Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.
Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.
Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.
Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Pilihan di Ujung Dilema
Matahari sudah condong ke barat saat Kinanti Larasati menyelesaikan bilasan terakhirnya di kediaman Ibu Romlah. Setelah berpamitan, gadis itu melangkah pulang. Sejujurnya, kaki Kinanti terasa teramat berat untuk melangkah kembali ke rumah kayu miliknya. Dadanya sesak. Dia teramat takut jika harus kembali berhadapan dengan bapak dan ibunya, lalu terjebak lagi dalam pembahasan soal perjodohan yang sangat ingin dia hindari.
"Tapi... kalau aku tidak pulang ke rumah, aku harus pergi ke mana?" bisik Kinanti pada dirinya sendiri. Langkah kakinya terseret pelan di atas tanah kering, matanya menatap kosong ke arah jalanan sepi di depannya.
Dia menghela napas panjang, menatap langit sore yang mulai berubah kemerahan. "Apakah benar-benar tidak ada pilihan lain untukku? Apa aku harus menyerahkan masa mudaku dan menikah dengan pria sedingin itu?" tanyanya retoris pada angin malam yang mulai berembus dingin.
Tanpa sedikit pun diketahui oleh Kinanti, beberapa jam yang lalu saat dia masih sibuk mencuci, sebuah panggilan telepon penting telah masuk ke ponsel jadul milik ayahnya. Juragan Ramli sendiri yang menelepon. Dengan suara berwibawa namun ramah, sang juragan mengabarkan berita besar,Baskara telah menyetujui perjodohan tersebut. Bahkan, pria matang itu meminta agar prosesi lamaran resmi dipercepat. Tepat seminggu dari sekarang, keluarga kaya raya itu akan datang mengetuk pintu rumah mereka.
"Assalamu’alaikum..." ucap Kinanti pelan saat melangkah masuk melewati ambang pintu rumahnya.
"Wa’alaikumussalam," jawab Bapak Adriani dan Ibu Helnawati hampir bersamaan dari arah dalam.
Ibu Helnawati segera bangkit dari duduknya, menatap putrinya dengan pandangan penuh perhatian yang diselimuti rasa bersalah. "Makan dulu, Nak. Ibu sudah menyiapkan makanan seadanya di dapur. Kamu pasti lelah setelah seharian bekerja."
Kinanti memaksakan segaris senyum tipis, meski matanya tak mampu berbohong bahwa dia sedang menghindari kontak mata dengan kedua orang tuanya. "Kinan mau mandi dulu, Bu. Perut Kinan juga belum terasa lapar," jawabnya lirih.
Tanpa menunggu balasan lagi, Kinanti bergegas masuk ke dalam kamarnya yang sempit dan menutup pintu.
Di luar kamar, Ibu Helnawati hanya bisa menghela napas panjang sembari menatap pintu kayu yang tertutup itu. Sebagai seorang ibu yang melahirkannya, beliau tahu betul bahwa putrinya sedang memendam kekesalan dan kekecewaan yang mendalam pada mereka. Namun, nasi telah menjadi bubur. Keadaan ekonomi mereka yang compang-camping tidak memberikan banyak pilihan, apalagi setelah Juragan Ramli menelepon dan memastikan tanggal kedatangan mereka.
Malam pun tiba, melingkupi kampung kecil itu dengan keheningan yang mencekam. Di ruang tamu yang sempit dan hanya diterangi lampu pijar kekuningan, ketiganya akhirnya berkumpul. Duduk di atas kursi kayu yang sama, suasana canggung begitu kentara sebelum akhirnya Bapak Adriani memutuskan untuk memecah keheningan.
"Nak..." panggil Bapak Adriani dengan nada suara yang teramat lembut dan berhati-hati. Beliau menatap lekat wajah putri tunggalnya.
Kinanti tetap bergeming, menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan.
"Bapak dan Ibu melakukan ini bukan karena kami tidak sayang kepadamu, Kinan. Lamaran ini... alasan kenapa kami menerimanya, ini semua juga demi kebaikan dan kebahagiaan masa depanmu sendiri, Nak," lanjut Bapak Adriani, suaranya sedikit bergetar menahan emosi. "Bapak dan Ibu sadar diri, kami tidak akan pernah mampu menyekolahkanmu ke jenjang yang lebih tinggi dengan upah buruh yang pas-pasan ini. Sementara mereka... keluarga Juragan Ramli sudah berjanji akan membantumu melanjutkan impianmu setelah menikah nanti. Kehidupanmu tidak akan susah dan serba kekurangan lagi seperti sekarang."
