Yang tak suka, silahkan minggir!
Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.
"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.
"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.
"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."
Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?
Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?
Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6
#6
“Huh— shhh— hah— pedas! Siapa yang masak, nih! Kenapa udang asam manis tapi jadinya pedas gak ada manisnya?!” keluh Bagas, tepat seperti dugaan Dinda.
Ini adalah bentuk pembalasan Dinda atas semua tingkah absurd mantan suaminya. “Tante yang masak, kenapa? Tak suka?” aku Tante Ratih, adik kandung Papa Kaitaro yang juga hadir malam ini.
Bagas segera menggeleng, Tante Ratih akan marah besar jika ada yang mencela dan tak menghabiskan makanan yang dibuatnya.
“Nggak papa, Tante. Enak, kok, iya, hehehe, tapi sshhh— pedas,” keluh Bagas yang tak bisa mentolerir makanan dengan rasa pedas. Pria itu terpaksa pasrah menghabiskan makanannya, sementara disisinya Dinda nampak tersenyum puas.
“Kamu sengaja, ya?” bisik Bagas.
“Katanya tadi mau makan apa saja, asal aku yang ambilin,” sindir Dinda, pelan berbalut senyuman, tapi aduh— Bagas kembali merasakan sensasi panas membakar rongga mulut hingga ke tenggorokannya.
Jim dan Dewa cekikikan, “Kenapa tertawa?” desis Bagas pada mereka.
“Nggak, tiba-tiba teringat film komedi yang kemarin kami tonton, iya, kan, Jim?” elak Dewa, sementara di bawah meja kakinya menyenggol kaki kanan Jim.
“Ah, yang itu!? Iya-iya, lucu bangen protagonis pria-nya kuwalat karena bohongin protagonis wanitanya. Hahaha,” sindir Jim tergelak, jelas sekali bahwa ia sedang menyindir kakak sepupunya.
Bagas melotot kesal, sudahlah ia nyaris pingsan menahan pedas, masih pula ditambah ejekan dari sepupu, dan tawa licik Adinda. Tapi tak mengapa, asal Adinda bahagia, ia rela melakukan apa saja. “Yang, air lagi, dong,” rengek Bagas yang sepertinya enggan menyudahi sandiwara konyolnya.
“Bagas!” Eyang Tuti kembali protes, “gunakan tanganmu sendiri, bisa, kan?”
Adinda pun menuruti permintaan Bagas, sebab ia tak tega melihat wajah Bagas yang semakin merah menyala efek cabai yang masuk ke mulutnya. “Dinda, biar Bagas ambil sendiri, jangan terlalu memanjakan suamimu!” Eyang Tuti kembali protes.
“Gak papa, Eyang. Lagian tekonya di dekat Dinda.”
Ucapan Dinda membuat Bagas merasa ada yang membela. “Tuh, kan, Eyang. Dinda emang se cinta itu padaku.”
“Uhuk!”
Dinda Batuk-batuk setelah mendengar ucapan bagas, benar-benar medan perang yang sulit, “Duh, pelan-pelan aja makannya.” Dengan sigap, namun, tetap lembut, Bagas memijat tengkuk Dinda. Wanita itu tak bisa mengelak sebab ia membutuhkannya.
“Kamu, sih, ganggu Dinda terus, kan, jadi begini akibatnya.”
“Sabar, Dinda. Hanya malam ini saja, kok. Sisanya biar Bagas yang urus,” gerutu Dinda dalam hatinya.
Setelah merasa lebih baik, Dinda menepis tangan Bagas yang sepertinya betah berlama-lama memijat tengkuk Dinda. “Kamu gak papa, Nak?” Mama Yanti ikut khawatir.
“Iya, Ma. Udah baikan, kok.”
Wajah Mama Yanti kembali lega. “Syukurlah, ayo, habiskan makananmu, lalu tambah lagi. Badanmu kurus sekali sekarang.” Wajah Mama Yanti kembali sendu.
“Itu pasti salah Bagas, dia terlalu sibuk dan membiarkan Dinda meng—”
Ucapan Eyang Tuti, tiba-tiba terhenti, seperti ada bisikan yang mengusik tropis telinganya. “Abel—” Kedua mata Eyang Tuti berkaca-kaca, sambil menatap cucu dan cucu menantunya bersamaan. “Suatu saat, kalian pasti bisa bertemu dengan Abel lagi, Eyang yakin itu. Saat ini, kamu harus fokus jaga kesehatan di sela waktumu mengurus butik.”
Ingatan Eyang Tati kembali kacau, sebab ia teringat Abel yang telah lama menghilang, tak hanya Dinda dan Bagas, semua orang tiba-tiba merasakan perasaan sedih. Karena hilangnya Abel adalah duka mereka semua.
Dinda merasa harus benar-benar pergi dari sana, ia tak sanggup lagi, tarikan nafasnya mulai berat, seiring dengan air mata yang mulai berlomba untuk keluar dari kelopak matanya.
