Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia dinodai dan kehilangan harga dirinya. Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.
Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.
Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.
Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Cahaya matahari pagi menyelinap lembut lewat celah tirai jendela kamar yang luas. Kania terbangun dengan perasaan yang berbeda, tidak ada rasa cemas yang menyergap dadanya, tidak ada rasa takut yang menghantui mimpinya. Udara di sini terasa segar, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia tidur nyenyak tanpa terbangun berkali-kali.
Ia turun ke lantai bawah tepat pukul tujuh pagi. Paman Remon sudah menunggu di ruang tengah dengan sikap yang sangat hormat namun akrab.
"Selamat pagi, Nona Kanaya. Sarapan sudah disiapkan di ruang makan," ucapnya sambil membimbing langkahnya. "Apakah ada hal khusus yang ingin Nona perintahkan hari ini?"
Kania duduk perlahan, menatap hidangan yang tersaji rapi. "Ada satu hal, Paman Remon. Tolong jangan terlalu kaku memanggilku. Aku hanya Kanaya."
Paman Remon tersenyum tipis. "Tuan Victor berpesan, Nona adalah pemilik di sini. Dan tugas saya adalah melayani Nona dengan sebaik-baiknya. Namun jika Nona berkenan, saya akan berusaha menyesuaikan diri."
Kania tersenyum mengangguk. Setelah selesai makan, ia segera meninggalkan ruang makan dan berjalan menuju pintu depan. Mobil hitam mengkilap berhenti pelan di halaman rumah. Rico keluar dari mobil dan menghampiri Kania.
"Selamat pagi, Nona Kanaya," sapanya sopan. "Saya sudah siap mengantar Anda."
Kania mengangguk singkat, lalu masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, suasana hening namun tidak menegangkan. Rico menyetir dengan hati-hati, sesekali melirik lewat kaca spion.
"Apakah Anda sudah cukup beristirahat semalam, Nona?" tanyanya pelan.
"Lebih dari cukup," jawab Kania lembut. "Terima kasih sudah menyiapkan tempat itu, Rico. Rasanya... untuk pertama kalinya aku tidak merasa seperti tamu yang tidak diinginkan."
Rico tersenyum tipis tanpa menoleh. "Itu yang Tuan Victor inginkan. Agar Anda bisa fokus sepenuhnya."
Suasana kembali hening, Kania merenungkan langkah yang akan diambil hari ini. Ia tidak akan hanya diam menunggu serangan dari PT Arsena Group, ia akan menjadi yang pertama bergerak.
Sesampainya di kantor, suasananya sudah jauh lebih tertib dibandingkan hari sebelumnya. Karyawan bergerak dengan cepat, tidak ada lagi yang bermalas-malasan. Begitu masuk ruang rapat, Kania melihat para kepala bagian yang kemarin mengaku dipaksa, kini duduk dengan wajah menunggu keputusan.
Kania meletakkan tasnya, lalu menatap mereka satu per satu dengan tenang.
"Saya sudah mempertimbangkan permohonan maaf kalian," bukanya pelan namun tegas. "Saya tidak akan memecat kalian. Namun, saya akan mengawasi setiap gerak-gerik kalian dengan ketat. Dan hari ini, saya ingin kalian menunjukkan bukti nyata siapa saja orang di PT Arsena Group yang memerintahkan kalian melakukan kecurangan itu."
Salah satu dari mereka memberanikan diri berbicara. "Kami punya salinan pesan dan perintah rahasianya, Nona. Tapi... kami takut nyawa kami terancam jika kami memberikannya secara langsung."
Kania mengangguk paham. "Kalian aman di bawah perlindungan saya. Serahkan semuanya kepada Rico. Dia yang akan mengurusnya. Mulai sekarang, kita tidak lagi berhadapan dengan sekelompok karyawan nakal, tapi dengan pihak yang jauh lebih besar."
Rico melangkah maju sedikit, menatap mereka dengan tatapan tegas namun menenangkan. "Saya menjamin keselamatan kalian. Tidak ada satu pun orang dari PT Arsena Group yang akan bisa menyentuh kalian selama kalian berada di bawah pengawasan kami. Semua bukti akan kami lindungi dan gunakan dengan cara yang tepat."
Satu per satu mereka menarik amplop tersegel dari saku dan tas kerja mereka. Tangan mereka masih sedikit gemetar saat menyerahkannya kepada Rico. Di dalamnya berisi rekaman percakapan, pesan singkat, salinan perintah, dan nama-nama lengkap pejabat tinggi yang terlibat.
Rico menyimpannya dengan hati-hati ke dalam tas dokumen yang dikuncinya rapat. "Terima kasih atas kejujuran kalian. Mulai sekarang, lanjutkan pekerjaan kalian seperti biasa. Jangan tunjukkan sikap curiga atau takut di hadapan siapa pun. Biarkan mereka berpikir bahwa semuanya berjalan seperti yang mereka inginkan."
