TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TOXIC AND CONTROL`* *`BAB 2: JEBAKAN SANG PREDATOR`*
*`TOXIC AND CONTROL`*
*`BAB 2: JEBAKAN SANG PREDATOR`*
Suasana kelas dua Sains siang itu terasa begitu menjemukan.
Suara Pak Joko, guru matematika paruh baya yang sedang menerangkan rumus kalkulus di depan papan tulis, terdengar seperti senandung pengantar tidur. Sebagian besar murid mulai terkantuk-kantuk, sementara Kinara Jose tetap fokus menyalin angka demi angka ke dalam buku catatannya.
Setidaknya, Kinara mencoba untuk fokus. Separuh pikirannya masih tertinggal di toilet perempuan beberapa jam yang lalu. Bayangan mata elang Rian Pradifta yang menatapnya tajam masih membuat bulu kuduknya meremang.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu yang santai namun tegas seketika memotong penjelasan Pak Joko. Pintu kelas terayun terbuka.
Kinara mendongak refleks, dan detik itu juga, seluruh darah di tubuhnya rasanya membeku. Jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang.
Di ambang pintu, berdiri sosok pria mesum yang tadi dia lihat di toilet. Rian Pradifta.
Untuk sepersekian detik, mata tajam Rian menyapu seisi kelas sebelum akhirnya berhenti dan mengunci pandangannya tepat pada Kinara. Sudut bibir cowok itu terangkat, membentuk senyuman tipis yang sangat berbahaya.
Panik melanda Kinara. Dengan gerakan kilat, dia langsung menarik buku paket matematika tebal miliknya, menegakkannya di depan wajah untuk bersembunyi. Dia berpura-pura sangat fokus membaca, berdoa dalam hati agar cowok itu tidak mendekat.
Tanpa menunggu izin dari Pak Joko, Rian nyelonong masuk begitu saja. Langkah kakinya yang berat dan berwibawa menggema di lantai kelas yang mendadak senyap.
Dia memberikan senyuman santai—yang lebih mirip seringai meremehkan—kepada Pak Joko. Anehnya, guru yang biasanya terkenal killer itu hanya terdiam, tidak berani menegur kelancangan sang anak pemilik yayasan.
Langkah kaki Rian berhenti tepat di depan meja Kinara.
Kinara bisa merasakan kehadiran cowok itu. Aroma parfum maskulin yang mahal dan kuat menguar, memenuhi indra penciumannya. Kinara semakin mengeratkan pegangannya pada buku paket, menyembunyikan wajahnya rapat-rapat.
Puk.
Sebuah benda diletakkan di atas permukaan meja kayu milik Kinara. Melalui celah bawah buku, Kinara bisa melihat sebuah kacamata dengan lensa super tebal yang sangat dia kenali. Itu kacamata utamanya yang jatuh di toilet tadi.
Sebelum Kinara sempat mencerna situasi, sebuah tangan kekar dengan jemari lentik bergerak maju. Tanpa memedulikan puluhan pasang mata yang kini menatap mereka dengan bingung dan penasaran, Rian menurunkan buku paket yang dipegang Kinara dengan paksa namun perlahan.
"Kamu menjatuhkannya tadi," ucap Rian, suaranya berat, rendah, dan terdengar sangat intimidatif.
Mau tidak mau, mata mereka kembali bertemu. Namun kali ini, Kinara sudah memakai kacamata cadangannya. Tatapan mata jernihnya tersembunyi di balik lensa tebal, membuat penampilannya kembali terlihat cupu dan tidak menarik.
Kinara menelan ludah, mencoba mengontrol suaranya agar tidak bergetar. "Makasih, Kak."
Dengan gerakan cepat, Kinara mengulurkan tangan untuk mengambil kacamata di atas meja. Namun, tepat sebelum jarinya menyentuh benda itu, tangan Rian bergerak lebih cepat. Cowok itu menyambar kembali kacamata tersebut, menjauhkannya dari jangkauan Kinara.
Rian menimang-nimang kacamata itu di tangannya, lalu menunduk sedikit, menatap lekat-lekat kedua mata Kinara dari balik lensa cadangannya.
"Kamu enggak cocok pakai kacamata ini," bisik Rian dengan nada mengejek yang disengaja. "Mata kamu yang indah jadi tersembunyi."
Bisikan itu sukses membuat Kinara merinding sekaligus waswas. Apakah Rian tahu kalau matanya normal? Apakah Rian tahu kalau dia berpura-pura jelek?
"Kak, tolong balikin kacamata saya," pinta Kinara setengah berbisik, matanya menatap Rian penuh permohonan sekaligus kekesalan yang dipendam.
Keributan kecil di sudut kelas itu mulai memancing kasak-kusuk murid lain. Jena yang duduk di barisan depan menatap Kinara dengan pandangan membunuh, tidak terima cewek cupu itu didekati oleh Rian.
Melihat situasi kelas yang mulai tidak kondusif, Pak Joko berdeham keras. Namun, dasar pengecut, guru itu sama sekali tidak berani menegur atau menyalahkan Rian yang jelas-jelas menjadi otak keributan. Sebaliknya, telunjuk Pak Joko justru mengarah lurus pada Kinara.
"Kinara! Silakan bicara di luar! Jangan mengganggu teman-temanmu yang sedang fokus belajar!" tegur Pak Joko dengan suara lantang.
Kinara langsung terdiam. Ketidakadilan ini meremas dadanya, namun dia tidak punya kekuatan untuk melawan. Di sekolah ini, uang dan kekuasaan adalah hukum tertinggi, dan dia tidak memiliki keduanya.
Rian terkekeh pelan melihat Kinara yang terpojok. Alih-alih menjauh, Rian justru sengaja mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas habis jarak di antara mereka hingga Kinara bisa merasakan embusan napas hangat cowok itu di kulitnya.
Rian mendekatkan bibirnya tepat di samping telinga Kinara, lalu berbisik dengan nada teramat dingin dan penuh kepemilikan, "Kalau mau kacamata mu balik... temui aku di basecamp pulang sekolah."
Setelah membisikkan kalimat yang terdengar seperti perintah mutlak itu, Rian menegakkan tubuhnya kembali. Dia memasukkan kacamata tebal Kinara ke dalam saku seragamnya, berbalik dengan santai, dan melangkah keluar kelas tanpa pamit pada guru.
Kinara terpaku di tempat duduknya. Tangannya mengepal kuat di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih.
Pergi ke toilet tadi siang adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya, dan sekarang, dia masuk ke dalam perangkap seekor predator yang tidak akan melepaskannya begitu saja.
semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk