NovelToon NovelToon
Level Maks Sebelum Dunia Berubah

Level Maks Sebelum Dunia Berubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: D'Silent Novel

Pada malam Tahun Baru 2035, seluruh manusia di bumi menerima sebuah notifikasi misterius yang muncul tepat di depan mata mereka.

【Integrasi Dunia akan dimulai dalam 365 hari.】

Tak ada yang tahu siapa pengirimnya. Tak ada yang mampu menjelaskan bagaimana layar itu muncul. Setelah berbulan-bulan tanpa kejadian apa pun, dunia mulai melupakannya dan menganggapnya sebagai fenomena aneh semata.

Namun, tidak dengan Leon.

Di malam yang sama, ia menerima notifikasi kedua yang hanya bisa dilihat olehnya.

【Sistem Simulasi Satu Tahun berhasil diaktifkan.】

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 — Langkah Pertama Seorang Petarung (Bagian 2)

Leon mengusap keringat yang menetes dari dagunya.

Lengan kanannya masih terasa bergetar setelah mengayunkan pedang kayu ratusan kali. Baru kali ini ia menyadari bahwa mengayunkan pedang dengan benar jauh lebih melelahkan daripada sekadar mengangkat benda berat.

Di dunia asalnya, ia memang sesekali berolahraga. Namun itu hanya sebatas joging ringan atau beberapa kali push-up ketika sedang memiliki waktu luang.

Latihan seperti ini...

Benar-benar menguras tenaga.

Rowan berdiri dari batu tempat ia duduk.

"Sudah cukup istirahat."

Leon menarik napas panjang lalu berdiri.

"Apa kita lanjut?"

"Bukan latihan pedang."

"Lalu?"

"Lari."

Leon berkedip.

"Lari?"

Rowan mengangguk.

"Pedang hanyalah alat."

"Kalau tubuhmu tidak mampu bergerak dengan baik, seberapa tajam pun pedangmu tidak akan berguna."

Tanpa menunggu jawaban, Rowan mulai berlari mengelilingi lapangan.

"Ikuti."

Leon segera mengejar.

Awalnya ia masih bisa mengikuti langkah Rowan dengan mudah. Namun setelah beberapa putaran, napasnya mulai tidak beraturan.

Anehnya...

Rowan sama sekali tidak terlihat lelah.

Pria itu bahkan masih mampu berbicara dengan tenang.

"Jangan bernapas lewat mulut terus."

"Tarik napas melalui hidung."

"Hembuskan perlahan."

"Atur ritmenya."

Leon mencoba mengikuti instruksi itu.

Beberapa menit kemudian, napasnya memang terasa lebih stabil.

Ia mulai memahami bahwa setiap gerakan dalam bertarung memiliki teknik, bahkan sesuatu yang sederhana seperti bernapas.

Setelah hampir satu jam berlari, Rowan akhirnya berhenti.

Leon membungkuk sambil memegangi lututnya.

"Kau... benar-benar melatih tanpa ampun."

Rowan hanya tersenyum tipis.

"Kalau ini saja tidak sanggup, bagaimana kau akan bertahan hidup di luar desa?"

Pertanyaan itu membuat Leon terdiam.

Ia teringat kembali Wolf Ape.

Monster itu hampir membunuhnya meskipun hanya bertarung beberapa menit.

Jika nanti ia menghadapi monster yang lebih kuat...

Tubuhnya harus mampu bertahan jauh lebih lama.

"Baik."

"Aku mengerti."

Melihat kesungguhan Leon, Rowan mengangguk puas.

"Bagus."

"Latihan pagi selesai."

Leon menghela napas lega.

Namun kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik.

"Setelah sarapan..."

"...kita mulai latihan keseimbangan."

Leon memijat dahinya.

"Ternyata ini baru pemanasan..."

Rowan tertawa kecil.

"Akhirnya kau mulai mengerti."

Mereka berjalan menuju sebuah kedai sederhana di dekat alun-alun desa.

Aroma sup hangat dan roti panggang langsung memenuhi udara.

Perut Leon yang sejak tadi kosong langsung berbunyi.

Seorang wanita paruh baya menyambut mereka dengan senyum ramah.

"Rowan, seperti biasa?"

"Ya."

"Lalu untuk murid barumu?"

