NovelToon NovelToon
Level Maks Sebelum Dunia Berubah

Level Maks Sebelum Dunia Berubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: D'Silent Novel

Pada malam Tahun Baru 2035, seluruh manusia di bumi menerima sebuah notifikasi misterius yang muncul tepat di depan mata mereka.

【Integrasi Dunia akan dimulai dalam 365 hari.】

Tak ada yang tahu siapa pengirimnya. Tak ada yang mampu menjelaskan bagaimana layar itu muncul. Setelah berbulan-bulan tanpa kejadian apa pun, dunia mulai melupakannya dan menganggapnya sebagai fenomena aneh semata.

Namun, tidak dengan Leon.

Di malam yang sama, ia menerima notifikasi kedua yang hanya bisa dilihat olehnya.

【Sistem Simulasi Satu Tahun berhasil diaktifkan.】

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 — Langkah Pertama Seorang Petarung (Bagian 1)

Suara lonceng desa yang bergema semalam masih terngiang di telinga Leon ketika cahaya matahari pertama mulai menembus jendela kamar kecil yang ditempatinya.

Kamar itu sederhana.

Sebuah ranjang kayu, lemari tua, meja kecil, dan jendela yang menghadap langsung ke lapangan latihan desa. Tidak ada listrik, tidak ada kipas angin, apalagi suara kendaraan seperti di dunia asalnya.

Yang terdengar hanyalah kicauan burung dan desir angin pagi.

Leon membuka matanya perlahan.

Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kayu.

Barulah ingatannya kembali.

"Aku masih di dunia simulasi..."

Ia mengusap wajahnya.

Semua kejadian kemarin terasa seperti mimpi panjang. Pertarungan melawan Wolf Ape, bertemu Lyra, hingga tiba di Desa Aster.

Namun rasa pegal di otot-ototnya mengingatkannya bahwa semua itu nyata.

Tok...

Tok...

Tok...

Terdengar suara ketukan dari balik pintu.

"Leon."

Suara berat Rowan terdengar dari luar.

"Kalau kau masih ingin tidur, aku akan menganggapmu menyerah pada quest pertamamu."

Leon langsung bangkit.

"Aku datang!"

Ia mengenakan sepatu kulit sederhana yang disediakan penginapan, lalu membuka pintu.

Di luar, Rowan sudah berdiri dengan kedua tangan terlipat.

Hari ini ia mengenakan pakaian latihan berwarna abu-abu. Sebilah pedang kayu tergantung di pinggangnya.

"Bagus."

"Setidaknya kau tidak terlambat."

Leon mengangguk.

"Mau langsung latihan?"

"Bukan."

Rowan berbalik.

"Ikuti aku."

Mereka berjalan melewati jalan utama desa.

Pagi-pagi sekali Desa Aster sudah mulai ramai.

Para pedagang membuka kios.

Pandai besi menyalakan tungku.

Beberapa pemburu membawa hasil buruan semalam.

Yang membuat Leon terkejut adalah cara semua orang saling menyapa.

Tidak ada wajah muram.

Tidak ada orang yang terburu-buru.

Seolah kehidupan di desa ini berjalan dengan ritme yang damai.

"Aneh..."

"Apa?"

Rowan menoleh.

"Tempat ini terasa... hidup."

Rowan tersenyum tipis.

"Karena memang hidup."

"Kami bukan ilusi."

Jawaban itu membuat Leon kembali teringat ucapan Lyra.

Dunia simulasi benar-benar ada.

Beberapa menit kemudian mereka tiba di sebuah lapangan luas yang dikelilingi pagar kayu.

Puluhan orang sudah berada di sana.

Ada anak-anak yang sedang mengayunkan pedang kayu.

Remaja yang berlatih memanah.

Bahkan beberapa pria dewasa sedang bertarung menggunakan tombak.

Tidak ada yang bermalas-malasan.

Rowan berhenti di tengah lapangan.

"Inilah tempatmu belajar."

Leon mengamati setiap sudut.

Di salah satu sisi lapangan terdapat rak berisi berbagai senjata latihan.

Pedang.

Kapak.

Tombak.

Busur.

Hingga perisai dari kayu.

