Bermula dari benang kusut hubungan sang sahabat, seorang mahasiswi cantik nan manja yang merupakan calon guru itu justru terlibat cekcok dan saling sumpah serapah dengan kekasih sahabatnya yang sekaligus seorang perwira militer negri.
Alih-alih menjauh, kejadian tak mengenakan itu justru menjadi awal dari serentetan pertemuan yang menyatukan mereka pada sebuah takdir untuk saling mencinta di tengah rollercoaster nya perjalanan karir keduanya.
Siapa sangka justru pertemuannya dengan Panji membawa Ivy selangkah lebih dekat dengan cita-citanya yang sebenarnya....
Apakah ia akan membersamai Panji, mengukir lembayung di batas timur, ataukah mengejar mimpinya menjadi seorang model sukses di negri Paris?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Nervous, geli, gemas
"Gue tadi bantu mama Halwa, panen rumput laut sekalian tanam lagi bibitnya, jemur...biar tau proses, pendapatan efektivitas petani rumput laut, eh dikasih ini sekeranjang."
Imel masih mengoceh tentang cerita hari ini, beradu dengan suara desisan tumisan yang dibuat Raudhah, aroma bawang dan penyedap cukup menyeruak, entahlah...Ivy belum pernah memakan tumisan rumput laut begitu.
Gege masih sibuk memakai maskernya di depan, dengan gangguan Bumi yang hanya bisa ia balas dengan pelototan dan geraman, serta lemparan barang.
"Vy, ngga mau maen salon-salonan juga nih?!" teriak Gabriel melintas melihat Gege dan Bumi di ruang tengah.
"Vy, kenapa sih?" tanya Raudhah notice dengan diamnya Ivy yang terus saja memandang layar ponselnya.
Namun Imel sudah bersuara, "kucingnya sakit. Minta kawin kan ya, Vy?"
Gabriel yang baru bergabung di samping Gege tertawa, "kucing doang sampe bikin galau."
Ivy melirik tak ingin membalas ocehan Gabriel.
Oke buka aja! Angguk Ivy...men-touch icon buka blokir dan save...siapa tau ye khan, siapa tau butuh kalau ia sedang di kejar komodo.
Ivy cukup mengernyit kala foto profil itu langsung berubah ketika menyimpan nomor Panji. Bukan Panji bukan lambang kesatuan melainkan gambar belut serigala, "ih serem banget." Ivy sampai menaruh ponselnya begitu saja di meja membuat Gabriel menoleh, "apa? Lo liat film horor?"
Tapi kemudian Ivy meraihnya lagi saat Gabriel ingin melihatnya juga, "jangan kepo."
Aaaa!
Ge, ampun Ge!
Jeritan Bumi yang dijambak Gege di depan membuat Ivy ikut menyerbu, "mauuuu maskeran!!"
Perdebatan Gabriel dan Arsa masih berlanjut, dibawa sampai evaluasi malam.
"Lo mau tanggung jawab kalo sampe Ivy kenapa-kenapa atau beberapa diantara kita, resiko besar Sa...polisi pun kalo cuma sebiji dua biji ya kalah sama warga setengah kampung."
"Ada Ema Waro, gue juga udah berbincang sama beliau sama Bu Santi, toh selama beberapa bulan ini aman kok. anak-anak juga guru-guru bisa melakukan aktivitas belajar--mengajar dengan aman dan tenang."
"Hari apes ngga ada di kalender, Sa." Gabriel terdengar mele nguh, ia tak habis pikir, jengkel dengan bebalnya kordes mereka. Made mendorong kacamatanya, "dicoba aja dulu..."
"Proker Lo apa aja, Vy..." pinta Tami.
Gabriel kini menatap Ivy, "sanggup ngga Lo, Vy?" tanyanya masih saja berharap Ivy mengurungkan niatannya mengadakan proker di SD tunas 12, seolah berkata---stop, Vy...
Ivy ingat dengan Silas, Ivy ingat dengan anak-anak yang berlarian dengan riang seolah tak ada beban. Mereka enjoy-enjoy saja...
"Gue mau bikin program gemar baca, story telling biar anak-anak disini bisa bahasa internasional ngga tertinggal, gue mau anak-anak disini bisa mengoperasikan laptop walaupun nanti mesti gantian pake laptop gue. Tujuan gue, pengen anak-anak disini terbuka pikirannya, kalau jendela dunia terbuka lebar tanpa memandang keterbatasan, mengenalkan beberapa metode belajar. Bahkan ilmu bisa di dapatkan di lubang semut sekalipun."
Gabriel berdecak memalingkan wajahnya tak suka dengan keputusan itu.
/
Ivy sedang mengerjakan log book bagiannya di beranda, ditemani Bumi dan Nanda yang sedang menikmati sereal instan, tapi berulang kali fokusnya itu bukan pada layar laptop melainkan menatap resah ponsel, wa jangan---wa jangan, takut sibuk.
Engga! Jangan! Gelengnya tapi tetap menatap penuh rasa nervous.
