NovelToon NovelToon
Dihina di Depan Umum, Bangkit Jadi Pengacara Terkuat

Dihina di Depan Umum, Bangkit Jadi Pengacara Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Galaxy

Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.

Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.

Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8: Beban yang Belum Reda

Nama Alexander Wijaya mulai dibisikkan karena kemenangan.

Malam itu, di kamar kosnya, kemenangan itu berubah menjadi empat kolom angka.

Uang kos. Transportasi. Makan. Dana darurat keluarga.

SPP Nathan Wijaya memang sudah lunas. Notifikasi pembayaran masih tersimpan di ponsel Alexander seperti bukti kecil bahwa hari ini ia tidak sepenuhnya kalah oleh hidup. Tetapi setelah ia memasukkan gaji magang, uang transport, dan sisa saldo lama ke dalam catatan anggaran, hasil akhirnya tetap tipis.

Terlalu tipis untuk disebut aman.

Ponselnya bergetar.

Nathan: Bang, sekolah sudah konfirmasi. Terima kasih.

Alexander mengetik: Belajar saja. Jangan pikirkan uang.

Balasan Nathan datang cepat.

Nathan: Justru karena aku belajar, aku tahu angka tidak hilang kalau tidak dibayar. Kalau perlu, aku bisa ikut lomba berhadiah bulan depan.

Alexander menatap layar beberapa detik.

Adiknya masih sekolah, tetapi cara berpikirnya kadang lebih tua daripada orang dewasa. Itu membuat Alexander bangga. Sekaligus sakit.

Alexander: Tugasmu menang lomba karena kamu suka, bukan karena keluarga butuh uang.

Nathan: Kalau dua-duanya?

Alexander hampir tersenyum.

Alexander: Tidur.

Sebelum layar mati, Nathan mengirim foto kecil. Bukan selfie. Foto lembar pengumuman lomba matematika antar-sekolah, dengan hadiah uang tunai di bawah nama sponsor.

Nathan: Aku cuma daftar. Belum tentu menang.

Alexander bisa membayangkan adiknya berdiri di koridor sekolah siang tadi, pura-pura tidak mendengar petugas administrasi memanggil namanya. SPP memang sudah masuk, tetapi keterlambatan beberapa hari cukup membuat anak-anak lain menoleh. Nathan tidak pernah mengeluh. Justru itu yang membuat Alexander ingin memukul sesuatu setiap kali mengingatnya.

Alexander: Menanglah karena kamu ingin membuktikan otakmu. Urusan uang, Bang Alex yang urus.

Nathan: Siap, Kak.

Tidak sampai satu menit, pesan baru masuk. Kali ini dari Herlina Halim.

Alex, Ibu transfer sedikit. Jangan marah.

Alexander langsung membuka aplikasi bank. Ada transfer kecil. Jumlahnya tidak besar, tetapi ia tahu uang itu tidak datang dari ruang kosong. Itu mungkin hasil Herlina menunda membeli obat, menahan belanja dapur, atau mengambil pekerjaan jahit tambahan dari tetangga.

Ia menelepon.

Herlina mengangkat setelah dering kedua. "Alex?"

"Bu, kenapa transfer?"

"Untuk makanmu. Kamu baru mulai kerja di kantor besar. Jangan sampai sakit karena menghemat terlalu keras."

"Ibu sendiri makan apa?"

Hening sebentar.

"Ibu makan di rumah, lebih murah."

Di belakang suara Herlina, Alexander mendengar bunyi mesin jahit tua. Cepat, lalu berhenti. Cepat lagi, lalu berhenti, seperti seseorang menekan pedal sambil menahan lelah.

"Ibu masih jahit pesanan?"

"Sedikit saja. Tetangga minta dipendekkan celana seragam anaknya."

"Sudah malam."

"Besok anak itu sekolah."

Alexander memejamkan mata. Di ruang sidang, ia bisa mematahkan argumen lawan dengan bukti. Di hadapan ibunya, ia sering kalah oleh satu kalimat sederhana.

"Bu, SPP Nathan sudah kubayar. Aku juga sudah mulai resmi di Kantor Hukum Adiwangsa."

"Ibu tahu. Nathan cerita. Dia bangga sekali."

"Jadi Ibu tidak perlu kirim uang lagi."

"Kalau seorang ibu masih bisa mengirim sedikit untuk anaknya, jangan kau ambil hak itu."

Alexander terdiam.

Herlina melembutkan suara. "Kamu tidak harus kuat sendirian, Alex."

Alexander melihat Lencana Advokat Herman Wijaya di atas meja. Sejak malam itu, ia sengaja meletakkannya di tempat yang bisa dilihat setiap kali pulang.

"Aku tahu, Bu," katanya. "Tapi aku ingin kalian akhirnya bisa bernapas."

