Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Mula - Part 3
Di sela-sela waktu senggang sebelum rapat mulai, Ria dan Putri mengajak Gea untuk
mengantarkan formulir lomba yang diadakan BEM universitas dalam rangka pekan olahraga
kampus.
“Lo gimana sama Jay, Ge?” tanya Ria di sepanjang koridor.
“Gimana apanya?” tanya Gea santai sembari membalas pesan di ponselnya kemudian
mengantonginya di saku belakang celana jins.
“Ya itu, kalian keliatan deket banget belakangan, kan. Udah jadian belom, sih? Gemes banget gue
tuh kalo liat kalian,” kata Ria diikuti kekehan.
Gea ikut terkekeh, “yaa gitu, Ri.”
“Tapi lo suka, kan, sama Jay?” tembak Putri langsung tanpa basa-basi.
Gea tertawa kecil, lalu membalas, “temen lo tuh yang gak nembak-nembak,” ucapnya seraya
memberikan kode kepada kedua perempuan yang juga teman dekat Jay itu.
Tepat setelat itu, mereka sampai di depan sekretariat BEM kampus dan mendapati sosok
yang tidak asing di sana.
“Iyon,” sapa Gea.
“Gea Aster!” cowok bernama Lyon itu langsung berbalik dan merangkul pundak Gea dengan
sangat akrab. “Ngapain lo ke sini?”
“Nganter formulir lomba. Lo?”
“Sama, nih.”
“Tumben lu ikut-ikut ginian,” ledek Gea, “ikut lomba apa lo?”
“Lari sama basket,” jawab Lyon santai.
Sembari menunggu Putri dan Ria yang masih mengisi data formulir pengembalian di meja panitia dan membahas *technical meeting*, keduanya berdiri di sisi lain.
“Dukung gue dong nanti pas tanding,” kata Lyon.
“Kalo gak ngelawan arsitek, gue dukung lo deh.”
“Parah,” sahut Lyon sambil tertawa. “Eh, lo bawa motor gak hari ini?”
“Enggak, tadi dianter Abang Kian. Kenapa?”
“Ya udah, entar bareng gue aja baliknya. Ibun nyuruh gue ke rumah lo.”
“Dih, ngapain Ibun nyuruh lo ke rumah?” tanyanya dengan alis terangkat, heran.
“Ibun masak rendang katanya. Gue disuruh ke rumah buat makan, sekalian dititipin buat
nyokap gue juga.”
“Ooh, oke deh. Jemput depan gedung teknik, ya,” ujar Gea memberikan senyuman lebar.
“Siap. Balik jam berapa lo?” Lyon melirik jam tangannya.
“Entaran, abis maghrib kali ya. Masih mau rapat dulu di himpunan.”
“Oh ya udah, gue tunggu lo di café depan deh kalo gitu. Gue udah gak ada kelas lagi.”
“Ya udah. Nanti gue kabarin kalo udah kelar. Eh, udah belom Put, Ri?”
“Udah, yuk!”
“Gue duluan ya, Iyon.”
“Oke.”
Sambil jalan kembali ke himpunan arsitektur, Gea tak lupa mengabari kakaknya untuk tidak
usah menjemput karena dirinya akan pulang bareng Lyon. Pesan itu pun langsung disetujui oleh sang kakak.
Setelah mereka kembali ke himpunan, obrolan Gea dengan Lyon siang tadi ternyata
langsung sampai ke telinga Jay dari cerita Ria dan Putri. Kabar mengenai kedekatan tak biasa
antara Gea dan Lyon sukses membuat hati Jay memanas sepanjang rapat, meskipun ia berusaha keras untuk terlihat setenang mungkin.
Rapat pun selesai. Tak sedikit penghuni himpunan berbaur keluar, ada yang ingin pulang
atau nongkrong di depan himpunan. Gea, Nindy, Risa, dan Karin memilih untuk pulang.
“Aster!” panggil Lyon yang sudah berdiri di lobi gedung fakultas teknik dengan leather jacketnya. “Yuk.”
Dari kejauhan, ada sepasang mata yang memperhatikan Gea yang kini berjalan menjauh dengan pria tinggi dan wajah tampan itu, pria yang wajahnya sering mondar mandir di akun base kampus karena kepopulerannya.
“Kaaan, apa gue bilang,” kata Ria yang berjalan di sebelah Jay. “Udah akrab banget mereka. Lo
cepet gerak, Jay.”
“Tadi lo pada gak jadi nanyain soal hubungan nih kunyuk sama Gea?” tanya Adam pada Putri dan
Ria.
“Udah, Dam. Kata Gea, dianya tuh yang gak nembak-nembak,” kata Putri menceritakan ulang
percakapan sore tadi dengan penuh semangat sambil menunjuk ke arah Jay.
“Udah gas aja, Jay. Udah di kode itu. Positif dah diterima pasti,” Dion menyenggol bahu
Jay yang sedari tadi hanya diam memandangi punggung Gea hingga dia menghilang dari
pandangannya.
“Tapi mereka kedengerannya akrab banget tau,” tambah Putri lagi, “kayaknya si Lyon juga kenal
sama orang tuanya Gea. Manggilnya Ibun, terus tadi di suruh ke rumah sama nyokapnya Gea,”
kata Putri menceritakan yang tadi dia dengar.
“Kalo udah gitu, udah pasti kenal sama keluarga sih,” sahut Adam santai, lalu menyalakan mesin
motornya. “Gak usah dianggap pusing, Sob. Si Gea udah kasih kode ke elo, tinggal lo tembak aja.
Gak usah diambil pusing soal si Lyon-Lyon ini.”
...****************...