NovelToon NovelToon
Arkaholic

Arkaholic

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: siyunr

Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Arka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.

Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.

Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, ia keliru. Arka menikahinya tepat ketika dunia cowok itu di ambang runtuh.

Di sekolah Lintang adalah gadis yang selalu terlihat mengejar Arka, tapi di rumah, Lintang harus menghadapi kemarahan dan luka terdalam Arka.

Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?

Sanggupkah Lintang bertahan, atau perpisahan justru menjadi jalan terbaik bagi keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benang Merah

Dua minggu sudah berlalu sejak hari bersejarah itu.

Hari di mana Lintang sukses kerja kelompok bersama Arka melilit kawat bulu di rumahnya.

Dua minggu bagi sebagian murid SMA Gelanggang Alam cuma deretan hari membosankan menuju ujian.

Namun, hal itu tidak berlaku bagi Lintang.

Selama dua minggu itu, matanya selalu melirik beruang kawat bulu hasil bikinan Arka yang nangkring di kamar kerjanya.

Bawaannya pengen senyum-senyum sendiri kayak orang kurang waras.

Hasil karya Arka memang kelihatan banget vibe pemulanya.

Lilitan kawatnya longgar di sana-sini, matanya agak juling, dan bentuk kepalanya condong miring ke kanan.

Beruang itu seolah-olah sedang terkena gejala stroke ringan.

Namun, justru karena keabstrakan itulah yang bikin Lintang makin naksir.

...----------------...

Sabtu pagi, jarum jam baru menunjuk pukul setengah tujuh.

Lapangan SMA Gelanggang Alam mulai terisi, walau belum seramai pasar kaget.

Tenda stan berukuran mini sudah berjejer rapi.

Namun, pengunjung luar, wali murid, maupun guru dari cabang lain belum menampakkan batang hidungnya.

Yang ada baru anak-anak internal yang mondar-mandir dengan seragam batik sekolah yang rapi.

Suasana masih agak lengang, hanya dihiasi lengkingan suara panitia yang sedang cek sound system.

Tesss, satu, dua, dicoba...

Bunyi cempreng itu beradu dengan kasak-kusuk tiap kelas yang sedang menata lapak dagangan.

Di sisi timur lapangan, stan kelas XII IPS 2 sudah siap tempur.

Tepat di samping meja kelas, Lintang menaruh rak kayu mini yang sengaja dia gotong dari rumah.

Rak itu khusus dipakai untuk memajang sepuluh beruang kawat bulu hasil kerja kelompoknya bareng Arka.

Pembagian tugas mereka kemarin sangat adil secara visual.

Lima ekor buatan Lintang punya bentuk sempurna dan bulunya padat.

Posisi mata dan hidungnya pun simetris, mirip barang pajangan toko Miniso.

Sementara lima ekor milik Arka terlihat jelas perbedaannya.

Ada yang telinganya gede sebelah mirip antena radio, badannya penyok, ada juga yang kepalanya lebih mini daripada pantatnya.

Kelihatan banget kalau yang bikin adalah cowok yang biasa pegang setang motor Ninja, bukan kawat unyu warna-warni.

Arka dan Lintang duduk berdampingan di kursi plastik abu-abu.

Posisi mereka agak mojok di samping stan, sedikit berjarak karena rak beruang itu lumayan memakan tempat.

"Menurut lu, nanti bakal rame gak, Ka?" tanya Lintang.

Ia melirik Arka yang sejak tadi bersandar di kursi sambil melipat tangan dengan wajah sekaku kanebo kering.

Memang, keseharian Arka selalu begitu. Minim ekspresi, irit kata, mirip patung manekin toko baju.

"Nggak tahu," jawab Arka singkat.

Pandangannya lurus menatap lapangan yang perlahan mulai dipadati murid.

Lintang mengerucutkan bibirnya sampai maju dua sentimeter.

Dia agak kecewa, tapi ya sudahlah. Lintang sudah khatam dengan respons seirit kuota gratisan itu.

"Jahat banget sih. Walau gue juga nggak berharap prakarya kita langsung sold out kayak tiket konser band wali, tapi lumayan kalau laku semua."

