Ajo dan Elsa dipertemukan dalam proyek film yang sama. Ajo sebagai produser dan Elsa sebagai pemeran utama. Sejak awal pertemuan, ketertarikan satu sama lain sudah terasa. Namun, status mereka yang berbeda – Ajo sebagai duda dan Elsa sebagai aktris yang sedang di puncak popularitas – menjadi penghalang bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Ketegangan semakin meningkat ketika skandal masa lalu Ajo terungkap. Hal ini mengancam reputasi dan karir mereka berdua. Mereka harus berjuang melawan tekanan publik, gosip media, dan juga konflik batin mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karpet Merah di Tanah Kelahiran
Ruang rapat direksi Ajo-Adam Pictures siang itu riuh oleh deret angka investasi dan tawaran kontrak baru pasca-kemenangan besar film mereka. Investor asing, distributor nasional, hingga perwakilan kementerian kebudayaan menumpuk berkas kerja sama di atas meja.
Namun, di tengah gelombang kejayaan dan kembalinya kekayaan miliaran rupiah yang sempat hilang, Ajo justru memutar penanya perlahan, lalu mendorong lembut seluruh berkas itu ke hadapan Adam dan Jimi.
"Aku menyerahkan seluruh operasional harian dan kepemimpinan Ajo-Adam Pictures kepada kalian berdua, Adam... Jimi," ujar Ajo tenang, suaranya mantap tanpa ada ragu sedikit pun.
Adam menatap Ajo terperanjat, begitu pula Jimi. "Jo? Kau gila? Ini perusahaanmu! Kita baru saja merebutnya kembali dari tangan Maya!"
Ajo tersenyum—senyum paling damai yang pernah disaksikan sahabat-sahabatnya dalam sepuluh tahun terakhir. Ia menoleh ke arah jendela besar, menatap hiruk-pikuk Jakarta yang sibuk.
"Kekayaan dan nama besar ini pernah membuatku buta, Dam," bisik Ajo dengan mata memancar ketulusan. "Di tempat ini aku kehilangan diriku, kehilangan persahabatan kita, dan hampir kehilangan Elsa. Tapi di tanah tua kaki Gunung Salak... di antara bau cengkeh dan kesederhanaan warga desa, aku menemukan kembali jiwaku. Aku ingin pulang. Aku ingin mengabdikan sisa hidupku untuk membangun tanah kelahiran orang tuaku."
Elsa, yang duduk di samping Ajo, mengulum senyum hangat. Tanpa suara, ia menggenggam jemari Ajo erat-erat di bawah meja, menyalurkan dukungan penuh tanpa syarat. Bagi Elsa, kilau panggung hiburan tak ada artinya dibanding kedamaian yang ia rasakan setiap kali berada di samping pria yang rela mengorbankan segalanya demi dirinya.
"Lalu... bagaimana dengan Elsa?" tanya Jimi pelan.
Elsa mendongak, matanya berbinar jernih. "Aku ikut Ajo. Langitku ada di sana, di mana pun Ajo berada."
Adam menatap Ajo dan Elsa lama, sebelum akhirnya helaan napas lega keluar dari dadanya. Pria itu terkekeh tipis, menggeleng-gelengkan kepala penuh rasa kagum. "Dasar jenderal tua gila... tapi baiklah. Kami yang akan menjaga takhta ini di kota, dan kau bangunlah kerajaan kedamaianmu di desa."
Satu bulan kemudian.
Desa di kaki Gunung Salak tak lagi seperti dulu. Lewat dana pribadi dan yayasan yang didirikan Ajo, saluran irigasi modern membentang luas, balai pelatihan pertanian berdiri megah, dan kebun cengkeh warga kembali menghijau pasca-insiden pembakaran. Namun, Ajo tak bertindak sebagai "tuan tanah kaya", melainkan tetap menggarap tanah bersama warga dengan kaus oblong kusam dan cangkul di tangannya.
