakan oleh Dewa Tinggi Ling Cang untuk melacak buruan di seluruh dimensi.

Ling Cang... dia sudah mulai menyisir tempat ini, batin Shen Liya dengan bibir yang gemetar.

Ia refleks mundur dua langkah dari jendela, lalu meletakkan telapak tangannya di atas perutnya. Berkat teh herbal dan perawatan misterius dari Gu Jue selama beberapa hari terakhir, gejolak mual di perutnya sudah jauh berkurang. Namun, janin Gu Yu yang ada di dalam rahimnya justru menjadi semakin sensitif.

Seolah bisa merasakan ketakutan sang ibu, benih kehidupan kecil itu berdenyut sedikit lebih cepat, memancarkan riak energi spiritual campuran yang hangat namun pekat.

Shen Liya segera memusatkan pikirannya, mempertebal sekat pembatas spiritual di sekitar rahimnya untuk mengunci aura sang anak agar tidak menembus keluar pondok. Keringat dingin menetes dari dahinya akibat kelelahan menahan tekanan radar langit tersebut.

Pintu kamar tiba-tiba terbuka tanpa ketukan.

Gu Jue melangkah masuk dengan raut wajah yang tampak lebih dingin dari biasanya. Jubah rami abu-abunya bergerak liar diterpa angin yang menerobos masuk melalui jendela yang terbuka. Di tangannya, ia memegang sebuah keranjang anyaman berisi pasokan kayu bakar baru.

"Tutup jendelanya. Badai gunung akan segera turun," ujar Gu Jue pendek, suaranya terdengar datar namun sepasang mata hitamnya sempat melirik tajam ke arah langit di luar sebelum ia berjalan menuju sudut ruangan untuk meletakkan kayu bakar.

Sebenarnya, di bawah topeng manusianya, Gu Jue sedang menahan amarah yang membara. Sebagai Raja Iblis, ia tahu persis apa yang sedang terjadi di atas sana. Radar dari Cermin Pemindai Delapan Arah milik langit itu terus-menerus menghantam Segel Penjerat Jiwa tak kasat mata yang ia pasang di sekeliling hutan.

Meskipun perisai iblisnya berhasil membelokkan radar tersebut dan mengubahnya menjadi udara fana biasa, gesekan energi tingkat tinggi yang terjadi di atmosfer atas telah memicu anomali cuaca berupa badai supernatural ini.

Gu Jue tahu perisainya tidak akan runtuh. Namun, melihat bagaimana wajah Shen Liya pucat pasi dan tubuhnya gemetar ketakutan, hati sang Raja Iblis terasa seperti tersayat sembilan pisau.

Shen Liya buru-buru menutup daun jendela kayu, menguncinya dengan rapat seolah tindakan itu bisa menjauhkannya dari kejaran para dewa langit. Ia berbalik, menatap punggung tegap Gu Jue dengan pandangan yang dipenuhi rasa bersalah yang mendalam.

"Tuan Gu Jue..." panggil Shen Liya, suaranya bergetar halus.

Gu Jue berbalik, menatapnya dalam diam. "Ada apa?"

"Badai ini... badai ini tidak biasa. Sebaiknya kau tidak usah keluar pondok atau pergi ke pasar desa selama beberapa hari ke depan," kata Shen Liya, mencoba menyembunyikan alasan sebenarnya. Ia meremas ujung gaun katun biru mudanya. "Gunung ini sepertinya sedang tidak aman."

Gu Jue melangkah mendekat, menghentikan jaraknya tepat dua langkah di depan Shen Liya. Tatapan matanya yang sehitam tinta menatap lekat-lekat ke dalam sepasang mata sang Dewi yang dipenuhi kabut kecemasan.

"Aku sudah hidup di gunung ini bertahun-tahun, Nona. Aku tahu kapan badai biasa turun dan kapan ada sesuatu yang asing sedang mengacaukan alamku," ujar Gu Jue dengan nada menyindir yang sengaja dilepaskan untuk memancing reaksi Shen Liya. "Sejak kau jatuh dari langit malam itu, tempat ini tidak pernah benar-benar tenang. Katakan padaku, musuh macam apa yang sebenarnya sedang mengejarmu?"

Pertanyaan langsung dari Gu Jue membuat Shen Liya tersentak. Ia memalingkan mukanya, tidak berani membalas tatapan pria itu. Rasa bersalah di hatinya kian membumbung tinggi. Di matanya, "Gu Jue" hanyalah seorang tabib fana biasa yang memiliki sedikit ilmu kultivasi pengobatan.

Pria ini sudah mengorbankan kesuciannya, membagi energi hidupnya semalaman, dan merawatnya selama berbulan-bulan tanpa meminta imbalan apa pun.

Jika pasukan zirah emas Dewa Tinggi Ling Cang benar-benar berhasil menembus hutan ini, mereka tidak akan hanya menangkapnya. Mereka akan membantai siapa pun manusia mortal yang berani menyembunyikannya, mencabik-cabik pondok ini menjadi abu, dan memusnahkan ingatan tentang tempat ini dari muka bumi.

Pria fana yang berhati dingin namun tulus ini akan mati dengan sangat mengenaskan demi dirinya.

