NovelToon NovelToon
Mahar Sandiwara Sang Papa

Mahar Sandiwara Sang Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:568
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Dokter kembali masuk ke dalam ruang perawatan, memutus keheningan yang sempat merayap di antara Amira dan pikirannya sendiri.

Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan fisik akhir pada saraf dan refleks gerak Amira, dokter itu tampak mengembuskan napas lega.

"Kondisi fisik Anda pasca-koma menunjukkan perkembangan yang luar biasa, Nona Amira," ujar dokter dengan senyum ramah.

"Sore nanti Anda sudah diperbolehkan pulang, asalkan Anda berkomitmen untuk rutin menjalani terapi pemulihan di rumah sakit. Otot-otot tubuh Anda masih lemah setelah sebulan tidak digerakkan."

Tepat di saat itu, pintu paviliun terbuka dan Daniel kembali melangkah masuk. Ia rupanya telah mendengar penjelasan dokter dari ambang pintu.

"Aku yang akan menyiapkan dan mengurus seluruh fasilitas terapimu nanti, Amira. Kamu tidak perlu mencemaskan hal itu," potong Daniel dengan nada suara yang tenang namun berwibawa.

Di belakang Daniel, seorang perawat masuk dengan langkah teratur, membawa sebuah nampan berisi semangkuk bubur hangat dan segelas air putih.

Melihat Amira yang masih kesulitan untuk menggerakkan lengannya yang kaku, Daniel langsung mengambil alih nampan tersebut dari tangan perawat.

"Biar aku saja yang menyuapi kamu," ucap Daniel pelan namun tegas, tidak menerima penolakan.

Dokter dan perawat itu saling berpandangan sejenak, lalu mengangguk pamit dan melangkah keluar dari ruangan, memberikan privasi bagi keduanya.

Daniel menarik kursi ke dekat ranjang, mengaduk bubur hangat itu perlahan sebelum menyodorkan sendok pertama ke depan bibir Amira.

Sembari menatap lurus ke dalam manik mata Amira, Daniel bertanya dengan nada yang terdengar berat, "Kamu benar-benar yakin akan pulang sore ini?"

Amira membuka mulutnya, menerima suapan bubur itu dengan lambat.

Setelah menelannya dengan susah payah karena tenggorokannya yang masih kaku, ia menganggukkan kepalanya dengan pasti.

Tatapan matanya yang semula rapuh perlahan menyorotkan sebuah keteguhan yang getir.

"Aku yakin," bisik Amira, suaranya parau namun terdengar mantap.

"Sebelum kecelakaan itu terjadi, sebenarnya aku baru saja keluar dari tempat persembunyianku di Puncak. Aku mengasingkan diri setelah calon suamiku yang kedua meninggal dunia."

Daniel tertegun mendengar pengakuan itu. Tangannya yang memegang sendok sempat tertahan di udara selama beberapa detik.

Ia tidak menyangka ada luka sedalam itu di balik wajah yang serupa dengan mendiang istrinya.

Amira memalingkan wajahnya sedikit, menatap lurus ke arah jendela luar yang menampilkan sisa-sisa langit mendung.

"Takdir sudah merenggut dua pria yang aku cintai tepat sebelum kami menikah. Aku sempat ingin menyerah pada hidup, tapi kecelakaan ini, dan fakta bahwa aku berhasil selamat dari koma satu bulan, menyadarkan aku akan sesuatu."

Amira kembali menatap Daniel, seulas senyum tipis yang sarat akan kepedihan sekaligus tekad baru terukir di bibirnya.

"Aku tidak bisa terus berlari dan bersembunyi. Aku harus pulang ke Yogyakarta, menghadapi kenyataan, dan menjadi diriku yang baru. Aku harus menata ulang hidupku yang sempat hancur, Tuan Daniel."

Daniel terdiam mendengar penuturan Amira. Kata-kata wanita itu seolah mengunci rapat lidahnya.

Sendok di tangannya perlahan diturunkan kembali ke dalam mangkuk bubur.

Ada dorongan yang sangat kuat di dalam dada Daniel untuk egois—untuk memohon, memelas, atau bahkan menggunakan kekuasaannya agar Amira tetap tinggal di rumah ini. Demi Felia. Demi mengobati kerinduan putrinya.

Namun, menatap gurat luka yang begitu dalam di mata Amira, Daniel sadar ia tidak punya hak untuk memaksakan kehendak.

