Keisya Mahardika hanya punya satu keinginan sederhana, yaitu memiliki seorang mama.
Sayangnya, ayahnya, Arya Mahardika, adalah CEO dingin yang lebih mencintai pekerjaannya daripada urusan hati. Sampai suatu hari Keisya bertemu Alya di kantor ayahnya, wanita baik hati yang langsung ia pilih menjadi calon mamanya.
Sejak saat itu, dimulailah berbagai misi rahasia sang mak comblang cilik untuk mendekatkan mereka berdua.
Di balik rencana-rencana kecil yang lucu dan menggemaskan, perlahan dua hati yang sama-sama terluka mulai saling menemukan.
Tapi apakah cinta bisa benar-benar tumbuh dari ulah seorang anak kecil?Atau justru sang mak comblang cilik harus menerima bahwa tidak semua keinginan bisa menjadi kenyataan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Siang itu kantor pusat perusahaan Arya tampak sibuk seperti biasa. Di lantai tertinggi, ruangan CEO yang luas dan mewah diterangi cahaya matahari yang menyusup melalui kaca jendela besar.
Meja kerja Arya penuh dengan berkas-berkas dokumen yang berserakan, layar komputer menyala terang menampilkan laporan keuangan, dan secangkir kopi hitam sudah mulai dingin di sampingnya. Arya duduk dengan kemeja lengan digulung, dasi sedikit longgar, dan alisnya berkerut fokus.
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka pelan. Tony, asisten pribadi Arya yang setia, masuk dengan langkah tegas sambil membawa tablet di tangan.
"Tuan, sudah waktunya jemput Nona Keysa dari sekolah," ucap Tony sopan.
Arya tidak langsung mengangkat wajahnya. Matanya masih tertuju pada lembaran laporan di depannya. "Suruh Alya yang jemput, Ton. Aku lagi sibuk sekali hari ini. Kebetulan Keysa kemarin bilang mau main ke tempat Alya setelah sekolah," jawabnya tanpa mengalihkan pandangan, suaranya datar tapi ada nada kepercayaan yang jelas.
Tony mengangguk cepat. "Baik, Tuan. Saya akan memberitahu Nona Alya sekarang."
Asisten itu keluar dari ruangan CEO dan berjalan menyusuri koridor yang luas menuju ruangan Alya di bagian marketing.
Tony mengetuk pintu pelan.
Tok
Tok
Tok
Ceklek……
Pintu terbuka. Alya berdiri di ambang pintu dengan penampilan rapi dan profesional. Ia mengenakan blazer putih soft yang elegan dipadukan rok pensil selutut, rambutnya tergerai rapi di bahu. Wajahnya yang cantik terlihat sedikit lelah setelah meeting pagi tadi, tapi senyumnya tetap hangat saat melihat Tony.
"Pak Tony, ada apa?" tanya Alya sambil sedikit memiringkan kepala.
Tony tersenyum tipis. "Tuan Arya menyuruh Anda menjemput Nona Keysa di sekolah. Beliau masih sibuk dengan rapat dan dokumen mendadak. Nona Keysa katanya tidak mau dijemput sopir pribadi hari ini, dan dia sangat ingin main ke rumah Anda."
Alya terkejut sebentar, tapi matanya langsung berbinar senang. Bayangan wajah polos Keysa yang penuh semangat kemarin malam muncul kembali di benaknya. "Baiklah, Pak Tony. Saya akan menjemputnya sekarang juga."
"Sopir kantor sudah menunggu di depan Nona. Mobilnya sudah siap," tambah Tony sebelum membalikkan badan dan kembali ke tugasnya.
Alya mengangguk, buru-buru merapikan meja kerjanya. Ia mematikan komputer, mengambil tas dan ponsel, lalu melirik foto kecil Keysa yang ia simpan di meja kerjanya sebagai wallpaper. Senyum lembut tersungging di bibirnya. Meski hubungannya dengan Arya masih dalam tahap awal, Keysa sudah berhasil mencuri hatinya dengan cepat.
Dalam perjalanan menuju lift, pikiran Alya melayang. Keysa pasti sedang menunggu dengan antusias.
Tak lama kemudian, Alya sudah duduk di kursi belakang mobil kantor yang nyaman. Sopir melajukan kendaraan dengan halus menyusuri jalanan kota yang mulai padat. Melalui jendela, Alya memandang gedung-gedung tinggi dan pohon-pohon di pinggir jalan. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ini kali pertama ia menjemput Keysa sendiri, dan rasanya seperti langkah baru dalam hubungan mereka bertiga.
