"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"
Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.
Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.
Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
nominl angka
Suasana di dalam kamar mendadak berubah dingin dan kaku. Elio terdiam seribu bahasa, namun sorot matanya yang menatap Aratala bagaikan bilah pisau tajam yang siap mencabik-cabik siapa saja. Napas pria itu menderu pelan, menahan amarah luar biasa yang membuncah di balik dada bidangnya akibat rentetan kalimat telak yang baru saja dilontarkan sang istri.
alih-alih ciut atau mundur, Aratala justru menegakkan dagunya semakin tinggi. Mengingat kembali status kontrak mereka membuatnya sadar bahwa ia memegang kendali atas situasi ini—atau setidaknya, ia punya hak untuk memeras pria tiran di depannya.
Dengan gaya santai namun menyebalkan, Aratala menengadah, mengibaskan sebelah tangannya di udara seolah sedang menepis debu, lalu menyodorkan telapak tangan kanannya tepat di depan wajah Elio.
"Nah, mumpung kita lagi bahas soal status kontrak dan batasan, ada hal penting lain yang harus kita selesaikan hari ini, Pak Suami," ujar Aratala dengan nada ceria yang dibuat-buat, sangat kontras dengan situasi yang tegang.
Elio melirik telapak tangan yang terulur di hadapannya, lalu kembali menatap mata Aratala dengan alis bertaut tajam. "Apa lagi, Aratala?" tanyanya dingin, nyaris seperti geraman.
"Bayaran bulan ini, please," jawab Aratala tanpa beban. "Jatuh temponya kan emang minggu ini, jangan sampai telat ya, bos. Reputasiku sebagai istri kontrak yang profesional bisa tercemar kalau gajinya ngaret."
Belum sempat Elio merespons ucapan ngawur itu, Aratala sudah melipat jari telunjuknya, menambahkan poin baru dengan seringai licik di bibirnya.
"Oh, satu lagi! Biaya pengobatan aku yang kemarin gara-gara ulah brutal kamu, plus uang kompensasi mental buat kelancangan kamu tiga hari lalu yang main terjang-terjang fisik seenaknya..." Aratala sengaja menjeda kalimatnya, lalu tersenyum manis. "Tolong ditotal semuanya, transfer ke rekeningku hari ini juga. Anggap saja itu denda karena udah melanggar batasan perjanjian."
Mendengar tuntutan yang terlampau berani—atau lebih tepatnya, sangat tidak tahu malu itu—rahang Elio mengeras hingga bunyi bergemeretup terdengar jelas. Pria itu tidak menyangka, wanita yang tiga hari lalu merengek kesakitan di tangannya kini berdiri dengan penuh percaya diri, menagih uang ganti rugi atas "kelancangannya".
Elio menatap telapak tangan Aratala yang masih terulur, lalu beralih menatap wajah sang istri dengan ekspresi yang sulit diartikan. Tidak ada ledakan amarah seperti yang dibayangkan Aratala. Sebaliknya, sudut bibir pria itu justru terangkat sebelah membentuk sebuah senyuman tipis yang dingin dan penuh kemenangan terselubung.
Tanpa berkata sepatah kata pun, Elio merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel pribadinya. Jemarinya bergerak cepat di atas layar selama beberapa detik, sebelum sebuah suara notifikasi berdenging pelan dari ponsel Aratala yang tergeletak di atas meja nakas.
“Transfer masuk: Rp 500.000.000.”
Aratala mengerjap, sedikit terkejut saat melihat nominal yang masuk jauh melampaui bayaran bulanan maupun biaya pengobatan yang ia maksudkan.
Belum habis rasa terkejutnya, Elio kembali melakukan gestur yang membuat Aratala tertegun. Pria itu merogoh saku jasnya sekali lagi, mengeluarkan sebuah kartu black card logam berwarna hitam legam dengan ukiran emas yang memancarkan kesan eksklusif, lalu meletakkannya dengan gerakan lambat di atas meja nakas tepat di sebelah ponsel Aratala. Kartu kedua milik pria itu.
Elio mendekatkan wajahnya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Aratala dengan sorot mata yang menghipnotis dan berbahaya.
"Lima ratus juta itu cukup untuk bayaran oo seperti yang kamu mau," ucap Elio dengan suara rendah yang mengalun halus namun tegas. "Dan kartu itu... pegang. Pakai sesuka kamu untuk apa pun yang kamu mau. Belanja, atau simpan saja."
Aratala terpaku, menatap bergantian antara nominal di layar ponselnya dan kartu hitam mewah di atas meja nakas. Ada rasa gamang yang tiba-tiba melintas di dadanya; Elio memberikannya kebebasan finansial tanpa batas, tetapi ia tahu betul setiap fasilitas mewah itu adalah rantai tak kasat mata yang semakin mengikatnya ke dalam sangkar ini.
"Kenapa?" tanya Aratala sinis, mencoba menepis rasa goyahnya dengan mendengus keras. "Takut aku laporin ke polisi karena kasus KDRT psikis?"
Elio terkekeh pelan—sebuah suara bariton yang terdengar begitu tenang, kontras dengan ketegangan di antara mereka. Ia lantas menegakkan tubuhnya, merapikan manset jasnya dengan santai.
