"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20
Malam yang Panjang
Beberapa hari kemudian, badai memadamkan seluruh rumah.
Petir menyambar sesaat setelah pukul sembilan. Lampu berkedip dua kali, alarm rumah berbunyi pendek, lalu semua menjadi gelap. Generator cadangan gagal menyala karena gangguan pada panel luar yang terkena hujan.
Nadhira baru meraih ponsel ketika Alif menjerit dari kamar sebelah.
"Mama!"
Ia membuka pintu penghubung dengan senter ponsel. Alif berdiri di atas ranjang, selimut melilit kaki. Dentuman berikutnya membuat bocah itu melompat ke pelukan Nadhira.
"Gelap."
"Mama di sini. Kita cari lampu darurat."
Langkah cepat terdengar di koridor. Rayhan muncul membawa senter besar dan menggendong Arkan. Wajah Arkan pucat. Kedua tangannya menutup telinga, seluruh tubuhnya kaku seperti pada malam ia bermimpi buruk.
"Panel sedang diperiksa," kata Rayhan. "Perkiraan satu sampai dua jam."
Petir kembali menggelegar. Arkan meraih Nadhira tanpa bicara.
"Kita berkumpul di kamar Mama," ujar Nadhira. "Tidak ada yang sendirian."
Mbak Wati membawa dua lampu darurat, air minum, dan satu lilin besar dalam lentera kaca. Nadhira meletakkan lentera di atas nampan logam, jauh dari tirai serta jangkauan anak. Pintu kamar dibiarkan terbuka untuk sirkulasi dan jalur keluar.
Rayhan mematikan lilin cadangan yang tidak diperlukan. "Satu cukup. Jangan ada api lain di lantai atas."
Kopi merengek dari bawah. Seorang staf menjaganya di ruang servis agar tidak berlari ke tangga dalam gelap.
Nadhira naik ke ranjang bersama Alif dan Arkan. Ranjang besar itu masih menyisakan ruang, tetapi Rayhan memilih duduk di kursi dekat pintu.
"Papa sini," kata Alif.
Rayhan memandang Nadhira seolah meminta izin tanpa kata.
"Anak-anak takut," jawab Nadhira.
Ia duduk di tepi ranjang, di sisi Arkan. Jarak di antara Nadhira dan Rayhan diisi dua tubuh kecil, satu selimut, dan cahaya lentera yang bergerak pada dinding.
Setiap petir datang, Nadhira mengajak anak-anak menghitung. Cahaya dulu, lalu suara.
"Satu, dua, tiga."
Alif ikut menghitung sampai lima meski suaranya kacau. Arkan tidak bicara, tetapi jemarinya perlahan turun dari telinga. Rayhan meletakkan tangan di punggung putranya, sedangkan Nadhira mengusap rambut Alif.
"Petir jauh kalau hitungannya panjang," kata Nadhira.
"Kalau dekat?" tanya Alif.
"Kita tetap di dalam. Jendela tertutup. Papa dan Mama ada."
Kata Papa dan Mama terdengar begitu alami di antara suara hujan. Rayhan tidak menoleh, tetapi tangannya berhenti sesaat di punggung Arkan.
Nadhira mulai membacakan cerita tanpa buku. Kisah tentang dua anak yang tersesat saat hujan dan menemukan jalan pulang karena mengikuti cahaya kunang-kunang. Alif menyela untuk memberi nama pada kunang-kunang. Arkan sesekali membuka mata ketika suara Nadhira turun terlalu pelan.
Hampir satu jam kemudian, kedua anak tertidur. Alif melintang dengan kaki di paha Rayhan. Arkan meringkuk menghadap Nadhira, satu tangan memegang ujung bajunya.
Hujan belum mereda. Panel listrik belum pulih.
Rayhan mencoba memindahkan kaki Alif, tetapi bocah itu mengerang. Akhirnya ia bersandar pada kepala ranjang, tetap membiarkan kaki kecil itu menindih pahanya.
"Kaki kamu kebas?" bisik Nadhira.
"Sudah."
"Bisa dipindah."
"Dia akan bangun."
Nadhira menahan tawa. "CEO Pradipta Group dikalahkan satu kaki balita."
