NovelToon NovelToon
SANGHYANG RASA

SANGHYANG RASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.

Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.

Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.

Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.

Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.

Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.

Dan apinya... baru saja mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 : WARUNG MAKAN SEDERHANA

Mereka berjalan perlahan menjauhi pasar yang mulai sepi. Matahari sore condong ke barat. Cahaya keemasan menyelinap di sela atap rumah, memanjangkan bayang-bayang di jalan setapak.

Dada Bayu masih terasa berat. Namun ia berusaha mengusir rasa gelisah itu. Berlarut-larut meratapi keadaan tak akan membawa mereka ke mana pun. Perutnya pun mulai lapar. Perjalanan masih panjang, tenaga harus dijaga.

Di sudut jalan sepi, di bawah pohon beringin tua, berdiri sebuah warung sederhana. Atap rumbia sudah menghitam, tiang kayu mulai lapuk, tapi semuanya tampak bersih dan rapi.

Asap tipis mengepul dari tungku. Tercium aroma nasi hangat, sayur lodeh, dan sambal terasi yang menggugah selera. Beberapa orang duduk tenang di bangku bambu, makan sambil berbisik pelan.

Karta menunjuk ke arah warung sambil menepuk paha yang pegal.

“Di sana saja ya, Kang? Kakiku rasanya mau copot semua.”

“Lagipula perutku sudah berteriak minta diisi. Sejak tadi pagi cuma makan dua pisang rebus saja.”

Bayu mengangguk pelan.

“Baiklah. Kita istirahat sejenak, isi tenaga, baru pikirkan langkah selanjutnya.”

“Tetap hati-hati. Jangan bicara keras-keras, jangan mencolok. Ingat, kita sedang dicurigai.”

Mereka masuk dan duduk di bangku pojok yang agak remang, menjauh dari pandangan orang lain. Seorang nenek tua ramah segera menghampiri dengan senyum tulus. Tanpa banyak tanya, ia menyajikan nasi hangat, sayur, ikan asin, sambal, dan air putih bening.

“Silakan dimakan, Nak. Maaf seadanya saja,” ucap nenek itu pelan, lalu kembali ke belakang.

Karta tak menunggu lama. Begitu piring ada di hadapan, ia langsung menyambar sendok. Ia makan dengan lahap seolah tak makan berhari-hari. Namun mulutnya tak berhenti berbicara di sela kunyahannya.

Butiran beras menempel di sudut bibirnya saat ia bicara.

“Kang, coba dipikir deh. Tadi Putri Larasati marah sekali sampai pipinya merah padam.”

“Padahal kalau dia mau dengar sebentar saja, pasti tahu kita bukan orang jahat.”

Ia menelan suapan besar, lalu melanjutkan lagi.

“Mungkin saja dia memang tak pernah diajarkan mendengar orang lain. Seumur hidupnya pasti semua orang selalu menurut padanya.”

“Atau mungkin… dia juga lapar tadi? Kalau dia makan di sini seperti kita, pasti hatinya adem dan tak akan marah lagi!”

Bayu menghela napas panjang. Ia menyuap pelan sambil menatap jalan yang terlihat samar.

“Kamu ini bicara tak ada habisnya. Masalah serius malah dijadikan bercandaan.”

“Kesalahpahaman ini bukan soal lapar atau kenyang, Karta. Ini soal pandangan dan kepercayaan.”

“Sekali orang menilai kita buruk, sangat sulit mengubahnya kembali. Apalagi kalau jalan penjelasan sudah tertutup oleh prasangka sendiri.”

Karta menyambar ikan asin sambil mengunyah santai.

“Tapi kan tak selamanya tertutup.”

“Kadang pintu itu cuma terkunci, bukan digembok. Tinggal cari kuncinya, atau didorong pelan-pelan sampai terbuka.”

Ia menatap Bayu serius sejenak.

“Lagipula lihat kan tadi ada Kakek tua itu? Dia tak seperti orang lain. Tak langsung menghakimi, malah menghentikan pertarungan seolah sudah tahu segalanya.”

“Mungkin dialah kuncinya?”

Bayu terdiam. Kata-kata sederhana Karta menyentuh hatinya. Ia menunduk menatap piring, tapi pikirannya melayang pada sosok kakek itu.

Wajahnya keriput namun matanya bening. Sikapnya tenang dan berwibawa, menimbulkan rasa hormat bukan rasa takut. Dan yang paling penting, ukiran di gagang senjatanya sama persis dengan ukiran pada Busur Sanghyang Rasa miliknya, serta pada pisau Karta.

Belum pernah ia melihat tanda itu di tempat lain selain pada pusaka leluhur. Mbah Karsa pernah berpesan agar menjaga tanda itu, karena suatu saat ia akan bertemu orang yang mengenalnya.

Bayu bicara perlahan dengan suara rendah dan berat.

“Kau benar soal kakek itu.”

“Saat matanya menatapku, aku tak merasa dilihat orang asing. Rasanya seperti dilihat seseorang yang sudah lama menungguku.”

“Seolah dia tahu siapa aku, dari mana, dan beban apa yang kupikul. Rasanya aneh, tapi juga lega luar biasa.”

Setelah selesai makan, Karta menyeka mulutnya. Ia perlahan mengeluarkan pisaunya dari sarung. Bilahnya berkilau samar terkena cahaya lampu minyak.

Ia mengelapnya pelan dengan kain bersih. Gerakannya hati-hati, penuh kasih sayang seolah merawat makhluk hidup berharga. Ia mendekatkan mulutnya ke gagang, berbisik sangat pelan.

“Tenang saja kawan, jangan marah ya.”

