Keisya Mahardika hanya punya satu keinginan sederhana, yaitu memiliki seorang mama.
Sayangnya, ayahnya, Arya Mahardika, adalah CEO dingin yang lebih mencintai pekerjaannya daripada urusan hati. Sampai suatu hari Keisya bertemu Alya di kantor ayahnya, wanita baik hati yang langsung ia pilih menjadi calon mamanya.
Sejak saat itu, dimulailah berbagai misi rahasia sang mak comblang cilik untuk mendekatkan mereka berdua.
Di balik rencana-rencana kecil yang lucu dan menggemaskan, perlahan dua hati yang sama-sama terluka mulai saling menemukan.
Tapi apakah cinta bisa benar-benar tumbuh dari ulah seorang anak kecil?Atau justru sang mak comblang cilik harus menerima bahwa tidak semua keinginan bisa menjadi kenyataan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Alya menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum lembut, berusaha menjawab pertanyaan polos Keysa dengan hati-hati
“Aunty belum punya kekasih. Tapi Aunty sudah pernah menikah,” jawab Alya jujur.
Keysa mengerutkan keningnya, wajahnya tampak bingung. Kepalanya miring seperti anak kucing yang sedang mendengar suara aneh.
“Makcudnya? Key nda ngelti, Aunty,” tanyanya polos sambil mengedipkan mata berkali-kali.
Alya menghela napas pelan. Ia tidak menyangka harus menjelaskan konsep pernikahan dan perceraian kepada anak kecil, anak bosnya sendiri. Tapi melihat mata Keysa yang penuh rasa ingin tahu, ia pun mencoba menjelaskan dengan bahasa yang sesederhana mungkin.
“Aunty seorang janda, sayang. Artinya Aunty dulu sudah menikah, tapi sekarang sudah berpisah sama suami aunty. Tapi Aunty belum memiliki anak,” jelas Alya sambil mengusap rambut Keysa pelan.
Keysa mengangguk-angguk kepala perlahan, seolah sedang berusaha memproses informasi penting itu. Meski sebenarnya belum sepenuhnya mengerti, ia berusaha terlihat dewasa.
“Oh… gitu,” gumamnya sambil mengangguk lagi. Lalu tiba-tiba wajahnya cerah kembali. “Ini culat buat Aunty!”
Keysa mengeluarkan selembar kertas warna-warni yang sudah agak kusut dari saku seragamnya. Kertas itu penuh coretan crayon dengan tulisan tangan anak kecil yang miring-miring lucu. Ada gambar hati besar, stick figure dua orang, satu tinggi dan satu pendek.
Judul suratnya “Aunty Alya mama balu Key” dengan huruf kapital yang goyang-goyang.
Alya menerima surat itu dengan hati hangat. Ia membukanya perlahan dan tersenyum lebar melihat isinya. Di dalamnya tertulis.
“Aunty Alya, Key cuka cama Aunty cih. Papa Key baik lho, dia kaya laya tapi cayangnya olangnya pelit. Nda pelnah Key di kacih uang cama papa.
Jadi mama Key ya, aunty. Key pingin cepelti teman-teman Key. Bial nanti meleka nda bica ejek-ejek Key lagi, coalnya Key cudah punya mama"
“Keysa...,” kata Alya, matanya sedikit berkaca-kaca karena terharu. Dia tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan gadis kecil itu.
Keysa tersenyum bangga. “Itu curat lahacia. Aunty cimpan ya. Jangan kacih tahu Papa dulu.”
“Dah… Aunty, Key ke luangan Papa dulu ya,” pamit Keysa sambil melambai kecil. Ia turun dari kursi dengan lincah, lalu berjalan menuju pintu dengan langkah cepat penuh misi.
“Hati-hati ya sayang,” kata Alya sambil melambaikan tangannya balik.
Setelah Keysa menghilang di balik pintu, Alya menghela nafas dalam. "Apa yang terjadi dengan mu selama ini, Keysa" gumamnya lirih.
Ia melipat surat dari Keysa dengan hati-hati, lalu memasukkannya ke dalam tasnya, bukan ke tempat sampah, melainkan ke bagian yang aman. Entah kenapa, meski situasinya lucu dan absurd, Alya merasa ada kehangatan yang aneh di dada.
Setelah itu, ia kembali menyalakan layar laptopnya dan mencoba melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
*****
Di ruangannya, Arya yang tidak tahu apa-apa sedang sibuk menandatangani dokumen, sementara Tony di luar ruangan sudah curiga ada yang sedang terjadi.
Ceklek.....
Keysa masuk ke ruangan Papa-nya dengan langkah penuh kemenangan, seolah baru saja menyelesaikan misi penting negara. Arya yang sedang duduk di kursi kebesarannya langsung menoleh ketika melihat putrinya muncul.