Ibu Helnawati ikut menggeser duduknya, mengusap lembut pundak Kinanti yang tampak tegang. "Ibu hanya ingin melihat kamu bahagia, Kinan," ucap sang ibu tak kalah lembut, dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Selama ini, kamu sudah terlalu banyak berkorban untuk keluarga ini. Kamu menghabiskan waktu mudamu hanya untuk membantu kami mencari uang. Di saat gadis-gadis seusiamu sibuk dengan pendidikan dan bersenang-senang, kamu malah harus menjadi buruh cuci dari rumah ke rumah di kampung ini. Hancur hati Ibu setiap kali melihat tanganmu melepuh karena sabun, Nak..."
Kinanti tetap bungkam. Dia menyembunyikan matanya yang mulai terasa panas. Dia mengerjapkan matanya berulang kali, berusaha sekuat tenaga menahan air mata agar tidak menetes jatuh ke pipinya di depan orang tuanya.
Bapak Adriani menarik napas dalam, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih berat. "Hari ini, Juragan Ramli menelepon Bapak. Beliau mengabarkan kalau Mas Baskara sudah setuju. Seminggu lagi... keluarga mereka akan datang ke rumah kita ini untuk melamar kamu secara resmi."
Keheningan kembali merayap. Kinanti merasa jantungnya seolah berhenti berdetak mendengar waktu yang tersisa ternyata sesingkat itu.
Namun, kalimat Bapak Adriani berikutnya justru menjadi pukulan telak yang meruntuhkan pertahanan batin Kinanti.
"Tapi, Kinan... kalau kamu memang benar-benar tidak ingin menikah muda, Bapak tidak akan memaksa lagi," ucap Bapak Adriani dengan sisa ketegasan seorang kepala keluarga. Beliau menatap putrinya dengan pandangan pasrah. "Itu adalah hidupmu, dan itu pilihanmu. Setidaknya, malam ini juga Bapak akan menelepon kembali Juragan Ramli untuk mengatakan bahwa anak gadis kami belum siap untuk membangun rumah tangga."
Bapak Adriani bangkit berdiri dari kursinya, diikuti oleh Ibu Helnawati. "Tapi, sebelum kamu benar-benar mengambil keputusan untuk menolaknya... pikirkanlah baik-baik matang-matang dulu, Nak. Bapak dan Ibu serahkan semua keputusan di tanganmu."
"Beristirahatlah, jangan tidur terlalu malam," pungkas Bapak Adriani sebelum melangkah masuk ke kamarnya bersama sang istri, meninggalkan Kinanti sendirian dalam keheningan ruang tamu.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Kinanti bangkit berdiri dengan tubuh yang terasa lemas. Dia berjalan lambat menuju kamarnya, menutup pintu rapat-rapat, lalu menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu tersebut. Gadis itu menarik napas panjang dan berat, membiarkan setetes air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya lolos membasahi pipi.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? jerit Kinanti dalam hati, meremas dadanya yang terasa begitu sesak. Apa aku benar-benar harus menerima lamaran ini? Aku tidak ingin menikah... aku takut.
Namun, bayangan wajah lelah ayahnya dan mata sembab ibunya yang penuh rasa bersalah terus menari-nari di ruang matanya. Kinanti merasa seolah menjadi anak yang paling durhaka jika dia memilih ego pribadinya dan menolak lamaran tersebut. Menolak berarti membiarkan bapak dan ibunya terus hidup melarat dan menanggung beban utang yang menghimpit keluarga mereka.
Di atas ranjang kecilnya, Kinanti meringkuk di balik selimut tebal. Di sela-sela hitung mundur waktu satu minggu yang diberikan, gadis itu tahu bahwa pilihan yang diberikan ayahnya sebenarnya bukanlah sebuah pilihan bebas. Demi senyum orang tua yang teramat dicintainya, dia harus bersiap mengubur dalam-dalam angannya tentang kebebasan, bersiap menghadapi takdir baru sebagai istri dari seorang pria asing yang berkuasa.
Di saat yang bersamaan, dari rumah sederhana Kinanti, suasana di dalam rumah megah berarsitektur modern milik keluarga Dirgantara tampak sangat dingin. Baskara sedang duduk di ruang kerjanya yang luas, menatap ke luar jendela besar yang memperlihatkan pemandangan lampu dari kejauhan.
