Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.
Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?
Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Normal Day
Pagi di Pangkalan Udara Sendjaja selalu diawali dengan aroma khas korosi, avtur, dan embun yang menguap dari aspal runway. Jauh sebelum matahari benar-benar menyengat, deru mesin helikopter dan jet latih sudah membelah langit, menciptakan irama monoton yang menjadi detak jantung bagi setiap prajurit yang berdinas di sana.
Kapten Penerbang Arjuna Aksa Wardhana melangkah membelah apron dengan seragam flight suit hijau zaitun lengkap. Helm terbang tersampir di lengan kirinya, sementara tangan kanannya memegang secangkir kopi hitam panas dalam tumbler. Kacamata hitam setianya terpasang kokoh.
Namun, ketegasan aura seorang perwira penerbang itu tidak bertahan lama begitu ia memasuki ruang briefing Skadron Pendidikan.
"Waduh, waduh. Siap, hormat! Komandan Pasukan pengantin baru sudah mendarat di pangkalan!" seru Kapten Damar, rekan seangkatan Arjuna yang bertubuh subur, langsung bangkit dari kursinya dan memberikan hormat.
Di sudut ruangan, Letnan Satu Dika yang sedang memeriksa manifes penerbangan langsung menimpali tanpa menoleh, "Lapor Kapten! Mohon izin bertanya, apakah radius lingkar mata Kapten Arjuna pagi ini melebar akibat operasi malam mandiri atau karena denda kurung kamar?"
Gelak tawa langsung pecah di ruang briefing yang biasanya tegang itu. Para perwira muda dan instruktur penerbang yang ada di sana tampaknya sudah menyiapkan amunisi sejak subuh untuk menyambut kembalinya sang Kapten setelah cuti nikah singkatnya.
Arjuna hanya geleng-geleng kepala, berjalan santai menuju mejanya dan meletakkan tumbler kopi. Ia melepas kacamata hitamnya dengan sentikan jari yang tengil.
"Kalian ini ya, baru ditinggal cuti beberapa hari saja kangennya sudah setara satu batalyon," sahut Arjuna santai, bersandar pada pinggiran meja dengan kedua tangan diselipkan di saku flight suit.
"Iri bilang bos. Makanya, Dam, Dika, cepat cari pendamping. Jangan cuma bisa memantau pergerakan radar domestik orang lain," ucap Arjuna dengan tengilnya.
"Bukannya iri, Jun," Kapten Damar merangkul pundak Arjuna dengan heboh, menyeringai jail.
"Kami ini cuma khawatir. Kemarin pas kamu nikah, banyak pasang mata yang lihat kegalakan nyonya rumah saat sesi gladi pedang pora. Jadi cerita ke itu sudah menyebar luas. Apa benar semalam kamu kena hukum lari keliling ruang tamu?" tanya Kapten Damar.
Arjuna tertawa renyah, teringat bagaimana Laila menendang guling dan mengusirnya ke lantai bawah saat ia mencoba masuk ke kamar istrinya itu. Namun, di depan rekan-rekannya, gengsi seorang penerbang harus tetap tegak setinggi ceiling pesawat tempur.
"Sembarangan! Di rumah itu, tentu aku tetap memegang kendali Dam," bual Arjuna dengan wajah seserius mungkin, membuat Dika dan Damar saling pandang curiga.
"Istri saya covernya saja galak, tapi dia itu tipe yang sangat patuh pada suami. Malah kemarin dia sendiri yang minta pisah rumah ke Ayahnya, biar bisa fokus memberikan pelayanan terbaik buat suami katanya. Gak percaya? Tanya saja mertua saya," jelas Arjuna meyakinkan.
"Halah, bualannya Kapten Arjuna selalu di atas batas ketinggian aman," cibir Dika sambil melempar pulpen kosong ke arah Arjuna yang dengan cekatan ditangkap oleh pria itu.
"Tapi jujur, Jun, selamat ya. Akhirnya salah satu kapten pangkalan kita ini ada yang menjinakkan. Nanti malam jangan lupa, syukuran nasi kotak buat satu skadron ditunggu," pinta Damar.
"Siap. Logistik syukuran aman. Nanti malam saya drop di mes," balas Arjuna, melirik arloji di tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul tujuh pagi. "Sudah, stop sesi ceng-cengannya. Ayo briefing pra-terbang. Hari ini kita ada jadwal mendampingi siswa terbang cross country."
Dalam hitungan detik, suasana santai itu menguap. Arjuna kembali berubah menjadi sosok instruktur yang dingin, teliti, dan penuh perhitungan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada sesuatu yang berbeda pagi ini.
Setiap kali ia melihat ke arah luar hanggar, pikirannya sesekali melayang membayangkan kamar lantai atas, membayangkan apakah istrinya sudah bangun dari tidurnya. Karena sebelum ia berangkat kerja, istrinya tidak menyahut sama sekali saat ia mengetuk pintu kamar atas.
...****************...
Sementara di pangkalan udara suara mesin jet bergemuruh, di rumah Arjuna suasana justru dipenuhi oleh gelak tawa khas perempuan muda.
Pagi itu, begitu saat mobil Arjuna meninggalkan pekarangan rumah, Laila langsung mengirimkan pesan di grup obrolan bersama dua sahabat, Tasya dan Keira.
Maka di sinilah mereka sekarang, duduk lesehan di karpet bulu ruang tengah yang luas dan modern, dikelilingi oleh tumpukan map berkas, serta tiga laptop yang menyala, beberapa gelas es teh manis, dan beberapa camilan ringan di atas meja.