“Sudah bertemu dengan aunty-mu itu?” tanya Arya sambil tersenyum tipis, sudah menduga apa yang terjadi.
Keysa tidak langsung menjawab. Dengan susah payah ia naik ke kursi di depan meja kerja Papa nya. Kakinya yang pendek mengayun-ayun beberapa kali sebelum berhasil duduk dengan mantap. Meja kerja Arya yang lebar membuat jarak antara ayah dan anak terlihat seperti sedang bernegosiasi bisnis penting.
“Papa, Key punya kabal balu. Tentang aunty Alya” ucap Keysa dengan wajah sangat serius, seperti reporter yang sedang menyampaikan berita breaking news.
Arya mengerutkan keningnya. Ia memajukan tubuhnya sedikit dan menyandarkan kedua tangan di atas meja, siap mendengar laporan dari agen rahasia kecilnya.
“Kabar apaan? Jangan aneh-aneh deh,” tanya Arya was-was, sudah tidak tenang mendengar nada putrinya.
Keysa mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya diturunkan seperti sedang membocorkan rahasia besar. “Papa tahu nda? Aunty Alya itu katanya ceorang janda. Dia pelnah menikah, tapi cudah picah cama cuaminya,” lapor Keysa dengan antusias.
"Jangan ngarang Key. Itu namanya pencemarang nama baik" ucap Arya tidak percaya.
"Key nda ngalang, papa. Aunty Alya cendili yang bilang cih" ucap Keysa sambil mendesis kesal.
Arya langsung melirik ke arah Tony yang masih berdiri di sudut ruangan. Tony yang merasa ditatap langsung mengangkat bahu dengan polos.
“Saya kurang tahu, Tuan. Saya belum melihat CV nya,” jawab Tony cepat, berusaha terlihat netral meski sudut bibirnya sudah berkedut menahan senyum.
Arya mengangguk pelan lalu kembali menatap putrinya. “Terus apalagi?” tanyanya, sekarang sudah ikut penasaran meski berusaha terlihat biasa saja.
Keysa tersenyum lebar, matanya berbinar-binar. “Katanya Aunty Alya belum punya baby!” jawabnya antusias, seolah ini adalah informasi paling penting di dunia.
Arya mengusap wajahnya dengan satu tangan, antara ingin tertawa dan pasrah. “Keysa… kamu ini tadi nanya apa saja sih sama Aunty Alya?”
Keysa mengangkat bahu polos. “Key cuma tanya-tanya kok. Bial Papa tahu lengkap. Aunty Alya itu cantik, baik, belum punya pacal. Cocok banget jadi mama balu Key, kan?”
Tony di belakang sudah tidak tahan. Ia berpura-pura batuk untuk menutupi tawa yang hampir keluar. Arya meliriknya tajam, tapi Tony hanya bisa mengangkat tangan tanda menyerah.
“Aunty Alya baik. Nda apa-apa dia jadi ibu tili Key,” tambah Keysa seolah sedang meyakinkan ayahnya.
Arya menghela napas panjang. “Key, Papa tahu kamu sayang Papa. Tapi jodoh itu bukan sesuatu yang bisa diatur sesuka hati anak kecil, sayang.”
Keysa manyun. “Tapi Key mau punya mama. Key mau cepelti teman-teman Key, yang celalu di jemput mamanya. Nda cepelti Key, yang jemput cekolah celalu copil. Key itu bukan anaknya pak Giman, papa" protes Keysa dengan wajah sendu. Sejak dulu dia belum pernah sekalipun melihat sosok ibunya.
Ruangan menjadi hening sejenak. Kata-kata Keysa yang polos itu langsung menusuk hati Arya. Ia menatap putrinya dengan pandangan lembut, lalu mengulurkan tangan untuk mengelus rambutnya.
“Papa usahakan akan jemput kamu ya,” janji Arya pelan.
Keysa mengangguk, tapi matanya masih penuh harap. "Papa janji deketin aunty Alya ya. Key cudah kacih culatnya tadi"
“Surat apa lagi?!” Arya hampir berdiri dari kursinya.
Keysa hanya tersenyum manis sambil menggoyang-goyangkan kakinya. “Culat lahacia yang kemalin Key tulis”
Tony akhirnya tak tahan dan berbalik menghadap dinding, bahunya berguncang menahan tawa. Arya hanya bisa menggelengkan kepala berkali-kali sambil tersenyum miris.
Anaknya ini benar-benar sedang menjalankan operasi matang. Dari misi cari mama sampai laporan intelijen lengkap dengan status janda dan belum punya anak. Arya tidak tahu harus marah atau justru terharu.
“Dasar anak Papa,” gumam Arya sambil mengacak-acak rambut Keysa gemas.
Keysa tertawa senang. "Cekalang Key minta bayalan"
"Hah?"