NovelToon NovelToon
RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:61
Nilai: 5
Nama Author: Sang Alifas Yang Merumput

Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: LANGIT MEMANGGIL

Mentari pagi perlahan muncul dari balik deretan gedung yang memenuhi cakrawala Jakarta. Cahaya keemasannya menyelinap masuk melalui jendela lantai dua ruko, membentuk garis-garis tipis di atas lantai kayu yang masih terasa dingin.

Rangga sudah terbangun sejak azan Subuh berkumandang.

Setelah menunaikan salat, ia tidak langsung kembali beristirahat. Kebiasaan itu mulai terbentuk sejak merintis usahanya bertahun-tahun lalu. Baginya, pagi adalah waktu terbaik untuk menenangkan pikiran sebelum kesibukan mengambil alih sepanjang hari.

Dengan secangkir kopi hitam di tangan, ia berdiri cukup lama di dekat jendela.

Jalanan masih lengang.

Sesekali hanya terlihat pengendara motor yang melintas tergesa menuju tempat kerja.

Namun perhatian Rangga sama sekali tidak tertuju ke luar.

Pikirannya masih terjebak pada satu pertanyaan yang belum juga menemukan jawaban.

Bertahan... atau melangkah?

Ia turun ke lantai bawah.

Pintu ruko dibukanya perlahan, lalu langkahnya otomatis menuju taman kecil yang berada di sisi depan bangunan.

Udara pagi masih membawa aroma tanah yang basah.

Embun menggantung di ujung daun-daun mawar yang mulai bermekaran.

Rangga mengambil selang kecil, lalu menyiram tanaman itu dengan gerakan pelan.

Suara gemericik air membuat suasana terasa damai.

Tanpa sadar, senyum tipis menghiasi wajahnya.

"Dulu aku bahkan tidak tahu cara merawat bunga..."

gumamnya pelan.

"Ternyata memang benar... kalau seseorang berarti dalam hidup kita, sedikit demi sedikit kita akan belajar menyukai hal-hal yang ia sukai."

Bayangan Sari kembali hadir.

Ia teringat bagaimana perempuan itu pernah tertawa saat mengajarinya memangkas ranting yang sudah mengering.

"Bunga juga butuh dirawat, Mas. Kalau ada daun yang sudah tua, dipotong saja. Biar yang baru bisa tumbuh lebih sehat."

Kalimat sederhana itu tiba-tiba terasa memiliki makna lain.

Rangga memandang bunga-bunga di hadapannya cukup lama.

Entah mengapa...

Ia merasa bukan hanya tanaman itu yang sedang bertumbuh.

Hubungannya dengan Sari pun demikian.

Dan kini...

Ia takut jika salah mengambil langkah, semua yang telah tumbuh perlahan itu justru layu sebelum sempat berkembang.

Pukul delapan pagi, satu per satu karyawan mulai berdatangan.

Seperti biasa, mereka saling melempar salam sebelum memulai pekerjaan.

"Pagi, Mas Rangga."

"Pagi."

Rangga membalas sambil membantu mengangkat satu dus berisi kertas yang baru datang dari pemasok.

Baginya, menjadi pemilik usaha bukan berarti hanya memberi perintah.

Ia terbiasa ikut bekerja bersama para karyawannya.

Tidak ada sekat yang terlalu jauh di antara mereka.

Suasana itulah yang membuat banyak orang merasa nyaman bekerja di tempatnya.

Tak lama kemudian, suara mesin cetak kembali memenuhi ruangan.

Hari baru pun dimulai.

Di atas meja kerjanya, sebuah map berwarna cokelat masih tersimpan rapi di dalam laci.

Rangga sengaja belum membukanya lagi.

Ia ingin menyelesaikan seluruh pekerjaan pagi ini tanpa membiarkan pikirannya terus-menerus dipenuhi oleh proposal tersebut.

Namun, semakin berusaha menghindar...

Semakin sering bayangan tentang kesempatan besar itu datang menghampiri.

Sekitar pukul sembilan lewat tiga puluh menit, telepon genggam Rangga bergetar pelan.

Sebuah pesan singkat masuk.

Dimas Prasetyo.

Selamat pagi, Mas Rangga. Semoga aktivitas hari ini berjalan lancar. Saya hanya ingin mengingatkan, apabila ada hal yang masih ingin didiskusikan mengenai proposal kerja sama kemarin, saya siap meluangkan waktu kapan saja.

Rangga membaca pesan itu hingga selesai.

Ia tidak langsung membalas.

Bukan karena mengabaikan.

Melainkan karena ia memang masih belum memiliki jawaban.

Setelah beberapa saat berpikir, ia akhirnya mengetik balasan singkat.

Terima kasih, Pak Dimas. Saya masih mempelajari semuanya dengan saksama. Nanti saya kabari kembali.

Pesan itu segera terkirim.

Beberapa detik kemudian, balasan datang.

Baik. Saya tunggu kabar baiknya. Semoga dimudahkan mengambil keputusan.

Rangga mengunci layar ponselnya.

Ia mengembuskan napas panjang.