Pintu ruang kerjanya tiba-tiba terbuka dengan kasar tanpa ketukan terlebih dahulu. Sosok remaja perempuan dengan pakaian bermerek melangkah masuk dengan wajah yang ditekuk masam. Dialah Natasha Kayla, putri tunggal Baskara dari pernikahan pertamanya.
"Papa! Apa benar kabar yang aku dengar dari Kakek?" tanya Natasha dengan suara melengking, khas anak manja yang tidak terbiasa permintaannya ditolak. Dia melipat dadanya, menatap ayahnya dengan tatapan protes yang tajam. "Kakek bilang Papa mau menikah lagi? Dan calonnya... seorang gadis desa miskin yang bahkan usianya tidak beda jauh dariku?!"
Baskara tidak membalikkan badannya, dia tetap menatap ke luar jendela, menyesap kopi hitamnya perlahan. "Jaga bicaramu, Natasha. Siapa pun pilihan Papa, dia akan menjadi ibumu."
"Aku tidak sudi!" bentak Natasha keras, matanya memancarkan sifat keras kepala yang sangat mirip dengan sang ibu kandung, Cynthia. "Aku tidak akan pernah mau memanggil perempuan udik itu dengan sebutan Mama! Rumah ini milik kita, dan tidak boleh ada wanita asing miskin yang masuk dan mengatur hidupku!"
Baskara membalikkan tubuhnya perlahan, sorot mata elangnya berkilat tajam di bawah temaram lampu ruangan, memancarkan aura dominasi yang seketika membuat Natasha sedikit menciut. "Keputusan Papa sudah mutlak, Natasha. Minggu depan Papa akan melamarnya. Suka atau tidak suka, kamu harus terbiasa dengan kehadirannya di rumah ini."
Natasha menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal, lalu berbalik dan membanting pintu ruang kerja ayahnya dengan sangat keras.
Dentuman keras dari pintu yang dibanting Natasha masih menyisakan getaran halus pada dinding-dinding ruang kerja Baskara. Pria matang itu tidak beranjak dari tempat duduknya. Dia hanya memijat pelipisnya yang mulai terasa pening. Suara teriakan Natasha tadi seolah menjadi alarm pengingat bahwa badai besar sedang bersiap menerpa rumah tangganya yang baru, bahkan sebelum pernikahan itu dimulai.
Baskara tahu betul dari mana sifat keras kepala dan angkuh putrinya itu berasal. Gen Cynthia Praditya mengalir kuat di dalam darah remaja itu. Sejak perceraian tiga tahun lalu, Cynthia selalu memanfaatkan setiap kesempatan untuk menanamkan kebencian di kepala Natasha, meracuni pikiran anak itu agar menolak wanita mana pun yang mendekati ayahnya. Cynthia ingin memastikan bahwa posisi "Nyonya Rumah" di kediaman Dirgantara tetap kosong, berjaga-jaga jika suatu saat siasat manipulatifnya berhasil membawa dirinya kembali rujuk dengan Baskara.
"Kamu terlalu memanjakannya, Cynthia. Dan sekarang, aku yang harus membereskan kekacauan ini," gumam Baskara dengan suara rendah yang berbahaya.
Pria itu bangkit dari kursi kerjanya, melangkah menuju meja kecil di sudut ruangan di mana sebuah foto keluarga berbingkai perak diletakkan. Di dalam foto itu, hanya ada dirinya yang tersenyum tipis dan Natasha kecil yang masih polos. Tidak ada wajah Cynthia di sana Baskara telah membakar semua foto wanita itu tepat di hari ketukan palu hakim meresmikan perceraian mereka.
Baskara mengusap permukaan kaca foto tersebut. Ego dan harga dirinya sebagai pria dewasa tidak akan membiarkan seorang anak remaja mengatur jalannya takdir yang sudah dia tetapkan. Dia menerima perjodohan ini bukan hanya untuk menuruti perintah ayahnya, melainkan karena ada sesuatu yang berbeda dari diri Kinanti Larasati. Gadis desa itu tidak menatapnya dengan binar penuh kepalsuan atau ketamakan seperti wanita-wanita sosialita kota yang mengantre di sekelilingnya. Penolakan berani Kinanti di pinggir jalan tadi pagi justru menumbuhkan rasa penasaran yang teramat besar di dada Baskara.
