NovelToon NovelToon
Kania (Kembalinya Wanita Yang Ternoda)

Kania (Kembalinya Wanita Yang Ternoda)

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia dinodai dan kehilangan harga dirinya. ‎Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.

‎Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.

‎Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.

‎Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32

‎Nyonya Astrid menarik lengan Nyonya Melani dengan cepat namun halus, wajahnya tampak pucat dan tegang. "Mari kita bicara sebentar," bisiknya rendah, suaranya bergetar menahan kekhawatiran. Tanpa menunggu jawaban, ia menuntunnya menuju lorong yang lebih sepi di samping ruangan, jauh dari pandangan para tamu.

‎‎Begitu mereka sampai di sudut yang sedikit terlindung, Nyonya Astrid segera melepaskan tangannya dengan kasar, napasnya memburu dan matanya menyala penuh amarah yang tertahan.

‎‎"Bagaimana kamu bisa sebodoh ini?!" desisnya tajam, menatap tajam ke arah Nyonya Melani. "Katakan, apa wanita yang berdiri di atas panggung itu benar-benar Kania?!"

‎‎Nyonya Melani menelan ludah susah payah, menunduk sejenak seolah tak berani menatap mata calon besannya. "Aku... aku juga tidak yakin. Tapi wajahnya... wajahnya sangat mirip."

‎‎"Itu bukan sekedar mirip!" potong Nyonya Astrid dengan suara yang nyaris meledak, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. "Itu memang wajah Kania! Bagaimana dia bisa berada di samping Tuan Victor, hah?!

‎‎Nyonya Melani menggeleng kuat seolah ingin menepis rasa takut yang menyergapnya, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya meskipun udara di lorong itu terasa sejuk.

‎‎"Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi!" suaranya bergetar namun berusaha tegas. "Orang-orang yang kusuruh mencari tidak pernah menemukan jejaknya. Aku sudah yakin dia pasti sudah mati, tersesat di hutan dan dimakan binatang buas!"

‎Ia menunjuk samar ke arah panggung dengan pandangan yang masih tak percaya. "Lagipula, lihatlah dia! Wanita itu terlalu percaya diri, terlalu berwibawa, terlalu berbeda. Hanya wajahnya saja yang sedikit mirip. Itu pasti kebetulan. Dia bukan Kania yang lemah dan tak berdaya itu!"

‎‎Nyonya Astrid menatapnya lama, napasnya tersendat. Ia meremas tangannya sendiri di balik lipatan gaun, rasa takut yang mendalam menyelimuti hatinya.

‎‎"Semoga saja kau benar, Melani..." ucapnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar namun sarat makna mengerikan. "Karena jika itu benar-benar Kania... maka dia akan tahu semuanya. Bahwa peristiwa mengerikan malam itu, saat kesuciannya dirampas... adalah rencana yang sudah kita susun bersama."

‎Kata-kata itu menggantung di udara, dingin dan mematikan. Nyonya Melani terdiam seribu bahasa, wajahnya seketika memucat. Sementara Nyonya Astrid kembali melangkah menghampiri suaminya yang masih berdiri mematung menatap ke atas panggung tanpa berkedip.

‎‎"Mas..." panggil Nyonya Astrid, menyentuh lengan suaminya.

‎‎Tuan Darius tak menoleh sedikit pun, matanya masih terpaku lekat pada sosok yang berdiri di samping Victor.

‎‎"Kamu juga menyadarinya, bukan?" suaranya terdengar berat dan penuh keraguan yang tak bisa disembunyikan. "Wajah itu... mirip seperti Kania."

‎‎Nyonya Astrid menelan ludah susah payah, tangannya semakin mencengkeram lengan suaminya berusaha menyembunyikan getaran hebat yang menyelimuti dirinya. "Hanya kebetulan, Mas. Banyak orang yang memiliki kemiripan wajah. Jangan biarkan hal ini mengganggu pikiranmu."

‎‎Namun kata-kata itu tak mampu menenangkan hati Tuan Darius. Ia perlahan menoleh menatap istrinya lekat-lekat, "Aku harus mencari kesempatan untuk bicara dengannya nanti. Aku harus memastikan sendiri itu Kania atau bukan."

-

-

‎Langkah Haris terasa berat seolah terikat rantai, namun rasa ingin tahu dan rindu yang tak lagi bisa dibendung mendorongnya terus maju. Ia melihat Victor sedang dikelilingi sekelompok pengusaha berpengaruh di sudut lain, perhatiannya teralih sejenak, sementara Kania berdiri sendirian di dekat jendela kaca besar, menatap samar ke arah luar.

‎‎Tanpa ragu lagi, Haris berjalan cepat mendekatinya. Jantungnya berdegup kencang, napasnya tersengal saat ia akhirnya berdiri tepat di hadapan wanita itu.

‎‎"Kania..." panggilnya pelan namun penuh penekanan, suaranya bergetar hebat. "Aku tahu itu kau. Jangan berbohong padaku."

‎‎Kania perlahan menoleh. Tatapannya tenang, dingin, dan sama sekali tak mengenali, seolah pria di depannya hanyalah orang asing yang tak berarti.

‎‎"Maaf, Tuan," jawabnya dengan nada sopan namun jauh, tak ada sedikit pun emosi yang terlihat. "Sepertinya Anda keliru. Nama saya Kanaya Aurelia. Saya tidak mengenal siapa yang Anda sebutkan."

‎‎Haris menggeleng kuat, tangannya terulur seakan ingin menahannya namun terhenti di udara. "Aku tidak mungkin keliru! Kania, apa kamu marah padaku? Apa kamu begitu membenciku sampai tidak mau mengakuiku lagi? Aku minta maaf, aku minta maaf karena sudah meninggalkanmu malam itu."

