Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.
Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.
Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Bahaya Bencana
Dua minggu berlalu cepat sejak badai malam itu, namun langit kelabu di atas Desa Perbatasan tidak kunjung bergeser.
Tanah di petak barat ladang keluarga Yang kini sepenuhnya berubah menjadi abu-abu keras yang mati. Retakan-retakan kecil menjalar liar, menjepit sisa-sisa tanaman padi spiritual yang layu sebelum sempat tumbuh setengah jengkal.
Berdiri di tepi parit yang kering kerontang, Yang Chan menendang segumpal tanah keras hingga hancur menjadi debu halus. Remaja itu mengusap wajahnya yang mulai kotor oleh jelaga tungku dapur.
"Tidak ada air lagi hari ini," gumamnya dengan nada pasrah.
Anomali cuaca ini benar-benar tidak memberi mereka ruang untuk bernapas. Bukan hanya ladang milik keluarganya, seluruh sawah di desa terpencil itu kini terancam mengalami gagal panen total akibat suhu dingin yang mendadak anjlok ekstrem.
Bagi warga biasa yang hidup di pinggiran kota modern berpilar spiritual ini, kegagalan panen sama saja dengan vonis kelaparan. Sisa-sisa persediaan beras di lumbung mereka paling hanya cukup untuk bertahan selama satu minggu ke depan.
Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan ke arah udara dingin yang membekukan ujung hidungnya. Menatap langit yang tertutup awan tebal mirip jelaga tungku, ia tahu hari-hari ke depan akan menjadi sangat sulit.
Rencana untuk melatih kekuatan fisiknya hari ini terpaksa ditunda dulu. Sejak subuh tadi, ia harus sibuk memeriksa saluran air utama desa yang mendadak mampet secara misterius.
Langkah kaki yang terasa berat akhirnya membawa Yang Chan kembali ke rumah kayu mereka yang tampak semakin ringkih dimakan usia.
Saat melintasi selasar samping yang berbatasan langsung dengan ruang tamu, sayup-sayup suara percakapan yang bernada rendah membuat langkahnya mendadak terhenti. Pintu depan yang tidak tertutup rapat menyisakan celah kecil.
Di dalam ruangan yang temaram, Yang Wei duduk membungkuk dengan kedua telapak tangan menopang dahinya yang berkerut dalam. Di atas meja kayu yang biasa bergoyang jika disentuh, terletak selembar kertas putih tebal berperekat lilin merah dengan segel bergambar naga melingkar.
Itu adalah logo kebesaran dari faksi konglomerat klan kuno yang menguasai roda ekonomi di kota sebelah.
"Mereka menolak mentah-mentah permohonan kita untuk menunda pembayaran pajak lahan tahun ini," ujar Yang Wei dengan suara yang sangat serak, terdengar seperti tenggorokan yang dipenuhi pasir kering.
Bing Chan, yang saat itu masih mengenakan penyamaran wajah kusam dan celemek lusuhnya, menatap lurus ke arah kertas Tersebut tanpa berkedip sedikit pun.
"Ini jelas bukan sekadar masalah keterlambatan pajak biasa, kan?" tanya Bing Chan, suaranya terdengar sangat tenang namun ada nada tajam yang tersembunyi di baliknya.
Yang Wei menghela napas panjang lalu mengangguk perlahan. "Klan Li sengaja menutup aliran bendungan air di wilayah atas sejak dua pekan lalu. Tidak hanya itu, mereka juga memborong semua pupuk spiritual di pasar agar kita tidak punya kesempatan menyelamatkan tanaman."
Taktik kotor itu terasa sangat nyata dan terencana dengan sangat rapi. Konglomerat klan kuno itu sengaja mencekik keuangan keluarga Yang agar mereka menyerah dan menjual tanah ladang ini dengan harga murah yang tidak masuk akal.
'Sial, jadi semua ini ulah mereka,' batin Yang Chan yang menguping dari balik pintu selasar. Dadanya mendadak terasa sesak oleh amarah yang tiba-tiba membumbung tinggi.
Mendengar penuturan suaminya, jemari Bing Chan yang tadinya tenang di atas meja perlahan mulai mengepal erat.
