NovelToon NovelToon
Jodoh Kok Bikin Emosi

Jodoh Kok Bikin Emosi

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Seranovelle

Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6 - Bukan Kebetulan Lagi

Pagi itu, Nadira datang ke kantor dengan mata sedikit sembap.

Semalam ia baru bisa tidur menjelang pukul dua dini hari. Berkali-kali ia terbangun hanya untuk memastikan ponselnya tidak berdering lagi dari rumah sakit.

Begitu memasuki lobi kantor, ponselnya berbunyi.

> **Mama**

> *Papa sudah lebih baik. Dokter bilang kalau hasil pemeriksaan bagus, besok sudah boleh pulang.*

Tanpa sadar Nadira mengembuskan napas lega.

Rasa berat yang sejak semalam memenuhi dadanya perlahan menghilang.

"Udah mendingan?"

Suara itu membuatnya menoleh.

Arga berdiri beberapa langkah di belakang sambil membawa dua gelas minuman.

"Kamu kagetin orang aja."

"Maaf."

"Papa gimana?"

"Lebih baik."

"Wah, syukur."

Nada suara Arga terdengar benar-benar lega, bukan sekadar basa-basi.

Ia menyodorkan satu gelas.

"Teh lemon."

Nadira menatap gelas itu.

"Kamu tahu aku suka teh lemon?"

"Aku nggak tahu."

"Lalu?"

"Aku nebak."

"Kalau salah?"

"Ya aku yang minum."

Nadira terkekeh pelan.

"Hoki juga tebakanmu."

Arga tersenyum puas.

"Tuh kan."

Untuk pertama kalinya, Nadira menerima minuman itu tanpa menolak.

Momen sederhana itu tidak luput dari perhatian beberapa rekan kerja yang kebetulan lewat.

Rina menyenggol bahu Dimas, salah satu staf desain.

"Aku bilang juga apa."

"Mereka mulai akrab."

"Ssst."

Rina tertawa kecil sebelum berlalu.

Sementara Nadira sama sekali tidak menyadari dirinya sedang menjadi bahan gosip ringan di kantor.

---

Siang harinya, Pak Dimas memanggil seluruh tim proyek.

"Hari ini kalian survei lokasi."

Beliau membagikan beberapa berkas.

"Klien ingin melihat konsep awal paling lambat minggu depan."

"Siap, Pak," jawab Nadira.

Pak Dimas menoleh ke arah Arga.

"Jangan banyak bercanda."

"Pak..." Arga mengangkat kedua tangan. "Saya kalau kerja serius."

Satu ruangan langsung tertawa.

Termasuk Nadira.

Arga spontan menoleh.

"Kamu ketawa?"

Nadira langsung merapikan ekspresinya.

"Nggak."

"Barusan jelas."

"Itu refleks."

"Nah, berarti kemajuan."

Nadira mendengus pelan.

"Terlalu percaya diri."

---

Lokasi proyek berada hampir satu jam dari kantor.

Karena motor Nadira masih tertinggal semalam, mereka akhirnya berangkat menggunakan mobil Arga.

Begitu duduk di kursi penumpang, Nadira otomatis meraih sabuk pengaman.

Arga memperhatikan sekilas.

"Kamu tipe orang yang selalu baca petunjuk ya?"

"Maksudnya?"

"Di lift baca aturan."

"Di restoran baca menu sampai bawah."

"Sekarang langsung pakai seatbelt."

"Itu kan memang harus."

Arga mengangguk sambil tersenyum.

"Lucu."

"Apa yang lucu?"

"Kamu."

Nadira menoleh tajam.

"Maksudku..."

Arga buru-buru mengoreksi.

"...cara kamu menjalani hidup."

"Teratur?"

"Iya."

"Hidupmu pasti punya jadwal."

Nadira tidak menyangkal.

Bahkan di ponselnya memang ada daftar kegiatan harian yang selalu ia centang satu per satu.

"Pantas."

"Pantas apa?"

"Kamu gampang stres kalau ada yang melenceng."

Nadira terdiam.

Ucapan itu tepat sasaran.

Ia memang seperti itu.

Kalau rencana berubah mendadak, pikirannya ikut kacau.

Arga melirik sekilas.

"Eh."

"Hm?"

"Aku nggak lagi ngejek."

"Aku tahu."

"Bagus."

---

Mereka tiba di lokasi proyek menjelang siang.

Kompleks perumahan yang masih dalam tahap pembangunan tampak sibuk.

Beberapa pekerja hilir mudik membawa material.

Nadira mulai memotret setiap sudut sesuai kebutuhan presentasi.

Arga memperhatikan area pemasaran sambil sesekali mencatat sesuatu.