Wanita ini bukan Selena-nya yang malang. Wanita ini adalah Amira Zoe, seorang jiwa yang baru saja merangkak keluar dari puing-puing kehancuran hidupnya sendiri.

Memaksanya memakai topeng orang lain hanya akan menorehkan luka baru yang kejam.

"Mama..."

Suara cicitan halus yang akrab itu kembali memecah keheningan yang sempat merayap.

Pintu paviliun yang tidak tertutup rapat bergoyang pelan, menampilkan Felia yang kembali mengendap-endap masuk dengan langkah kaki telanjang.

Gaun tidur mungilnya bergoyang seiring langkahnya yang ragu namun penuh tekad.

Daniel menoleh, lalu mengembuskan napas pelan sembari menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan rasa sayang.

Ia meletakkan mangkuk bubur ke atas nakas, lalu berlutut untuk menyambut putrinya.

"Anak Papa, kenapa tidak tidur siang, hmm?" tanya Daniel lembut, merapikan anak rambut Felia yang berantakan.

Felia tidak menjawab pertanyaan ayahnya. Mata bulatnya yang jernih langsung mengarah lurus pada Amira yang bersandar di ranjang.

Dengan polos, balita dua tahun itu menjulurkan kedua tangan mungilnya ke arah Amira.

"Felia mau sama Mama..." cicitnya dengan nada merajuk yang begitu rapuh, seolah takut jika ia memejamkan mata untuk tidur siang, sosok "Mama" di depannya akan menghilang lagi ke surga.

Amira menatap lengan mungil Felia yang terulur ke arahnya.

Detak jantungnya berdesir aneh melihat binar penuh harap di mata bocah suci itu. Namun, akal sehat dan benteng pertahanan yang baru saja ia bangun segera mengambil alih.

Amira tahu, sekali saja ia mendekap anak itu, ia akan memberi harapan palsu yang lebih besar—ia akan ditarik masuk ke dalam labirin ilusi yang bukan miliknya.

"Mau menggendongnya?" tanya Daniel pelan, menawarkan sebuah kesempatan terakhir yang mungkin bisa mengubah keputusan Amira.

Amira menahan napas sejenak, lalu dengan perlahan dan tegas, ia menggelengkan kepalanya.

Ia memalingkan wajah, mengabaikan rasa perih yang mendadak mencubit dadanya saat melihat binar di mata Felia meredup.

Daniel mengembuskan napas berat. Ia mengerti bahwa batasan tegas telah ditarik oleh Amira.

Tanpa menunda lagi, Daniel langsung menyusupkan kedua lengannya ke bawah tubuh Felia, mengangkat putrinya ke dalam gendongan sebelum tangisan balita itu kembali pecah.

Daniel membalikkan tubuh, melangkah lebar mengajak putrinya keluar dari dalam paviliun medis tersebut untuk menjauhkan Felia dari kenyataan pahit yang belum bisa ia pahami.

"Mama masih capek, Sayang..." ucap Daniel menenangkan, menepuk-nepuk punggung Felia dengan lembut saat mereka melewati pintu pembatas.

"Kita biarkan Mama istirahat dulu, ya?"

Di dalam kamar yang kembali sunyi, Amira meremas ujung selimutnya erat-erat.

Air matanya menetes pelan menembus seprai putih.

Ia tahu keputusan ini menyakitkan bagi anak kecil itu, namun sore nanti, ia harus benar-benar pergi dan melangkah menuju takdir barunya sendiri di Yogyakarta.

Jam dinding di paviliun utama menunjukkan tepat pukul lima sore.

Langit di luar mulai berubah temaram, menyisakan semburat jingga keunguan yang berbaur dengan hawa dingin sisa hujan. Waktu yang dijanjikan telah tiba.

Karena kondisi fisik Amira yang masih terlalu lemah dan kaku untuk berjalan sendiri pasca-koma, Daniel terpaksa membopong tubuh wanita itu dengan kedua tangannya.

Dengan sangat hati-hati, Daniel membawa Amira keluar dari ruang perawatan melewati koridor samping menuju garasi, menghindari area utama rumah agar tidak memicu keributan yang lebih besar.

Daniel merebahkan tubuh Amira perlahan di kursi penumpang bagian depan sebuah mobil SUV hitam miliknya yang sudah disiapkan.

