NovelToon NovelToon
IBU MAFIA

IBU MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Single Mom
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: Princess Catalunya

Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.

Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.

Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.

Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.

Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.

Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Babak Baru

Empat tahun telah berlalu sejak malam ketika Amara akhirnya memberanikan diri menghubungi Leon Volkov. Empat tahun bukanlah waktu yang singkat.

Dalam kurun waktu itu, hidup Amara berubah perlahan, tetapi tidak sekaligus. Ia tetap bangun sebelum matahari terbit. Tetap mengenakan seragam caregiver yang sama. Tetap membantu memandikan pasien, menyiapkan sarapan, memberikan obat sesuai jadwal, hingga membersihkan seluruh rumah sebelum malam tiba.

Tidak ada seorang pun di tempatnya bekerja yang mengetahui bahwa setiap malam, setelah semua pekerjaannya selesai, Amara mengikuti kelas bisnis bersama salah satu pria paling berpengaruh di dunia.

Baginya, kedua dunia itu tidak pernah bertabrakan, justru saling melengkapi. Merawat manusia mengajarkannya tentang empati. Sedangkan Leon mengajarkannya bagaimana membangun kekuatan agar dapat melindungi lebih banyak manusia.

Selama empat tahun itu, Leon tidak pernah sekalipun meminta Amara berhenti menjadi caregiver. Sebaliknya, ia selalu berkata,

"Jangan pernah meninggalkan pekerjaan yang membuatmu tetap menjadi Amara."

Kalimat itu selalu diingatnya.

Karena Leon tahu, dunia bisnis sering kali mengubah manusia. Kekuasaan dan uang dapat membuat seseorang lupa mengapa ia memulai semuanya. Namun selama Amara masih merawat orang lain dengan tangannya sendiri, ia percaya perempuan itu tidak akan kehilangan hatinya.

Hubungan mereka berkembang dengan cara yang tidak biasa. Mereka hampir tidak pernah membicarakan perasaan. Sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk belajar.

Leon mengajarinya membaca laporan keuangan. Memahami risiko investasi, menyusun strategi perusahaan, mengelola sumber daya manusia, membangun budaya kerja, hingga menghadapi negosiasi dengan berbagai karakter manusia.

Tidak sedikit malam ketika Amara hampir menyerah. Suatu malam, ia menutup laptopnya dengan kesal.

"Aku tidak mengerti laporan ini."

Leon tetap tenang.

"Bagian mana?"

"Semuanya."

Leon tersenyum kecil.

"Kalau begitu kita mulai lagi dari halaman pertama."

"Tapi aku sudah empat kali mengulang."

"Kalau perlu lima kali."

"Aku bodoh."

"Tidak."

Leon menggeleng.

"Kau hanya sedang mempelajari sesuatu yang belum pernah kau kenal."

Amara menghela napas panjang.

"Aku takut mengecewakanmu."

Jawaban Leon membuatnya terdiam.

"Aku tidak sedang mencari orang yang sempurna."

"Lalu?"

"Aku sedang membimbing seseorang yang tidak mudah menyerah."

Sejak malam itu, Amara berhenti menyebut dirinya bodoh. Setiap tahun, Amara mengambil cuti selama dua puluh satu hari. Sebagian waktunya ia gunakan untuk pulang menemui Arsen, Raka, dan Nayla. Sisanya ia habiskan berpindah dari satu negara ke negara lain. Kadang menghadiri rapat, kadang mengunjungi pabrik, kadang hanya duduk mengamati bagaimana sebuah perusahaan besar mengambil keputusan.

Leon tidak pernah memperkenalkannya sebagai murid. Ia selalu berkata,

"Ini Amara."

Hanya itu.

Namun perlahan, para direktur mulai menyadari bahwa setiap pendapat perempuan Indonesia itu selalu didengarkan oleh Leon. Bahkan beberapa keputusan penting mulai meminta masukannya.

Meski demikian, Amara tetap kembali mengenakan seragam caregiver begitu cutinya selesai. Tidak ada yang berubah. Setidaknya sampai tahun kelima.

Suatu sore, Leon menghubunginya melalui panggilan video.

"Ada kabar baik."

Amara tersenyum.

"Kabar baik atau pekerjaan baru?"

Leon ikut tersenyum tipis.

"Dua-duanya."

"Apa?"

"Aku akan membuka perusahaan di Indonesia."

Amara mengangguk.

"Itu kabar baik."

"Kau yang akan memimpinnya."

Senyum Amara langsung menghilang.

"Apa?"

"Kau tidak salah dengar."

"Aku?"

"Iya."

Amara menggeleng cepat.

"Tidak bisa."

"Kenapa?"

"Aku masih caregiver."

"Itu bukan alasan."

"Aku tidak punya pengalaman."

Leon menatapnya tenang.

"Lima tahun terakhir itu apa?"

"Itu hanya belajar."

"Itu pengalaman."

Amara masih menggeleng.

"Aku belum siap."

Leon tersenyum kecil.

"Kalau semua orang menunggu siap, tidak akan ada pemimpin yang lahir."

