Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17
Oma
"Tidak bisa, Oma," kata Moreno.
"Apa maksudmu tidak bisa?"
"Kalau saya tiba-tiba membawa Bu Keira ke Surabaya, Bos akan tahu Oma menyelidikinya."
Oma Suhui menyandarkan punggung di sofa. "Kalau begitu Oma yang datang."
"Bos melarang Oma bepergian sendiri."
"Kaizan bukan kepala sekolah Oma. Pesankan tiket. Kelas ekonomi. Jangan beri tahu siapa-siapa."
Moreno menarik napas panjang. Dia tahu berdebat hanya akan membuat Oma membeli tiket sendiri dan mematikan pelacak ponsel.
"Saya atur pengamanan dari jauh. Oma harus mengikuti instruksi bandara."
"Oma membesarkan dua generasi Tanujaya. Jangan ajari Oma membaca papan keberangkatan."
Tiga hari kemudian, Oma tiba di Bandara Juanda mengenakan blus batik sederhana, celana hitam longgar, dan sepatu nyaman. Tas bermerek diganti tas kanvas tanpa logo. Perhiasan mahal disimpan. Hanya jam tangan pintar di pergelangan yang mengirim lokasi kepada Moreno.
Tidak ada staf yang menyambutnya. Itu justru yang Oma inginkan.
Penerbangan NusAir menuju Jakarta dijadwalkan pukul sembilan. Nama Keira tercantum sebagai pilot yang bertugas bersama kapten senior. Oma memilih kursi dekat depan agar dapat melihat pintu kokpit saat boarding.
Keira berdiri di ambang kokpit untuk menyambut petugas operasi yang menyerahkan dokumen terakhir. Seragamnya rapi. Rambut disanggul rendah. Sebelum masuk, dia melihat seorang penumpang lanjut usia kesulitan mengangkat koper kabin.
Keira tidak meninggalkan tugas untuk bermain pahlawan. Dia memanggil pramugari terdekat dan membantu menahan antrean agar koper dapat disimpan aman tanpa menghalangi jalur.
"Pelan saja, Bu," katanya kepada penumpang itu. "Tidak perlu terburu-buru."
Oma memperhatikan dari kursinya.
Wenny bertugas mengawasi kabin depan hari itu. Ketika melihat antrean melambat, dia mendecak.
"Barang sebesar itu seharusnya masuk bagasi tercatat," katanya. "Penumpang harus membaca aturan sebelum datang."
Keira menatap label koper yang sudah lolos pemeriksaan gerbang. "Ukurannya sesuai batas. Pastikan saja pengunci kompartemen tertutup."
Wenny tidak membantah di depan penumpang, tetapi wajahnya mengeras.
Oma menyimpan detail itu.
Setelah pintu ditutup, pesawat belum bisa mundur. Awan badai terbentuk di jalur keberangkatan dan pengatur lalu lintas menahan beberapa penerbangan.
Lima belas menit berlalu. Udara kabin mulai gelisah. Seorang penumpang mengeluh akan kehilangan rapat. Anak kecil di baris belakang menangis.
Suara Keira terdengar melalui pengeras kabin.
"Selamat pagi, Bapak dan Ibu. Saat ini keberangkatan ditunda karena aktivitas cuaca di jalur penerbangan. Kami sedang bekerja dengan petugas darat untuk memilih rute yang aman. Perkiraan penundaan awal dua puluh menit. Kami akan memberi pembaruan setiap sepuluh menit, bukan membiarkan Anda menunggu tanpa informasi. Terima kasih atas pengertiannya."
Oma melirik jam.
Sepuluh menit kemudian, pembaruan benar-benar datang. Kali ini Keira menjelaskan bahwa rute alternatif sudah disetujui dan bahan bakar tambahan telah dimuat.
Pria yang sebelumnya mengeluh berhenti memanggil pramugari.
Pesawat akhirnya mundur tiga puluh dua menit terlambat. Ketika menembus lapisan awan, guncangan ringan terasa. Oma memegang sandaran tangan, bukan karena takut, melainkan untuk melihat reaksi kru.
Lampu sabuk pengaman tetap menyala. Layanan minuman ditunda. Tidak ada pramugari yang dipaksa berjalan demi menjaga jadwal pelayanan.
Suara Keira kembali terdengar.
