NovelToon NovelToon
Kamu Yang Selalu Ku Pilih

Kamu Yang Selalu Ku Pilih

Status: tamat
Genre:Office Romance / CEO / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:674
Nilai: 5
Nama Author: Gek_Nia

Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGKHIANAT DI DALAM PERUSAHAAN

Lampu ruang tamu itu dimatikan.

Raka berdiri di dekat jendela, sementara Alya duduk di samping mantan pengacara keluarganya.

Di luar, pria yang baru turun dari mobil berjalan menuju pintu rumah.

Langkahnya semakin dekat.

Alya menahan napas.

“Siapa dia sebenarnya?” bisiknya.

Raka tidak menjawab.

Tatapannya tetap tertuju ke pintu.

Pria tua itu mendekat dan berkata pelan,

“Namanya Dimas Wibowo.”

Alya langsung menoleh.

“Direktur Keuangan?”

Pria tua itu mengangguk.

“Dia bekerja dengan ayahmu selama lebih dari dua puluh tahun.”

Raka membeku.

Dimas.

Orang yang selama ini dipercaya ayahnya.

Orang yang bahkan sampai sekarang masih duduk di jajaran manajemen.

Orang yang tadi pagi ikut dalam rapat dewan.

“Kenapa dia datang ke sini?” tanya Alya.

Pria tua itu menjawab,

“Karena dia tahu saya menyimpan sesuatu.”

Raka menatapnya.

“Bapak tahu dia terlibat?”

“Saya tidak punya bukti.”

“Lalu kenapa Bapak mencurigainya?”

Pria tua itu mengambil napas panjang.

“Karena setelah ayahmu meninggal, dialah orang pertama yang meminta saya menghentikan penyelidikan.”

Raka terdiam.

“Penyelidikan apa?”

“Kecelakaan ayahmu.”

Hening.

Raka mengepalkan tangan.

“Selama ini saya pikir tidak ada penyelidikan.”

“Ada.”

“Kenapa saya tidak tahu?”

“Karena ibumu meminta saya menghentikannya.”

Raka terkejut.

“Ibu?”

Pria tua itu mengangguk.

“Dia takut keselamatanmu terancam.”

Raka menunduk.

Selama bertahun-tahun dia percaya ayahnya meninggal dalam kecelakaan.

Tidak pernah terpikir bahwa ibunya mungkin menyembunyikan sesuatu untuk melindunginya.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.

Tok.

Tok.

Tok.

Alya menatap Raka.

Raka memberi isyarat agar tetap diam.

Ketukan terdengar lagi.

“Pak?”

Suara Dimas.

“Saya tahu Anda ada di dalam.”

Pria tua itu menatap Raka.

“Jangan buka.”

Raka mengangguk.

Dimas menunggu beberapa saat.

Kemudian berkata,

“Saya hanya ingin bicara.”

Tidak ada jawaban.

Beberapa detik kemudian suara langkah kaki menjauh.

Mereka menunggu sampai suara mobil menghilang.

Baru setelah itu lampu dinyalakan.

SATU JAM KEMUDIAN

Raka duduk di depan meja.

Di atasnya terdapat surat ayahnya.

“Saya ingin tahu semuanya.”

Pria tua itu mengangguk.

“Baik.”

Dia mengambil sebuah map lama.

“Sebelum meninggal, ayahmu menemukan transaksi keuangan yang mencurigakan.”

Alya memperhatikan.

“Transaksi perusahaan?”

“Ya.”

“Jumlahnya besar?”

“Cukup besar untuk membuat perusahaan mengalami kerugian tanpa terlihat jelas.”

Raka mengerutkan kening.

“Siapa yang bertanggung jawab?”

“Dimas.”

Raka langsung menatapnya.

“Dia?”

“Bukan secara langsung.”

Pria tua itu membuka dokumen.

“Dia menggunakan beberapa perusahaan perantara.”

Alya membaca nama-nama perusahaan.

Kemudian matanya berhenti.

“PT Surya Investama.”

Pria tua itu mengangguk.

“Ya.”

Raka menatap Alya.

Perusahaan yang sama dengan transaksi saham Arkana Capital.

Alya langsung memahami.

“Jadi sejak awal…”

“Dimas membantu memindahkan uang perusahaan,” kata pria tua itu.