Terlebih lagi, sekarang ada Gu Yu di dalam rahimnya. Anak ini adalah darah daging Gu Jue. Shen Liya menolak keras membayangkan bayinya harus kehilangan ayah kandungnya bahkan sebelum ia sempat lahir ke dunia.

"Itu... itu bukan urusanmu, Tuan Gu Jue," jawab Shen Liya dengan suara yang sengaja dibuat dingin dan ketat, mencoba membangun kembali dinding pembatas di antara mereka. "Luka-lukaku sudah sembuh total. Kekuatanku juga sudah pulih. Aku sudah terlalu lama merepotkanmu di sini."

Gu Jue menyipitkan matanya, merasakan ada perubahan drastis pada ketetapan hati wanita di depannya. "Apa maksudmu?"

"Aku akan pergi," ujar Shen Liya mantap, meskipun hatinya terasa perih saat mengucapkan kata-kata itu. Ia menatap lurus ke arah mata Gu Jue, mencoba menanamkan kebohongan yang kejam. "Aku hanya memanfaatkan pondok obatmu untuk bersembunyi sesaat. Sekarang setelah musuhku mulai mendekat, aku tidak memiliki alasan lagi untuk tetap tinggal di tempat sekecil dan semiskin ini. Aku harus pergi ke tempat yang lebih layak untuk sisa kultivasiku."

Mendengar kalimat "memanfaatkan" dan "tempat semiskin ini" keluar dari mulut Shen Liya, Gu Jue tertegun sejenak. Jika ia benar-benar seorang manusia biasa, kata-kata merendahkan seperti itu pasti akan menghancurkan harga dirinya. Namun, sebagai Raja Iblis yang jenius, Gu Jue bisa melihat dengan sangat jelas kebohongan di balik tatapan mata Shen Liya yang berair.

Wanita ini sedang mencoba mengusir dirinya sendiri. Dewi langit ini sedang mencoba melarikan diri ke dalam bahaya demi melindunginya—pria fana yang dikiranya lemah dan butuh perlindungan.

Sebuah rasa hangat yang aneh sekaligus geli menggelitik sanubari Mo Jue. Selama ribuan tahun memimpin Alam Iblis, semua makhluk selalu meminta perlindungannya, bertekuk lutut di bawah kakinya, atau gemetar ketakutan karena kekuatannya.

Belum pernah ada satu pun makhluk—termasuk seorang dewi dari langit—yang begitu bodoh hingga mencoba mengorbankan nyawa demi melindungi keselamatan dirinya.

Namun, Gu Jue memilih untuk terus memainkan perannya dalam sandiwara ini. Ia memasang ekspresi wajah yang mendadak mengeras, memancarkan hawa dingin yang menusuk tulang.

"Pergi?" Gu Jue mendengus kasar. "Kau pikir kau bisa melangkah keluar dari hutan ini dalam kondisi badai seperti ini? Silakan saja jika kau ingin mengantarkan nyawamu pada musuhmu. Tapi ingat satu hal, jangan pernah kembali lagi ke pondokku jika kau kembali terluka."

Gu Jue berbalik dengan kasar, melangkah keluar dari kamar dan menutup pintu dengan bantingan yang cukup keras, sengaja menciptakan ilusi bahwa ia sangat marah dan sakit hati atas ucapan Shen Liya.

Begitu pintu tertutup, Shen Liya perlahan merosot duduk di lantai kayu yang dingin. Ia menyembunyikan wajahnya di balik kedua lututnya, membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh membasahi gaun katun biru mudanya.

"Maafkan aku, Gu Jue... maafkan aku," bisik Shen Liya terisak dalam kesunyian kamar. "Ini adalah satu-satunya cara agar kau dan anak kita bisa tetap hidup. Langit sangat kejam... kau tidak akan pernah bisa menandingi mereka."

Tekad Shen Liya sudah bulat sepenuhnya. Malam ini, saat badai supernatural mencapai puncaknya dan sang tabib fana tertidur lelap, ia akan pergi meninggalkan Hutan Bambu Ungu.

Ia akan memancing radar pencarian Ling Cang sejauh mungkin dari Gunung Han, membawa benih kehidupan Gu Yu kecil bersamanya ke belahan dunia fana yang paling dalam dan terpencil, demi mengubur rapat-rapat rahasia tentang keberadaan mereka dari tiga alam.

Sementara itu, di halaman depan pondok yang mulai dihujani tetesan air pertama, Gu Jue berdiri di bawah derasnya gerimis. Matanya yang ungu menyala menembus kegelapan malam, menatap awan kelabu di atas langit dengan kilatan kebencian yang mendalam.

"Ling Cang... berani sekali kau menakuti wanitaku hingga ia ingin melarikan diri dariku," desis Mo Jue, suaranya bergaung rendah menyatu dengan gemuruh petir di langit. "Silakan sisir bumi ini sesukamu. Begitu wanitaku melangkah keluar, aku sendiri yang akan memastikan setiap helai zirah emas pasukannya akan terkubur di bawah tanah fana ini."

Raja Iblis itu mengepalkan tinjunya, membiarkan energi kegelapannya diam-diam merayap di bawah tanah hutan, bersiap untuk mengawal pelarian sepihak yang sedang direncanakan oleh sang Dewi di dalam pondok tidurnya.

1
Aisyah Suyuti
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!