Tidak ada tekanan.

Tidak ada paksaan.

Namun justru sikap tenang dari Dimas itulah yang membuat beban di pundaknya terasa semakin nyata.

Keputusan itu kini sepenuhnya berada di tangannya.

Dan untuk pertama kalinya sejak merantau ke Jakarta...

Rangga benar-benar merasa bahwa satu pilihan mampu mengubah seluruh arah hidupnya.

Suara mesin cetak kembali mendominasi seluruh ruangan. Lembar demi lembar kertas keluar dengan rapi, disusul aroma tinta yang sudah begitu akrab bagi siapa pun yang bekerja di tempat itu.

Rangga berdiri di samping meja produksi, memeriksa hasil cetakan kalender pesanan sebuah perusahaan distribusi. Jemarinya menyusuri setiap sudut kertas, memastikan tidak ada warna yang meleset atau potongan yang kurang presisi.

"Yang ini sudah bagus, Mas?" tanya Beni sambil menyerahkan contoh cetakan terakhir.

Rangga mengamatinya beberapa detik sebelum mengangguk.

"Sudah. Tinggal pastikan proses laminasinya rapi. Jangan sampai ada gelembung."

"Siap."

Beni segera kembali bekerja.

Rangga memandang para karyawannya yang sibuk dengan tugas masing-masing. Ada yang mengoperasikan mesin, ada yang menyusun hasil cetakan, sementara yang lain melayani pelanggan di bagian depan.

Pemandangan itu membuatnya tersenyum tipis.

Usaha kecil yang dulu ia jalankan seorang diri kini telah menjadi tempat mencari nafkah bagi beberapa keluarga.

Tanggung jawab itu tidak pernah terasa ringan.

Justru semakin besar usaha yang dibangun, semakin banyak pula amanah yang harus dijaga.

Seorang pelanggan tetap datang mengambil pesanan.

Pria paruh baya itu membuka salah satu boks berisi buku panduan yang baru selesai dicetak. Ia membolak-balik beberapa halaman, lalu tersenyum puas.

"Seperti biasa, hasilnya tidak pernah mengecewakan."

"Alhamdulillah. Semoga sesuai harapan, Pak."

"Sangat sesuai."

Pria itu menutup kembali boks tersebut.

"Terus terang, saya pernah mencoba percetakan lain karena harganya sedikit lebih murah."

Rangga hanya tersenyum.

"Lalu?"

"Baru sekali mencoba, saya langsung kembali ke sini."

Rangga tertawa kecil.

"Kenapa begitu?"

Pria itu menjawab tanpa ragu.

"Karena saya lebih butuh ketenangan daripada sekadar harga murah."

Kalimat itu sederhana.

Namun cukup membuat Rangga terdiam setelah pelanggan tersebut berpamitan.

Ia sadar, kepercayaan pelanggan tidak dibangun dalam semalam.

Ia lahir dari kerja keras yang dilakukan berulang kali, dari komitmen untuk tidak mengecewakan, dan dari keberanian bertanggung jawab ketika terjadi kesalahan.

Semua itu menjadi pondasi yang selama ini ia rawat dengan sepenuh hati.

Lantunan azan dari musala di ujung jalan perlahan menggema.

Suasana ruko yang sejak pagi dipenuhi aktivitas mendadak melambat.

Rangga mematikan komputer di meja kasir, lalu menoleh kepada para karyawannya.

"Ayo, istirahat dulu."

Mereka mengangguk serempak.

Sebagian berjalan menuju musala, sementara yang lain memilih menikmati bekal makan siang yang dibawa dari rumah.

Usai menunaikan salat, Rangga tidak langsung beranjak pulang ke ruko.

Ia duduk sejenak di serambi musala.

Angin berembus pelan, membawa aroma pepohonan yang tumbuh di halaman.

Beberapa anak kecil berlarian sambil tertawa, saling mengejar tanpa memikirkan apa pun selain permainan mereka.

Rangga memperhatikan mereka dalam diam.

Entah mengapa, ingatannya melayang jauh ke Desa Samudra.

Dulu, ia juga pernah berlari tanpa mengenal arti kegagalan.

Tanpa memahami betapa rumitnya kehidupan orang dewasa.

Kini, setelah bertahun-tahun merantau, ia justru dihadapkan pada pilihan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Ia menengadah menatap langit.

Hamparan biru itu tampak begitu luas.

Seolah mengingatkannya bahwa impian selalu berada jauh di depan, menunggu keberanian seseorang untuk mengejarnya.

Namun di saat yang sama, hatinya juga tahu...

Ada orang-orang yang sedang menunggu kepulangannya setiap hari.

Dan salah satunya bernama Sari.

Rangga mengembuskan napas perlahan.

Ia belum menemukan jawaban.

Tetapi satu hal mulai ia pahami.

Apa pun keputusan yang nanti ia ambil...

Tidak boleh lahir hanya karena ambisi.

Keputusan itu harus mampu menjaga mimpi yang sedang ia kejar, tanpa mengkhianati orang-orang yang selama ini berjalan di sampingnya.