“Lalu uang itu digunakan untuk membeli saham?”

“Ya.”

Raka berdiri.

“Berarti Arkana Capital bukan sumber uang sebenarnya.”

“Bukan.”

“Dimas.”

Pria tua itu mengangguk.

“Dia menggunakan uang yang seharusnya menjadi milik perusahaan untuk membeli saham perusahaan.”

Raka menghela napas.

Selama ini dia mengira Reza adalah dalang.

Ternyata Reza mungkin hanya bagian dari rencana yang jauh lebih besar.

KEMBALI KE KANTOR

Keesokan paginya Raka datang seperti biasa.

Tidak ada perubahan pada ekspresinya.

Tidak ada yang tahu apa yang mereka temukan.

Alya juga datang seperti biasa.

Mereka sepakat untuk tidak langsung menuduh Dimas.

Mereka membutuhkan bukti.

Karena jika salah langkah, Dimas bisa menghapus semua jejak.

Pukul 09.00, Dimas masuk ke ruang Raka.

“Pak Raka.”

Raka mengangkat wajah.

“Ya?”

“Saya dengar Anda kemarin tidak masuk.”

“Urusan keluarga.”

Dimas mengangguk.

“Saya harap tidak ada masalah.”

“Tidak ada.”

Dimas tersenyum.

Kemudian duduk.

“Rapat dewan kemarin cukup melelahkan.”

Raka mengangguk.

“Memang.”

“Saya rasa kita perlu lebih berhati-hati menghadapi Reza.”

Raka menatapnya.

“Kenapa?”

“Dia punya banyak dukungan.”

Raka tersenyum tipis.

“Kamu sepertinya tahu banyak.”

Dimas terdiam sesaat.

“Saya hanya mengikuti perkembangan.”

“Tentu.”

Raka membuka dokumen.

“Terima kasih sudah datang.”

Dimas berdiri.

Namun sebelum pergi, dia berkata,

“Pak Raka.”

“Hm?”

“Jangan terlalu percaya kepada orang-orang baru.”

Raka menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena orang yang baru datang tidak selalu punya kepentingan yang sama dengan kita.”

Dimas melirik ke arah Alya yang sedang bekerja di luar.

Raka menangkap tatapan itu.

“Saya tahu.”

Dimas keluar.

Begitu pintu tertutup, Raka langsung menghubungi Alya.

“Masuk.”

Alya masuk.

“Apa?”

“Dia tahu.”

“Tahu apa?”

“Dia tahu kita sedang menyelidiki sesuatu.”

Alya terdiam.

“Bagaimana?”

“Tidak tahu.”

“Berarti kita harus bergerak cepat.”

Raka mengangguk.

MISI PERTAMA

Alya ditugaskan memeriksa dokumen lama perusahaan.

Bukan melalui sistem utama.

Mereka menggunakan arsip fisik.

Karena jika Dimas memang terlibat, sistem digital mungkin sudah dibersihkan.

Alya bekerja bersama satu orang dari bagian audit yang dipercaya Raka.

Mereka menemukan beberapa transaksi yang tidak masuk akal.

Perusahaan membayar jasa konsultasi kepada perusahaan yang hampir tidak memiliki aktivitas.

Jumlahnya tidak kecil.

Alya membandingkan tanggal transaksi.

Semua terjadi beberapa minggu sebelum pembelian saham oleh perusahaan-perusahaan yang terafiliasi dengan Reza.

“Ini bukan kebetulan.”

Auditor mengangguk.

“Kalau ini benar, kita bisa melacak aliran dananya.”

“Lakukan.”

Mereka terus bekerja.

Sampai akhirnya ditemukan satu transaksi terbesar.

Tanggalnya tepat dua minggu sebelum kecelakaan ayah Raka.

Alya terdiam.

Jumlahnya sangat besar.

Dan penerima akhirnya adalah perusahaan milik—

Dimas Wibowo.

Alya langsung mencetak dokumen.

Dia berlari menuju ruang Raka.

“Raka.”

Raka berdiri.

“Apa?”

“Kita menemukan sesuatu.”

Dia menyerahkan dokumen.

Raka membaca.

Wajahnya berubah.

“Ini transaksi sebelum ayah saya meninggal.”

“Iya.”

“Jumlahnya?”

Alya menyebutkan.

