NovelToon NovelToon
Sisi Gelap Timbangan (The Scale & The Shadow)

Sisi Gelap Timbangan (The Scale & The Shadow)

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: yrp putri

Seorang Hakim Ketua yang menjunjung tinggi keadilan harus memilih antara hukum, ayahnya, dan cinta kelamnya pada seorang buronan nomor satu yang pernah menghancurkan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yrp putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyeberangi Batas Kehancuran

Dekapan erat di dalam bunker bawah tanah itu seolah menjadi satu-satunya tempat aman di dunia bagi mereka berdua. Aluna masih terisak pelan di ceruk leher Arjuna, membiarkan pertahanannya hancur lebur sambil menghirup aroma maskulin bercampur mint yang sudah sepuluh tahun meracuni kewarasannya. Luka tembak yang menyerempet lengan atas Arjuna masih meneteskan darah segar, menodai sweter hitam kerah tinggi yang dikenakan Aluna.

Namun, kedamaian semu itu hanya berumur hitungan detik.

Sayup-sayup, melampaui suara gemuruh badai hujan yang tak kunjung reda di luar sana, terdengar lengkingan sirene yang membelah kegelapan malam. Suara deru puluhan mesin mobil taktis mendekat dengan kecepatan tinggi, mengepung kawasan pabrik tua di area industri pelabuhan utara tersebut. Cahaya lampu sorot berwarna merah dan biru berkedip menembus celah-celah ventilasi bunker.

Tubuh Arjuna menegang seketika. Naluri pembunuhnya yang tajam, yang telah membuatnya bertahan hidup sebagai buronan nomor satu di negara ini, kembali mengambil alih. Sorot matanya yang rapuh mengeras, kembali menjadi sedingin dasar lautan. Ia melepaskan pelukannya, menatap tajam ke arah pintu baja di ujung tangga semen yang lembap itu.

"Polisi," desis Arjuna, suaranya serak dan mematikan. "Mereka menemukan tempat ini."

Aluna memucat, napasnya tertahan. "Bagaimana mungkin? Polisi sudah menghentikan pengejaran karena badai... Kau bilang tempat ini aman."

Tatapan Arjuna beralih pada Aluna. Ia meraih kedua bahu gadis itu, matanya memindai dengan kecepatan luar biasa. "Ponselmu, berikan padaku!"

Dengan tangan sedikit gemetar, Aluna merogoh saku celana kargo gelapnya dan menyerahkan ponselnya. Arjuna langsung mematahkan perangkat itu menjadi dua bagian, namun raut wajahnya tetap keras. "Ini tidak cukup. Ada pelacak lain yang membawa mereka tepat ke koordinat ini."

Jari-jari besar Arjuna yang kasar menyentuh leher Aluna, tepat pada kalung perak yang melingkar di sana. Matanya yang kelam menangkap sebuah titik merah mikro yang berkedip sangat redup di balik liontinnya.

"Inspektur Arya," geram Arjuna pelan, giginya bergemeretak. "Ayahmu memelukmu saat memastikan keadaanmu di ruang sidang tadi siang. Di balik kepanikan sisa asap gas air mata, dia menanamkan penyadap militer di kalungmu."

Arjuna mundur selangkah, menjaga jarak dari wanita itu. Ia memungut pistol Glock berwarna matte miliknya yang tergeletak di lantai semen. "Aku harus pergi. Tetaplah di sini, Aluna. Ketika kepolisian menerobos masuk, katakan pada ayahmu bahwa aku kembali menyanderamu dan berhasil kabur."

Pria itu berbalik menuju lorong pelarian. Namun, sebelum Arjuna sempat melangkah lebih jauh, Aluna menerjang maju dan menahan lengan pria itu dengan sekuat tenaga.

**"Tidak!"** jerit Aluna, suaranya menggema menantang gemuruh badai. "Kau tidak akan meninggalkanku lagi! Tidak setelah sepuluh tahun aku menunggu seperti orang bodoh di stasiun kereta!"

Arjuna memutar tubuhnya, mencengkeram kedua lengan Aluna dengan kasar. "Sadarlah, Na! Pemuda bodoh yang kau kenal itu sudah mati! Aku ini Baskara, monster yang tangannya berlumuran dosa! Jika kau melangkah bersamaku, kau akan kehilangan karirmu, kehormatanmu, dan nyawamu!"

"Persetan dengan keadilan! Persetan dengan semuanya!" isak Aluna, menatap sepasang mata di balik wajah yang memiliki bekas luka sayat tipis di pelipis kiri itu. "Aku telah berbohong di bawah sumpah demi melindungimu. Aku membawakan diriku sendiri ke sarangmu. Aku lebih baik mati daripada harus kehilanganmu untuk kedua kalinya, Arjuna. Bawa aku. Tarik aku masuk ke dalam duniamu."

Hening yang menyiksa menguasai bunker itu. Arjuna menatap wanita di hadapannya—Sang Palu Es yang selalu menolak cinta dari semua pria, kini memohon untuk dihancurkan bersamanya. Pertahanan Arjuna runtuh. Ia menarik napas panjang, menelan semua akal sehatnya.

"Selamat datang di nerakaku," bisiknya parau.

