NovelToon NovelToon
Penguasa Agung

Penguasa Agung

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Spiritual / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Blueria

Qin Mu, putra Patriark Keluarga Qin, dianggap sebagai sampah karena gagal membuka meridian meski telah berlatih selama satu tahun. Di tengah hinaan, tekanan keluarga, dan ancaman diusir pada Upacara Uji Spiritual, ia tetap bertahan dengan tekad kuat.
Namun, di balik kegagalannya, tersembunyi misteri besar dalam tubuhnya. Hingga suatu malam, ia akhirnya melihat energi spiritual untuk pertama kalinya, tanda awal kebangkitan yang akan mengubah nasibnya.
Dari kehinaan menuju kekuatan tertinggi, Qin Mu menantang takdir untuk menjadi Penguasa Agung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch 20 — Romantisme

Luo Yan terdiam sejenak. Matanya yang dingin menatap tajam ke arah langit-langit arena sebelum akhirnya menunduk, memandang pundak Qin Mu.

Dapat dilihat dengan jelas guratan emosi yang tidak tertahankan berkelebat di wajahnya yang anggun. Namun, saat ia melihat sosok Qin Mu, wanita itu menarik napas panjang dan perlahan menghembuskannya, berusaha menenangkan pikiran yang berkecamuk di dalam benaknya.

Luo Yan tidak ingin menjawab detail pertanyaan tersebut. Meski begitu, ia tetap ingin memberikan sedikit petunjuk, meski samar.

"Dengar, Qin Mu..." ucap Luo Yan dengan suaranya yang lembut namun berat.

"Ayahmu, Qin Feiyan adalah..."

Baru saja ia mengatakan kalimat pertama, kalimatnya terpotong secara brutal.

BOOOOOOM!

Sebuah dentuman hebat dan memekakkan telinga meletus dari arah podium kehormatan.

Daya ledak yang luar biasa dahsyat menciptakan gelombang kejut yang meluncur turun dan menghantam area lapangan, menerbangkan debu tebal hingga menutupi pandangan semua orang.

Qin Mu dan Qin Changin tersentak kaget. Di tengah kepulan debu tersebut, terlihat siluet pertempuran yang sengit.

Tetua Pertama, Qin Xuanyu, baru saja melancarkan serangan telak yang memukul Tetua Kedua, Qin Chong, hingga terluka parah.

Saat melihat Qin Chong merogoh sebuah botol porselin kecil dari dalam jubahnya, mata Qin Xuanyu membelalak. Ia tahu persis bahwa isi di dalam botol itu adalah obat terlarang yang dapat meningkatkan energi spiritual berkali-kali lipat, dan ia harus segera menghancurkannya sebelum digunakan untuk memulihkan atau merusak meridian lebih jauh. Jika ia tidak segera menyudahi pertarungan panjang ini, siapa yang akan membantu Patriark?

Ketika debu tebal di lapangan mulai berangsur-angsur terangkat, pemandangan yang tersaji di atas podium kehormatan membuat siapa pun yang melihatnya menahan napas.

Di barisan kursi kehormatan, beberapa tetua faksi pemberontak terlihat terkapar dan terluka parah akibat benturan energi pertarungan dengan Qin Feiyan sebelumnya, termasuk Tetua Ketiga, Qin Tong, yang mengerang kesakitan dengan luka besar di bagian paha dan area tulang rusuknya.

Namun, Tetua Keempat, Qin Chukai, masih berdiri tegap dan tampak sangat bugar. Satu-satunya tanda bahwa ia baru saja bertarung adalah sedikit darah segar yang mengalir dari sudut bibir kirinya.

Di kursi utama yang biasanya diduduki oleh Patriark, kini sosok yang duduk di sana adalah seorang wanita anggun dengan tato segitiga di dahinya.

Dia adalah Tetua Songqian dari Sekte Segitiga Hitam. Sejak awal formasi segel bumi diaktifkan, ia belum turun tangan sedikit pun dan hanya mengamati pertarungan demi pertarungan yang terjadi dengan senyum meremehkan. Walaupun ia sedikit terkejut dengan perkasanya tubuh Qin Feiyan yang mampu terus menahan serangan terorganisir dari para tetua dengan teknik tingkat tinggi mereka masing-masing.

Dengan nada dingin dan penuh selidik, Tetua Songqian berbicara kepada Qin Chukai yang berdiri di dekatnya.

"Qin Chukai," panggil Songqian sambil menyilangkan kaki putih mulusnya, suaranya menggema di podium kehormatan.