"Jangan sebarkan kepada pemegang saham."
Itu lelucon pertama Rayhan yang benar-benar disengaja. Nadhira menutup mulut agar tawanya tidak membangunkan anak-anak.
Kesunyian setelahnya terasa berbeda dari kesunyian kamar terpisah. Di luar, badai menutup dunia. Di dalam, cahaya kecil membuat batas wajah mereka lebih lembut.
"Tentang pertanyaanmu waktu itu," kata Rayhan tiba-tiba.
Nadhira tahu pertanyaan yang dimaksud. Mengapa ia mau menikah lagi?
"Kamu tidak harus menjawab malam ini."
"Kalau bukan malam ini, saya mungkin akan terus menghindar."
Rayhan memandang lentera. "Saya tidak hanya takut dikhianati lagi. Saya takut membutuhkan seseorang, lalu orang itu pergi."
Nadhira menunggu.
"Ibu saya pergi ketika saya lima tahun," lanjutnya. "Namanya Bu Sri. Dia menikah lagi dan meninggalkan saya bersama keluarga."
Suara hujan memukul kaca. Rayhan bicara tanpa menatap Nadhira.
"Apakah dia berpamitan?"
"Dia bilang akan kembali setelah membeli sesuatu. Saya menunggu di dekat gerbang sampai malam. Besoknya saya masih menunggu. Selama beberapa minggu, setiap mobil berhenti membuat saya berlari keluar."
Nadhira melihat seorang anak lima tahun dalam tubuh pria yang selalu tampak tidak membutuhkan siapa pun.
"Kapan kamu tahu dia tidak kembali?"
"Orang dewasa akhirnya berhenti berbohong. Mereka mengatakan ibu saya memilih hidup baru."
"Dia pernah menghubungimu?"
"Beberapa tahun kemudian. Ketika adik-adik saya lahir dan keadaan rumah barunya membaik. Tapi saat itu saya sudah belajar tidak menjawab."
Tak ada kebanggaan dalam kalimat tersebut. Hanya kebiasaan lama yang dipakai sebagai pelindung.
"Dini tahu?" tanya Nadhira.
"Tahu. Dia pernah berkata saya terlalu sulit percaya karena ditinggalkan ibu. Saat kami bertengkar, dia memakai itu untuk mengatakan tak seorang pun betah bersama saya."
Nadhira menatap Arkan yang tidur di antara mereka. Dini pergi bersama orang lain. Bu Sri pergi ke keluarga baru. Rayhan hidup seolah setiap pintu bisa tertutup dari luar tanpa peringatan.
"Lalu kamu menikah dengan saya karena yakin saya tidak punya tempat lain untuk pergi?"
Rayhan menoleh cepat. "Tidak."
Jawabannya begitu tegas hingga Nadhira terkejut.
"Saya memilih Anda karena saat tidak punya tempat pergi pun, Anda tetap berusaha membuat jalan sendiri. Anda membaca dokumen. Melawan dua keluarga. Melindungi Alif. Anda tidak menunggu saya menyelamatkan semuanya."
Jantung Nadhira berdetak lebih keras, padahal petir sudah semakin jauh.
"Itu terdengar seperti penilaian calon karyawan."
"Saya tidak pandai menjelaskan hal seperti ini."
"Saya tahu."
Rayhan mengembuskan napas pendek. "Arkan membutuhkan rumah yang tidak terasa kosong. Saya juga berutang kepada Hendra. Tapi itu bukan seluruh alasan. Saya melihat Anda berdiri sambil terluka dan berpikir, kalau orang seperti Anda memilih tinggal, mungkin rumah ini tidak akan runtuh."
Ia tidak menyebut cinta. Mereka belum sampai di sana. Namun, untuk pria yang takut membutuhkan seseorang, pengakuan bahwa ia berharap Nadhira memilih tinggal sudah cukup telanjang.
Nadhira memandang jemarinya sendiri di atas selimut.
"Saya juga takut pergi," katanya.
Rayhan tidak menyela.
"Bukan karena rumah besar atau uang. Setiap kali saya melihat pintu tertutup, tubuh saya masih ingat suara Bu Sumini memutar kunci. Setelah Hendra meninggal, dia mengambil uang santunan, kartu ATM, dan bahan makanan. Kalau saya meminta susu untuk Alif, dia bilang anak tanpa ayah harus belajar tidak manja."
