NovelToon NovelToon
"OTORITAS TANPA BATAS: SAGA EMPAT DEWA MULTIVERSE"

"OTORITAS TANPA BATAS: SAGA EMPAT DEWA MULTIVERSE"

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:246
Nilai: 5
Nama Author: Mara Nata

Asap kelabu dari sisa pembakaran minyak mesin siber menyelinap masuk melalui celah pilar obsidian Aula Gerhana, berputar-putar menciptakan bayangan kaku di atas lantai batu yang dingin. Di luar menara istana, langit Planet Akuma sedang memuntahkan badai hujan merkuri cair yang paling pekat sepanjang satu abad sejarah klan Shinto. Ketukan logam mendidih yang menghantam atap baja terdengar konstan, menciptakan simfoni bising yang meredam detak kehidupan normal. Dengan gaya tarik bumi yang bekerja seratus kali lipat lebih ekstrem, atmosfer di dalam bilik bersalin itu terasa begitu menjepit raga, memaksa setiap hela napas yang keluar dari tenggorokan terasa berat dan membakar sistem pernapasan seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Siraman Air Kehinaan

Rintik hujan merkuri di luar Aula Pemurnian perlahan mereda, menyisakan hawa dingin yang lembap dan bau belerang yang samar-samar tercium di udara. Ruangan besar yang biasanya dipakai untuk ritual penyucian para petinggi kuil itu sore ini terasa begitu sepi dan mencekam. Di atas lantai batu hitam yang mengilap, nyala lampu minyak yang dipasang di sudut-sudut tiang bergoyang kaku, memancarkan bayangan panjang yang muram ke dinding. Tidak ada kemewahan atau kehangatan di sini. Yang ada hanyalah kesunyian yang kaku, seolah-olah tempat ini sengaja dipersiapkan untuk menjadi saksi dari sebuah takdir yang dipaksakan.

Sayuri berdiri diam di dekat mangkuk perak besar tempat air pemurnian dialirkan. Gaun sutra putih bersulam bintang perak yang dikenakannya tampak sangat kontras dengan kegelapan lantai batu di bawah kakinya. Remaja perempuan itu masih belum bisa menenangkan gejolak amarah di dalam dadanya setelah mendengar perintah gila dari ayahnya. Sepasang matanya yang biru jernih menatap kosong ke dalam air di dalam mangkuk, sementara tangan kanannya meremas erat ujung kain gaunnya sampai kuku-kuku jarinya memutih.

Bagi Sayuri, perjodohan ini adalah sebuah hantaman telak yang menghancurkan seluruh harga diri dan kasta bangsawan yang selama ini ia agungkan. Dia merasa jiwanya diseret paksa ke tingkat yang paling rendah, dipaksa menjadi istri dari seorang anak cacat yang selama ini hidup membusuk di dalam gudang kayu lapuk Sektor Belakang. Rasa benci dan jijik yang teramat mendalam mulai merayap naik, memenuhi setiap jengkal pikirannya terhadap nama Ryuken.

KREEEK...

Suara derit berat dari pintu batu aula mendadak memecah kesunyian. Sayuri tidak membalikkan badannya, namun telinganya menangkap suara langkah kaki yang lambat, tertatih-tatih, dan terdengar begitu kepayahan melintasi lantai batu. Itu bukan derap langkah ksatria kuil yang tegap dan berwibawa. Itu adalah langkah kaki seorang budak yang tubuhnya remuk dihantam siksaan gaya gravitasi Akuma yang kejam setiap hari.

Ryuken melangkah masuk dengan tubuh kurusnya yang ringkih. Remaja empat belas tahun itu baru saja menyelesaikan tugas kasar dari juru masak kuil bawah untuk mengantarkan tabung kemenyan tradisional ke puncak menara. Jubah kain hitam jahit tangan yang melekat di tubuhnya tampak sangat lusuh, kotor penuh noda minyak mesin yang menempel sejak latihan siang tadi di lapangan tengah. Rambut panjangnya yang berantakan menutupi sebagian wajahnya yang pucat pasi, namun sepasang mata hitam legam miliknya tetap memancarkan ketenangan murni yang sedingin kematian. Di pinggang kirinya, sebilah katana tua berkarat di dalam sarung kayu yang lapuk terikat bisu, bergoyang pelan mengikuti irama langkah kakinya yang pincang menahan rasa linu di persendian lutut.

Ketika Ryuken berjalan mendekat untuk meletakkan tabung kemenyan di atas meja, Sayuri membalikkan tubuhnya secara perlahan. Begitu sepasang mata biru jernihnya menangkap sosok kurus yang kotor penuh debu jalanan itu berdiri di hadapannya, wajah jelita Sayuri langsung mengencang kaku. Kilatan rasa muak, benci, dan penolakan yang luar biasa tajam melesat dari sudut matanya, menghancurkan sisa-sisa kedamaian di dalam ruangan suci tersebut.

"Siapa yang memberimu izin untuk mengotori lantai Aula Pemurnian ini dengan sepasang kaki kotor mu itu, Budak Cacat?!" desis Sayuri dengan nada suara yang terdengar begitu ketus, dingin, dan menusuk hati.