"Sepuluh biji, goceng satunya. Total dapet gocap. Kan lumayan banget buat modal beli seblak kuah ceker berdua," cerocos Lintang.

Gadis itu sudah membayangkan duduk di warung seblak sambil merayakan kemenangan mereka.

"Lu miskin?" Arka menoleh sekilas, sebelah alisnya terangkat.

"Dih, sembarangan! Gue kaya raya ya! Aset gue udah melimpah sejak masih bentuk embrio di dalam kandungan!" Lintang langsung memasang wajah paling sombong.

Dia berkata begitu dengan nada menantang.

Padahal, cowok di sebelahnya ini kalau isi dompetnya dibongkar bisa buat beli satu klaster perumahan.

Arka mendengus pelan, tipis banget. "Sombong."

"Bukan sombong, tapi fakta! Lu harus tahu, gue nih alumni Daycare Happychild angkatan pertama!" Lintang membusungkan dadanya bangga.

Kepalanya sengaja dimajukan, mendekat ke arah Arka seolah menantang.

Arka tidak selera meladeni adu urat itu.

Dia hanya mengacungkan satu jari telunjuknya, menempelkannya di jidat Lintang, lalu mendorong kepala gadis itu pelan sampai kembali ke posisi semula.

"Jangan dekat-dekat," ujarnya datar, tanpa nada marah.

Lintang malah menyengir kegirangan. Dia duduk rapi kembali sambil melipat tangan di dada.

"Gitu! Makanya jangan main-main sama anak orang kaya."

Arka melirik sekilas ke arah rak mini mereka. "Alumni Happychild?"

Lintang mengangguk antusias sampai rambut kuncirnya ikutan mantul-mantul.

"Iya! Yang iuran bulanannya setara sama nyicil motor matic baru itu loh!"

Arka kembali menyilangkan tangan di dada. "Gue juga alumni sana."

Mata Lintang langsung membelalak bulat sempurna. "DEMI APA LU?! KOK GUE GAK PERNAH LIAT LU?!"

"Ck, jangan teriak di kuping gue," tegur Arka ketus.

Cowok itu agak tersentak karena lengkingan suara Lintang barusan sukses membuat gendang telinganya bergetar gila.

Lintang tertawa cengengesan sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.

"Hehe, sori, sori. Gue refleks beneran kaget. Tapi lu serius alumni daycare kesultanan itu juga? Angkatan berapa?"

"Pertama," jawab Arka pendek.

Lintang mendadak bungkam.

Dia berkedip beberapa kali, otaknya mendadak berputar mencoba mengingat memori belasan tahun lalu.

"Berarti seangkatan sama gue dong? Kok gue sama sekali gak tahu ya?"

"Gue juga nggak kenal lu," balas Arka acuh tak acuh. Kalimatnya jujur, tapi nadanya santai.

Lintang bukannya sakit hati, senyumnya malah makin melebar gila.

Ia seperti baru saja menemukan harta karun tersembunyi yang seru banget.

"Lucu ya? Sebelum gue naksir lu sampe stress, ternyata semesta udah pernah nyatuin kita di satu ruangan pas masih rebutan jungkat jungkit," ujarnya dengan nada yang agak melunak.

Arka menoleh lambat-lambat. "Lu senaksir itu?"

"Yaa..." Lintang mengangguk mantap, jujur tanpa ada urat gengsi yang tersisa.

"Tapi nggak tahu juga sih. Gue cuma ngerasa seneng aja kalau ada lu. Sekolah yang tadinya ngebosenin, jadi semangat karena ada Arka-nya."

Arka mendengus, lalu membuang muka kembali ke arah lapangan.

Ia tidak memberi tanggapan, tapi dia juga tidak bergeser menjauh.

"Tapi ya... kalau didefinisikan sebagai cinta yang mendalam banget... kayaknya belum deh," lanjut Lintang, kali ini beralih berbicara pada dirinya sendiri.

"Gue belum ngerasa nyampe tahap seserius itu. Atau mungkin emang ketutup aja sama rasa seneng gue yang lebay tiap ketemu lu."

Lintang berhenti sejenak.

Kepalanya miring ke kanan, mengintip ekspresi wajah Arka dari samping. "Lu... nggak ilfeel sama gue?" tanyanya agak hati-hati.