Rowan mengambil dua pedang kayu lalu melempar salah satunya kepada Leon.

Leon menangkapnya dengan sedikit gugup.

Pedang itu lebih berat daripada yang ia bayangkan.

"Pegang."

Leon mencoba menggenggam gagangnya.

Posisinya terasa canggung.

Belum sempat berkata apa-apa...

Plak!

Pedang kayu Rowan menghantam pergelangan tangan Leon.

"Agh!"

Pedang di tangan Leon langsung terjatuh.

Rowan menggeleng pelan.

"Salah."

Leon memungut pedangnya kembali.

"Apa yang salah?"

"Segalanya."

Rowan berdiri di hadapannya.

"Kau menggenggam terlalu kuat."

"Bahumu kaku."

"Kakimu sejajar."

"Dan pusat berat badanmu salah."

Leon berkedip.

Ia bahkan belum sempat mengayunkan pedang.

Namun Rowan sudah menemukan begitu banyak kesalahan.

"Angkat lagi."

Leon menurut.

Kali ini Rowan membetulkan posisi kedua tangannya.

"Pedang bukan palu."

"Kalau kau memegangnya seperti itu, tanganmu akan cepat lelah."

Leon mengikuti setiap arahan.

Anehnya...

Posisi baru itu memang terasa jauh lebih nyaman.

"Bagus."

"Sekarang ayunkan."

Leon mengayunkan pedangnya lurus ke depan.

Gerakannya masih kaku.

Tetapi lebih baik dari sebelumnya.

Rowan mengangguk pelan.

"Ulangi."

Leon kembali mengayunkan.

"Lagi."

Sekali lagi.

"Lagi."

Waktu berlalu tanpa terasa.

Sepuluh ayunan.

Lima puluh.

Seratus.

Keringat mulai membasahi dahinya.

Tangannya terasa semakin berat.

Namun Rowan sama sekali tidak menyuruhnya berhenti.

"Lagi."

Leon menggertakkan gigi.

Ia terus mengayunkan pedangnya.

Satu demi satu.

Sampai akhirnya...

Otot lengannya mulai bergetar.

Napasnya memburu.

Pedang kayu itu terasa seberat batu.

"Aku..."

"...tidak kuat lagi."

Rowan mengambil pedang kayu dari tangan Leon.

"Bagus."

Leon terengah-engah.

"Bagus?"

"Kau akhirnya jujur pada tubuhmu."

Rowan duduk di atas sebuah batu.

"Orang lemah sering menganggap latihan berarti menyiksa diri."

"Itu salah."

"Latihan adalah memahami batas tubuhmu."

"Kalau kau memaksakan diri setiap hari..."

"...yang rusak bukan musuhmu."

"Melainkan tubuhmu sendiri."

Leon duduk di tanah sambil mengatur napas.

Kalimat sederhana itu membuatnya berpikir.

Selama ini ia mengira menjadi kuat berarti berlatih tanpa henti.

Ternyata...

Ada cara yang benar.

Dan ada cara yang hanya akan menghancurkan diri sendiri.

Saat Leon sedang beristirahat, suara sistem kembali terdengar.

Ding!

【Profisiensi Pedang +1】

Anda mulai memahami dasar penggunaan pedang.

Kemajuan Quest: 3%

Leon menatap layar itu sambil tersenyum tipis.

Perjalanannya memang masih sangat panjang.

Namun untuk pertama kalinya...

Ia merasa benar-benar sedang melangkah maju.

Di sisi lain lapangan, Rowan diam-diam memperhatikan Leon.

Dalam hati ia bergumam,

"Bakatnya biasa saja... tetapi kemauannya belajar jauh di atas rata-rata."

"Mungkin... anak ini benar-benar bisa bertahan lebih lama daripada pendatang sebelumnya."

Namun mereka berdua tidak menyadari bahwa dari balik pagar kayu lapangan latihan, sepasang mata sedang mengawasi setiap gerakan Leon.

Pemilik mata itu tersenyum tipis.

"Lihat saja..."

"...berapa lama semangatmu bisa bertahan, pendatang baru."

1
Dragonovic#
semoga seru nih 🫡
D'Silent Novel: Kalo ada masukan atau pun kritik, langsung komen aja ya 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!