‎‎Kania menatapnya lama, lalu sedikit menunduk seolah kasihan, namun tatapan itu tak berubah menjadi hangat. "Saya sungguh tidak mengerti maksud Anda. Jika tidak ada urusan bisnis dengan saya, mohon mundur. Saya tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman dengan tunangan saya."

‎‎Luna yang sedari tadi memperhatikan dari kejauhan tak lagi mampu menahan dirinya. Dengan langkah tergesa-gesa namun berusaha tetap tenang, ia menyusul hingga berdiri di samping Haris. Wajahnya pucat, namun ia berusaha menyunggingkan senyum yang dipaksakan.

‎‎"Kak Kania..." panggilnya pelan, suaranya bergetar samar. "Benarkah itu kamu? Kami semua... kami sangat khawatir, kami mencarimu selama ini."

‎‎Kania perlahan menoleh ke arahnya. Tatapannya begitu datar, tajam, dan dingin hingga membuat darah Luna seakan berhenti mengalir. Tak ada jejak kasih sayang atau keakraban yang dulu pernah ada.

‎‎"Apa kau tuli?" ucapnya rendah namun menekan setiap kata, nada suaranya tak berubah sedikit pun. "Tidakkah kau mendengar apa yang baru saja dikatakan tunanganku di hadapan semua orang? Namaku Kanaya Aurelia. Bukan nama yang kau sebutkan itu."

‎‎Luna tertegun, mulutnya terbuka sedikit namun tak ada suara yang keluar. Kania sangat menyayanginya meskipun mereka adalah saudara tiri, tapi wanita dihadapannya ini sangat berbeda dengan sosok kakaknya meskipun wajah mereka sangat mirip.

‎‎Kania kembali menatapnya sekilas dengan sorot mata yang seolah menatap debu, lalu memalingkan wajah kembali ke arah jendela. "Jangan pernah salah panggil lagi. Saya tidak mengenal kalian."

‎Haris menggeleng kuat, ia meraih cepat lengan wanita yang kini berdiri memunggunginya itu dan menariknya kasar hingga tubuh Kania berbalik menatap ke arahnya.

Kania menatap tangan Haris yang mencengkeram lengannya erat, lalu perlahan menatap wajah pria itu dengan sorot mata yang penuh peringatan.

‎‎"Lepaskan," ucapnya rendah, namun tekanan. "Sekarang juga."

‎‎Haris tak melepaskan cengkeramannya, justru semakin erat. Matanya menyala campuran antara rindu, frustasi, dan keputusasaan. "Aku tidak akan melepaskanmu sampai kau jujur padaku! Kenapa kau bersikap seperti ini? Kenapa kau pura-pura tidak mengenalku? Apa kau benar-benar sudah melupakan masa lalu kita?!"

‎‎Belum sempat Kania menjawab, sebuah bayangan gelap tiba-tiba melintas di samping mereka. Dengan satu gerakan cepat, tangan besar mencengkeram pergelangan tangan Haris dan menekannya hingga pria itu mendesis kesakitan dan terpaksa melepaskan lengannya.

‎‎Victor berdiri di antara mereka, tatapannya menatap Haris dengan amarah yang terkendali namun mengerikan, membuat siapa pun yang melihatnya merinding ketakutan.

‎‎"Jangan pernah menyentuh milikku dengan tangan kotormu," desisnya tajam, suaranya bergema namun cukup rendah agar hanya mereka yang mendengar. "Dan jangan berpikir kau bisa berbuat semaunu di tempatku."

‎-

-

-

Bersambung...

1
Rizky Manik
ternyata mama Haris juga kek Dajjal ya🤣
mungkin sakit hati karna bapak Haris masih cinta sama mama Kania yg kandung😏
Rizky Manik
bukan Kania memang lun tapi kanaya😏
Rizky Manik
bukan Kania memang lun tapi kanaya😏
〈⎳ FT. Zira
kamu nanyaaa/Speechless/
〈⎳ FT. Zira
bukan hanya mirip, ya emang Kania🤧
〈⎳ FT. Zira
bentar lagi juga kamu bakal liat, siapin jantung aja
〈⎳ FT. Zira
mana mau Vic deketin kalo hatinya dah tertanam buat wanita lain.
〈⎳ FT. Zira
melihat, tapi gak dianggap ada🤣
partini
akhir nya bertemu
Agunk Setyawan
kelamaan x mau bongkar aja nunggu ber bab" /Pooh-pooh/ thor
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
apa ini emang rencana ibu tirinya buat nyingkirin kania 😠
Rizky Manik
lanjut thor🤭
Rizky Manik
tik tak tik tok
sabar ya pemirsa, bentar lagi malam pesta dimulai😁
〈⎳ FT. Zira
panggungmu belum tersedia ternyata bapak🤣
〈⎳ FT. Zira
bisa pakai banget, buktinya kamu sampe gelisah kan.😏
W I 2 K
bisa dipercepat g sih pestanya...., dlm hitungan 1,2..3 gtu mulai.... 🤣🤣💃💃💃
Rizky Manik
aduh thor GK sabar ni malam dipesta
lanjut dong thor🤭🤭
🔥Violetta🔥: Bentar lagi kak pestanya 😁
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
mau nguji buat dijadikan istri sah🤭
〈⎳ FT. Zira
dah telat... hari saat Haris diam saar insiden menimpa Kania, semua dah berakhir
〈⎳ FT. Zira
menjelang pertemuan besar.. harus datang loh dirimu Har
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!