Sayuri sengaja menarik ujung gaun sutra putih mewahnya sedikit ke atas agar kain suci itu tidak sampai menyentuh serpihan debu jalanan yang berjatuhan dari jubah hitam Ryuken. "Kau membawa bau busuk minyak mesin dan sisa lumpur Sektor Belakang ini tepat di depan mataku! Keluar dari ruangan ini sekarang juga sebelum aku menyuruh pengawal berbaju besi untuk mematahkan kaki kamumu yang sudah rapuh itu!"

Ryuken tidak membalas makian tajam atau penolakan sedingin es dari wanita yang di masa depan ditakdirkan menjadi istrinya itu. Dia tidak berteriak marah, tidak juga mengepalkan tangannya menahan dendam. Ryuken tetap diam membeku di posisinya, membiarkan jubah hitamnya yang compang-camping dihantam kata-kata keji. Dengan gerakan tangan yang sangat halus, tenang, dan teratur, dia meletakkan tabung kemenyan itu di atas permukaan meja batu tanpa menimbulkan suara bising sedikit pun.

Ketenangan Ryuken—sikap diamnya yang setenang kematian—justru membuat Sayuri merasa semakin terhina. Dia merasa keangkuhan kasta bangsawannya sama sekali tidak dihargai oleh seekor cacing tanah yang sedang diinjak. Amarah di dalam dadanya mendidih gila, meruntuhkan sisa-sisa nalar sehatnya sebagai putri kepala pendeta. Dengan satu gerakan tangan yang dipenuhi rasa benci, Sayuri meraih wadah perak kecil di dekat altar, mengambil air pemurnian bersuhu dingin di dalamnya, lalu menyiramkan seluruh cairan itu langsung tepat ke arah wajah pucat Ryuken.

SPLASH!

Cairan air pemurnian yang sedingin es menghantam telak di atas wajah, rambut, dan pundak kurus Ryuken. Air itu membasahi untaian rambut hitamnya yang berantakan, mengalir deras menembus sela-sela jubah kain hitamnya yang compang-camping, meninggalkan noda basah yang dingin di atas lantai batu. Siraman air kehinaan itu adalah sebuah tamparan keras dari Sayuri, sebuah cara untuk menunjukkan jarak kasta yang tidak akan pernah bisa dilompati oleh sang anak buangan seumur hidupnya.

"Tundukkan pandangan matamu yang kotor itu dari hadapanku!" raung Sayuri, suaranya melengking tinggi dipenuhi oleh rasa frustrasi yang luar biasa mendalam akibat perintah perjodohan paksa ayahnya. Dia melemparkan wadah perak kosong itu ke lantai batu hingga hancur mengeluarkan suara berdentang keras yang memekikkan telinga. "Aku membencimu, Ryuken! Aku membenci silsilah darah cacatmu yang tidak berguna ini! Pergilah kembali ke dalam gudang kayu lapuk mu sebelum aku menyuruh Dewan Tetua menghapus nyawamu dari klan Shinto selamanya!"

Ryuken tetap berdiri tegap diam membeku di posisinya. Aliran air ritual pemurnian menetes lambat dari ujung dagu dan pipinya yang pucat, berbaur bersama dengan sisa noda minyak mesin di jubah hitamnya. Dia tidak mengangkat tangannya untuk menyeka air dingin yang menusuk kulitnya. Tidak ada amukan suara yang bising keluar dari mulutnya yang kaku. Ryuken menegakkan tubuh kurusnya murni menggunakan kekuatan otot tubuhnya, lalu menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda menghormati pelayan Kuil Tinggi dengan kesopanan ksatria sejati yang menolak menyerah pada nasib.

Ryuken membalikkan tubuh kurusnya secara perlahan. Dia kembali menyeret sepasang kakinya yang linu melintasi tumpukan debu batu hitam, melangkah tertatih-tatih keluar menerobos pintu batu aula untuk kembali ke gudang tempat tinggalnya di Sektor Belakang. Dia meninggalkan Sayuri sendirian di bawah cahaya lampu minyak yang bergoyang kaku. Gadis itu berdiri gemetar, meremas erat gaun sutra putihnya karena menahan rasa kesal dan frustrasi di dalam batinnya.

Gengsi kasta kuil tingginya hancur lebur ditelan kenyataan pahit ini, membuat Sayuri bersumpah tidak akan pernah memaafkan takdir yang mengunci silsilah darahnya bersama pria miskin berkarat itu. Dia sama sekali tidak tahu, bahwa jauh di masa depan yang tak berujung, setelah pertempuran besar selesai dan seluruh kekuatan suci milik Ryuken telah hilang sepenuhnya, tubuh pria yang baru saja ia siram dengan air kehinaan inilah yang akan berdiri sebagai tameng terakhir. Pria itu akan mandi hujanan tembakan cahaya murni demi menjaga agar nyawa istrinya tidak padam oleh kehancuran alam semesta.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!