Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."
Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Semua Tidak Ada Yang Mudah
Suasana di dalam kamar kos kembali diselimuti keheningan. Makanan yang tadi dibeli Dani masih tersisa banyak di dalam kotaknya. Sementara itu, gelas matcha latte di samping Jelita hanya berkurang sedikit.
Wanita itu menundukkan kepala. Kedua tangannya saling menggenggam erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Beberapa detik berlalu tanpa suara. Tiba-tiba bahunya bergetar pelan.
"Dani..." panggilnya lirih.
"Iya?"
Jelita mengangkat wajahnya. Matanya sudah dipenuhi air mata yang sedari tadi berusaha ia tahan.
"Aku enggak bisa berhenti mikirin Amora."
Suara itu terdengar sangat rapuh.
"Aku terus inget dia. Pasti sekarang dia lagi berusaha kuat di depan semua orang." Bibir Jelita bergetar. "Harusnya yang jadi pengantin Razka itu aku, bukan dia."
Air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya.
"Aku benar-benar jadi kakak yang buruk."
Dani menggeser duduknya hingga lebih dekat.
"Jangan menyalahkan diri terus."
"Gimana aku enggak nyalahin diri sendiri?" tanya Jelita dengan suara meninggi karena emosinya mulai meluap. "Semua ini terjadi gara-gara keputusan aku."
Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Amora enggak seharusnya terlibat dalam masalah ini. Dia selalu baik sama aku, selalu dukung apa pun keputusan aku. Tapi balasan yang dia dapat justru harus mengorbankan hidupnya."
Tangis Jelita semakin pecah.
"Aku enggak tahu dia sekarang lagi nangis atau enggak... aku juga enggak tahu apa keluarga Razka bakal memperlakukannya dengan baik atau enggak."
Melihat kondisi kekasihnya, Dani perlahan meraih kedua tangan Jelita yang menutupi wajahnya.
"Jel..."
Wanita itu menurunkan tangannya perlahan. Dani menatap kedua matanya dengan penuh kesungguhan.
"Dengar aku."
Jelita terdiam.
"Aku enggak bilang keputusanmu benar. Tapi kamu juga enggak sepantasnya memikul semua masalah ini sendirian."
"Tapi Dan..."
"Masalah ini muncul bukan karena satu orang. Ada banyak keadaan yang mendorong semuanya sampai jadi seperti sekarang."
Jelita menggigit bibirnya.
"Aku tetap enggak bisa memaafkan diri sendiri."
Dani menghela napas pelan. Ia kemudian membuka kedua lengannya.
"Sini."
Tanpa berpikir panjang, Jelita langsung merapat. Ia memeluk tubuh Dani erat seolah hanya di sanalah ia bisa menemukan sedikit ketenangan.
Isak tangisnya kembali memenuhi ruangan.
"Aku kangen Amora..." ucapnya di sela tangis. "Aku takut dia membenciku."
Dani membelai rambut wanita itu dengan lembut.
"Kalau aku mengenal Amora seperti yang selama ini kamu ceritakan, dia bukan orang yang bisa dengan mudah benci sama kamu, Jel."
"Tapi dia kehilangan masa depannya gara-gara aku."
"Kamu belum tahu apa yang akan terjadi ke depan."
Jelita menggeleng pelan.
"Dani... kalau suatu hari nanti Amora benar-benar menderita karena pernikahan itu, aku enggak akan pernah bisa hidup tenang."
Dani memejamkan mata sesaat. Ia dapat merasakan betapa besar penyesalan yang sedang menghancurkan hati Jelita. Sejak tadi, wanita itu tidak pernah sekalipun mengeluhkan nasibnya sendiri. Yang terus ia pikirkan hanyalah keadaan adiknya.
Dengan lembut Dani mengusap air mata yang terus mengalir di pipi Jelita.
"Apa pun yang nanti terjadi, kita akan cari jalan keluarnya bersama."
Jelita mengangkat wajahnya perlahan.
"Benarkah?"
Dani mengangguk mantap.
"Aku enggak akan membiarkan kamu menghadapi semuanya sendirian. Kalau nanti memang ada yang harus diselesaikan dengan keluarga Respati atau keluarga Bagaskara, kita hadapi bersama. Tapi untuk sekarang, kamu harus fokus dengan diri kamu dulu."
Jelita tidak langsung menjawab. Ia hanya kembali menyandarkan kepalanya di bahu Dani sambil memejamkan mata. Meski rasa bersalah itu belum juga hilang, setidaknya kehadiran pria yang dicintainya membuat beban di dadanya terasa sedikit lebih ringan daripada sebelumnya.