Ia memasangkan sabuk pengaman dengan gerakan yang tenang namun kaku.

Tepat saat Daniel hendak menutup pintu mobil, sebuah suara jeritan yang menyayat hati memecah keheningan sore dari arah lantai dua rumah mewah itu.

Jendela kamar Felia yang terbuka lebar mengalirkan suara tangisan histeris yang sangat memilukan.

"Mama... Jangan tinggalkan Felia! Mama...!!"

Suara cicitan dan tangis Felia begitu nyaring, memanggil-manggil sosok ibunya yang ia kira akan pergi lagi untuk selamanya.

Di atas sana, suster pengasuh tampak setengah mati menahan tubuh mungil Felia yang meronta-ronta di dekat jendela, menangis sesenggukan hingga suaranya serak.

Mendengar jeritan itu, tubuh Amira di dalam mobil seketika menegang.

Ia mencengkeram erat sabuk pengamannya, memejamkan mata rapat-rapat demi menghalau rasa bersalah yang mendadak menghantam dadanya seperti godam besar.

Air mata Amira lolos begitu saja membasahi pipinya yang pucat.

Daniel membeku di samping pintu mobil selama beberapa detik.

Rahangnya mengatup sangat rapat, menahan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya.

Suara tangis putrinya seperti menguliti hatinya hidup-hidup. Namun, ia sudah berjanji, dan ia tidak bisa memaksa Amira menjadi budak dari ilusinya.

Dengan sentakan cepat, Daniel menutup pintu mobil dengan rapat, meredam sebagian suara tangisan dari luar.

Ia segera berjalan memutari kap mobil, masuk ke kursi kemudi, dan menyalakan mesin.

Tanpa menoleh lagi ke arah jendela lantai dua, Daniel langsung menginjak pedal gas, melajukan mobilnya membelah gerbang mansion yang terbuka lebar, memulai perjalanan panjang yang sunyi menuju Yogyakarta.

Perjalanan malam membelah jalur luar kota terasa begitu sunyi dan dingin.

Hanya ada suara deru mesin mobil dan gesekan roda pada aspal basah yang menemani mereka.

Daniel fokus menatap jalanan gelap di depannya, sementara Amira bersandar lemah di kursi penumpang, memandangi lampu-lampu jalan yang berkelebat cepat.

Keheningan yang mencekam itu akhirnya pecah saat Amira menoleh kecil ke arah Daniel.

Kelegaan karena bisa pulang mengalahkan rasa canggungnya.

"Terima kasih banyak. Anda sudah menyelamatkan aku," ucap Amira tulus, suaranya masih terdengar parau.

Ia meremas jemarinya sendiri, benar-benar tidak tahu jika pria berwajah tegas di sampingnya inilah yang malam itu mengemudikan kendaraan yang menghantam mobilnya hingga jatuh ke jurang.

Daniel tertegun. Cengkeramannya pada setir mobil mengeras seketika.

Rasa bersalah yang teramat besar kembali menghantam dadanya seperti hantaman ombak, membuat tenggorokannya mendadak tercekat.

Di bawah pengaruh rasa bersalah dan bayang-bayang masa lalu yang terus menghantuinya, fokus Daniel buyar.

"Iya, Selena..." sahut Daniel lirih, nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya tanpa bisa ia kendalikan.

Amira mengembuskan napas berat. Ada gurat kekecewaan sekaligus ketegasan yang tertangkap di wajahnya yang pucat. Ia menatap Daniel dengan tatapan lurus.

"Aku Amira, Tuan Daniel. Bukan Selena," koreksi Amira dengan nada menekan, mengingatkan pria itu untuk kesekian kalinya agar berhenti melihat orang mati di dalam dirinya.

Daniel tersentak, seolah baru saja ditarik paksa kembali ke realitas yang pahit.

Ia berdeham pendek, mencoba menguasai gemuruh di dalam dadanya sembari mematangkan pandangan ke depan.

"M-maaf..." bisik Daniel pelan, terselimut rasa bersalah yang kini berlipat ganda—baik atas kecelakaan itu, maupun atas ilusi egois yang terus ia paksakan pada wanita di sampingnya.

Mobil terus melaju menembus pekatnya malam, membawa dua jiwa yang sama-sama terluka menuju Yogyakarta, meninggalkan jeritan masa lalu yang belum sepenuhnya selesai.

1
falea sezi
lanjut q kasih hadiah
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!