Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10
Meja Makan Keluarga Halim
Seminggu setelah perjanjian ditandatangani, Renata kembali berdiri di depan pintu Kediaman Halim bersama Nathan.
Sebuah koper kecil berada di bagasi mobil. Sesuai permintaan Opa William, setelah makan malam Renata akan kembali ke Puri Teratai. Kamar tamunya sudah disiapkan Bik Inah, terpisah dari kamar Nathan seperti yang tertulis dalam perjanjian.
“Ingat,” kata Nathan sebelum pintu dibuka, “Opa tidak boleh tahu.”
Renata merapikan lengan blusnya. “Aku yang mengusulkan sandiwara ini.”
“Jangan berlebihan.”
“Aku juga nggak berniat terlihat jatuh cinta.”
Nathan menatapnya, tetapi pintu sudah dibuka oleh pelayan.
Opa William menunggu di ruang tengah dengan tongkat di samping kursi. Begitu melihat Renata, wajah kerasnya langsung menghangat.
“Rena, kemari.”
Renata mendekat dan membiarkan Opa menggenggam tangannya.
“Kurus lagi,” gerutu lelaki tua itu. “Nathan nggak kasih kamu makan?”
“Jadwal kerja saja yang berantakan, Opa.”
“Jangan lindungi dia terus.” Opa menatap Nathan. “Istri pulang terluka, kamu malah sibuk di kantor.”
Nathan tidak bertanya bagaimana Opa tahu tentang lukanya. Kemungkinan Bik Inah sudah melapor.
“Lukanya sudah sembuh,” katanya.
“Yang Opa tanya bukan lukanya.”
Ruang tengah mendadak hening. Nathan mengalihkan pandangan, sementara Renata menekan rasa bersalah karena membiarkan Opa mempercayai sandiwara mereka.
Anggota keluarga lain datang tidak lama kemudian. Fransisca memasuki ruang makan bersama suaminya, Bernard, dan Kevin yang berlari lebih dulu. Yovita menyusul dengan gaun gelap dan tatapan yang selalu terlihat seperti sedang menilai pertunjukan.
“Tante Rena!” Kevin berhenti di depan Renata. “Katanya Tante tinggal di rumah kecil sekarang.”
Fransisca menarik kursi tanpa menegur anak itu. “Anak-anak sekarang cepat sekali dengar omongan orang.”
“Aku tinggal dekat tempat kerja,” jawab Renata.
“Kenapa nggak tinggal sama Om Nathan?” Kevin bertanya lagi. “Tante diusir, ya?”
“Kevin,” tegur Nathan.
Anak itu menoleh.
“Minta maaf.”
“Tapi aku cuma tanya.”
“Sekarang.”
Kevin menunduk. “Maaf, Tante Rena.”
Renata mengusap kepalanya sebentar. “Lain kali jangan ulangi omongan orang kalau kamu nggak tahu artinya.”
Kevin mengangguk lalu berlari ke kursinya. Ia bukan anak jahat. Ia hanya meniru kalimat yang terlalu sering didengarnya dari orang dewasa.
Makan malam dimulai setelah Opa duduk di kepala meja. Bik Inah membantu menyajikan sup, ikan kukus, dan beberapa hidangan lain. Renata baru menyentuh sendok ketika Fransisca membuka percakapan.
“Papa, tadi siang aku bertemu teman lama di arisan. Dia bertanya kapan keluarga kita dapat kabar baik dari Nathan.”
Opa mengangkat mata. “Kabar baik apa?”
“Anak, tentu saja.” Fransisca tersenyum. “Mereka menikah tiga tahun. Orang mulai bertanya-tanya.”
Bernard menunduk pada piringnya. Yovita memutar gelas air perlahan, tidak ikut bicara tetapi jelas menikmati arah percakapan.
“Urusan rumah tangga mereka bukan bahan arisanmu,” kata Opa.
“Aku cuma memikirkan nama baik keluarga. Nathan pewaris utama. Kalau sampai ada masalah...” Tatapan Fransisca berpindah ke Renata. “Mungkin Rena perlu diperiksa. Kadang perempuan terlalu sibuk kerja sampai lupa tubuhnya sendiri.”
“Tante mau bilang aku mandul?” tanya Renata.
Fransisca pura-pura terkejut. “Jangan bicara kasar. Aku hanya khawatir.”
Yovita akhirnya menyela. “Kalau memang nggak ada masalah, mestinya tiga tahun sudah cukup lama.”
“Cukup,” kata Nathan.
Semua mata beralih kepadanya.
Nathan meletakkan sendok. “Urusan punya anak adalah keputusan saya. Jangan menekan Renata.”
Satu kalimat itu menghentikan serangan, tetapi tidak menghapus cara Nathan menempatkan semuanya sebagai keputusannya sendiri. Ia melindungi Renata dari tuduhan, sekaligus tetap berbicara seolah tubuh dan masa depan mereka berada di bawah kendalinya.