"Silakan tinggal di sayap utara kalau itu yang bisa bikin kamu tenang Tala," ujar Elio sambil berbalik melangkah menuju pintu kamar. Sebelum keluar, ia sempat melirik sekilas lewat bahunya dengan senyuman miring yang misterius. "Tapi ingat, uang dan fasilitas itu tidak akan pernah bisa mengubah statusmu. Kamu tetap istriku, dan cepat atau lambat, kamu akan kembali ke sisiku dengan sukarela."
🌴🌴🌴
Pintu kamar tertutup rapat dengan bunyi klik yang halus, meninggalkan Aratala sendirian di tengah ruangan yang mendadak terasa begitu sunyi. Ia berdiri mematung, menatap lurus pada benda hitam legam yang tergeletak di atas meja nakas. Kartu black card itu berkilau memantulkan cahaya lampu kamar, seolah mengejek keraguan yang sempat melintas di benaknya.
Aratala mendengus pelan, lalu menyambar kartu tersebut bersama ponselnya. Rasa jijik dan sisa-sisa trauma atas apa yang terjadi padanya beberapa hari lalu memang masih menyisakan nyeri di tubuhnya—sebuah noda kelam yang dipaksakan oleh pria itu. Namun, detik berikutnya, Aratala menarik napas dalam-dalam dan menepis semua rasa amarah serta jijik itu jauh-jauh. Harga dirinya memang ternoda, tubuhnya sempat dihancurkan, tetapi itu semua sepadan.
Uang setengah miliaran di rekeningnya dan kartu tanpa batas di genggamannya saat ini adalah senjata paling ampuh yang ia butuhkan.
Pikiran Aratala langsung melompat pada tujuan utamanya. Tiga hari yang lalu ia telah berjanji pada Bi Nisa lewat pesan singkat bahwa ia akan berkunjung. Hari ini adalah hari kepulangan dan penepatan janji itu. Lebih dari sekadar melepas rindu, ada urusan jauh lebih krusial yang mendesak: Riyah, bocah mungil di panti asuhan yang tengah berjuang melawan penyakitnya, membutuhkan tindakan operasi secepat mungkin. Biaya medis anak itu selama ini selalu menjadi beban pikiran Bi Nisa.
Tanpa membuang waktu semenit pun, Aratala melangkah keluar dari sayap utara dengan tergesa. Ia mengganti pakaiannya dengan celana panjang kasual dan kemeja longgar untuk menutupi rasa sakit yang masih tersisa, lalu menyambar kunci mobil dari laci meja dapur.
Ia tidak peduli lagi pada ancaman terselubung Elio atau bagaimana pria itu akan mencarinya nanti. Yang ada di dalam kepalanya sekarang hanya satu: bergegas pergi ke Panti Asuhan Kasih Sari, menyerahkan dana operasi untuk Riyah, dan memastikan bocah kecil itu mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup sehat.
🌴🌴🌴
Suasana megah lantai paling atas gedung pencakar langit Elcorp Tower mendadak terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Elio melangkah keluar dari lift pribadi dengan langkah lebar dan tegap. Jas hitam yang ia kenakan sedikit tersingkap, memperlihatkan aura dominan dan absolut yang selalu sukses membuat para staf di lantai tersebut menunduk hormat tanpa berani mengangkat wajah.
Di belakangnya, sekretaris pribadinya, Nathan, berjalan setengah berlari sambil membawa segumpal tablet dan dokumen penting yang harus ditinjau pagi ini.
"Jadwal saya hari ini?" suara bariton Elio memecah keheningan koridor privat menuju ruang kerjanya.
"Pukul sepuluh nanti ada rapat evaluasi kuartal dengan jajaran direksi, Tuan. Dilanjutkan makan siang bisnis dengan klien dari Singapura pukul satu siang," papar Nathan cepat, berusaha menyamakan langkah bosnya. "Lalu sore harinya, laporan keuangan dari divisi logistik sudah menunggu di meja Anda."
Elio mengangguk dingin, membuka pintu kaca ruang kerjanya yang luas dan langsung disambut oleh panorama kota metropolitan dari dinding kaca setinggi lantai. Ia melepas jasnya, melemparkannya begitu saja ke sandaran kursi kerja kulit hitam miliknya, lalu duduk sambil melonggarkan sedikit simpul dasinya.
Pikiran Elio tidak sepenuhnya berada di atas dokumen-dokumen bisnis yang berserakan. Bayangan wajah Aratala yang ceplas-ceplos, menantang, dan tanpa rasa takut tadi pagi mendadak melintas di kepalanya. Alih-alih merasa kesal karena dibangkang, sudut bibir Elio justru terangkat sebelah membentuk sebuah senyuman tipis yang misterius. Istrinya itu benar-benar berbeda dari perempuan manapun yang pernah mendekatinya—semakin ditekan, semakin liar dan berani cakar yang dikeluarkan Aratala.
"Biar saja dia menikmati 'kemenangan' kecilnya di sayap utara hari ini," gumam Elio pelan pada dirinya sendiri, jemarinya mengetuk-ngetuk meja kerja dengan ritme santai.
Ia mungkin sekarang tidak tahu persis ke mana tujuan Aratala setelah ini. Laporan dari pengawalnya pasti akan segera masuk. Dan Elio membiarkannya. Selama Aratala masih berada dalam jangkauan bayangannya, dan selama kartu serta uang yang ia berikan habis terkuras, Aratala tidak akan pernah benar-benar bisa lepas dari cengkeramannya.
🌴🌴🌴
Jangan lupa like yaa😭😭