Tenggorokan Nadhira mengering. Ia belum pernah menyusun semua ingatan itu menjadi kalimat.
"Ada hari ketika saya hanya makan kuah sisa supaya Alif mendapat nasi. Agus menghitung berapa lembar popok yang dipakai. Kalau saya protes, mereka mengunci saya di kamar dan membawa Alif keluar agar saya menyerah."
Jari Rayhan mencengkeram selimut.
"Kenapa catatan rumah sakit hanya menyebut kejadian terakhir?"
"Karena luka lain tidak pernah diperiksa. Sebagian hanya memar. Sebagian tidak terlihat."
Nadhira menyentuh bekas tipis pada pergelangan. "Yang paling buruk bukan pukulannya. Yang paling buruk adalah perlahan saya percaya saya memang tidak mampu hidup tanpa mereka."
Rayhan menatapnya lama. "Anda tidak perlu kembali ke sana."
"Saya tahu sekarang. Tapi tubuh tidak selalu percaya secepat pikiran. Itu sebabnya saya marah ketika pengawal mengikuti setiap langkah. Saya tahu niatmu melindungi. Tubuh saya hanya mendengar pintu dikunci lagi."
"Saya mengerti."
Kali ini bukan jawaban untuk mengakhiri perdebatan. Rayhan benar-benar mendengarkan.
"Saya seharusnya bertanya sebelum mengubah protokol," katanya. "Saya takut satu kesalahan membuat seseorang pergi lagi, jadi saya mencoba mengendalikan semua kemungkinan."
"Tidak semua kemungkinan bisa dikendalikan."
"Saya sedang belajar."
Mereka diam ketika Arkan bergerak dalam tidur. Nadhira dan Rayhan sama-sama mengulurkan tangan untuk menenangkannya. Jari mereka bertemu di atas bahu kecil itu.
Tak satu pun segera menarik diri.
"Apa yang kamu inginkan setelah semua urusan hukum selesai?" tanya Rayhan.
Nadhira berpikir. "Saya ingin bekerja. Belajar bisnis dengan benar. Punya uang yang bisa saya putuskan sendiri tanpa takut direbut."
"Bisnis apa?"
"Belum tahu. Mungkin properti. Saya melihat Tangerang berubah cepat. Banyak orang membeli rumah tanpa mengerti surat, cicilan, atau risikonya."
"Itu bukan mimpi kecil."
"Saya tidak ingin hidup saya kecil hanya karena dulu rumah saya kecil."
Untuk sesaat, sudut bibir Rayhan bergerak.
"Dan kamu?" Nadhira bertanya. "Apa yang kamu inginkan selain perusahaan bertambah besar?"
Rayhan memandang kedua anak yang tidur di antara mereka. "Saya ingin mereka tidak pernah menunggu di gerbang untuk orang yang memilih pergi."
"Itu ketakutan, bukan mimpi."
Ia terdiam, lalu menjawab, "Saya ingin suatu hari pulang tanpa memeriksa siapa yang masih ada."
Kalimat itu membuat dada Nadhira sesak dengan cara yang tidak menyakitkan.
Menjelang pukul dua, listrik kembali. Lampu samping ranjang menyala dan sistem rumah berbunyi pelan. Rayhan segera mematikan lentera, memastikan sumbunya padam, lalu membuka sedikit jendela setelah hujan mereda.
Tak ada yang pindah kamar. Anak-anak masih tidur terlalu lelap.
Nadhira berbaring pada sisi kasur, menghadap Arkan. Rayhan berada di sisi lain dengan Alif di lengannya. Ruang di antara mereka tinggal selebar dua anak dan selimut yang kusut.
Di luar, air masih menetes dari talang. Di dalam, napas kedua bocah itu bersahutan teratur, membuat ranjang yang sempit terasa lebih aman daripada kamar luas mana pun.
Kelopak mata Nadhira mulai berat.
Di ambang tidur, ia merasakan tangan Rayhan bergerak pelan di atas selimut.
Jemarinya menemukan tangan Nadhira dan menggenggamnya.