Panji masih piket di serambi depan, tak lama Dena dan seorang prajurit lain datang dengan motornya, "nasi hoheng datang!"
Seruan yang membuatnya menurunkan ponsel membaca chat dari grup unfaedah para sepupunya, pembahasan sejak pagi yang tak selesai-selesai, bahkan kini Russel sudah tak lagi canggung meski Gala ada di dalam grup.
(**Russel**) *langsung gusur ke rumah aja Nji. Ketemu Abi Ray sama umi Eyi*.
(***Ryu***) *dari tadi yang diributin cara bawa Pravita, lah ceweknya mau kagak sama seekor belut*.
(***Cle***) *ganti Napa Nji, PP Lo bikin Seera nangis*.
(***Kalingga***) *Nji sengaja, biar ngga direcokin mulu Seera*.
(***Zea***) *Keluarin kartu sakit Ananta*.
\**sakti*.
(***Ryu***) *parah nih bini bang Saga. 😂 Lo sakit Nji*.
(***Cle***) *La, emangnya Pravita ngga punya cowok ya? Masa secantik itu ngga punya*.
(***Gala***) *ngga tau kak. Tapi Pravita terkenal sama juteknya kalo dideketin cowok yang kutau. Ini aku mendadak jadi stalker Pravita Ayudisa gara gara, nih adek tingkat jadi topik pembicaraan disini. 😬*
(***Russel***) *udahan sayang, ngga usah stalkerin lagi. Keenakan si belut*.
Lalu ia sempat scroll dan melirik sekilas room chat dengan foto profil yang berubah kini tak lagi abu, "eh."
Hanya saja seruan Dena mengejutkannya membuat Panji langsung mengeluarkan laman WhatsApp.
Penasaran, setelah berhasil melahap nasi goreng ia kembali hanyut di laman WhatsApp memastikan jika penglihatannya tadi benar.
Senyum Panji tercetak tipis melihat foto seorang gadis yang tengah berjalan diantara putihnya pasir pantai dengan latar indah lautan biru.
"Cantik." begitu kontras dengan dress motif bunga biru langit yang sedikit terbawa angin, kaki-kaki jenjang dan bahu seputih susu itu terekspos di fotonya.
Jujur saja, jantungnya mendadak dialiri pompaan da rah deras sehingga hangat menjalarinya sebadan-badan hingga ujung jempol kaki.
Oke, apa alasannya menelfon? Atau menghubungi Ivy. Ia melirik jam digital pada ponsel apa Ivy sudah tidur?
Oh come on dude! Ia keturunan Rayyan Ananta. Lagipula canggung begini, bukan dirinya! Toh sudah dua kali pertemuan dengan Ivy mereka selalu terlibat sewot-sewotan. Sungguh lucu saja sekarang ia yang merasa nervous.
Dipandanginya jalanan yang sudah mulai tak terlalu ramai di depan sana, hanya temaram lampu yang menyirami jalanan bersama suara binatang bertrakea, sesekali ada yang melintas tapi tak seramai di ibukota.
Bahkan Dena sudah menarik sebatang tembakau dan keluar dari pos serambi ke area belakang, "bang..ijin bentar."
Panji hanya mengangguk sekilas.
Malam-malam aku sendiri....dendangnya melengos samar lalu jep! Hening...
Sshh, sialan si Dena. Umpatnya dalam hati.
Panji ex Mayra
Aman?
Ivy masih mengetuk-ngetuk kening mencari ide untuk log book termasuk bahan untuk besok di Tunas 12.
Ting!
Ivy menoleh diantara obrolan Nanda dan Bumi yang kini sudah menjurus pada kehidupan masing-masing.
Dih..."apa-apaan, tiba-tiba nanya nya ga jelas begini." cebik Ivy mencibir dan menaruh kembali ponselnya kasar tapi ia sudah tak enak duduk dan geli sendiri.
Tapi nyatanya tak cukup disana saja, kini ponselnya bergetar menggelepar membuat Ivy melotot tak percaya, menatap Nanda dan Bumi yang masih sibuk bicara, meski sejurus kemudian keduanya menoleh, "Vy, hape Lo geter tuh...elah, masa ngga kedenger."
"Tau." Ketusnya, "biarin aja."
"Cowok pasti." kekeh mereka yang cukup tau siapa seorang Pravita Ayudisa.
"Ga jelas banget nelfon ih!" Ivy bahkan menolak panggilan dan mematikan powernya agar tak menyala.
Panji mengernyit, "di reject? Heh!" omelnya tak menyerah kembali menelfon, "wah ngga ada akhlak, pengen gue samperin juga nih cewek."
Hapenya menyala dan bergetar kembali
Panji ex Mayra memanggil...
Ivy membiarkan membuat Bumi dan Nanda kembali menoleh, "angkat kenapa Vy, bilang lagi ngerjain log book. Ganggu konsentrasi."
Ivy diam, "iiihhh...ngapain sih pake nelfon segala."
Kemudian ponsel itu kembali padam, "eh mati ya?" lirihnya bermonolog.
.
.
.
.
Russel dulu dinamai duta air mineral wkwkw