"Jika kalian semua sudah mengerahkan kekuatan dan formasi seperti ini, seharusnya kalian bisa membunuhnya dan merebut takhta kepala keluarga itu tanpa perlu bantuan dari organisasi kita. Mengapa kau harus melibatkan kami sejauh ini?"

Qin Chukai membungkuk hormat dengan senyum licik. Ia menjawab, "Maafkan aku Nona Songqian, tindakan ini hanyalah bentuk kehati-hatian kami. Kami berjaga-jaga jika ada sesuatu di luar rencana, atau jika ada variabel kuat di pihak Patriark yang tidak dapat kami kendalikan. Bukankah itu akan menyulitkan kami?"

Songqian tertawa pelan.

"Hahaha."

"Kau cukup cerdik dan berterima kasihlah atas pujian itu. Namun..." Matanya menyipit saat ia mengingat sesuatu.

"Aku sedang memikirkan salah satu bawahanku. Berani-beraninya dia turun tangan sendiri ke lapangan hanya karena haus darah. Setelah masalah ini selesai, aku sendiri yang akan menghukumnya."

Di sudut lapangan yang lain, kepulan debu akhirnya menghilang dan memperlihatkan sosok Patriark Qin Feiyan.

Pakaian bagian atas Patriark telah hancur sepenuhnya. Tubuhnya yang perkasa bak batu dipahat rapi kini dipenuhi oleh luka tebasan yang dalam dan mengerikan. Darah segar mengalir dari luka-lukanya, membasahi lantai arena.

Lebih buruk lagi, mata kiri Qin Feiyan terluka parah akibat tebasan pedang yang sangat cepat dan kuat dari Qin Chukai. Luka tersebut membuat matanya tidak bisa digunakan lagi. Meski begitu, Patriark Qin itu masih bisa berdiri tegap memandang Qin Chukai dengan perasaan marah yang meluap-luap.

"Hoo... Kau benar-benar kuat layaknya api merah sebagai lambang kebanggaan keluarga kita!" ujar Qin Chukai pelan.

"Tentu saja! Aku bahkan bisa membakarmu saat ini juga." balas Qin Feiyan.

Melihat pemandangan di kejauhan tersebut, Qin Mu dan Qin Changin terkejut bukan main. Emosi yang tertahan di dalam dada Qin Mu seketika meledak. Refleks tubuhnya bergerak tanpa sadar, air matanya tumpah, dan dengan suara serak yang memecah keheningan, ia berteriak.

"Ayah...!"

Teriakan pilu tersebut menggema ke seluruh penjuru arena.

Di belakangnya, Luo Yan menatap tajam ke arah Qin Mu. Ia melihat bagaimana pemuda itu mengepalkan tangan kanannya dengan sangat erat, hingga buku-buku jarinya memutih, menahan kemarahan yang membara. Luo Yan menyadari bahwa batas kesabaran Qin Mu kini telah mencapai titik puncaknya.

Qin Lian hanya bisa menahan emosinya yang ikut meluap, dari getaran tangan Qin Mu yang bergetar hebat menahannya dan suara sedih yang keluar dari mulut Qin Mu membuatnya tahu bahwa jika ia berbicara mungkin itu hanya akan menambah beban kesedihan kedalam benak Qin Mu.

Seorang pemuda disampingnya yang ternodai oleh cipratan darah diwajahnya ikut merasakan kesedihan yang dialami Qin Mu.

Qin Chen memandang Patriark Qin Feiyan yang berdiri kokoh sebagai kepala keluarga yang mencintai keluarganya dan memiliki romantisasi yang tinggi ikut meneteskan air matanya. Berbanding berbalik ketika ia melihat ayahnya, Qin Tong telah berdiri di podium kehormatan dengan wajah kesakitan.

"Ayah sialan!" gumamnya pelan dengan guratan kekesalan.

1
Putu Gunastra
seharus nya di cantumkan urutan Kultivasi nya Thor ..di bab2 awal..ato mungkin di bab setelah ini yaa..
Blueria: Terimakasih sudah memberikan saran, sudah author tambahkan tingkatan kultivasi di Chapter 1.😄💪
total 2 replies
T28J
sama sama👍
Blueria: sama-sama👋😄
total 1 replies
Glastor Roy
yg bnyk tor up ya
Blueria: Siap💪 Gaskan. Vote dan Like ataupun gift agar author tambah semangat 👋😄
total 1 replies
Glastor Roy
update
Blueria: Besok pagi ya updatenya, author lagi ada kerjaan. Terimakasih udah hadir Kak Roy👋😄
total 1 replies
Glastor Roy
up
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Blueria: Siap, semoga terhibur. 👋😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!