Di tepi kebun, di bawah naungan pohon cengkeh tua yang telah sembuh dari sisa jelaga, dibangun sebuah panggung kayu sederhana yang dihiasi bunga-bunga liar. Sore itu, udara Gunung Salak terasa begitu hangat saat acara syukuran desa digelar.
Namun, perhatian warga sore itu justru teralih pada sosok pria kota yang belakangan ini mendadak sering "tersesat" di desa mereka.
Adam—mantan Bos Distributor ternama Jakarta—kini berdiri canggung di tepi kebun. Ia tidak lagi memakai jas kustom miliaran rupiah, melainkan kemeja batik lengan pendek berwarna cerah. Di tangannya, ia memegang sebuah keranjang bambu kecil berisi benih tanaman hias yang sengaja ia cari sampai ke Bogor.
Di hadapannya, Juli sedang menyiram tanaman obat. Kembang Desa itu mengenakan kebaya kain sederhana, rambutnya diikat longgar, dan peluh tipis di dahinya justru menambah pesona alaminya yang begitu manis.
"Ehem... Mbak... eh, Juli," panggil Adam gagap, suara tegasnya yang biasa mengguncang ruang rapat kini menciut drastis.
Juli menoleh, lalu menyunggingkan senyum lesung pipit yang seketika membuat jantung Adam berdegup kencang bak marawis desa.
"Eh, Mas Adam," sahut Juli renyah. "Kok sore-sore begini sudah sampai desa lagi? Katanya kemarin ada rapat penting di Jakarta?"
"R-rapatnya bisa ditunda," potong Adam cepat, wajahnya yang tirus mendadak memerah. Ia mengulurkan keranjang bambu di tangannya dengan canggung. "Ini... aku bawa benih bunga sedap malam. Katanya kau pernah bilang ingin menanamnya di depan balai desa."
Juli tertegun. Ia menerima keranjang itu, menatap benih-benih berkualitas tinggi di dalamnya, lalu mendongak menatap Adam. Ada pendar keheranan sekaligus keharuan yang hangat di mata bulat gadis desa itu. Seorang pria kaya raya dari kota, yang dulu begitu angkuh, kini rela bolak-balik Jakarta–Salak hanya demi mendengarkan ucapan sepelenya minggu lalu.
"Mas Adam jauh-jauh dari kota cuma buat bawakan benih ini?" bisik Juli lembut, matanya berbinar manis.
Adam mengusap tengkuknya yang tak gatal, menunduk malu-malu bagai pemuda yang baru belajar jatuh cinta. "Bukan cuma benihnya, Jul... aku ke sini karena ingin melihat tersenyummu. Di Jakarta tidak ada yang punya senyum sejernih senyummu."
Pipi Juli seketika merona merah dadu. Kembang Desa yang biasanya pemberani itu kini menunduk salah tingkah, memegang keranjang bambu erat-erat sambil mengulum senyum malu-malu yang begitu indah.
Dari bale-bale kayu di dekat kebun, Ajo dan Elsa duduk bersanding menyaksikan pemandangan seru dan manis itu. Ajo melingkarkan tangannya di bahu Elsa, sementara Elsa menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada bidang Ajo.
"Lihat sahabatmu itu," bisik Elsa terkekeh pelan. "Jenderal angkuh Jakarta sudah berlutut di bawah lesung pipit Kembang Desa."
Ajo tertawa rendah, membelai lembut helai rambut Elsa. "Cinta memang punya caranya sendiri untuk menyembuhkan jiwa yang keras, Elsa."
Elsa mendongak, menatap manik mata Ajo yang dipenuhi rasa kasih yang amat dalam. "Dan aku bersyukur... cinta membawaku pulang ke pelukanmu, Ajo."
Di bawah pendar jingga matahari terbenam Gunung Salak, embun sore mulai turun membasahi dedaunan cengkeh. Di tanah kelahiran yang penuh kenangan dan perjuangan ini, tak ada lagi jeritan skandal atau pengkhianatan. Yang tersisa hanyalah riak tawa, benih cinta baru yang sedang mekar, dan dua jiwa yang akhirnya menemukan rumah sejati mereka.