"Kami melewati udara tidak stabil selama kurang lebih delapan menit. Tetap duduk dengan sabuk terpasang. Kondisi pesawat normal dan jalur kami aman."
Kata-katanya tidak berlebihan. Tidak menjanjikan guncangan langsung berhenti. Tidak menyembunyikan situasi. Oma menyukai itu.
Di tengah penerbangan, perempuan di kursi sebelah Oma mulai bernapas cepat. Dia takut terbang dan guncangan tadi membuat tangannya dingin.
Oma menekan tombol panggil. Pramugari junior datang, memberi air, lalu menjelaskan teknik bernapas. Wenny lewat dan berbisik agar penanganan tidak terlalu lama karena troli harus jalan.
"Keselamatan penumpang lebih penting dari kopi," kata Oma.
Wenny menatap pakaian sederhana dan tas kanvasnya. "Bu, biarkan kru kami bekerja. Jangan mengatur."
Oma tersenyum tipis. "Kalau begitu bekerjalah dengan benar."
Pramugari junior menahan keterkejutan. Wenny berjalan pergi dengan wajah masam.
Penerbangan mendarat di Jakarta tanpa masalah. Karena keterlambatan, Keira dan kapten tetap di kokpit menyelesaikan catatan teknis serta laporan cuaca. Setelah tanggung jawab itu selesai, kepala kru memberi tahu bahwa satu penumpang lansia meminta bantuan di pintu keluar dan ada penumpang lain yang sempat panik.
Keira keluar dari kokpit.
"Bagaimana kondisi Ibu sekarang?" tanyanya kepada perempuan yang cemas tadi.
"Sudah lebih baik. Penjelasan dari kokpit sangat membantu."
"Syukurlah. Kalau penerbangan berikutnya, beri tahu kru sejak boarding. Mereka bisa membantu sebelum kecemasan naik."
Keira lalu mendekati Oma yang sedang berusaha menurunkan tas kecil dari bawah kursi.
Sebelum membantu Oma, Keira memastikan pramugari junior sudah mencatat kondisi penumpang yang cemas dan menghubungi petugas darat. Perempuan itu dijemput keluarganya di ujung garbarata, bukan dibiarkan berjalan sendirian dalam keadaan lemas.
"Terima kasih sudah tidak menganggap saya merepotkan," kata penumpang itu.
"Rasa takut bukan pelanggaran," jawab Keira. "Yang penting Ibu memberi tahu kru supaya kami bisa menjaga keselamatan bersama."
Saat hendak beranjak, Oma menemukan dompet kulit di bawah kursi seberang. Keira tidak membukanya. Dia memanggil kepala kru, mencatat nomor kursi, dan menyerahkannya sesuai prosedur barang tertinggal.
Wenny muncul dari galley. "Berikan saja ke petugas kebersihan. Kita sudah terlambat debriefing."
"Rantai serah terima harus tercatat," kata Keira. "Ada identitas dan kartu pembayaran di dalam."
"Kamu bahkan belum memeriksa isinya."
"Karena bukan hakku membuka. Nomor kursi cukup untuk menghubungi penumpang melalui data reservasi."
Kepala kru menandatangani formulir. Beberapa menit kemudian, seorang pria berlari kembali ke pintu pesawat dan hampir menangis lega saat dompetnya ditemukan. Keira tidak menunggu ucapan terima kasih. Setelah prosedur selesai, dia kembali pada Oma.
Oma menyimpan satu penilaian lagi. Perempuan ini tidak baik hanya ketika ada kamera. Dia juga tidak mengambil jalan pintas ketika terburu-buru.
"Saya bantu, Bu."
"Kamu pilot. Bukan petugas bagasi."
"Penerbangan sudah selesai, dan tas ini tidak berat."
Keira membawa tas sampai garbarata. Oma berjalan tanpa kesulitan, tetapi sengaja memperlambat sedikit untuk menguji apakah Keira akan terlihat tidak sabar.
Keira menyesuaikan langkah tanpa komentar.
"Kamu selalu memperlakukan penumpang tua seperti ini?" tanya Oma.
"Kalau mereka butuh bantuan, iya. Mama saya akan marah kalau tahu saya membiarkan orang berjalan sendiri sambil kesulitan."
"Mama kamu mendidik dengan baik."
"Kadang terlalu baik. Saya masih dimarahi kalau lupa makan."