"Berikan menu yang sama."

Wanita itu mengangguk sebelum masuk ke dapur.

Beberapa menit kemudian, dua mangkuk sup daging, roti hangat, dan segelas susu diletakkan di atas meja.

Leon menatap makanan itu dengan kagum.

Potongan dagingnya jauh lebih besar dibandingkan yang biasa ia makan di dunia asal.

Ia mencicipi sesendok kuah.

Matanya langsung membesar.

"Enak..."

Kuahnya gurih dengan aroma rempah yang belum pernah ia cicipi sebelumnya.

Bahkan rasa lelah di tubuhnya seolah sedikit berkurang.

Rowan tersenyum melihat ekspresi Leon.

"Itu sup dari Domba Lumina."

"Daging monster?"

"Bukan."

"Hewan ternak."

"Tapi mereka memakan tumbuhan yang mengandung mana alami."

Leon mengangguk pelan.

Berarti bahkan makanan di dunia ini berbeda.

Saat mereka sedang makan, pintu kedai kembali terbuka.

Tiga pemuda masuk sambil tertawa keras.

Pakaian mereka menunjukkan bahwa mereka juga pemburu.

Namun sorot mata mereka langsung tertuju pada Leon.

"Itu pendatang baru?"

Salah satu dari mereka melangkah mendekat.

Tubuhnya lebih tinggi dari Leon, dengan rambut merah pendek dan bekas luka di pipi kirinya.

"Kau yang mengalahkan Wolf Ape kemarin?"

Leon sedikit terkejut.

"Kalian sudah tahu?"

Pria itu menyeringai.

"Desa ini kecil."

"Berita menyebar lebih cepat daripada angin."

Ia mengulurkan tangan.

"Namaku Daren."

"Pemburu peringkat E."

Leon menyambut uluran tangannya.

"Leon."

Namun saat tangan mereka berjabat, Daren tiba-tiba menambah tenaga pada genggamannya.

Leon langsung merasakan tekanan yang kuat.

Ia mengerutkan kening, tetapi tidak melepaskan tangannya.

Beberapa detik kemudian...

Daren justru tersenyum lebar dan melepaskannya.

"Bagus."

"Kupikir kau akan langsung berteriak kesakitan."

Leon mengusap telapak tangannya.

"Itu cara kalian menyapa orang baru?"

Teman-teman Daren tertawa.

"Dia memang selalu begitu."

Daren menarik kursi dan duduk di depan Leon.

"Jangan salah paham."

"Aku hanya ingin tahu apakah rumor itu benar."

"Rumor?"

"Katanya ada pendatang baru yang mengalahkan Wolf Ape sendirian."

Leon menggeleng.

"Aku hampir mati."

"Itu hanya keberuntungan."

Daren memperhatikan Leon beberapa saat.

Lalu mengangguk.

"Jawabanmu lebih masuk akal."

Ia berdiri.

"Kalau begitu, teruslah berlatih."

"Di luar desa, keberuntungan tidak akan selalu datang dua kali."

Ketiga pemburu itu kemudian pergi menuju meja lain.

Leon memperhatikan mereka hingga menghilang dari pandangan.

Rowan yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.

"Bagaimana pendapatmu tentang Daren?"

"Orangnya aneh."

Rowan terkekeh.

"Dia memang kasar."

"Tapi bukan orang jahat."

"Suatu hari nanti..."

"...mungkin kalian akan bertarung bersama."

Leon mengangguk pelan.

Tanpa disadarinya, sedikit demi sedikit ia mulai mengenal penghuni Desa Aster.

Mungkin untuk sementara...

Tempat inilah yang akan menjadi rumahnya.

Namun jauh di dalam Hutan Greenwood, sesuatu sedang bergerak.

Seekor serigala berukuran hampir tiga kali lipat serigala biasa mengangkat kepalanya.

Hidungnya mengendus udara.

Matanya yang berwarna biru gelap perlahan menyipit.

Ia telah mencium aroma manusia yang asing.

Dan kali ini...

Monster itu tidak sendirian.

Di belakangnya, belasan pasang mata mulai terbuka satu per satu di balik kegelapan hutan.

1
Dragonovic#
semoga seru nih 🫡
D'Silent Novel: Kalo ada masukan atau pun kritik, langsung komen aja ya 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!