Raka terdiam.

“Itu hampir sama dengan nilai saham yang kemudian dibeli Arkana.”

Alya mengangguk.

“Uangnya berpindah dari perusahaan ke perusahaan milik Dimas.”

Raka menatap dokumen.

“Berarti dia menggunakan uang perusahaan untuk membeli saham.”

“Sepertinya begitu.”

“Dan ayah saya menemukan ini.”

“Iya.”

Raka menghela napas.

“Lalu kecelakaan terjadi.”

Alya tidak menjawab.

Mereka sama-sama memahami kemungkinan yang paling buruk.

REZA DATANG

Pukul 14.00.

Reza datang tanpa pemberitahuan.

Dia langsung masuk ke ruang Raka.

Alya berada di sana.

Reza melihat mereka.

“Saya mengganggu?”

Raka menjawab,

“Tidak.”

Reza duduk.

“Saya datang bukan untuk membahas rapat.”

Raka menatapnya.

“Lalu?”

“Saya ingin membuat kesepakatan.”

Raka mengerutkan kening.

“Kesepakatan?”

Reza mengangguk.

“Saya tidak ingin mengambil alih perusahaan.”

Alya dan Raka sama-sama terdiam.

“Lalu?”

“Saya ingin mendapatkan kembali bagian yang menurut keluarga saya menjadi hak kami.”

Raka berkata,

“Bram menjual sahamnya.”

“Saya tahu.”

“Jadi?”

Reza menatapnya.

“Karena dia menjual saham itu setelah dipaksa.”

Raka langsung menegang.

“Dipaksa siapa?”

Reza tidak menjawab.

Alya memperhatikan wajahnya.

“Kamu tahu sesuatu tentang ayah Raka?”

Reza menatap Alya.

“Saya tahu cukup banyak.”

Raka berdiri.

“Jelaskan.”

Reza menarik napas.

“Bram tidak pernah benar-benar ingin menjual saham.”

“Lalu kenapa?”

“Karena Dimas membuatnya percaya bahwa perusahaan akan bangkrut.”

Raka terdiam.

Alya menatap Reza.

“Dimas?”

Reza mengangguk.

“Dia memanipulasi laporan keuangan.”

“Kenapa?”

“Karena dia ingin mengendalikan perusahaan.”

Raka menatapnya.

“Dan kamu?”

“Saya mengetahuinya terlambat.”

“Kenapa kamu membeli saham?”

Reza tersenyum pahit.

“Karena saya ingin mengembalikan apa yang hilang dari keluarga saya.”

Raka masih tidak percaya sepenuhnya.

“Kenapa saya harus percaya?”

“Kamu tidak perlu.”

Reza berdiri.

“Saya membawa sesuatu.”

Dia meletakkan sebuah flash drive di atas meja.

“Rekaman percakapan antara Dimas dan ayah saya.”

Raka tidak menyentuhnya.

“Apa isinya?”

“Dengarkan sendiri.”

Reza berbalik.

Sebelum pergi, dia menatap Raka.

“Saya bukan temanmu.”

Raka diam.

“Tapi musuh sebenarnya bukan saya.”

Reza pergi.

REKAMAN

Malam itu mereka mendengarkan rekaman di ruang kerja Raka.

Suara lama terdengar dari laptop.

Suara Bram.

Kemudian suara Dimas.

Pembicaraan mereka terdengar samar.

Namun beberapa kalimat cukup jelas.

“Kalau Aditya tahu, semuanya selesai.”

“Dia tidak akan tahu.”

“Bagaimana dengan saham?”

“Saya akan mengurusnya.”

“Dan kalau dia mulai menyelidiki?”

Hening beberapa detik.

Kemudian suara Dimas.

“Saya akan memastikan dia berhenti.”

Rekaman berakhir.

Alya menatap Raka.

Raka tidak bergerak.

“Raka…”

Dia berdiri.

“Sekarang saya tahu.”

“Apa?”

“Kenapa ayah saya menulis surat itu.”

Alya mendekat.

“Dia tahu Dimas berbahaya.”

Raka mengangguk.

“Dan mungkin dia tahu lebih dari itu.”

Alya memegang tangannya.

“Sekarang kita punya bukti.”

“Belum cukup.”

“Kenapa?”

“Rekaman ini bisa diperdebatkan.”

