NovelToon NovelToon
Story Of Love

Story Of Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:303
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Nastiti

Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?

layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.

Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....


Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

"Abang nggak ambil makan?" tanyaku pada lelaki yang sedari tadi menggenggam jemariku dan memainkan benda berwarna putih yang melingkar di jari manis kiriku.

"Nanti aja, Abang nggak pulang bareng mereka kok. Abang pengen ngobrol-ngobrol dulu nanti sama Kakak-kakak sepupu kamu."

"Hallaaaah... Palingan juga modus." jawabku.

"Kalau ngomong kenapa suka bener ya!" jawab Bang Rengga.

"Beberapa waktu kenal Abang, aku sedikit hafal kebiasaan Abang. Tukang modus."

Lelaki itu hanya mencebikkan bibirnya. Dia kemudian berdiri saat melihat rombongan yang terdiri dari beberapa orang.

"Yang, tamu agung datang tuh." ucapnya.

Aku segera melihat arah pandang Bang Rengga. Terlihat, ada Pak Wandi, Cik Melly, Pak Sastra, juga Nita. Rupanya mereka janjian berangkat bersama.

Kami segera berdiri dan melangkah menyambut tamu agung tersebut.

"Selamat ya, kurang selangkah lagi." ucap Pak Wandi pada Bang Rengga. Mereka bergantian memberi selamat pada kami.

"Terimakasih, Pak."

ucap kami bersama. Lalu mempersilahkan tamu agung kami itu untuk langsung menikmati hidangan. Sementara itu, Azka yang sering bertemu dengan bos ku karena proyek CCTV kantor terakhir dipercayakan di tempat kerja Azka dengan sigap menyiapkan kursi dan meja untuk rombongan satu ini. Tidak lupa kami mempersilahkan rombongan tersebut untuk langsung menikmati hidangan. Bapak, Ibu, Mama dan Papa segera menghampiri dan ikut menyambut kedatangan tamu agung kami.

Sekitar satu jam rombongan itu pamit pulang, tidak lupa kami bawakan sedikit bingkisan sebagai ucapan terimakasih karena sudah menyempatkan waktu untuk datang.

Kami menghampiri keluarga kami yang terlihat bercengkerama, sambil membahas tanggal pernikahan kami nanti. Tapi belum ada keputusan kapan tanggal acara itu akan di gelar. Karena banyak hal yang harus diperhitungkan sebelum menentukan tanggal yang benar-benar di anggap baik. Maklum saja, kami masih tinggal dalam lingkungan yang masih kental dengan adat istiadat meski kami meyakini jika semua tanggal dan semua hari itu baik.

"Bang, kayaknya Mama betah deh disini, makanannya enak-enak. Kamu buruan cobain deh, nih ya.. Mama makan pecel aja sampai nambah lho... " puji Mama Sofie.

"Ntar jarum timbangan njomplang ke kanan ribut kayak emak-emak kehabisan gas." jawab Bang Rengga.

Aku menggigit bibir bawahku saat mendengar jawaban Bang Rengga pada Mamanya.

"Udah, mulai. Nggak malu berantem sama mama di depan calon mertua kamu? Terusin gih kalau nggak malu. Sekali-sekali ngalah sama orang tua kenapa Bang? Nggak bikin rugi juga kan?" ucap Papa Adam.

"Heemmm... " Bang Rengga hanya menjawab dengan deheman.

"Ma, Pa. Aku ntar baliknya belakangan ya. Mau ngobrol dulu sama kakak-kakaknya Rani. Mumpung lagi ngumpul disini." imbuh Bang Rengga.

"Iya, yang penting nanti pulang. Jangan nginep, bikin repot aja kamu nanti." jawab Mama Sofie.

"Wuih, Mama kalah ngasih ide selalu aja best! Yang, aku mau nginep ya nanti." ucap Bang Rengga.

Hampir jam sebelas siang acara selesai dan tamu-tamu mulai pamit pulang. Tinggal beberapa orang tetangga yang memang membantu dari awal acara. Juga saudara-saudara kami yang masih betah berkumpul. Mereka memanfaatkan momen ini sebagai acara kumpul keluarga.