"Nggak," jawab Arka tanpa butuh waktu berpikir. Nada suaranya tetap lempeng tanpa penekanan apa pun.

"Kok bisa?" Lintang langsung menegakkan punggungnya lagi, heran.

"Biasanya nih, kalau ada cowok yang dikejar secara ugal-ugalan dan barbar kayak gue gini, cowoknya bakal ilfeel duluan terus pura-pura pindah sekolah."

Dia menggaruk pipinya yang tidak gatal.

"Padahal setahu gue, yang suka sama lu di angkatan kita kan se-kecamatan. Walau emang nggak ada yang segencar gue, sih."

"Tapi ada si Gardena!" seru Lintang tiba-tiba, membuat Arka kembali tersentak kecil. "Yang sampai ngaku-ngaku ke anak kelas sebelah kalau dia tuh pacar rahasia lu!"

Arka menoleh, matanya menyipit tajam. "Kalau yang itu, gue ilfeel."

"Nah, kan! Sama dia ilfeel! Terus sama gue kok enggak? Hayooo..." Lintang langsung memajukan tubuhnya lagi.

Ia memasang wajah penuh selidik mirip intel yang sedang menginterogasi buronan.

"Jangan-jangan lu diam-diam mulai terpikat ya sama pesona estetik Lintang Gentariana? Ngaku lu!"

"Nggak," jawab Arka telak. Nadanya tetap datar, tenang, dan tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun.

Lintang langsung layu seketika.

Senyumnya lenyap, digantikan dengan binar cemberut yang kentara banget.

"Yaelah, kirain udah dapet hilal. Gue udah siap-siap pengen jingkrak-jingkrak padahal," gumamnya pelan sambil mengerucutkan bibir lagi.

Arka tidak menimpali keluhan itu. Dia hanya diam menatap ke depan.

Sikapnya unik; tidak mendorong untuk dekat, tapi juga tidak menolak keberadaan Lintang.

Tidak ada pembatas yang dia bangun, tapi tidak ada juga sinyal hijau yang dia beri secara cuma-cuma.

Hening sejenak di antara mereka berdua.

Dari kejauhan, deretan mobil wali murid mulai memasuki area parkir sekolah.

Tanda kalau pengunjung pertama pameran sudah mulai berdatangan dan suasana lapangan perlahan berubah menjadi lautan manusia.

Lintang mengelus salah satu beruang kawat bulu di rak.

Jarinya berhenti tepat di atas beruang cokelat dengan posisi kepala yang paling miring bin penyok.

"Ini punya lu kan? Yang terakhir lu bikin pas setelah gue benerin itu," tanya Lintang tanpa mengalihkan pandangan.

Arka melirik ke arah yang ditunjuk. "Iya. Kenapa?"

"Telinganya gede sebelah," Lintang terkekeh, menunjuk bagian atas boneka itu. "Tapi lucu banget. Satu vibes sama rambut lu yang nggak pernah rapi."

"Nggak. Kebetulan aja," sanggah Arka cepat.

"Kebetulan apaan," Lintang menyeringai usil.

Dengan gerakan gesit, dia menggeser beruang penyok buatan Arka itu ke barisan paling depan rak pajangan.

"Taruh paling depan! Biar orang-orang yang lewat langsung kesengsem sama hasil karya seni tingkat tinggi dari manekin ganteng bin bernyawa."

"Lebay," celetuk Arka.

Tapi anehnya, dia sama sekali tidak menggeser boneka itu kembali ke belakang atau melarang Lintang. Dia membiarkannya begitu saja.

Melihat rombongan wali murid dan guru yang mulai mendekat, Lintang buru-buru berdiri untuk merapikan tatanan raknya.

Dia memisahkan barisan beruang buatannya dan beruang buatan Arka agar tidak tertukar.

"Punya gue di sebelah kanan yang estetik. Punya lu di sebelah kiri yang agak abstrak," instruksinya sambil menunjuk posisi masing-masing.

"Biar Bu Rihka pas lewat tahu siapa yang bener-bener punya bakat seni di kelompok ini."

Arka mendendug pelan. "Ya udah."