Sementara itu, di ruangannya, Arya akhirnya menyandarkan punggung ke kursi eksekutifnya. Ia menghela napas panjang, melepas kacamata baca, dan mengusap wajahnya. Semoga Alya tidak keberatan, gumamnya dalam hati. Ia tahu Keysa sangat senang dengan Alya, dan ia sendiri semakin yakin bahwa perempuan itu adalah pilihan yang tepat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alya tiba di depan gerbang sekolah Keysa. Alya buru-buru turun dari mobil, tasnya digenggam erat, dan langkahnya cepat menyusuri trotoar menuju pintu masuk sekolah. Jantungnya berdegup kencang karena khawatir Keysa sudah menunggu terlalu lama.
Ia masuk ke area sekolah dengan napas sedikit tersengal. Tempat menunggu yang harusnya ramai kini mulai sepi karena sebagian besar anak sudah dijemput. Alya memutar pandangannya ke segala arah, mencari sosok kecil berseragam biru muda dengan kuciran dua pita pink. Tapi Keysa tak terlihat.
Rasa khawatir semakin menyelimuti hatinya. Alya mendekati sekelompok anak yang masih menunggu jemputan juga. Matanya tertuju pada seorang gadis kecil berambut pendek yang sedang duduk sendirian di bangku, dia adalah Zara teman Keysa.
"Adik manis, boleh aunty bertanya sebentar?" sapa Alya dengan suara lembut sambil berlutut agar sejajar dengan tinggi Zara.
Zara menoleh, matanya yang kecil menatap Alya dengan pandangan menelisik penuh curiga. Ia sedang memastikan bahwa wanita cantik di depannya ini bukan orang jahat.
"Aunty mau tanya apa?" balas Zara hati-hati.
"Kamu tahu Keysa tidak? Dia dimana, ya? tanya Alya lagi, suaranya penuh harap.
Zara memicingkan matanya lebih tajam, mengamati wajah Alya dari atas ke bawah.
"Aunty siapa?" tanyanya curiga.
"Saya Alya, mau jemput Keysa hari ini," jawab Alya sabar, tersenyum lembut untuk menenangkan anak kecil itu.
Mendengar nama Alya, mata Zara langsung melotot lebar. Wajahnya berubah cerah seketika. "Aunty Alya?! Yang cantik itu yang Keyca celitain? Yang mau jadi mama Keyca?"
Alya tersipu kecil, tapi rasa khawatirnya masih mendominasi. "Iya, Aunty Alya. Sekarang tolong kasih tahu Aunty, di mana Keysa?"
Zara langsung berdiri, wajahnya berubah sendu. "Aunty, tolong Keyca! Tadi dia dibawa ke lumah cakit cama Bu Gulu. Coalnya keningnya bocol. banyak cekali dalahnya yang kelual!"
"Apa? Bagaimana bisa?" Alya terkejut berat. Wajahnya memucat, tangannya tanpa sadar menutup mulut.
Zara mengangguk cepat sambil menceritakan dengan detail khas anak kecil. "Tadi pas istilahat ada anak-anak jahat yang cuka ejek-ejek Keyca. Meleka bilang aunty nda bakal mau jadi mama Keyca, telus meleka dolong Keyca kelas-kelas campai keningnya kena pelocotan. Darahnya banyak banget, Aunty! Keysa nangis, telus nggak cadal"
Alya merasa dunia sejenak berputar. Ia tak menyangka kejadian sekecil ini bisa berujung luka. "Ya Tuhan… Terima kasih sudah memberitahu Aunty, Sayang. Aunty harus ke sana sekarang."
Tanpa membuang waktu lagi, Alya langsung mengeluarkan ponselnya. Jari-jarinya gemetar saat mencoba menghubungi Arya. Telepon berdering beberapa kali, tapi belum diangkat. Bagaimana bisa Arya tidak memberitahu aku kalau Keysa celaka? batin Alya kesal bercampur khawatir.
Ia berjalan cepat menuju mobil sambil terus mencoba menghubungi, hati kecilnya gelisah membayangkan Keysa yang kesakitan sendirian di rumah sakit.
Sopir kantor yang menunggu langsung membukakan pintu saat melihat Alya datang dengan wajah panik. "Ke rumah terdekat dari sekolah, Pak. Cepat!" perintah Alya tanpa basa-basi.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Alya terus memegang ponselnya erat. Pikirannya dipenuhi bayangan Keysa yang polos, senyumnya yang lebar, dan luka di kening kecilnya. Ia berharap Keysa baik-baik saja. Rasa sayang yang mulai tumbuh di hatinya terhadap gadis kecil itu membuatnya semakin gelisah.
Sementara itu, di kantor, Arya yang masih sibuk dengan pekerjaannya belum menyadari panggilan masuk dari Alya. Ia tak tahu bahwa badai kecil sedang terjadi di sekolah putrinya, dan Alya kini sedang bergegas menuju Keysa dengan hati yang penuh kekhawatiran seorang calon ibu.