"Abang nggak makan?" tanyaku saat menghampiri Bang Rengga yang sedang ngobrol seru bersama Kakak-kakak dari keluarga Ibuku. Dia tadi mengatakan jika lebih nyaman ngobrol dengan mereka daripada dengan saudara ku yang dari pihak Bapak.

"Minta tolong ambilin ya, Yang. Pecel aja, Yang. Kata Mama enak kan tadi. Jarang-jarang lho, Yang. Aku bisa lihat Mama makan selahap itu." ucap Bang Rengga. Ternyata di balik sikap cueknya tadi dia memperhatikan sang Mama.

"Iya. Tunggu ya, aku ambilin dulu." jawabku.

"Makasih, Sayang."

Lelaki itu bahkan tidak tahu tempat dan tidak malu memanggilku "sayang" di depan banyak orang.

Setelah mengambil nampan di dapur, aku segera mengambil makanan lewat pintu samping yang terhubung dengan garasi.

Kusiapkan menu request Bang Rengga dalam satu piring dengan nasi terpisah. Tak lupa beberapa tusuk lauk sate-satean yang masih tersisa. Sedangkan aku lebih memilih menikmati gado-gado. Setelah semua siap di atas nampan tidak lupa juga dua gelas teh hangat di gelas, aku segera menghampiri Bang Rengga ke tempat tadi dia ngobrol bersama gerombolan barunya.

Saat melihat Rizal dan teman-temannya yang membantu beres-beres, aku berhenti sejenak.

"Zal, makan dulu sana. Ajak yang lainnya juga."

"Iya, Mbak. Habis ini," jawab Rizal.

Aku hanya mengangguk. Lalu menghampiri budhe Wati, yang juga sedang berberes.

"Budhe, maaf. Minta tolong di bantu bungkusin makanan yang masih ada buat tetangga yang bantu-bantu sama buat temen Bang Rengga dari cafe ya, Budhe."

"Siap, Nduk. Budhe siapkan sekarang ya. Biar nanti tinggal bagi-bagi aja."

"Terima kasih, budhe. Rani tinggal dulu ya. Mau kasih makan bayi beruang dulu. Keburu bikin ulah nanti kalau lapar. " ucapku sambil tertawa.

"Iya, buruan sana. Kayaknya belum makan dari pagi. Grogi pasti gara-gara menghapal kalimat buat lamaran tadi." jawab Budhe Wati kembali tergelak.

Aku ikut tertawa pelan lalu segera menghampiri Bang Rengga setelah tersadar dengan ucapan dari Budhe wati. Mungkin saja Bang Rengga memang belum makan dari tadi pagi karena nervous.

"Bang, makan dulu." ucapku menyela tawa dari gerombolan lelaki yang entah sejak kapan bisa jadi seakrab itu hingga tawanya menggema di teras depan.

Kamipun makan bersama, begitu juga kakak-kakak lelaki ku. Entah kapan mereka mengambil makanan, tiba-tiba saja di depan mereka sudah ada aneka makanan.

"Ehm... Enak banget emang." ucap Bang Rengga setelah menyuap sesendok nasi dengan lauk pecel.

"Tanya dong, siapa yang bikin bumbu pecel nya." ucap Bang Zain.

"Emang siapa, Bang? Mau aku ajak kerjasama, aku ada niatan bikin warung dengan menu tradisional."

"Kalau bos mah, beda ya. Punya rencana apa gitu tinggal siap laksanakan pokoknya." goda Mas Zamzam.

"Ya nggak gitu juga, Mas. Kan butuh banyak cuan buat istri senang nanti." jawabnya sambil terus menyuap makanan yang ada di piring.

"Itu, yang bikin bumbu pecel ada di samping kamu." ucap Gus Mus. Kakak dari Bang Zain. Kami memang sering memanggilnya "gus" mesti bukan anak kyai, karena di antara kami semua, pemahaman beliau pada ilmu agama lebih tinggi. Circle pertemanan nya yang lebih banyak di seputar pondok dan kyai membuat nya seperti itu.

"Beneran Gus?" tanyanya tidak percaya. "Wah, bener-bener beruntung dong Gus bisa sama Rani. Semua kriteria idaman itu ada sama dia."

"Aku nggak sebaik itu kali, Bang. " jawabku.

