Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.
Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.
Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Asrama Elit
Langkah kakinya membawa ia menjauh dari kehebohan gerbang utama akademi.
Sore itu, ia menyusuri jalan setapak sunyi yang mengarah ke bukit belakang.
Di sana berdirilah kompleks asrama khusus yang dinamai Menara Awan.
Arsitekturnya minimalis namun mewah, dikelilingi formasi pelindung spiritual yang berpendar tipis.
Pendaran lembut tersebut memastikan privasi mutlak bagi setiap penghuni di dalamnya.
Ia berjalan santai menyusuri koridor senyap beralaskan karpet sutra spiritual yang halus.
Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kokoh bernomor 007.
Sebuah token berwarna emas ia tempelkan pada panel giok di samping pintu.
Seketika panel berdesis pelan, memindai aliran Qi miliknya secara otomatis.
Pintu bergeser terbuka, menyajikan ruangan luas yang sangat bersih dan rapi.
Di sudut kanan ruangan, tampak instalasi meja alkimia mini yang cukup lengkap.
Sedangkan di ujungnya, balkon besar menyuguhkan pemandangan indah ke Taman Poket pribadi.
Ia mengagumi tatanan taman kecil tersebut yang tampak asri dan menenangkan pikiran.
Sambil menghela napas lega, ia melemparkan tas kanvasnya ke tempat tidur empuk.
"Terlalu tenang... Tidak buruk," gumam Yang Chan sambil berbaring santai.
Ia memejamkan mata sejenak, menikmati keheningan yang sangat ia dambakan.
'Setidaknya aku terhindar dari masalah dengan teman-teman asrama jika seperti ini,' batinnya. kemudian menghela napas pelan.
"Dan yang terbaik... aku bisa menggunakan taman poket tanpa khawatir gangguan," lanjutnya dengan senyuman puas.
Dari balik jendela balkon, pemandangan asrama murid biasa di kejauhan terlihat sangat ramai.
Kontras tersebut menyadarkan ia bahwa sekarang ia berada di lingkaran murid kelas atas.
Ia bangkit perlahan, lalu menyentuh panel kendali kedap suara di dekat pintu.
Seketika gemuruh dari luar lenyap sepenuhnya, menyisakan kesunyian yang menenangkan.
Malam pun tiba, menyelimuti kompleks Menara Awan dengan kegelapan yang pekat.
Namun, kehangatan justru terasa di ruang rekreasi asrama yang berlantai marmer indah.
Beberapa murid tampak berkumpul mengelilingi sebuah meja bundar dari giok putih.
Mereka mengenakan jubah sutra mahal berhias sulaman lambang klan masing-masing yang elegan.
Keberadaan mereka menunjukkan dominasi anak-anak dari keluarga paling berpengaruh di akademi.
Sambil memutar gelas kristalnya, seorang pemuda mulai membicarakan desas-desus terbaru.
Ia mengenakan bros perak lambang klan Luo yang berbentuk pedang bersayap.
"Kalian sudah dengar tentang murid baru yang tinggal di kamar ujung?" tanyanya.
"Maksudmu si petani yang direkomendasikan masuk ke sini?" sahut murid dari klan Jian.
Ia tertawa sinis sambil melirik ke arah koridor kamar Yang Chan yang tertutup.
"Li Yingpei pasti sudah mulai pikun atau ada sesuatu di balik surat itu," cibirnya.
Klan-klan besar seperti Li, Xian, Luo, Jian, dan Shui memang selalu mendominasi akademi ini.
Mereka semua terbiasa dengan kekuasaan dan tidak menyukai kehadiran orang asing tanpa latar belakang.
Mendengar ejekan temannya, pemuda dari klan Luo hanya menatap dengan mata tajam.
Ia menghentikan putaran gelas kristalnya lalu menyandarkan tubuh dengan sikap dingin.
"Biarkan saja," tutur murid klan Luo itu dengan nada yang sangat datar.
Ia meneguk minumannya perlahan, tidak menganggap hal tersebut sebagai masalah penting.
"Kalau dia memang sampah, dia akan tersingkir sendiri saat ujian lapangan nanti," tambahnya.
"Tidak perlu membuang energi berharga untuk mengurusi sampah tidak berguna seperti dia."
Bayangan tubuh mereka memanjang di dinding ruang rekreasi, menciptakan suasana yang penuh intrik.
Sementara itu, suasana di dalam kamar nomor 007 terasa jauh berbeda dan tenang.
Tengah malam yang sunyi menemani Yang Chan yang sedang duduk bersila di lantai.
Pada telapak tangan kanannya, ia memegang sebutir benih spiritual berwarna cokelat kusam.
Benih yang dibawa dari desa perbatasan itu tampak berdenyut halus mengikuti detak jantungnya.
Ia merasakan aliran energi kehidupan yang murni mengalir dari dalam benih kecil tersebut.
Ia sama sekali tidak peduli pada segala bentuk perebutan pengaruh di luar kamarnya.
Bagi dirinya, intrik politik tidak lebih menarik Daripada merawat sebatang tanaman obat.
Dengan perlahan, ia menyalurkan sedikit Qi kehidupan murni ke dalam benih tersebut.
Di dekatnya, alat Serbaguna yang bersandar santai dan telah menyusut menjadi sekop kecil.
Senyum tipis mengembang di wajahnya saat melihat alat setianya itu selalu siap membantu.
Ia meraih sekop kecil itu lalu melonggarkan tanah di dalam pot khusus miliknya.
Ia menanam benih spiritual itu dengan gerakan yang sangat lembut dan teliti.
"Sungguh merepotkan harus berurusan seperti itu," bisik Yang Chan dengan senyuman di wajahnya.
Ia merapikan permukaan tanah basah tersebut menggunakan ujung jemarinya yang kotor.
"Mending aku mengurus tanaman saja daripada harus repot seperti mereka."
Dunia luar yang penuh kekacauan seolah tidak mampu menembus ruang kecilnya yang damai.
Sinar bulan menembus kaca jendela, menyinari pot tanaman kecil itu dengan lembut.
Semuanya terasa sunyi, damai, dan terputus sepenuhnya dari segala hiruk-pikuk akademi.