Fransisca mengembuskan napas. “Aku cuma nggak mau orang bilang keluarga Halim salah memilih menantu.”
“Salah memilih bagaimana?” Opa William bertanya.
“Papa tahu latar belakangnya. Keluarga Suryani bangkrut, utangnya masih ke mana-mana. Orang bisa mengira dia masuk keluarga kita hanya untuk...”
Tongkat Opa menghantam lantai sekali.
“Jaga mulutmu, Sisca.”
Wajah Fransisca menegang.
Opa menyapu seluruh meja dengan tatapan tajam. “Renata itu cucu mantu kesayangan Opa. Dia masuk rumah ini karena Opa yang meminta. Kalau ada yang merasa pilihan Opa memalukan, orang itu boleh keluar dari rumah ini.”
Tak seorang pun bergerak.
“Dan kamu,” lanjut Opa kepada Nathan, “punya istri tapi nggak tahu cara menjaganya. Jangan cuma bisa bicara kalau orang lain sudah menusuk.”
Nathan menerima teguran itu dalam diam.
Renata menunduk pada mangkuk sup. Kehangatan menyebar di dadanya, diikuti rasa bersalah yang lebih berat. Opa membelanya tanpa syarat. Sementara dirinya duduk di meja itu karena sebuah perjanjian untuk pergi.
Makan malam dilanjutkan dengan percakapan yang jauh lebih aman. Fransisca tidak lagi menyerang langsung. Yovita sesekali menyelipkan komentar, tetapi berhenti setiap Opa mengangkat mata.
Saat hidangan penutup dibawa masuk, ponsel Nathan bergetar.
Nama Cheryl terlihat sesaat di layar.
Nathan membaca pesan itu, kemudian berdiri. “Aku harus kembali ke Prima.”
Opa mengernyit. “Sekarang?”
“Ada temuan baru soal keamanan jaringan.”
Pesan suara berikutnya masuk. Suara Cheryl terdengar samar ketika Nathan mendekatkan ponsel ke telinga.
Nate, tim sudah menemukan akun perantara. Mereka menunggu keputusanmu.
“Duduk,” perintah Opa.
“Ini penting.”
“Istrimu juga penting.”
Nathan memandang Renata. “Dia akan pulang bersama Bik Inah.”
Lalu ia pergi.
Pintu depan menutup. Fransisca menahan senyum kecil, seolah kepergian Nathan membuktikan seluruh sindirannya. Renata tetap duduk tegak meski bagian dalam dadanya terasa kosong.
Ia seharusnya sudah terbiasa.
Ternyata kebiasaan tidak selalu membuat rasa sakit hilang. Kadang hanya mengajarkan cara menyembunyikannya.
Sebelum keluarga lain pulang, Opa memanggil Bik Inah.
“Kamar Rena di Puri sudah siap?”
“Sudah, Tuan. Kamar tamu sebelah taman, sesuai permintaan Nyonya Rena.”
Fransisca mengangkat alis mendengar kata kamar tamu, tetapi tatapan Opa membuatnya menahan komentar.
“Antar Rena dan kopernya malam ini,” kata Opa. “Kalau Nathan jarang pulang atau membiarkannya makan sendiri lagi, lapor pada Opa.”
“Baik, Tuan.”
Renata tidak punya alasan untuk menolak. Klausul perjanjiannya berlaku jelas ketika Opa meminta mereka tinggal bersama. Mulai malam itu, ia akan kembali ke Puri Teratai, tetapi bukan ke kamar Nathan dan bukan sebagai istri yang masih menunggu.
Setelah keluarga lain pulang, Opa mengajak Renata ke rumah kaca di belakang kediaman. Udara di dalam hangat dan lembap. Pot anggrek tersusun di sepanjang dinding, sementara beberapa tanaman melati baru tumbuh dekat jendela.
“Kamu masih suka melati?” tanya Opa.
Renata menoleh. “Opa ingat?”
“Ada hal yang nggak boleh dilupakan.”
Opa memotong satu daun kering, lalu duduk di bangku kayu. “Kalau Nathan membuatmu menderita, bilang pada Opa.”
“Kami baik-baik saja.”
“Rena.”
Satu panggilan itu penuh teguran, tetapi juga kasih sayang.
Renata duduk di sampingnya. “Aku cuma nggak mau Opa khawatir.”
“Opa lebih khawatir kalau kamu diam.” Lelaki tua itu memandang wajahnya lama. “Dulu Opa berjanji pada seseorang bahwa kamu akan punya rumah yang melindungimu.”
Jantung Renata berdetak sedikit lebih cepat. “Kepada siapa?”
Opa William membuka mulut, lalu mengurungkan jawabannya.
“Belum waktunya,” katanya akhirnya. “Yang penting, jangan pernah percaya kamu sendirian.”