Demi menguji ketulusan, Aldi Pratama menyamar sebagai pria biasa selama dua tahun pernikahan. Namun, Kirana beserta keluarganya yang gila gengsi terus menghina dan merendahkannya. Batas sabar Aldi habis; ia mengungkap identitas aslinya sebagai pewaris tunggal konglomerat raksasa Pratama Group, menceraikan Kirana, dan memiskinkan keluarganya.
Kejatuhan itu seketika menghancurkan hidup Kirana—ibunya meninggal karena syok, adiknya dipenjara, dan ia harus bertahan hidup sebagai pedagang sembako miskin. Di titik nadir inilah Kirana bertobat total dan belajar bersyukur. Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali lewat program sosial. Meski dipisahkan jurang kasta yang permanen, Aldi diam-diam memberi perlindungan rahasia karena belum bisa melupakan Kirana sebagai cinta pertamanya, sementara Kirana menjalani takdirnya dengan keikhlasan dan penyesalan abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 33: Batas Rapuh Tubuh yang Lelah
Malam telah berlarut jauh melewati pukul sebelas, namun lampu neon lima belas watt di dalam Warung Sembako Barokah masih menyala terang. Suara jangkrik di balik tembok gang berbaur dengan deru angin malam yang kering. Kirana duduk bersimpuh di atas lantai semen yang dingin, dikelilingi oleh tumpukan karung beras baru dan berdus-dus minyak goreng kemasan.
Kabar mengenai kenaikan kuota pesanan dari pihak yayasan menjadi lima ratus paket secara mendadak benar-benar membuatnya harus memeras seluruh sisa tenaganya sendirian.
"Satu... dua... tiga... empat..." bisik Kirana dengan suara parau yang nyaris habis.
Tangannya yang gemetar perlahan mengikat ujung kantong kain ramah lingkungan berisi sembako, lalu menyusunnya ke sudut ruangan.
Kedua telapak tangannya kini tampak memerah, dipenuhi lecet-lecet kecil yang terasa perih setiap kali terkena gesekan karung goni yang kasar. Punggungnya terasa kaku seperti ditarik jangkar, dan kepalanya sejak sore tadi sudah berdenyut-denyut hebat. Namun, setiap kali rasa sakit itu datang membelit tubuhnya, Kirana buru-buru menyeka keringat di dahinya dan memaksakan diri untuk kembali bergerak. Dia tidak ingin mengeluh. Baginya, rasa lelah ini adalah bukti nyata bahwa dia masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk hidup terhormat dari keringatnya sendiri.
"Neng Kirana? Ya ampun, jam segini kok masih belum tutup warungnya?"
Sebuah suara lembut memecah keheningan malam. Ibu RT yang kebetulan baru pulang dari rumah saudaranya mendongak kan kepala melewati pintu tripleks warung Kirana. Wajah wanita paruh baya itu seketika dipenuhi rasa cemas saat melihat kondisi Kirana yang tampak sangat pucat.
Kirana mendongak, mencoba mengulas senyum terbaiknya meski bibirnya terasa sangat kering. "Eh, Bu RT. Iya nih, Bu.
Kebetulan pesanan untuk yayasan sosial bulan ini ditambah dua kali lipat lebih banyak. Jadi saya harus cicil bungkus in dari sekarang supaya tidak kewalahan pas hari H penjemputan nanti."
Ibu RT masuk ke dalam warung, lalu berlutut di sebelah Kirana dan meraba kening gadis itu. "Ya ampun, Neng! Badan kamu ini panas sekali! Ini mah kamu sudah demam tinggi, Neng Kirana! Jangan dipaksakan begini, atuh. Uang memang butuh, tapi kalau kamunya sakit sampai ambruk, siapa yang repot? Berhenti dulu, ayo masuk ke kamar kos, istirahat!"
Kirana perlahan menurunkan tangan Ibu RT dengan lembut, sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Saya gak apa-apa kok, Bu RT. Cuma sedikit pusing saja karena kurang tidur dua hari ini. Tanggung tinggal tiga puluh paket lagi untuk barisan ini selesai. Kalau saya tunda besok, takutnya badan saya malah makin malas bergerak."
"Kamu ini keras kepala sekali ya, persis kayak... ah, pokoknya kamu harus ingat kesehatan, Neng. Di kota besar begini kamu hidup sebatang kara, ibumu sudah tidak ada, adikmu juga lagi kena musibah di dalam penjara. Kalau kamu ambruk di sini, siapa yang mau urus kamu?" omel Ibu RT dengan nada penuh perhatian sekaligus khawatir.
Mendengar ucapan Ibu RT, dada Kirana mendadak terasa nyeri. Mengingat almarhum ibunya dan kondisi Riko di balik jeruji besi selalu berhasil meremukkan hatinya. "Iya, Bu RT... saya tahu. Habis mengikat barisan yang ini, saya janji
langsung istirahat dan minum obat warung. Terima kasih banyak ya, Bu, sudah mengingatkan saya."
"Ya sudah, Ibu pegang janjimu ya. Ibu duluan, jangan malam-malam lagi!" pamit Ibu RT dengan berat hati.
Begitu pintu warung kembali ditutup, Kirana mencoba berdiri untuk memindahkan satu dus minyak goreng. Namun, begitu tubuhnya tegak, pandangannya mendadak berputar hebat. Seluruh ruangan seolah terbalik, lampu neon di atasnya tampak mengabur dan berbayang menjadi tiga.
Rasa mual yang teramat sangat menghantam ulu hatinya, membuat dadanya terasa sesak.
"Ugh... Mas... Aldi..."
Nama itu, nama yang paling suci dan paling dia rindukan, tanpa sadar lolos dari bibirnya yang bergetar di detik-detik terakhir sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya. Tubuh Kirana yang rapuh akhirnya tumbang, jatuh terjerembap di atas tumpukan karung beras dengan plakat penghargaan dari yayasan berada tepat di samping kepalanya yang terkulai lemas.