Pucuk dicinta ulam pun tiba, Bu Rihka-guru prakarya mereka-kebetulan lewat dan menghentikan langkahnya tepat di depan rak mini mereka.

Mata jeli sang guru langsung memindai sepuluh boneka kawat bulu tersebut.

"Kelompok Arka dan Lintang, ya? Bagus. Rapi-rapi," puji Bu Rihka sambil tersenyum puas melihat deretan boneka di sisi kanan.

"Terima kasih, Ibu!" jawab Lintang dengan cengiran lebar andalannya.

"Ini murni hasil kerja keras kelompok saya bareng crush saya, Bu. Saya bimbing Arka dengan segenap jiwa dan raga saya yang tulus."

Arka yang mendengar kalimat terakhir Lintang langsung menyenggol ujung sepatu Lintang dengan sepatunya sendiri.

Ia memberi kode keras agar gadis lantam itu tidak mempermalukannya di depan guru.

Bu Rihka beralih menatap deretan boneka di sisi kiri yang bentuknya agak menantang logika estetika.

"Untuk pemula seperti Arka, ini sudah lumayan sekali bentuknya. Pertahankan. Nilai A untuk kekompakan dan kerja sama tim kalian."

Begitu punggung Bu Rihka menjauh dan hilang di balik kerumunan, Lintang langsung berbalik menghadap Arka dengan wajah kemenangan yang hakiki.

"Denger sendiri kan, Mas? Nilai A! Gara-gara kerja sama tim kita yang solid!" katanya bangga setengah mati.

"Gara-gara lu yang ngajarin," balas Arka lempeng.

"Nah, makanya itu namanya tim!"

Lintang menunjuk dadanya lalu menunjuk dada Arka bergantian. "Jadi fiks ya, taruhan kita berlaku. Kalau boneka-boneka ini laku, kita gas makan seblak!"

Arka bangkit berdiri dari kursinya. "Tunggu lapangan ramean dulu, baru kita mulai jualan."

Lintang ikut berdiri dengan sigap, merapikan letak manik-manik mata pada boneka kawat bulu buatan Arka agar tidak copot.

"Oke! Biar adil, gue yang bagian jaga rak dan teriak-teriak nyari pelanggan ya. Lu duduk manis aja di kursi, jagain barang."

"Gue cowok," potong Arka datar.

"Iya tahu, lu kan calon cowok gue," balas Lintang enteng tanpa menyaring omongannya terlebih dahulu.

Arka terdiam di tempat. Langkah kakinya sempat tertahan selama satu detik.

Lintang yang baru sadar kalimat apa yang baru saja meluncur bebas dari bibir lantamnya langsung membeku.

Mukanya mendadak terasa panas berlebih.

Efek salting brutal yang jarang banget menyerang mental bajanya yang setebal tembok Berlin.

"Eh, maksudnya... cowok... eh, maksudnya temen kelompok! Iya, temen kelompok cowok gue! Bukan cowok yang... itu!" ucapnya terbata-bata.

Lidahnya mendadak kelu mirip habis makan es batu sebongkah.

Arka sama sekali tidak mengeluarkan komentar pedas atau ejekan.

Alih-alih menjauh karena salah tingkah, cowok itu justru menarik kursi plastiknya sedikit lebih maju.

Ia lalu duduk kembali tepat di sebelah Lintang-dengan jarak yang kali ini jauh lebih rapat dari sebelumnya.

"Udah, diem. Tunggu pembeli datang," katanya singkat, mengalihkan pembicaraan dengan nada datar andalannya.

Detik itu juga, jantung Lintang mendadak bergetar hebat seperti habis menelan bas dari sound horeg hajatan Jawa Timuran.

Heboh sekali sampai rasanya mau copot.

Gimana nggak tambah naksir, gue?! Dianya aja gentleman banget, coyyy!!! Masa gue suruh duduk anteng aja?! batin Lintang histeris.

Seonggok anomali ajaib bin lantam kayak gue begini aja masih mau dia ladenin dengan sangat manusiawi, walau hilal loveback-nya belom kelihatan sama sekali! Ya Allah... jadiin dia jodohku... jangan cuman contoh...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!