Arjuna merenggut kalung dari leher Aluna secara paksa, lalu menarik tangan gadis itu. Mereka berlari menembus bagian belakang bunker bawah tanah yang dulu digunakan untuk menyelundupkan barang secara ilegal. Di atas mereka, terdengar suara tembakan dan dobrakan aparat kepolisian yang mulai menjebol pintu gudang nomor 14.

Lorong rahasia itu berujung pada tebing curam di tepi sungai besar pelabuhan yang tersembunyi. Arus sungai itu berwarna hitam pekat, sangat dalam, dan bergejolak hebat di bawah guyuran hujan badai.

Arjuna berdiri di tepi jurang air tersebut. Dengan tatapan dingin tanpa belas kasihan, ia meremukkan penyadap di liontin kalung itu hingga hancur berkeping-keping, lalu membuangnya bersama bangkai ponsel Aluna jauh ke tengah sungai yang mengamuk. Benda-benda itu langsung tertelan ke dasar air yang gelap, mematikan sinyal dan menghapus satu-satunya jejak keberadaan Sang Hakim dari radar kepolisian secara permanen.

Sebuah perahu motor hitam bermesin ganda telah disembunyikan di balik rimbunnya semak bakau. Arjuna melompat ke dalam perahu dan menarik Aluna bersamanya. Dalam hitungan detik, mesin menderu membelah ganasnya arus sungai malam itu, membawa mereka menjauh dari kepungan aparat.

Satu jam kemudian, mereka tiba di sebuah *safehouse* lapis kedua yang berada di sebuah apartemen tua yang terbengkalai di pinggiran kota.

Ruangan itu pengap dan minim cahaya. Arjuna melemparkan sebuah tas ransel ke atas meja usang. Ia mengeluarkan setelan pakaian baru dan melemparkannya ke arah Aluna.

"Toga kebesaran hakimmu telah mati malam ini, Aluna," ucap Arjuna dingin, bersandar di dinding sambil menahan rasa sakit pada bahunya yang sempat membentur lantai ruang sidang dengan keras tadi siang. "Jika kau ingin bertahan hidup di sisiku, kau tidak bisa terlihat seperti penegak hukum. Penampilan anggunmu hanya akan memancing peluru."

Aluna tidak menjawab. Ia mengambil pakaian itu dan melangkah ke kamar mandi. Ketika ia keluar setengah jam kemudian, Arjuna nyaris menahan napasnya.

Sosok hakim yang lurus dan dingin itu telah lenyap. Mantel anti airnya telah berganti dengan jaket kulit hitam ketat yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Celana kargo yang ia kenakan kini dipadukan dengan sepatu bot militer bertali tinggi. Rambut panjangnya yang biasa dibiarkan tergerai anggun kini ditata sedikit berantakan, membingkai wajahnya yang dipulas riasan tajam dengan lipstik berwarna merah darah. Sabuk kulit melingkar di pinggangnya, menahan *holster* yang kini berisi pistol revolver seri lama milik ayahnya.

Transformasi itu absolut. Aluna tidak lagi terlihat seperti korban penculikan; ia memancarkan aura dominasi yang mematikan, menatap Arjuna dengan mata yang sama gelapnya—seperti seorang ratu mafia yang siap membakar dunia.

Aluna menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang retak. Ia sadar sepenuhnya bahwa ia telah hilang akal. Ia telah membuang keadilan yang selama ini menjadi darah dagingnya hanya demi mengikuti jejak buronan teroris yang dijatuhi ancaman hukuman mati. Namun, anehnya, ia tidak merasakan penyesalan. Di dunia yang dipenuhi kebohongan ini, ia tidak memiliki niat mulia apa pun selain ego untuk tidak melepaskan tangan Arjuna lagi.

Sementara itu, kembali ke gudang pengalengan ikan yang hancur.

Inspektur Arya Larasati berdiri tegak di tengah bunker bawah tanah, dikelilingi oleh pasukan kepolisian berpakaian preman dan taktis. Ruangan yang sempat menjadi *safehouse* itu kini kosong melompong.

"Sinyal pelacak di kalung dan ponsel target tiba-tiba terputus di koordinat sungai dalam di belakang pabrik, Komandan!" lapor seorang petugas intelijen, suaranya bergetar menghadapi kemarahan atasannya.

Inspektur Arya meninju deretan monitor komputer di depannya hingga layarnya pecah berantakan. Seragam perwiranya yang sedikit berantakan kini basah kuyup oleh air hujan. Matanya menyipit penuh amarah saat melihat bercak darah Arjuna di lantai semen.

Bajingan itu bukan hanya telah menghancurkan ruang sidang utama Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Pemimpin sindikat itu telah merenggut putri semata wayangnya tepat dari bawah hidungnya.

"Baskara telah menculik putriku," geram Inspektur Arya, rahangnya mengeras, memancarkan amarah yang membara. "Aku tidak akan tinggal diam. Kerahkan seluruh unit! Jaga ketat setiap perbatasan, pelabuhan, dan jalan keluar kota. Aku berjanji atas nama jabatanku, aku sendiri yang akan memburu bajingan itu dan menyeretnya ke lubang neraka!"

1
Teduh Kata
semangat!
yrputri: terimakasih
total 1 replies
Teduh Kata
Hai kak, aku sudah bom like karya kamu, dan mari salin follow yah dan jangan luoa like karya aku juga. mari saling dukung💪
yrputri: hai kak, terimakasih sudah bom... sudah saya like sudah saya like balik juga ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!