Li Zie seorang dokter dari abad 21 justru mengalami kecelakaan, dan jiwanya justru berteransmigrasi ke tubuh seorang wanita lemah di jaman kuno.
Li Zie pun berniat membalas penderitaan wanita yang namanya juga sama, Li Zie. Ia pun menjadi tabib di sana dan fokusnya hanya mengumpulkan harta, ia juga memiliki ruang dimensi, Li Zie menyembunyikan identitasnya dengan sangat rapi.
Tapi bagai mana jadinya jika ketenangan itu hanya sesaat, karena pria yang berkuasa di dinasti Xuan. Yaitu Kaisar Xuan Long justru mengetahui identitas aslinya.
Seperti apa kelanjutannya? yuk mampir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Fitria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
"Ingatlah, jaga pola makanmu dan jangan terlalu banyak berpikir," ujar Li Zie dengan suara serak-berat yang berwibawa. "Ji Yu, mari pergi. Masih banyak takdir yang harus aku luruskan hari ini."
Li Zie berbalik, melangkah dengan sangat tenang dan elegan, jubah hitamnya melambai tertiup angin...
KRUYUUUKKKK!!
Suara itu terdengar sangat keras, bergema di koridor paviliun yang mendadak sunyi. Perut Li Zie bergemuruh hebat, seolah-olah ada naga yang sedang mengamuk di dalamnya. Mata Dewa memang luar biasa, tapi energinya menyerap seluruh cadangan kalori di tubuh Li Zie.
Langkah Li Zie terhenti kaku. Wibawa 'Tabib Agung' yang tadi setinggi langit langsung anjlok dalam sekejap.
"Ah... itu..." Li Zie berdeham keras, mencoba menyelamatkan muka. Lalu kembali berkata, "Itu adalah suara Qi dalam tubuhku yang sedang bereaksi dengan energi alam. Sangat berbahaya jika kalian mendekat!"
Ji Yu hampir saja tersedak ludahnya sendiri menahan tawa. Ia segera menarik lengan baju Li Zie dan berkata dengan tegas, "Benar! Energi Tuanku sedang meledak-ledak! Minggir semuanya!"
Li Zie mempercepat langkahnya, yang semula elegan kini jadi setengah berlari, lalu berkata, "Ji Yu, lupakan takdir!"
Li Zie kembali berkata dengan panik sambil memegangi perutnya yang keroncongan. "Cari kedai makanan paling dekat di pasar ini sekarang! Aku bisa memakan seekor sapi utuh!"
Si Tuan Besar dan pengawalnya hanya melongo, bingung antara harus takjub atau heran mendengar suara 'energi alam' yang sangat mirip dengan perut lapar itu.
Li Zie dan Ji Yu praktis menyerbu kedai makanan paling mewah di ujung jalan pasar gelap. Begitu bokongnya menyentuh kursi kayu, Li Zie menggebrak meja masih dengan kumis kuda dan janggut yang agak miring karena keringat.
"Pelayan! Bawa semua yang ada di menu! Mie urat sapi, tiga lusin bakpao kukus, bebek panggang, dan teh paling kuat!" teriak Li Zie dengan suara seraknya yang kini terdengar lebih mirip kakek-kakek yang sedang mengamuk daripada tabib bijaksana.
"Tapi Tuan... itu porsi untuk enam orang," ujar pelayan dengan ragu.
"Jangan banyak bicara! Cepat!" Ji Yu ikut menimpali sambil menghempaskan satu koin emas ke meja dengan sombongnya. Mata pelayan itu hampir keluar melihat emas murni, dan dalam sekejap, makanan datang bertubi-tubi.
Wibawa 'Tabib Agung' resmi dikubur hidup-hidup. Begitu semangkuk mie diletakkan, Li Zie langsung menyambarnya. Ia makan dengan cara yang sangat tidak anggun, menyeruput mie dengan suara keras, pipinya menggembung penuh bakpao sampai terlihat seperti tupai, dan sesekali menyeka kuah di dagunya dengan lengan Hanfu hitamnya yang kebesaran.
"Ji Yu... ini baru hidup..." gumam Li Zie sambil terus mengunyah. "Mata Dewa sialan itu... dia membuatku merasa seperti tidak makan selama tiga tahun."
Ia tidak peduli lagi kalau arang di wajahnya mulai luntur terkena uap panas bakpao, atau janggut palsunya hampir tercelup ke dalam mangkuk mie. Baginya, saat ini satu-satunya 'Dewa' yang ia sembah adalah karbohidrat.
Li Zie makan dengan galak, matanya melotot tajam pada siapa saja yang berani menoleh ke arah mejanya, seolah-olah ia siap menggigit siapa pun yang ingin meminta makanannya.
Namun, di tengah hiruk pikuk kedai itu, langkah kaki yang mantap dan berat terdengar mendekat.
Seorang pria tinggi tegap berdiri tak jauh dari meja mereka. Ia mengenakan Hanfu hitam pekat dari kain sutra kualitas tertinggi yang memantulkan cahaya redup, kontras sekali dengan kain kasar yang dipakai Li Zie. Sebuah pedang panjang dengan gagang bertahta giok tergantung di pinggangnya, menambah kesan berbahaya namun berkelas.
Wajahnya sangat tampan, garis rahang yang tajam, hidung mancung, dan mata elang yang dingin. Namun, saat ini, pria gagah itu sedang mengernyitkan alisnya dalam-dalam. Ia berdiri mematung, menatap dengan penuh tanda tanya pada 'kakek tua' yang sedang makan dengan beringas sampai janggut palsunya miring ke kiri.
Pria itu menatap Li Zie seolah-olah sedang melihat makhluk asing yang paling tidak masuk akal di seluruh kekaisaran Tiongkok.
Li Zie masih sibuk bergulat dengan kaki bebek panggang terakhir. Baginya, ketampanan pria di depannya tidak lebih menarik daripada kilauan seratus koin emas yang baru saja ia dapatkan. Di otaknya hanya ada kalkulasi berapa banyak tanah dan bisnis yang bisa kubeli dengan uang ini?
Sementara itu, Yan berdiri mematung. Sebagai pengawal pribadi Kaisar, ia dikirim dengan instruksi khusus untuk mencari Tabib Agung misterius berwibawa dewa, yang baru saja membangkitkan orang mati di pasar gelap.
Namun, yang ia lihat sekarang adalah seorang kakek tua bertubuh ringkih yang sedang mengunyah bakpao dengan beringas, janggut palsunya hampir lepas, dan wajahnya coreng-moreng arang.
Yan mengernyitkan alisnya sangat dalam, "Apa informannya salah lihat? Kakek ini lebih mirip gelandangan kelaparan daripada tabib sakti," batin Yan ragu.
Komen-komen guys, biar semangat author nyah buat dabel up