Gadis sembilan belas tahun yang keras kepala melawan pria tiga dewasa yang tak terbiasa ditolak, batin Baskara dengan senyuman misterius yang kembali terukir di wajah tampannya. Kita lihat, siapa yang akan menyerah lebih dulu dalam permainan takdir ini, Kinanti.
Di belahan kampung yang lain, waktu telah bergeser merayap naik menuju sepertiga malam. Suasana di dalam rumah papan milik keluarga Kinanti terasa begitu dingin dan senyap. Hanya suara detak jam dinding tua yang berbunyi nyaring di tengah pekatnya malam.
Kinanti terbangun dari tidurnya. Matanya terasa perih dan tenggorokannya kering karena terlalu lama menangis sebelum terlelap. Merasa haus, gadis itu menyibak selimutnya dan melangkah pelan keluar dari kamar menuju dapur. Dia berjalan sangat berhati-hati, berusaha agar derit lantai kayu yang dia pijak tidak membangunkan kedua orang tuanya.
Namun, saat melewati ruang tengah, langkah kaki Kinanti mendadak terhenti. Matanya tertuju pada sebuah celah di pintu kamar orang tuanya yang sedikit terbuka. Di dalam kamar yang hanya diterangi lampu minyak temaram itu, Kinanti bisa melihat bapak dan ibunya.
Bapak Adriani tampak tertidur dalam posisi duduk bersandar di dinding, dengan minyak angin yang masih tergenggam di tangannya. Wajah pria paruh baya itu terlihat sangat lelah, guratan keriput di dahinya menandakan beban pikiran yang teramat berat. Di sampingnya, Ibu Helnawati tertidur dengan posisi memeluk selembar kain jarik tua, wajahnya yang pias masih menyisakan sisa-sisa kesedihan dari guratan air mata yang mengering.
Di balik pintu, tangan Kinanti reflek menutup mulutnya sendiri. Isak tangis yang hampir lolos kembali dia tahan sekuat tenaga. Dadanya terasa seperti dihantam batu besar yang teramat sangat berat.
Lihatlah mereka, Kinan... bisik sebuah suara di dalam hatinya. Mereka sudah menghabiskan seluruh sisa hidup dan tenaga mereka untuk membesarkanmu dalam kemiskinan ini. Mereka tidak pernah mengeluh saat perut mereka lapar demi membiarkanmu makan kenyang. Dan sekarang, saat ada sebuah jalan keluar untuk mengangkat derajat mereka, apakah kamu akan tega menolaknya hanya karena ego pribadimu yang takut menikah muda?
Kinanti memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan air mata keinsafan mengalir deras membasahi pipinya. Pilihan bebas yang diberikan ayahnya beberapa jam yang lalu kini terasa seperti sebuah ujian kesetiaan baginya sebagai seorang anak tunggal. Jika dia memilih menolak, dia tahu ayahnya akan menepati janji untuk menelepon Juragan Ramli malam ini juga. Tapi setelah itu apa? Keluarga mereka akan tetap terjebak dalam utang, ibunya akan tetap melepuh tangannya karena deterjen tetangga, dan ayahnya akan tetap memeras keringat di pabrik beras hingga raga tuanya tak sanggup lagi berdiri.
Kinanti menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan seiring dengan ketetapan hati yang baru saja lahir di tengah keheningan malam tersebut. Kepasrahan yang semula terasa pahit kini berubah menjadi sebuah keteguhan hati demi bakti kepada orang tua.
Gadis itu berjalan kembali ke kamarnya dengan langkah yang tidak lagi ragu. Dia duduk di tepi ranjang, menatap lurus ke arah jendela yang menampilkan kegelapan malam.
"Baiklah... aku akan menerima lamaran ini," bisik Kinanti lirih, memutus mata rantai kebimbangannya selama ini. "Aku akan menikah dengan Om Baskara. Jika ini adalah harga yang harus aku bayar untuk melihat Bapak dan Ibu tersenyum bahagia di masa tua mereka, maka aku ikhlas memberikan seluruh masa mudaku."
Di dalam kegelapan kamarnya, Kinanti mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Dia tahu, seminggu lagi dunianya akan berubah total. Dia tidak lagi menjadi gadis desa pemetik mimpi, melainkan seorang istri dari penguasa pabrik yang dingin, sekaligus ibu sambung dari anak remaja yang tidak menginginkan kehadirannya. Namun, Kinanti berjanji pada dirinya sendiri: dia tidak akan membiarkan dirinya hancur begitu saja. Dia akan menghadapi apa pun yang menantinya di rumah megah itu dengan kepala tegak.