Keheningan menyelimuti mereka. Beberapa saat kemudian Leon melanjutkan,

"Kau tidak perlu berhenti bekerja."

Amara mengernyit.

"Maksudmu?"

"Kau tetap menjadi caregiver."

"Lalu perusahaan?"

"Aku sudah menyiapkan tim."

Di layar, Leon memperlihatkan beberapa nama.

"Mereka akan membantumu menjalankan operasional."

"Lalu tugasku?"

"Belajar mengambil keputusan."

Amara masih terlihat ragu. Leon kembali berkata,

"Aku tidak sedang memintamu mengurus perusahaan."

"Lalu?"

"Aku sedang melatihmu memimpin."

Perusahaan pertama di Indonesia akhirnya berdiri. Awalnya hanya perusahaan kecil. Amara masih bekerja seperti biasa di siang hari. Sedangkan malam harinya ia menghadiri rapat secara daring. Beberapa kali ia harus bangun pukul dua dini hari karena perbedaan zona waktu.

Ia belajar membagi hidupnya. Menjadi caregiver, menjadi ibu, dan perlahan menjadi seorang pemimpin.

Melihat perkembangan itu, suatu hari Leon berkata,

"Sekarang bangun perusahaanmu sendiri."

Amara tersenyum bingung.

"Bukankah aku sudah membantu perusahaanmu?"

Leon menggeleng.

"Aku tidak sedang membangun penerus Volkov."

"Lalu?"

Tatapan Leon melembut.

"Aku sedang membangun Amara."

Kalimat itu terus teringat dalam benak Amara selama bertahun-tahun. Sedikit demi sedikit, ia mulai membangun usahanya sendiri. Dimulai dari sebuah perusahaan kecil. Kemudian berkembang menjadi bisnis logistik. Lalu hotel, rumah sakit, perusahaan keamanan, perkebunan, media, pendidikan dan teknologi. Semuanya tumbuh perlahan.

Bukan karena keajaiban, melainkan karena disiplin yang ia pelajari selama bertahun-tahun.

Waktu terus berjalan. Hingga suatu pagi, pasien yang telah dirawat Amara selama bertahun-tahun mulai mengalami penurunan kondisi. Dokter telah melakukan yang terbaik. Namun usia tidak pernah bisa diajak bernegosiasi.

Amara menggenggam tangan pria tua itu.

"Terima kasih sudah merawat saya selama ini," ucapnya lirih.

Amara tersenyum sambil menahan air mata.

"Terima kasih sudah mempercayai saya."

Pria tua itu tersenyum lemah.

"Saya selalu tahu..."

"...suatu hari kamu akan pergi."

Air mata Amara mulai jatuh.

"Kamu tidak diciptakan hanya untuk merawat satu orang."

Napas pria tua itu mulai melemah.

"Kamu diciptakan..."

"...untuk merawat jauh lebih banyak kehidupan."

Beberapa menit kemudian, ruangan menjadi sunyi. Monitor jantung menunjukkan garis lurus. Amara menundukkan kepala. Ia menangis. Bukan karena kehilangan pekerjaan. Tetapi karena kehilangan seseorang yang selama bertahun-tahun telah menjadi bagian dari hidupnya.

Setelah seluruh prosesi pemakaman selesai, Amara datang ke kantor yayasan. Ia menyerahkan surat pengunduran dirinya.

Seluruh keluarga pasien terkejut.

"Kami tidak ingin kehilangan caregiver terbaik kami."

Amara tersenyum sambil menunduk.

"Saya juga tidak pernah ingin meninggalkan tempat ini."

"Lalu kenapa?"

Amara menarik napas panjang.

"Karena sekarang... ada lebih banyak orang yang harus saya perjuangkan."

Hari itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Amara melepas seragam caregiver yang telah menjadi bagian dari hidupnya.

Di malam yang sama, teleponnya kembali berdering. Nama yang muncul di layar membuatnya tersenyum. Leon Volkov.

"Halo."

"Bagaimana kabarmu?" tanya Leon.

Amara memandang seragam yang telah dilipat rapi di atas koper.

"Hari ini..."

"...aku resmi berhenti menjadi caregiver."

Beberapa detik Leon terdiam. Lalu ia tersenyum.

"Selamat datang di babak hidupmu yang baru."

Amara menatap langit malam dari balik jendela. Ia tahu, perjalanan mereka masih sangat panjang. Namun satu hal kini benar-benar ia pahami. Leon tidak pernah berusaha mengubah siapa dirinya.

Pria itu hanya membantunya menemukan sosok yang selama ini tersembunyi di dalam dirinya sendiri.

Dan sejak hari itu, meskipun dipisahkan oleh ribuan kilometer dan negara yang berbeda, Amara tidak pernah lagi merasa berjalan sendirian. Leon selalu ada, bukan untuk mengambil alih langkahnya, melainkan memastikan bahwa setiap langkah yang ia ambil membawanya semakin dekat pada perempuan kuat yang memang ditakdirkan untuk ia menjadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!