"Makanya, jangan macam-macam sama Rani. Perisai nya banyak. Tahu kan?" tanya Bang Zamzam. Bang Rengga paham, jika banyak lelaki yang siap menghajarnya saat melihat adik dan kakak kesayangan mereka terluka.

Lelaki di samping ku ini mengangguk-anggukkan kepalanya. "Belum macam-macam udah bonyok duluan sama Rani, Mas. Aku asline insecure lho Mas, nek sanding sama Rani. Aku melongo pas jemput dia latihan beladiri. Terngaga aku, Mas. Pas lihat sabuk e dia." jawab Bang Rengga pada Mas Zamzam.

"Heleh, lagaknya insecure, mok pikir aku nggak opo, Bang. Pertama kamu bawa ke rumah Papa, aku langsung mikir bakal kayak apa tanggapan Papa sama Mama waktu ngelihat aku." jawabku sambil membereskan piring bekas makan kami.

"Rumah e iku lho, Mas. Kayak yang di sinetron-sinetron itu lho. Yang ndek tipi-tipi kelir itu." jelasku.

Kan, mulai bobrok kalau ngobrol sama Kakak-kakak ku yang dari pihak Ibu.

"Ojo lebay, Yang. Rumah Papa ya sama aja lho sama kayak yang lain. Ada pintu, jendela sama genteng e." ucap Bang Rengga.

"Iya, tapi tampilannya itu lho beda." jawabku tidak mau kalah.

"Yang,.... " ucap Bang Rengga tegas. Membuat aku diam. Aku paham, dia memang lebih senang terlihat sederhana dan lebih suka menutupi siapa dia sebenarnya.

"Mbak," panggil Azka sambil menepuk pelan bahuku.

"Apa? Putri mules? Tadi sudah kamu ajak makan belum dia? Kalau mules langsung aja bawa ke mobil Bang Rengga." ucapku.

"Issh.... Bukan. Itu, horang kaya datang."

"Siapa?" tanyaku bingung sambil celingukan.

"Kakaknya Bapak, yang kemarin bawa TNI tuwir buat dijadiin suami Mbak."

"Azka... " ucapku pelan sambil melirik lelaki di sampingku yang saat ini sedang menatap tajam padaku.

"Biasa aja lihatin nya. Aku tahu kok, kalau aku cantik dan mempesona." ujarku.

"Kamu nggak ada cerita lho, Yang. sama Abang soal ini." protes lelaki itu.

"Ini jauh sebelum aku bilang iya sama Abang." jelasku.

"Ya sudah," jawab lelaki itu sambil menghembuskan nafasnya. "Kita sapa aja dulu. Nggak sopan kalau yang sudah uzur nyamperin yang masih seger."

"Mulutnya... " ucapku sambil melotot.

"Nggak usah melotot, mau aku cium sekarang di depan para tetua dan kepala suku?" tanya Bang Rengga sambil menunjuk kakak sepupuku.

Meski malas, tapi yang dikatakan Bang Rengga itu sepenuhnya benar. Kupasang senyum seramah mungkin, tak lupa kusiapkan hati dan telinga untuk nanti saat lagu keroncong mulai dia paruh baya itu dendangkan.

"Assalamu'alaikum, Budhe, Pakdhe." sapaku pada kakak dari Bapak. Mereka satu Ibu tapi beda Bapak. Dulu saat kakek dan nenek menikah, mereka sama-sama membawa satu anak perempuan.

"Waalaikumsalam, nduk. Maaf ya, Budhe sama Pakdhe telat."

"Mboten nopo-nopo, Budhe." jawabku sambil mencium takzim tangan mereka berdua bergantian dengan Bang Rengga dan juga Azka.

"Bojomu mana, Le? Wes lahiran belum?" tanya Pakdhe pada Azka.

"Dereng, Pakdhe. Doanya mawon njeh. Biar lancar pas lahiran."

"Iyo... Iyo... Wong tuo iki pasti doakan anak-anak e. Tinggal anak mau nggak denger nasihat orang tua." sindir Pakdhe.

"Ini calon suami kamu, Nduk? Kerjanya apa?" tanya Budhe.

"Iya, Budhe. Perkenalkan saya Rengga. Saya cuma seles obat mawon." jawab Bang Rengga.

"Bang... " tegur ku lirih.

"Ooo... Cuma seles aja." jawab mereka berdua kompak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!