.
.
.
Malam mulai larut. Keramaian pesta pernikahan yang sejak pagi memenuhi gedung kini telah berganti dengan keheningan.
Amora duduk sendirian di tepi ranjang kamar pengantin. Gaun resepsi telah berganti menjadi pakaian yang lebih santai, tetapi rasa penat yang menyelimuti dirinya tidak kunjung berkurang.
Ia menyandarkan tubuh ke kepala ranjang sambil memejamkan mata.
Hari ini terasa begitu panjang. Bukan karena banyaknya rangkaian acara yang harus dijalani, melainkan karena begitu banyak kenyataan yang datang silih berganti tanpa memberinya kesempatan untuk bernapas.
"Semoga Kak Jelita baik-baik saja..." bisiknya lirih.
Nama sang kakak kembali memenuhi pikirannya.
Sejak sang kakak menghilang semalam, tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya. Ponselnya tidak aktif, semua orang kehilangan jejaknya. Amora hanya bisa berharap Jelita berada di tempat yang aman, meski keputusan kakaknya telah mengubah jalan hidup banyak orang, termasuk dirinya.
Ia menundukkan kepala.
"Aku enggak marah sama Kakak, kok. Tapi tolong kasih aku kabar kalau Kakak baik-baik aja."
Kalimat itu meluncur begitu saja.
Selama ini, hubungan mereka selalu dekat. Jelita bukan hanya kakak, tetapi juga tempat Amora bercerita dan meminta pendapat. Karena itulah, kepergian Jelita tanpa meninggalkan pesan membuat hatinya dipenuhi kecemasan.
Di sisi lain, Amora sadar dirinya pun telah memasuki kehidupan baru.
Kini ia telah menjadi istri Atharazka Bagaskara. Status yang bahkan masih terasa sangat asing setiap kali ia mengingatnya.
Tokoh utama dalam pernikahan hari ini seharusnya bukan dirinya. Ia hanya menggantikan posisi sang kakak demi menyelamatkan keadaan yang sudah telanjur rumit.
Amora mengembuskan napas panjang. Entah seperti apa kehidupan rumah tangganya nanti, ia sama sekali tidak memiliki gambaran.
Ceklek...
Suara pintu kamar terbuka membuat lamunannya terputus. Amora segera mengangkat wajah.
Seorang pria bertubuh tinggi melangkah masuk dengan langkah tenang. Wajahnya tetap datar seperti sejak akad berlangsung. Jas yang sedari tadi dikenakannya masih melekat rapi, mempertegas pembawaan dingin yang menjadi ciri khasnya.
Atharazka Bagaskara.
Pria yang sejak pagi resmi menjadi suaminya.
Tatapan mereka sempat bertemu beberapa detik. Amora berniat mengucapkan sesuatu, tetapi kata-kata itu justru tertahan di tenggorokan.
Sementara Athrazka hanya memberikan tatapan singkat sebagai tanda menyadari keberadaan istrinya.
Tanpa membuka percakapan, ia berjalan menuju lemari, mengambil pakaian santai yang telah disiapkan, kemudian melangkah ke arah kamar mandi.
Tidak lama kemudian terdengar suara pintu kamar mandi tertutup.
Amora kembali mengembuskan napas. Ia memandang ke arah pintu kamar mandi dengan tatapan kosong.
Hari pertama sebagai pasangan suami istri justru dipenuhi keheningan. Tidak ada obrolan ringan, tidak ada rasa canggung yang dipecahkan dengan candaan, bahkan mereka belum benar-benar berkenalan. Semuanya terasa begitu asing.
Amora memeluk kedua lututnya pelan. Ia sadar, pernikahan ini bukanlah pilihan Atharazka maupun dirinya. Mereka sama-sama berada dalam keadaan yang tidak pernah direncanakan.
Meski begitu, Amora bertekad menjalani semuanya sebaik mungkin.
"Aku enggak tahu apa Mas Razka bisa menerima aku atau enggak," gumamnya lirih. "Tapi selama menjadi istrinya, aku akan berusaha menjalankan tanggung jawabku dengan baik."
Kalimat itu menjadi penguat bagi dirinya sendiri. Ia tahu perjalanan di depan tidak akan mudah.
Namun, setelah memilih berdiri di pelaminan menggantikan sang kakak, tidak ada lagi jalan untuk kembali. Kini yang bisa ia lakukan hanyalah melangkah maju, menghadapi setiap hari bersama pria yang baru dikenalnya sebagai suami.
crt2 yg lain nya aku msh nunggu kelanjutan nya lho... 🥰🥰🥰