Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.
Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.
"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."
Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikut Menahan Napas
Suara Niken tercekat, ketika Danendra menggeser posisinya pelan. Yang tadinya di bawah, kini ia berada di atas Niken. Tidak ada beban, karena satu lengan Danendra menahan tubuhnya agar Niken tetap bisa bernapas.
"Niken..." panggilnya lirih, namun cukup membuat jantung Niken semakin berdetak tak karuan.
Dalam suasana itu, Danendra menatapnya begitu dalam, hingga ranjang seolah ikut menahan napas bersama mereka.
Niken hanya menggeleng pelan, lalu mengangguk, ia sendiri tidak tahu harus bagaimana.
"Boleh?" Lanjutnya.
Kalimat itu jatuh tepat di dada yang membuat Niken langsung menggenggam kerah bajunya, bukan untuk menolak tapi untuk berkata 'iya'.
Keduanya tersenyum, lalu tidak ada kata lain lagi, kecuali detak jantung yang akhirnya selaras.
Beberapa saat pun berlalu...
Angin malam yang begitu kencang membuat gorden sedikit bergeser, Danendra segera berdiri untuk membenarkannya. Sementara Niken duduk bersandar di kepala ranjang, pandangannya mengikuti suaminya yang berjalan ke arah jendela.
Tubuh lelaki itu tampak tegap, bahu yang bidang dan posturnya yang tinggi memberi kesan tenang sekaligus melindungi.
Selama ini Niken tidak pernah benar-benar berani memperhatikan setajam itu. Setiap kali mata mereka bertemu, ia selalu lebih dulu menunduk. Tetapi malam ini berbeda. Entah karena suasana vila yang begitu tenang, atau karena hubungan mereka yang mulai semakin nyaman, hingga Niken membiarkan dirinya memandangi suaminya beberapa saat lebih lama.
"Kenapa?" Suara Danendra membuat Niken tersentak.
"Hah?"
"Kok melihatku begitu?"
Niken langsung memalingkan wajah. "Tidak, tidak apa-apa."
"Yakin?" tanya Danendra yang dijawab anggukan kepala oleh Niken. "Tapi wajahmu bilang sebaliknya," lanjutnya dengan nada mengoda.
Niken mengigit pelan bibirnya lalu tertawa malu. "Aku hanya..." kalimatnya menggantung yang membuat Danendra semakin ingin mengodanya.
"Hanya apa?"
Niken menarik napas pelan sebelum akhirnya berkata dengan suara lirih. "Aku baru sadar, kalau ternyata Mas sangat tampan."
Danendra terdiam sesaat, sudut bibirnya perlahan terangkat ketika melihat Niken yang langsung menunduk setelah mengatakan itu.
"Baru sadar sekarang?"
Niken mengangguk kecil sambil tersenyum. "Kemarin-kemarin aku masih malu, jadi tidak sempat memperhatikan."
Danendra mendekat lalu duduk di sampingnya. "Ternyata istriku juga suka memperhatikan suaminya."
Niken refleks memukul pelan lengan Danendra. "Mas. Itu kan karena Mas bertanya."
"Baik, kalau begitu aku anggap ini pujian." Katanya sambil tersenyum.
"Iya, tapi jangan sampai buat Mas besar kepala." Balas Niken sambil memandangnya, kemudian melanjutkan dengan pelan, "soalnya Mas memang tampan."
Beberapa saat kemudian...
Niken tidur miring dengan satu tangan Danendra sebagai bantal. "Hari ini cukup melelahkan ya, Mas?" Kata Niken sambil memainkan ujung kancing baju Danendra.
Danendra menghela napas, lalu melingkarkan satu lengannya ke pinggang Niken. "Lelah, tapi hilang pas lihat kamu seperti ini."
Niken tertawa, "jangan merayu lagi."
"Bukan merayu, ini fakta."
Keduanya lalu terdiam sesaat, hanya ada suara jangkrik dari luar vila, sementara kaki mereka saling bertaut di bawah selimut yang hangat.
"Besok masih di sini kan, Mas?" tanya Niken setelah beberapa saat.
"Iya, kecuali kalau kamu minta ke mana."
"Tidak usah ke mana-mana, kita tidur-tiduran begini saja."
Kalimat itu membuat Danendra semakin bersemangat untuk menjawabnya. "Deal."
Hening sejenak, lalu Niken kembali membuka suara. "Ngobrol apa lagi kita, Mas?"
"Terserah, kamu mau cerita apa?"
"Tidak tahu. Tapi rasanya aku masih ingin ditemani Mas saja."
"Iya, aku temenin."
Lama mereka terdiam, sampai akhirnya keduanya tertidur pulas tanpa sadar.
...****************...