Tapi sentuhan tangan lembut itu menenangkannya untuk sejenak, begitupun dengan tatapan Bagas yang tiba-tiba berbeda dengan tatapan jahilnya beberapa saat sebelumnya.
“Kami tak pernah lelah berusaha, Eyang.”
Dinda terpaku sejenak menatap Bagas yang juga sedang menatap wajahnya. “Masih ada aku, Sayang. Jangan sedih sendiri, aku yakin suatu saat nanti, kita akan bisa berkumpul lagi dengan Abel.”
Dinda sungguh benci situasi ini, dikuatkan dan diberi semangat oleh mantan suami sendiri, benar-benar membuat Dinda merasa jadi wanita lemah. Air matanya mulai tumpah, ia tak mampu lagi menahan bendungan kesedihan yang menyelimuti seluruh hatinya.
Kehilangan anak adalah luka paling berat bagi orang tua, andai bisa akan lebih baik jika ia saja yang pergi meninggalkan dunia ini, ketimbang harus merasakan derita kehilangan anak yang ia kandung dan ia lahirkan dengan susah payah.
“Maaf—”
Terpaksa Dinda pamit pergi, sebab tak mungkin ia melanjutkan tangisannya di sana.
Bagas mengekor di belakang Dinda, pria itu tak akan pernah membiarkan Dinda menangis sendirian, sebab ia pun merasakan kesedihan sama seperti yang Dinda rasakan.
“Kamu jahat, Mas. Kenapa memaksaku datang kemari, hah?! Kamu tahu, kan, datang ke tempat ini sama seperti aku merelakan diriku sendiri tersiksa.”
Bagas terpaku di tempatnya, dulu, ia pernah mengalami kecelakan motor semasa SMA, hingga terpaksa menjalani perawatan di rumah sakit selama beberapa hari. Sakitnya luar biasa karena ada beberapa luka terbuka.
Tapi jika sekarang ditanya apakah itu jauh lebih menyakitkan ketimbang melihat wanita yang masih dicintainya menangis? Tentu saja tidak.
Karena tangisan Dinda setelah anak mereka hilang, terdengar lebih menyakitkan dan menyayat hati.
Dengan salah satu tangannya, Bagas mengusap air mata Dinda, “Maafkan aku, aku tak bermaksud membuatmu merasa tersiksa.”
“Aku yakin, suatu saat nanti, kita akan bisa berkumpul dengan Abel.” Bagas kembali menghibur. Namun ucapan itu terlampau sering Dinda dengar, hingga dadanya terasa ingin meledak seketika. Hampir empat hampir tahun mereka mencari, kini harus kemana lagi mereka mencari?
“Kapan, Mas?! Sudah hampir empat tahun berlalu, jika Abel berdiri di hadapanku saat ini, aku pasti tak akan mengenalinya lagi! Jadi berhentilah memberiku harapan palsu!”
Dinda memukuli dada mantan suaminya, tapi Bagas justru menarik wanita itu ke pelukannya, dipeluknya sang mantan istri erat-erat. Bukan hanya Dinda yang sedih tapi ia pun merasakan hal yang sama dengan Dinda, sebab sumber luka mereka pun serupa.
“Aku pun menderita, sama sepertimu, jadi kumohon jangan berhenti berharap, yakinlah suatu saat Abel pasti berkumpul dengan kita lagi. Terima kasih sudah mau datang, dan berpura-pura menjadi istriku.”
Adinda berusaha melepaskan diri dan mengelak dari pelukan Bagas, tapi ia membutuhkan tempat untuk meluapkan perasaannya, setelah ini, apakah Dinda akan bisa melangkah pergi?
Beberapa saat yang lalu, Papa Kaitaro khawatir melihat sang mantan menantu menangis, jadi pria itu ikut menyusul. Tapi setelah melihat anak dan mantan menantunya berpelukan, pria itu memilih menjauh, guna memberi mereka ruang untuk bicara berdua.
Mama Yanti ikut menyusul suaminya, “Ato, kita masuk lagi,” ajak Papa Kai.
“Tapi, mereka?’
“Biarkan saja, mereka sudah dewasa, lagipula mereka juga membutuhkan ruang untuk bicara dari hati ke hati.”
Mama Yanti melirik sejenak, kemudian mengikuti langkah kaki suaminya, “Andai mereka masih bersama, Pa. Pasti bisa terus saling menguatkan.”
Papa Kai menghembuskan nafas sejenak, “Kita tak bisa menyalahkan masa lalu, Ma. Sebab masa depan akan terus datang tanpa bisa dicegah. Semoga mereka bisa menemukan solusi terbaik untuk situasi ini.”
“Tapi Mama senang melihat mereka berpelukan, semoga ini bisa menjadi pertanda baik, ya, Pa?”
Papa Kai mengangguk.
aku lupa nama Kaka nya bagas