Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.
Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.
Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.
Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.
Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Kartu kredit!
Mobil!
aset!
Sintia tidak terima kalau Rani bisa mendapat semua yang diinginkannya, terutama soal aset. Pikiran itu terus mengganggunya. Bagaimana jika suatu saat ia bisa menggantikan posisi Rani? Apa saja yang akan ia dapatkan nanti?
Ia menatap Rani tajam, lalu melontarkan sindiran.
“Kakak, isi lemari kakak bukannya barang yang kakak mau?” ucap Sintia dengan nada sinis. “Kakak sendiri yang suka belanja barang murahan sampai anak-anak malu saat kakak datang ke sekolah mereka.”
"Benar itu," sahut Aksan.
Rani terdiam. Kepalanya berdenyut keras, seolah ada ingatan lama yang terlepas dari tempatnya. Pandangannya bergetar. Sekilas bayangan masa lalu muncul di benaknya. Suara itu terasa familiar, tapi justru membuat dadanya sesak.
“Kak, aku punya cara agar anak-anak Mas Roy bisa suka padamu,” suara itu terngiang lagi. “Mereka paling suka penampilan sederhana. Semakin sederhana, semakin cepat mereka menerima. Mereka masih merindukan ibu mereka yang sudah meninggal, jadi kakak harus jadi ibu tiri yang baik hati, seperti ibu peri.”
Rani dalam ingatan itu ragu. “Kamu yakin, Sin?”
“Aku yakin sekali, Kak,” sahut Sintia waktu itu. “Aku sudah bersama mereka selama sebulan, jadi aku tahu. Semakin kakak merendah, mereka akan semakin sayang.”
Ingatan itu menghantam Rani seperti tamparan. Ia terhuyung dalam pikirannya sendiri, baru sadar ada hal yang selama ini disembunyikan oleh orang yang kini berdiri di hadapannya.
Rani mengerjap dan mencoba mengatur napas. Semakin ia menolak, semakin jelas potongan ingatan itu tersusun kembali. Dalam benaknya hanya satu kata yang bisa ia ucapkan untuk dirinya sendiri, bodoh.
Dulu ia percaya begitu saja. Ia mengikuti semua saran itu. Menyederhanakan penampilan, menahan keinginan membeli barang yang ia suka, berusaha tampak lembut seperti ibu yang dikatakan Sintia. Semua ia lakukan demi anak-anak Roy, demi bisa diterima di rumah itu.
Tapi kini, kalimat yang sama keluar dari mulut Sintia dengan nada berbeda.
“Kak,” Sintia masih berdiri di depannya, tapi bagi Rani wajah itu terasa asing. “Kenapa kakak diam? Aku cuma bilang yang sebenarnya.”
Rani tersenyum tipis, bukan senyum hangat, melainkan senyum yang ia paksa agar air matanya tidak jatuh.
“Jadi itu kamu,” suaranya serak, hampir berbisik.
Sintia mengernyit. “Maksud kakak apa?”
Rani mengangkat wajahnya perlahan. Mata yang tadinya kosong kini memanas, menyimpan amarah yang lama ia tahan. Sebelum ia menjawab, suara Arlan memotong.
“Ma, sudahlah. Jangan bikin pagi kami jadi hancur. Apa yang dibilang Tante Sintia memang benar. Itu keinginan Mama sendiri.”
Dada Rani sesak. Ia menatap Arlan lama. Anak itu bahkan tidak memberinya ruang untuk menjelaskan.
Rani menarik napas panjang. Ia sadar, apa pun yang ia katakan tentang Sintia tidak akan dipercaya. Suasana sudah lebih dulu memihak pada satu versi cerita. Karena itu ia memilih diam daripada berdebat yang tidak akan menang.
“Kamu benar, Arlan,” jawab Rani pelan.
Lalu ia mengalihkan pandangannya ke Roy.
“Jadi menurut Mas Roy, bagaimana soal ganti ruginya?”
Roy menatap anak-anaknya sekilas, lalu ke Sintia. Ia pikir ini cara terbaik meredakan keadaan. Ia tidak ingin rumah ini kembali gaduh. Tanpa banyak kata, ia merogoh dompet dan mengeluarkan kartu hitam.
“Kartu ini tanpa limit. Kamu bisa beli apa pun yang kamu mau,” ucapnya datar. “Soal aset, nanti aku bicarakan dengan pengacara.”
Rani menatap kartu itu sebentar, lalu sudut bibirnya terangkat. Ia menerimanya tanpa ragu.
Sintia menegang. Matanya menyala karena tidak terima, tapi ia menahan diri. Demi citra, ia memaksakan senyum yang terlalu rapi untuk disebut tulus.
“Begini juga bagus,” kata Rani ringan.
Roy menoleh cepat. “Ingat, jangan ganggu Sintia lagi.”
Rani menatapnya sekilas.
“Itu tergantung dia,” jawabnya santai. “Kalau dia masih suka modus, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa.”
Ia berbalik hendak pergi. Sebelum benar-benar melangkah, ia berhenti.
“Mas Roy,” ucapnya tanpa menoleh. “Aku yakin kamu bukan orang bodoh sampai bisa tertipu ulat bulu seperti dia.”
Hening sejenak.
Rani melanjutkan dengan nada dingin tapi tenang.
“Ah iya. Selama ini aku hidup hemat. Jadi mana mungkin aku menyuruh orang menghancurkan apartemennya? Lain kali kalau mau percaya sesuatu, lihat dulu faktanya.”
Setelah itu ia melangkah pergi, meninggalkan ruangan yang mendadak terasa lebih berat.
Pintu menutup di belakang Rani. Suara langkahnya menjauh, tapi kata-kata terakhirnya masih menggantung di ruangan itu.
"Ulat bulu seperti dia."
Roy menatap kartu hitam di tangan Rani yang kini sudah hilang di balik pintu. Alisnya berkerut. Ia tidak suka suasana tegang, tapi ada sesuatu dari nada Rani tadi yang tidak biasa. Tenang, tapi menusuk.
Ia menoleh ke Sintia. Senyumnya masih rapi, terlalu rapi. Sintia merapikan rambutnya menyelipkan di telinga dan tertawa kecil.
"Udah Mas, jangan dipikirin. Kak Rani emang selalu begitu suka memutar balikkan fakta," ujarnya ringan, seolah ingin menutup percakapan.
Roy mengangguk pelan, tapi matanya tidak lepas dari wajah Sintia. Biasanya ia langsung percaya. Kali ini tidak. Kalimat Rani soal "hidup hemat" dan "mana mungkin menyuruh orang menghancurkan apartemen" tiba-tiba mengusik pikirannya.
"Apa mungkin selama ini aku salah paham padanya?"
merekam untuk bukti itu perlu mang km bisa lawan tanpa bukti aneh.
kl sadar lemah hrse jd wanita Pinter tak tik atau gk ya licik biar bisa cari celah bukti.
itu kriminal ga buat main" kalau tidak di tindak lanjuti akan sangat berbahaya OMG ,,Rani ayo buka kedok si Kunti bogel be smart don't be stupid ran kan dah tau akan seperti apa dirimu kalau ga sat set
nunggu dua hari lagi
amnesia itu lupa ingatan aduh bodoh nya kamu
ran lebih Mak jleb lagi dong kamu kan tau alur nya
suami bego
lanjutkan 🙏🙏