“Kita sudah paham aturannya. Kalau hati keruh, penuh amarah atau dendam, kau jadi berat dan tumpul seperti batu kali.”

Ia mengusap bilah besi itu lembut.

“Tapi kalau hati jernih, niat murni melindungi dan membela kebenaran, kau akan tetap tajam dan ringan. Secepat kilat menyambar penghalang jalan.”

“Aku akan merawatmu tapi kau pun tolong jaga kami ya.”

Bayu memperhatikan diam-diam. Di balik tingkah konyolnya, Karta punya kepekaan yang luar biasa. Ia tak menganggap pisau hanya sekadar senjata, melainkan teman yang mengerti isi hati pemiliknya. Itulah sebabnya kekuatan itu tak akan jatuh ke tangan yang salah.

Tiba tiba Bayu berbicara dan membuat Karta sedikit terkejut hingga tangannya berhenti bergerak.

“Kau sudah paham betul sifat senjatamu.”

“Itu hal baik. Senjata yang paling tajam bukan senjata yang ditempa pandai besi, melainkan hati yang lurus dan niat yang bersih.”

“Tanpa itu, senjata sekuat apa pun hanya jadi bencana yang akan melukai pemiliknya.”

Karta tersenyum lebar, lalu menyelipkan kembali pisaunya dengan rapi.

“Aku belajar dari Kang Bayu kok.”

“Kalau Kakang saja begitu menjaga hati saat memegang busur, tentu aku pun harus begitu.”

“Lagipula pisau ini sudah seperti saudara. Saudara tak boleh disakiti, apalagi disuruh berbuat salah.”

Mereka duduk diam menikmati teh hangat. Suasana makin tenang. Tamu lain sudah pulang. Terdengar suara jangkrik bersahutan dan aliran sungai tak jauh dari situ.

Namun Bayu tak merasa sepenuhnya aman. Meski duduk diam di sudut sepi, mata pengawas mungkin ada di mana-mana. Berselisih dengan putri berarti mereka kini menjadi perhatian istana. Kesalahan kecil bisa berakibat fatal.

Namun di sisi lain, rasa yakin tumbuh di dadanya. Jika kakek itu mengenali tanda pusaka mereka, berarti jalan yang ditempuh benar. Pertemuan yang tampak kebetulan sebenarnya sudah diatur takdir untuk menyambung benang sejarah yang putus.

Karta memanggil pelan, wajahnya kini serius penuh tanya.

“Kang Bayu… menurutmu siapa sebenarnya Kakek itu?”

“Pahlawan lama? Keturunan raja? Atau… mungkin seseorang yang pernah di ceritakan Mbah Karsa?”

Bayu menggeleng pelan, menatap langit yang mulai gelap tempat bintang pertama muncul.

“Aku tak tahu, Karta. Tapi aku yakin satu hal: dia tak datang untuk mencelakai kita.”

“Tatapannya penuh pengertian, seolah tahu beban apa yang kupikul sebagai Pemanah Rasa.”

“Mungkin dia pegang jawaban atas semua pertanyaanku. Mungkin dia satu-satunya yang bisa jelaskan mengapa tugas ini jatuh padaku—pemuda desa tak punya apa-apa selain hati yang ingin berbuat baik.”

Mata Karta berbinar semangat.

“Kalau begitu kita harus mencarinya lagi, kan?”

“Biar dia jelaskan semuanya, sekalian bantu bicara pada Putri Larasati supaya tak salah paham lagi. Pasti dia lebih didengar oleh putri itu daripada kita!”

Bayu tersenyum tipis.

“Itu juga yang kupikirkan. Tapi jangan mencarinya terburu-buru.”

“Orang seperti dia takkan sulit ditemukan kalau waktunya sudah tiba.”

“Untuk sekarang, fokus pada tujuan awal. Lewati hutan Wana Kelor, menuju Kotaraja, dan temukan apa yang terjadi soal kadipaten Ciaruteun juga kampung Cikabuyutan.”

“Siapa tahu di sana pula ada jejak yang menuntun kita padanya.”

Bayu meletakkan koin di meja, cukup untuk bayar makanan bahkan lebih sebagai rasa terima kasih. Nenek itu tersenyum haru sambil membungkuk hormat.

“Terima kasih ya, Nek. Semoga rezeki Nenek selalu lancar.”

“Semoga perjalanan kalian selamat, Nak,” jawab nenek itu parau namun tulus. “Jalan di luar sudah tidak aman lagi. Hati-hatilah.”

Mereka melangkah keluar, meninggalkan cahaya lampu minyak di belakang. Langit sudah gelap, tapi bulan purnama mulai muncul menerangi jalan setapak menuju pinggir hutan. Angin malam berhembus dingin membawa aroma tanah basah dan dedaunan kering.

Rasa gelisah di hati Bayu perlahan berganti dengan tekad bulat. Meski kesalahpahaman masih menjerat, meski bahaya mengintai, ia tak akan mundur. Ia Bayu , pemegang Busur Sanghyang Rasa. Ia akan melangkah terus menjaga kebenaran, dan suatu saat membersihkan nama baiknya lewat perbuatan nyata.

Di sampingnya Karta melangkah tegap, sesekali menyentuh gagang pisaunya memberi semangat pada diri sendiri. Ia tahu jalan tak mudah, tapi selama bersama Kakaknya dan menjaga hati tetap bersih, ia yakin tak ada rintangan yang tak bisa dilewati.

Mereka berjalan beriringan menghilang di antara bayang pohon besar, menuju kegelapan hutan penuh rahasia, menuju takdir yang sudah menanti sejak lama.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!