Suara retakan halus terdengar dari permukaan meja kayu yang malang itu. Dalam sekejap, suhu di dalam ruang tamu yang tadinya hangat langsung merosot drastis hingga napas mereka memunculkan kabut putih tipis.
Ada getaran energi spiritual yang sangat tipis namun luar biasa padat mulai merembes keluar dari tubuh wanita itu, membuat udara di sekitar mereka terasa sangat berat dan menekan dada.
Tekanan spiritual itu bahkan terasa begitu kuat hingga Yang Chan yang berada di balik pintu terpaksa bersandar pada dinding kayu agar kakinya tidak gemetar hebat.
"Mereka pikir mereka bisa menginjak-injak kita sesuka hati hanya karena kita memilih hidup tenang sebagai petani biasa?" desis Bing Chan, matanya yang biasa terlihat kusam mendadak memancarkan kilatan dingin yang menusuk.
Sebelum amarah sang istri memicu kekacauan yang lebih besar, Yang Wei bergerak dengan tenang. Ia mengulurkan tangannya yang kasar akibat kapalan kerja ladang, lalu menepuk lembut bahu Bing Chan.
Sentuhan hangat itu seketika meredam hawa dingin yang sempat mencekam ruangan tersebut.
"Tenanglah, Chan'er," tutur Yang Wei dengan senyuman tenang yang selalu mampu menenangkan badai. "Kita memilih hidup di sini untuk menghindari pertumpahan darah. Jangan biarkan semut-semut serakah itu memancing kita keluar dari kedamaian ini."
Bing Chan memejamkan matanya rapat-rapat, menarik napas dalam-dalam untuk menekan kembali kekuatan spiritual raksasa di dalam tubuhnya ke titik terdalam.
"Aku tahu," jawab Bing Chan dengan suara yang kembali melembut, mengendurkan kepalan tangannya yang gemetar. "Hanya saja, melihat mereka mulai mengganggu masa depan anak kita... rasanya sangat sulit untuk tetap diam."
Di luar ruangan, Yang Chan perlahan menarik kembali tubuhnya agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun yang bisa memicu kecurigaan kedua orang tuanya.
Ia melangkah mundur dengan sangat hati-hati, lalu bergegas menuju kamarnya sendiri yang terletak di bagian paling belakang rumah.
Setelah menutup pintu kayu kamarnya dengan rapat, remaja itu langsung menjatuhkan diri di atas kasur tipisnya. Matanya menatap kosong ke langit-langit kamar yang dipenuhi noda rembesan air hujan dari atap yang bocor.
Pikiran Yang Chan berputar kacau balau, mencoba mencerna semua informasi yang baru saja ia dengar secara tidak sengaja.
Ternyata orang tuanya bukanlah petani miskin biasa, dan ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan darinya demi menjaga keselamatan hidup mereka bersama. Dan kini, kedamaian rapuh yang mereka miliki sedang diancam oleh kekuatan besar yang tidak bisa dilawan dengan sekadar cangkul dan sabit.
'Aku memang tidak memiliki bakat spiritual sedikit pun saat ini,' batin Yang Chan, mencengkeram sprei kasurnya hingga buku-buku jarinya memutih.
'Tapi aku menolak untuk terus menjadi penonton yang tidak berguna saat keluargaku dihancurkan secara perlahan. Jika dunia ini hanya mendengarkan suara mereka yang kuat, maka aku akan menjadi kuat dengan caraku sendiri.'
Rasa cemas dan frustrasi yang sempat menghimpit dadanya kini melebur, berganti menjadi sebuah tekad baja yang membakar seluruh isi kepalanya.
Remaja itu bangkit dari kasurnya, lalu mengambil posisi duduk bersila di atas lantai kayu yang dingin tanpa alas. Ia memejamkan mata, memfokuskan seluruh pikirannya untuk mengingat kembali setiap gerakan fisik menyiksa yang diajarkan ibunya pagi tadi.
Mulai besok, tidak ada lagi keluhan tentang otot paha yang terbakar atau napas yang hampir habis. Kedamaian keluarganya adalah harga mati yang harus ia pertahankan, walau ia harus memaksa langit untuk tunduk pada tubuh tanpa bakat spiritual miliknya.