Saat sedang berdiskusi dengan mandor, langkah Nadira terhenti.

Hak sepatunya tersangkut di sela paving yang belum rata.

Tubuhnya kehilangan keseimbangan.

"Eh—"

Belum sempat jatuh, sebuah tangan lebih dulu menangkap lengannya.

"Pelan."

Suara Arga terdengar dekat.

Sangat dekat.

Nadira refleks menggenggam lengan kemeja pria itu.

Beberapa detik mereka hanya saling menatap.

"Nggak apa-apa?"

"I... iya."

Arga memastikan Nadira sudah berdiri tegak sebelum melepaskan tangannya.

"Hati-hati."

Nadira mengangguk pelan.

"Terima kasih."

"Kalau kamu jatuh, nanti aku dimarahin Pak Dimas."

Nadira langsung memutar bola mata.

"Kirain mau serius."

"Aku serius."

"Tapi tetap bercanda."

"Soalnya kamu kalau panik lucu."

Nadira mendesah.

"Dasar."

Meski begitu, ia menyadari telapak tangannya masih terasa hangat karena sentuhan singkat tadi.

Entah kenapa, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

---

Sore menjelang ketika pekerjaan mereka selesai.

Di perjalanan pulang, jalanan mendadak macet total.

Arga melirik jam.

"Kayaknya lama."

Nadira mengangguk.

Tak lama kemudian terdengar suara perut seseorang berbunyi.

Kruuuk...

Arga menoleh.

"Bukan aku."

Nadira langsung menutupi perutnya dengan tas.

"Waktu makan siang tadi aku lupa makan."

"Ya ampun."

Arga tertawa kecil.

"Pantes mukamu makin jutek."

"Aku memang lapar."

"Lima menit."

"Kenapa?"

"Ada tempat makan enak di depan."

"Aku mau cepat ke rumah sakit."

"Aku tahu."

"Tapi kalau kamu pingsan karena belum makan, siapa yang jenguk Papa?"

Kalimat itu membuat Nadira terdiam.

Beberapa menit kemudian mobil berhenti di sebuah warung mi ayam sederhana.

"Beneran di sini?"

"Iya."

"Kelihatannya ramai."

"Itu tandanya enak."

Mereka duduk di meja pojok.

Pemilik warung yang ternyata mengenal Arga langsung menyapa ramah.

"Lama nggak kelihatan, Gar."

"Iya, Bu."

"Wah, sekarang bawa pacar?"

Nadira yang baru saja minum es teh langsung tersedak.

"Batuk... batuk..."

Arga buru-buru menyodorkan tisu.

"Bukan, Bu."

Pemilik warung tertawa.

"Oh, kirain."

Nadira masih batuk sambil menatap Arga kesal.

"Lihat kan."

"Apa?"

"Gara-gara kamu."

"Lho, aku juga udah bilang bukan."

"Tetap aja."

Arga menahan tawa.

"Kalau kamu marah terus, nanti Ibu warung makin yakin."

Nadira menghela napas panjang.

"Kenapa sih setiap ketemu kamu selalu ada kejadian aneh?"

Arga berpura-pura berpikir.

"Mungkin..."

"Apa?"

"...semesta lagi iseng."

Nadira mendengus pelan.

Namun kali ini, ia tidak membantah.

Karena jauh di dalam hatinya, ia mulai bertanya-tanya.

Apa benar semua ini hanya kebetulan?

Atau... hidup memang perlahan sedang mengarahkan mereka ke jalan yang sama?

**Bersambung ke Episode 7...**

1
Dewi Sinta
lusa hari senin dong.. kan mau ngerayain ultahnya mamanya arga hari minggu mesti nya besok😂
Seranovelle: "Ya ampun, bener juga. 🤣 Untung ada Kakak, kalau enggak Arga ngerayain ulang tahun mamanya lompat hari. 😂"
total 1 replies
Dewi Sinta
ayah tiri ya thoor, krn di bab sebelumnya ayah arga udah meninggal
Seranovelle: Cobaa tebak kak, ayah arga sudah meninggal atau belum yaa kak?
total 1 replies
Dewi Sinta
perasaan masih pagi thoor 😂
Seranovelle: Perjalanan dangat jauh ni kak, waktu pagi terasa singkat.. dan tibatiba sudah masuk jam makan siang deh kaa 🤭
total 1 replies
Dewi Sinta
Gar.. apa itu thor.. sy kira arga.. mesti nya bilang Ar..😌
Seranovelle: Btw kak, Gar itu nama panggil argaa yaa kak 😬🤍
total 2 replies
Dewi Sinta
sudah bertemu 3 kali thoor 😂
Seranovelle: Author lagi kena efek butterfly. Pertemuan ketiga tiba-tiba menghilang. 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!