"Kalau begitu jangan hanya mengejar uang. Kejar hidup yang benar."

Kalimat itu membuat Alexander menunduk.

Belajar hukum berarti menutup celah yang dipakai orang kuat.

Ia tidak tahu kenapa kalimat itu muncul dalam kepalanya malam itu. Mungkin karena sidang kecil tadi pagi. Mungkin karena wajah klien Kafe Lavanta ketika mendengar putusan. Atau mungkin karena ia mulai sadar, masalah keluarganya melebar dari urusan uang. Terlalu banyak orang kecil dipaksa hidup tanpa perlindungan yang benar.

Setelah menutup telepon, Alexander membuka kembali catatan anggaran. Ia menambahkan satu baris baru.

Kasus tambahan luar jam kantor.

Ia tidak akan mengambil perkara sembarangan. Tidak akan menjual nama KH Adiwangsa untuk uang cepat. Tetapi jika ada konsultasi kecil yang sah, draf dokumen sederhana, atau bantuan hukum yang bisa dikerjakan setelah jam kantor, ia harus bergerak.

Panel Status tidak muncul.

Tidak ada misi. Tidak ada hadiah.

Hanya angka-angka di layar, dan suara kipas tua yang berputar pelan.

Alexander membuat daftar kecil di bawah catatan anggaran.

Pertama, tidak mengambil kasus yang membuatnya melanggar aturan kantor.

Kedua, tidak menerima uang dari orang yang ingin membeli kesaksian.

Ketiga, setiap bantuan hukum kecil harus punya bukti dan identitas jelas.

Ia menulis tiga baris itu bukan untuk terlihat mulia. Ia menulisnya karena ia baru saja melihat sendiri betapa mudahnya orang miskin dijebak dengan uang, cek, dan kalimat yang dipotong dari konteks. Jika ia mulai mencari celah demi bertahan hidup, ia akan menjadi versi lain dari orang-orang yang ia lawan.

Ketukan terdengar di pintu.

Alexander membuka pintu. Seorang pria penghuni kos lantai bawah berdiri dengan helm ojek daring di tangan. Wajahnya tegang.

"Bang Alex, maaf ganggu. Abang pengacara, kan?"

"Ada apa?"

"Saya dengar dari Bu Kos, Abang baru menang kasus. Teman saya sesama pengemudi tadi kecelakaan waktu ambil order. Parah. Tapi pihak aplikasi bilang dia cuma mitra, bukan karyawan, jadi jangan berharap banyak."

Alexander langsung tegak. "Aplikasi apa?"

"MakanYuk."

Nama itu berhenti di udara.

Pria itu melanjutkan, "Yang bikin aneh, Bang, sebelum kecelakaan ada orang yang sudah beberapa hari mengikuti dia. Keluarganya panik di RS Kota. Istrinya tidak tahu harus tanda tangan apa. Ada orang perusahaan datang bawa surat."

Alexander mengambil jas dari gantungan.

"Siapa nama korbannya?"

"Pak Anwar. Anwar Halim."

Tangan Alexander berhenti di kancing jas.

Halim.

"Anwar Halim?" ulangnya.

"Iya. Katanya masih keluarga Bu Herlina. Saya pikir Abang perlu tahu."

Ponsel Alexander bergetar sebelum ia sempat menjawab.

Nama Herlina muncul di layar.

Ia mengangkat.

Suara ibunya tidak lagi lembut. Suara itu pecah oleh panik yang ditahan.

"Alex, Paman Anwar masuk rumah sakit."

Alexander sudah berjalan ke luar kamar.

"RS Kota?"

"Iya. Yanti sendirian di sana. Katanya pihak MakanYuk minta tanda tangan surat. Ibu tidak mengerti, Alex. Mereka bilang kalau tidak ditandatangani, biaya awal tidak dibantu."

Alexander menuruni tangga kos dua anak tangga sekaligus.

"Bu, jangan tanda tangan apa pun. Bilang ke Tante Yanti juga. Aku ke sana sekarang."

"Alex..."

"Dengar aku, Bu. Tidak satu lembar pun."

Di luar kos, malam Kota Cahaya masih basah oleh gerimis. Alexander memesan ojek, tetapi semua pengemudi jauh. Ia menatap jalan, lalu mulai berlari ke pangkalan terdekat.

SPP, uang kos, meja pojok, sidang kecil, semua angka yang tadi mengurung kepalanya runtuh menjadi satu titik.

RS Kota.

Anwar Halim.

MakanYuk.

Jika perusahaan itu mencoba membeli tanda tangan keluarga yang sedang panik, maka ini bukan lagi soal satu kecelakaan.

Ini celah yang harus ditutup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!