Alya berpikir.

“Kalau begitu kita cari bukti transaksi.”

Raka mengangguk.

“Besok kita serahkan semuanya kepada auditor independen.”

PAGI BERIKUTNYA

Sebelum Raka sempat menghubungi auditor, sesuatu terjadi.

Dimas dipanggil oleh dewan.

Raka juga dipanggil.

Alya menunggu di luar.

Dua puluh menit kemudian, Raka keluar.

Wajahnya serius.

“Ada apa?”

“Dimas mengundurkan diri.”

Alya terkejut.

“Sekarang?”

“Iya.”

“Dia tahu?”

“Sepertinya.”

“Lalu?”

Raka memberikan sebuah surat.

Alya membacanya.

Dimas menyatakan pengunduran diri karena alasan kesehatan.

Alya langsung menggeleng.

“Dia kabur.”

Raka mengangguk.

“Ya.”

“Bisa kita cegah?”

“Tidak tanpa dasar hukum yang kuat.”

Alya menatapnya.

“Dia akan menghilangkan bukti.”

Raka mengangguk.

“Kita harus bergerak sekarang.”

SATU JAM KEMUDIAN

Tim audit masuk ke ruang Dimas.

Namun komputer sudah dikosongkan.

Beberapa dokumen hilang.

Server pribadinya sudah tidak aktif.

Dimas juga tidak bisa dihubungi.

Alya berdiri di depan ruangannya.

“Dia sudah merencanakan ini.”

Raka mengangguk.

“Jelas.”

“Tapi ada satu hal.”

“Apa?”

Alya menunjuk meja.

“Kalau dia benar-benar ingin menghapus semua jejak, kenapa meninggalkan ini?”

Sebuah kalender meja.

Alya membukanya.

Ada satu tanggal yang dilingkari.

17 Agustus.

Di bawahnya hanya tertulis:

Pertemuan terakhir.

Raka menatap tanggal itu.

“Hari ini tanggal 15.”

Alya mengangguk.

“Berarti dua hari lagi.”

“Dengan siapa?”

Alya membalik halaman.

Ada satu inisial.

A. S.

Raka menatapnya.

“A.S.”

Alya berpikir.

Kemudian wajahnya berubah.

“Raka…”

“Apa?”

“Nama lengkap ayahmu…”

“Aditya Mahendra.”

Alya menggeleng.

“Bukan itu.”

Dia menunjuk inisial tersebut.

“A.S.”

Raka terdiam.

Kemudian berkata,

“Aditya Santoso?”

Alya menatapnya.

“Itu nama tengah ayahmu?”

Raka mengangguk perlahan.

“Ya.”

Keduanya saling menatap.

Kalau kalender itu memang berhubungan dengan ayah Raka, maka pertemuan tanggal 17 Agustus bukan sekadar urusan bisnis.

Itu mungkin adalah pertemuan yang terjadi sebelum kecelakaan.

Dan jika mereka bisa menemukan siapa yang hadir dalam pertemuan terakhir itu—

mereka mungkin akhirnya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada ayah Raka.

Raka mengambil kalender tersebut.

“Kita punya dua hari.”

Alya mengangguk.

“Dan kali ini kita tidak akan terlambat.”

Raka menatapnya.

“Tidak.”

Dia menggenggam tangan Alya.

“Kita selesaikan semuanya.”

Untuk pertama kalinya sejak konflik ini dimulai, arah mereka jelas.

Bukan lagi mengejar bayangan.

Bukan lagi saling curiga.

Mereka kini memiliki bukti, nama, tanggal, dan tujuan.

Dan dua hari lagi—

mereka akan membuka rahasia terbesar keluarga Mahendra.

1
Anugerah Kreasi Dewata
ceritanya menarik.. mungkin bisa menjadi salah satu novel yang saya rekomendasikan untuk di baca
Dewi Wibawa
terimakasih kakak🙏
Uthie
Ada yg mulai cemburu, tapi masih gengsi 😁😁👍
Uthie
cowok gengsian keburu di tikung 😂
Uthie
Sukkkkaaa banget moment macam itu 👍😁😁😁
Uthie
Saya masih lanjut baca 😍😍👍
Uthie
Menarik 👍👍😁🤗
Uthie
tertarik mampir untuk sebuah cerita baru 😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!