Setelah kembali ke ruko, Rangga mendapati suasana sudah jauh lebih tenang. Sebagian besar pesanan hari itu telah selesai dikerjakan, sementara para karyawan mulai merapikan meja kerja masing-masing sebelum pulang.

Ia ikut membantu memindahkan beberapa dus berisi hasil cetakan ke ruang penyimpanan. Baginya, pekerjaan sekecil apa pun tetap layak diselesaikan bersama.

"Mas, besok saya datang agak pagi," ujar Beni sambil menutup pintu gudang.

"Kenapa?"

"Soalnya pesanan kalender masih banyak yang harus dipacking."

Rangga mengangguk pelan.

"Baik. Tapi jangan lupa sarapan dulu."

Beni tersenyum lebar.

"Siap, Mas."

Tak lama kemudian, satu per satu karyawan berpamitan. Suara salam mereka perlahan menghilang bersama langkah kaki yang menjauh dari ruko.

Keheningan kembali mengambil alih.

Rangga mengunci pintu depan, lalu berjalan menuju taman kecil yang berada di sisi bangunan.

Langit mulai berubah warna.

Semburat jingga perlahan memudar, digantikan langit kebiruan yang terasa begitu tenang.

Ia duduk di bangku kayu yang menghadap deretan mawar.

Sudah menjadi kebiasaannya beberapa bulan terakhir.

Setiap kali kepalanya terasa penuh, tempat itu selalu berhasil membuat pikirannya sedikit lebih lapang.

Tak lama berselang, suara langkah yang begitu dikenalnya terdengar dari arah pagar.

Sari.

Perempuan itu datang sambil membawa sebuah kotak makanan yang dibungkus kain bermotif bunga.

"Aku tadi masak agak banyak," katanya sambil tersenyum. "Kalau dimakan sendirian, kebanyakan."

Rangga menerima kotak itu dengan senyum hangat.

"Berarti aku yang beruntung."

Mereka duduk berdampingan.

Tidak ada percakapan panjang.

Hanya obrolan ringan tentang pekerjaan hari itu, pelanggan yang sedikit lebih ramai dari biasanya, serta rencana Sari mengunjungi pasar pada akhir pekan untuk membeli beberapa bibit bunga baru.

"Aku lihat pot yang di pojok mulai kosong," ujar Sari.

"Kalau ditambah bunga warna putih, pasti lebih cantik."

Rangga mengikuti arah pandang perempuan itu.

Ia baru menyadari bahwa Sari selalu mampu menemukan hal-hal kecil yang sering luput dari perhatiannya.

"Aku percaya pilihanmu," ucap Rangga pelan.

Sari tersenyum puas.

"Kalau begitu, akhir pekan nanti kita cari bersama."

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun bagi Rangga, kata "kita" memiliki arti yang jauh lebih besar daripada yang diucapkan.

Di dalam satu kata itu, tersimpan begitu banyak harapan tentang hari-hari yang akan datang.

Harapan yang diam-diam membuat dadanya kembali terasa sesak.

Malam mulai turun.

Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, memantulkan cahaya kekuningan di atas trotoar yang mulai lengang.

Sari berpamitan lebih dulu karena esok pagi ia harus berangkat bekerja lebih awal.

"Hati-hati, ya."

"Iya."

"Jangan tidur terlalu malam."

Rangga mengangguk sambil tersenyum.

"Kamu juga."

Ia mengantar Sari hingga gerbang kos.

Sebelum masuk, perempuan itu sempat melambaikan tangan dengan senyum yang sama hangatnya seperti pertama kali mereka saling mengenal.

Rangga membalas lambaian itu.

Baru setelah pintu kos tertutup, ia berbalik menuju rukonya.

Langkahnya terasa lebih berat dibanding biasanya.

Di ruang kerjanya, map berwarna cokelat itu masih tergeletak di atas meja.

Rangga duduk perlahan.

Ia membukanya sekali lagi.

Tatapannya berhenti pada halaman terakhir, tepat di bagian batas waktu konfirmasi kerja sama.

Jarinya mengetuk pelan permukaan meja.

Beberapa detik.

Lalu beberapa detik berikutnya.

Hingga akhirnya ia menyandarkan tubuh ke kursi dan menatap langit malam melalui jendela yang terbuka.

Di kejauhan, bintang-bintang mulai bermunculan, meski cahayanya kalah terang oleh gemerlap kota.

Entah mengapa...

Malam itu ia kembali teringat pada langit di Desa Samudra.

Langit yang dulu selalu dipenuhi bintang.

Langit yang pertama kali membuatnya percaya bahwa setiap manusia memiliki rasi bintangnya sendiri.

Rangga menarik napas panjang.

"Kalau memang ini waktunya..."

"...beri aku keberanian untuk melangkah."

Bisikan itu nyaris tak terdengar.

Namun cukup bagi malam untuk menyimpannya sebagai sebuah doa.

Sementara di atas sana...

Langit tetap membentang luas.

Seolah sedang menunggu keputusan seorang perantau yang sebentar lagi akan mengubah arah hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!