Oma tertawa. Keira juga ikut tersenyum, tanpa tahu perempuan di sampingnya adalah pemilik kekuasaan tertinggi di grup yang menaungi NusAir.
Di pintu keluar kru, Keira harus kembali ke ruang briefing. Dia menyerahkan tas kepada petugas bantuan penumpang dan berpamitan.
"Semoga perjalanan Ibu berikutnya menyenangkan."
"Pasti," kata Oma. "Kita akan bertemu lagi."
Keira menganggap itu ucapan sopan.
Oma berjalan menuju area penjemputan. Wenny muncul dari pintu lain, masih kesal karena laporan layanan mencatat penanganan penumpang cemas. Troli koper Oma sedikit menghalangi jalurnya.
"Bu, jangan berhenti di tengah," katanya tajam. "Ini bukan terminal bus."
Oma memindahkan troli satu langkah. "Jalurnya masih cukup lebar."
"Kalau semua orang berpikir begitu, bandara jadi kacau."
Wenny hendak melewati, tetapi roda kopernya sendiri menyenggol tas kanvas Oma hingga jatuh.
Dia tidak meminta maaf.
Oma membungkuk untuk mengambilnya. Sebuah tangan lebih cepat meraih tas tersebut.
"Oma, saya sudah bilang tunggu di kursi."
Moreno berdiri di sana dengan setelan kerja. Wajahnya tetap profesional, tetapi matanya menatap Wenny dengan dingin.
Wenny mengenalinya sebagai asisten khusus Pak Kaizan. Dia langsung mengubah suara.
"Pak Moreno. Saya tidak tahu ini oma Anda. Tadi hanya salah paham kecil."
Moreno menyerahkan tas kepada Oma. "Minta maaf kepada beliau, bukan kepada saya."
Wenny memaksakan senyum. "Maaf, Oma."
"Tidak apa-apa," kata Oma ringan. "Sekarang Oma tahu bagaimana kamu memperlakukan orang sebelum mengetahui mereka punya hubungan dengan atasanmu."
Wajah Wenny kaku.
Moreno membawa Oma menuju mobil. Setelah pintu tertutup, dia mengembuskan napas.
"Bagaimana?"
Oma memasang kembali jam tangannya yang tertutup lengan batik. "Keira bagus. Tidak dibuat-buat."
"Bos akan lega mendengarnya."
Oma menatapnya. "Sekarang ceritakan semuanya. Kenapa Kaizan tersenyum seperti anak muda bodoh di foto itu?"
Moreno memilih kata dengan hati-hati. "Mereka tinggal bersama. Keira mengenalnya sebagai Kai."
"Tinggal bersama?"
"Ada kesepakatan nikah siri enam bulan. Belum terdaftar di Catatan Sipil. Awalnya untuk perlindungan sosial dan tempat tinggal."
Oma memukul lengan Moreno dengan kipas lipat dari tas. "Kalian membiarkan Kaizan membuat pernikahan seperti kontrak sewa?"
"Saya tidak membiarkan. Bos memberi tahu setelah keputusan dibuat."
"Keira tahu dia Kaizan Tanujaya?"
Moreno menggeleng.
Oma tidak langsung bicara. Keceriaan di wajahnya berkurang.
"Dia tahu pekerjaan dan keluarganya?"
"Belum lengkap."
"Jadi gadis itu percaya kepada Kai, sementara Kaizan menyembunyikan separuh hidupnya."
"Bos berniat menjelaskan."
"Semua pembohong bilang berniat jujur nanti."
Moreno tidak berani menjawab. Oma kembali melihat foto sertifikat Keira di tablet. Kini kekagumannya bercampur khawatir.
"Oma mau tahu satu hal," katanya. "Dia mencintai nama besar Kaizan atau laki-laki yang tinggal bersamanya."
"Bagaimana Oma mau mengetahuinya?"
Senyum licik Oma kembali. "Besok. Di kantor."
"Jangan bilang Kaizan bahwa Oma sudah bertemu."
"Oma, dia akan tahu."
"Biar nanti. Besok Oma mau ke kantor."
Moreno menutup mata sesaat. "Untuk apa lagi?"
"Di pesawat Oma melihat pilot. Sekarang Oma mau melihat manusianya."
Oma mengambil ponsel dan mengetik pesan kepada Kaizan.
Besok aku ke kantor kamu. Jangan bilang siapa-siapa.