Novel ini adalah sequel dari Novel karya author yang berjudul Perjalanan Istimewa.
Novel ini berkisah tentang Shima Killa Danurdara, Adik bungsu dari Bopo Arjuna dan juga Bahuraska Adiwangsa, putra Arjuna yang merupakan Bopo Muda Desa Banyu Alas.
Tak hanya itu, di Novel ini juga menceritakan mengenai Bima, adik angkat Aka yang menjadi orang paling dekat dengan Aka dan selalu menemani setiap langkah Aka.
Bagaimanakah perjalanan masa kecil mereka?
Ikuti kisah Shima dan Bahuraska (Aka) juga Bimantara di Novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Tersambar
"Mamas! Adek! Ya Allah...." Seru Arsha yang kemudian berlari dan langsung memeluk dua cucunya.
Ia bahkan sampai melemparkan payung yang ia bawa karena panik saat melihat cucunya tersambar petir.
"Kenapa, Kung?" Tanya Aka yang menatap Arsha dengan tatapan bingung. Begitu juga dengan Bima yang menatap heran ke arah Kung - Kungnya.
"Iya, Kung - Kung kenapa?" Tanya Bima yang berjalan sembari memeluk lengan Aksa.
"Kalian berdua gak apa - apa? Ada yang luka gak? Ada yang gosong?" Tanya Arsha sambil memeriksa tubuh dua cucunya.
"Kung - Kung kenapa sih? Aka sama Bima gak kenapa - napa, kok." Kata Aka.
"Ya Allah, Astaghfirullah." Lirih Arsha yang kemudian memeluk Aka dan Bima lagi. Jantungnya masih berdebar keras setelah melihat dua cucunya tersambar petir tepat di depan matanya.
"Kung - Kung kok malah hujan - hujanan sih? Nanti masuk angin." Kata Bima yang kemudian mengambil payung yang tadi di lemparkan oleh Arsha.
"Ayo - ayo kita pulang." Ajak Arsha yang kemudian membawa dua cucunya dan segera kembali ke rumah.
"Lho! Ayah kok hujan - hujanan? Nanti masuk angin." Kata Shima saat melihat pakaian Ayahnya yang basah.
"Iya itu, Nty. Tadi Bima juga bilang kayak gitu." Ujar Bima.
Shima kemudian ke belakang dan segera mengambil handuk untuk Ayah dan dua keponakannya.
"Ya Allah! Udah di bawain payung kok malah ujan - ujanan." Kata Meshwa yang mengekor Shima menuju ke depan bersama Raina dan Saira yang juga ada di sana.
"Lho! Ayah kok basah juga? Ujan - ujanan sama mereka berdua?" Tanya Meshwa saat melihat Arsha yang juga basah kuyup.
"Nanti aja Ayah ceritain. Ayah mau mandi dulu." Kata Arsha.
"Ayo kalian berdua juga mandi dulu." Titah Arsha pada dua cucunya.
Mereka kemudian berjalan menuju pintu samping rumah dan masuk melalui pintu samping yang terhubung dengan dapur. Shima, Meshwa, Raina dan Saira pun turut masuk setelah Arsha dan dua cucunya menuju ke pintu samping.
"Mbuun. Tolong masakin sambal belut, ya." Pinta Bima sebelum masuk ke kamar mandi.
"Iya. Udah sana mandi, ini Mbun buatkan." Kata Meshwa yang kemudian masak makanan pesanan Bima di dapur Raina.
Setelah sambal belut selesai di masak, Bima, Aka dan Shima pun langsung makan sambal belut yang merupakan menu favorit keluarga besar mereka. Sementara itu, Arsha, Raina, Meshwa dan Saira berada di ruang keluarga.
"Kenapa kok hujan - hujanan, Yah?" Tanya Raina.
"Jantungku hampir lepas tadi, Bu." Jawab Arsha sambil mengusap - usap dadanya yang kembali berdetak kencang saat mengingat kejadian yang dialami oleh Aka dan Bima tadi.
"Kenapa, Yah? Cerita yang jelas, jangan bikin penasaran." Kata Raina sambil menatap ke arah suaminya.
Tak hanya Raina, Saira dan Meshwa yang ada di sana pun menatap ke arah Arsha dengan serius. Mereka menunggu kelanjutan cerita dari Arsha.
"Denger suara dua petir besar yang menggelegar tadi?" Tanya Arsha yang di jawab anggukan oleh tiga wanita di hadapannya.