Kania berdiri, menatap mereka satu per satu. "Ingat, hari ini adalah awal dari perubahan. Jika kalian setia dan bekerja dengan jujur, masa depan kalian di sini terjamin. Tapi jika kalian berniat mengkhianati lagi... kalian tahu konsekuensinya."
Mereka semua mengangguk, lalu beranjak keluar dari ruangan rapat. Begitu pintu tertutup, Kania menoleh ke arah Rico.
"Segera serahkan ini pada pengacara kita," ucapnya dingin. "Dan cari tahu di mana kantor pusat PT Arsena Group berada. Aku ingin tahu seberapa dalam akar mereka menjalar, sampai ke mana saja kekuasaan mereka menyentuh."
Rico menatapnya dengan kagum. "Baik, Nona. Saya akan segera melakukannya. Tuan Victor sudah tahu. Dia bilang... Arsena Group memang sudah lama jadi duri dalam daging Blackwood. Sekarang saatnya kita cabut sampai ke akarnya."
Kania tersenyum tipis, sorot matanya berkilau tajam. "Aku mengerti. Mereka yang memulai perang ini. Dan aku yang akan mengakhirinya."
-
-
-
Di ruang kerja berukuran luas yang beraroma cerutu mahal, Tuan Wirawan duduk di balik meja besarnya. Pria paruh baya itu mengenakan setelan jas berwarna gelap, wajahnya tampak garang dengan tatapan mata yang tajam dan tidak pernah melepaskan senyum merendahkan kepada siapa pun. Sebagai pemilik tunggal PT Arsena Group, ia dikenal sebagai pengusaha yang kejam, tidak segan-segan menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya untuk menguasai pasar.
Pintu ruangannya terbuka kasar, dan asisten pribadinya masuk dengan wajah pucat dan napas memburu.
"Tuan Wirawan... ada masalah besar!" serunya tergesa-gesa.
Tuan Wirawan meletakkan gelas brendi di tangannya perlahan, menatap asistennya dengan tatapan yang membuat orang gemetar. "Masalah? Apa lagi yang bisa menjadi masalah untukku? Bukankah cabang kecil milik Blackwood itu seharusnya sudah bangkrut dan siap kita ambil alih?"
"Itu... itu tidak terjadi, Tuan. Justru sebaliknya," jawab asisten itu dengan suara bergetar. "Orang-orang yang saya suruh untuk mengurus keuangan di sana sudah tertangkap basah. Dan yang lebih buruk lagi... mereka sudah membuka mulut. Semua bukti perintah kita sudah jatuh ke tangan pihak baru yang memimpin cabang itu."
Tangan Tuan Wirawan mengepal erat hingga urat-urat di lehernya menonjol. Ia berdiri perlahan, suaranya rendah namun mengandung amarah yang meledak.
"Siapa yang berani melakukannya? Bukankah tempat itu dibiarkan tanpa pemimpin?"
"Ada wanita baru yang mengambil alih, Tuan. Namanya Kanaya Aurelia. Dia bekerja sangat cepat, dan katanya... dia adalah tunangan dari Victor Adrian Blackwood."
Nama itu membuat Tuan Wirawan terdiam sejenak. Kilatan waspada melintas di matanya. Ia tahu betul siapa Victor Blackwood, pria yang tak pernah kalah, dan musuh yang paling berbahaya. Namun rasa percaya dirinya segera kembali menguasai dirinya. Ia tertawa pendek dan sinis.
"Kanaya Aurelia? Hanya seorang wanita? Dan kamu bilang dia mengalahkan orang-orangku? Omong kosong!" bentaknya keras. "Aku tidak peduli caranya, segera singkirkan wanita itu dari jalan kita. Sebelum dia sempat menimbulkan masalah yang lebih besar."
"Tapi Tuan... jika dia dilindungi oleh Victor..."
"Victor tidak akan selamanya bisa melindunginya," potong Tuan Wirawan tajam. "Aku tidak takut pada siapa pun. Termasuk dia. Jika wanita itu berani menantangku, maka dia harus siap menerima akibatnya. Cepat, pergi sekarang!"
Asisten itu segera berbalik dan lari keluar ruangan. Tuan Wirawan kembali duduk, menatap keluar jendela dengan senyum dingin yang mengerikan. Ia tidak menyangka akan ada hambatan, namun ia juga tidak akan mundur.
"Siapa pun yang berani berdiri tegak di hadapanku, akan kupatahkan kakinya sampai dia tidak bisa bangkit lagi!" umpatnya, memukul meja dengan tangan terkepal.
-
-
-
Bersambung...
mungkin sakit hati karna bapak Haris masih cinta sama mama Kania yg kandung😏
sabar ya pemirsa, bentar lagi malam pesta dimulai😁
lanjut dong thor🤭🤭