Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.
Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Sabtu pagi, Zain datang lebih awal dari biasanya. Bengkel bawah tanah masih sepi, hanya terdengar suara kipas pendingin dan dentingan logam dari meja kerja.
Profesor Surya sudah mengenakan pakaian kerja. Di atas meja, tergeletak Cincin Resonansi yang minggu lalu baru selesai dibuat. Permukaannya berkilau diterpa lampu bengkel.
"Datang lebih pagi."
"Enggak sabar lihat prosesnya."
Profesor tersenyum kecil. "Itu bagus. Tapi ingat... mulai hari ini tidak boleh terburu-buru."
Zain mengangguk.
Motor Zain dinaikkan ke atas meja hidrolik. Kali ini pembongkarannya jauh lebih dalam: seluruh bodi samping dilepas, tangki bensin diangkat, dan bagasi dibuka.
Namun, setiap baut tetap dimasukkan ke kotak yang berbeda-beda. Tidak ada yang bercampur. Zain sampai menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau saya bongkar motor sendiri, bautnya pasti sudah nyampur."
"Itulah penyebab banyak montir harus bekerja dua kali," sahut Profesor tetap tenang sambil memasang label pada setiap wadah.
Beberapa jam kemudian, rangka motor terlihat utuh tanpa penutup plastik. Baru kali ini Zain menyadari betapa sempit ruang di dalam motornya.
"Kira-kira masih banyak tempat kosong."
"Kelihatannya saja," Profesor mengambil blueprint. "Karena itu semuanya harus presisi."
Ardi datang membawa sebuah dudukan aluminium hasil mesin CNC. Komponennya pas mengikuti lekuk rangka.
Profesor memasangnya perlahan.
*Klik.*
Pas, tidak perlu dipaksa.
"Ternyata bikin dudukan ini sampai tiga minggu cuma buat bunyi klik itu."
Ardi tertawa. "Kadang tiga minggu memang dibayar oleh satu bunyi yang tepat."
Setelah dudukan terpasang, Profesor mengangkat Cincin Resonansi. Ruangan mendadak hening—semua teknisi menghentikan pekerjaan dan Zain pun ikut menahan napas.
Perlahan, cincin itu diletakkan pada dudukan. Ukurannya benar-benar pas, tidak longgar maupun sempit. Seolah memang sudah menjadi bagian dari motor itu sejak awal.
Profesor mengencangkan baut pertama.
*Cek...*
Lalu baut kedua, ketiga, dan keempat. Selesai.
Hanya empat baut, namun semua orang di ruangan itu tersenyum lega.
"Selamat," ucap Ardi pelan. "Komponen pertama akhirnya terpasang."
Profesor mengangguk. "Hari ini kita berhasil melewati langkah pertama."
Zain berjongkok di samping motor. Kalau dilihat dari luar, hampir tidak ada perubahan. Orang awam pun tidak akan sadar ada komponen baru di balik bodi.
"Kalau dipakai narik sekarang juga masih bisa?"
"Bisa."
"Serius?"
"Selama sistemnya belum diaktifkan."
Zain tersenyum lega. Syukurlah, ia masih bisa bekerja mencari nafkah seperti biasa.
Sebelum pulang, Profesor menatap motor itu cukup lama. "Dua puluh delapan tahun..." gumamnya pelan.
Zain menoleh. "Maksudnya?"
"Dua puluh delapan tahun saya menunggu hari ini."
Tidak ada nada bangga, tidak juga haru yang berlebihan—hanya rasa lega yang membuncah.
Akhirnya, setelah puluhan tahun gagal, memperbaiki teori, dan memulai lagi dari nol, sebuah bagian dari mimpinya kini benar-benar menempel pada kendaraan yang suatu hari nanti akan menguji batas pemahaman manusia tentang waktu.
Dan itu semua baru permulaan.
Minggu berganti. Cincin Resonansi tetap terpasang di dalam rangka motor, namun dari luar, motor Zain masih terlihat persis sama.
Masih dipakai mengantar penumpang, menerobos macet, dan berhenti di lampu merah. Tak seorang pun menyangka ada komponen eksperimen tersembunyi di balik bodi plastik itu.
Suatu sore, Zain sedang menunggu orderan di depan minimarket saat seorang pengemudi ojol lain menghampiri.
"Motor baru, Zain?"
"Bukan."
"Kok suaranya lebih halus?"
Zain tertawa kecil. "Mungkin habis diservis."
Padahal, ia sendiri tidak yakin apakah perubahan itu hanya perasaannya atau memang ada hubungannya dengan modifikasi yang dilakukan Profesor Surya.
*Ting!*
Orderan masuk, membuat percakapan singkat itu pun terhenti.
...
Sabtu berikutnya, Zain kembali ke bengkel. Hari ini meja kerja dipenuhi gulungan kabel berlapis pelindung berwarna hitam, serta beberapa modul elektronik berukuran sebesar telapak tangan.
"Mulai pasang kabel?"
Profesor mengangguk. "Tapi bukan kabel biasa."
Salah satu teknisi menyerahkan modul kecil kepada Zain. "Bantu pegang."
Modul itu terasa dingin dan berbobot ringan. Di bagian atasnya terdapat tulisan kecil: *Sinkronisasi 0,0001 ms*.
"Apa ini?"
"Pengatur waktu," jawab Profesor singkat. "Semua komponen harus bekerja nyaris bersamaan."
"Kalau telat sedikit?"
Profesor menatapnya. "Sistem bisa kehilangan keseimbangan."
Zain mengangguk pelan. Ia memilih untuk tidak bertanya lebih jauh.
Pemasangan kabel berlangsung hampir seharian. Setiap jalur dimasukkan melalui sela-sela rangka—tidak boleh terjepit, tidak boleh terlalu tegang, dan tidak boleh terlalu longgar.
Melihat prosesnya yang begitu rumit, Zain baru sadar bahwa merakit alat seperti ini jauh lebih kompleks daripada sekadar memperbaiki mesin motor biasa.
Menjelang sore, semua kabel selesai dipasang. Profesor memeriksa ulang satu per satu sebelum akhirnya mengangguk puas.
"Bagus."
Ardi yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara. "Prof, kita sudah sampai tahap ini. Masih yakin?"
Ruangan kembali sunyi. Profesor tidak langsung menjawab, melainkan memandang motor Zain beberapa saat.
"Lima tahun lalu... aku akan menjawab tanpa ragu."
"Sekarang?"
"Sekarang..." Profesor tersenyum tipis. "...aku jauh lebih berhati-hati."
Ardi mengangguk. "Itu jawaban yang ingin kudengar."
Zain hanya mendengarkan. Ia memang belum memahami seluruh arti percakapan mereka, namun satu hal mulai terasa makin jelas: semakin dekat proyek ini menuju penyelesaian, semakin besar pula keraguan yang membayang.
Bagi Zain, keraguan itu justru membuat Profesor Surya tampak jauh lebih meyakinkan. Sebab orang yang benar-benar memahami risiko, biasanya tidak pernah gegabah dalam mengambil langkah berikutnya.