"Tadi waktu di sawah, Aku jalan di belakang Aka dan Bima. waktu masih ada di tengah - tengah sawah, petir besar petama itu menyambar pas di depan Aka dan Bima." Kata Arsha yang membuat tiga wanita itu beristighfar.
"Mereka berdua tau gak, Yah, kalau hampir kesambar petir?" Tanya Meshwa.
"Tau, Mbak. Karena Mamas berhenti pas kilatan petir itu di depannya." Jawab Arsha.
"Terus - terus?" Tanya Raina.
"Setelah itu, mereka berdua yang kembali jalan dengan biasa. Mereka malah pamit lari duluan ninggalin Aku. Waktu di pertigaan yang keluar dari sawah, barulah petir kedua nyambar lagi pas di kepala Aka." Kata Arsha yang membuat netra Raina, Meshwa dan Saira terbelalak.
"Yang bener, Mas?" Tanya Saira.
"Ya Allah, ngapain aku bohong to, Ra. Wong aku ya lihat sendiri pas di depan mataku. Makanya aku sampe ikut hujan - hujanan karena payungku tak lempar pas lihat cucuku kesamber petir." Kata Arsha.
"Mamas sadar gak, kalau baru kesamber petir?" Tanya Raina.
"Enggak. Mamas itu gak sadar. Mereka berdua berhenti karena aku teriak pas petir itu nyamber." Jawab Arsha.
"Gak ada luka kan, Yah? Mereka baik - baik aja?" Tanya Meshwa.
"Nah itu yang Ayah heran. Pas Ayah periksa, sama sekali gak ada luka di badan Mamas dan Bima yang waktu itu memang jalan sambil gelendotan sama Mamasnya." Jawab Arsha.
"Padahal udah jelas - jelas Ayah lihat kalau petir itu nyambar kepala Aka." Imbuh Arsha.
"Ya Allah, Subhanallah." Lirih Raina.
"Ya Allah, kalo misal aku yang lihat, kayaknya aku malahan yang pingsan." Komentar Saira.
"Tapi bener gak apa - apa kan, Yah?" Tanya Meshwa lagi. Tentu saja ia merasa sangat khawatir.
"Gak ada, Mbak. Coba aja Mbak Meshwa cek lagi." Kata Arsha yang sudah beberapa kali memeriksa cucunya.
"Mereka malah bingung krena Ayah tiba - tiba langsung meluk mereka sambil hujan - hujanan." Imbuh Arsha.
"Mbuuun!" Seru Aka. Ia dan Bima menghampiri setelah selesai makan.
"Belut buatan Mbun, enaaakk!" Kata Bima sambil mengacungkan dua jempolnya.
"Mamas, Adek, coba sini deket Oma." Panggil Saira.
Saira kemudian memeriksa tubuh Aka dan Bima. Seperti apa yang di katakan oleh Arsha, tak ada luka sama sekali di tubuh kedua cucunya.
"Kenapa sih, Oma?" Tanya Bima.
"Gak apa - apa, Oma cuma mau lihat, ada luka atau enggak badan Mamas sama Adek." Jawab Saira.
"Emang luka kenapa? Kan kita berdua gak jatuh." Tanya Aka.
"Ya siapa tau tadi jatuh waktu hujan - hujanan." Jawab Raina.
"Mamas sama Adek kenapa gak pulang waktu hujan baru turun? Tadi Mbun pesan apa ke Mamas dan Adek?" Tanya Meshwa.
"Maaf, Mbun. Tanggung tadi lagi bersihin belut." Jawab Aka.
"Kan bisa di lanjutin di rumah." Kata Meshwa.
"Maaf ya, Mbun. Soalnya kangen main hujan - hujanan." Jawab Aka dengan jujur.
"Lain kali, harus dengerin apa kata Mbun, ya. Bahaya kalau hujan - hujan di sawah. Petani aja kalau hujan langsung pulang atau berlindung karena di sawah itu banyak petir yang menyambar." Nasehat Arsha.
"Iya, Kung..." Jawab Aka dan Bima bersamaan.
"Maafin Mamas sama Adek ya, Mbun, Kung - Kung." Ucap Aka.
"Kalau minta maaf itu, harus bertanggung jawab sama permintaan maafnya. Gak boleh di ulangi lagi kesalahannya. Karena maaf itu bukan sekedar kata - kata, tetapi juga tanggung jawab untuk gak ngulangi kesalahan yang sama. Ngerti?" Ujar Meshwa.
"Iya, Mbun." Jawab Aka dan Bima.
perpaduane Aksa, Arjuna plus Dipta
🤣🤣🤣🤣