"Gila La, Ini beneran rumah pribadinya si Arjuna itu?" tanya Tasya.
"Gue pikir selera abang-abang kayak dia itu bakal norak gitu. Ini mah estetik abis, la-ala rumah arsitek muda," sambung Tasya.
"Iya, asli. Pas gue masuk tadi, gue mikir apa si Arjuna ini diam-diam punya bisnis sampingan jadi makelar tanah," timpal Keira yang sibuk mengunyah camilan keripik singkong.
Laila yang duduk bersandar di sofa hanya mendengus, memutar kedua bola matanya malas. "Kalian berdua bisa fokus gak? Kita ke sini mau bahas lowongan kerja, bukan mau bikin ulasan properti rumahnya Arjuna."
"Ya elah La santai sedikit kenapa sih? Mumpung 'kapten' lo lagi terbang," goda Tasya sambil menyenggol lutut Laila dengan laptopnya.
"Gimana malam pertama di rumah baru? Aman terkendali? Atau... si Arjuna itu berani nyentuh-nyentuh lo?" Tasya membombardir Laila dengan banyak pertanyaan.
"Tasya stop ngomong aneh-aneh. Kalian tenang aja, dia gak bakal berani nyentuh gue. Kita kamarnya terpisah kok di sini. Gue di kamar atas, dia di kamar bawah," jelas Laila.
Keira dan Tasya langsung menghentikan aktivitas mengetik mereka. Keduanya menatap Laila dengan pandangan tak percaya.
"Lo serius, La?" tanya Keira, nada suaranya berubah agak serius. "Lo benar-benar masih memegang janji sama Devan?"
Pertanyaan Keira membuat atmosfer ruangan mendadak hening. Laila terdiam, pandangannya turun menatap cangkir tehnya. Di dalam tasnya yang tergeletak di kamar atas, pembatas buku perak dari Devan tersimpan rapi, menjadi monumen rahasia yang ia jaga.
"Gue udah komitmen sama Devan, Kei, Sya," jawab Laila pelan, suaranya terdengar tegar namun ada nada getir yang tipis.
"Satu tahun. Gue cuma butuh waktu satu tahun buat memastikan kesehatan Papi stabil, setelah itu gue bakal urus perpisahan ini baik-baik. Makanya gue minta pindah ke rumah ini, biar pergerakan gue gak diawasi Papi dan gue bisa fokus menata masa depan gue, termasuk cari kerja."
Tasya menghela napas panjang, menepuk bahu Laila dengan lembut. "Kami berdua bakal selalu dukung keputusan lo, La. Tapi lo harus hati-hati. Tidur satu atap sama cowok se-kreatif dan se-persuasif Arjuna itu bahaya buat pertahanan iman lo. Hati manusia itu dinamis La," ucap Tasya memperingatkan.
"Pertahanan gue kuat, Sya. Tenang aja," elak Laila cepat, mencoba mengusir rasa hangat yang aneh di dadanya setiap kali mengingat kebaikan-kebaikan kecil Arjuna belakangan ini.
"Sudah, ayo buka berkasnya. Jadi, lowongan apa yang kalian dapet?" Laila mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Ketiga sahabat itu akhirnya kembali fokus pada layar laptop mereka. Sebagai lulusan baru dari jurusan Sastra Inggris sebuah universitas ternama, mencari pekerjaan pertama di tengah ketatnya persaingan adalah perjuangan.
"Nah, ini ada satu lowongan yang oke banget, La," Keira memutar laptopnya ke arah Laila.
"Kedutaan Besar Australia di Jakarta lagi buka lowongan buat posisi Content Creator dan Public Relations Officer. Syarat utamanya lulusan Sastra Inggris atau Hubungan Internasional, skor TOEFL minimal 500, dan punya kemampuan menulis esai," jelas Keira lebih lanjut.
Mata Laila langsung berbinar melihat detail lowongan tersebut. Ini adalah bidang yang sangat ia minati selama kuliah. Kemampuannya dalam menganalisis teks dan menulis narasi kreatif sangat cocok untuk posisi ini.
"Ini bagus banget, Kei. Gajinya juga cukup buat gue mulai mandiri nanti," ujar Laila
"Tapi penempatannya lumayan jauh La," Tasya mengingatkan sambil membetulkan letak kacamatanya.
"Kalau lo keterima, gimana dengan status lo di sini? Pernikahan lo sama Arjuna kan baru berjalan beberapa hari, masa iya lo harus ninggalin dia di sini, ntar apa kata Papi lo," jelas Tasya.
Laila tertegun sesaat. Benar juga, saat melihat penempatan kerja di lowongan itu, berjarak ratusan kilometer dari rumah mereka. Jika ia melamar sekarang dan proses seleksinya berjalan beberapa bulan, ia harus menemukan alasan logis lagi untuk Ayahnya mengapa ia harus meninggalkan Arjuna.
"Gak apa-apa, lo lamar aja dulu, La. Proses tes di Kedutaan itu biasanya lama, bisa makan waktu sebulan sampai dua bulan," saran Keira memberikan solusi logis. "Urusan yang lain entar aja dipikirin La."
"Oke, gue bakal submit dokumen gue malam ini," kata Laila dengan yakin.
Di samping lowongan kedutaan, Tasya juga menunjukkan beberapa lowongan paruh waktu sebagai penerjemah lepas untuk perusahaan multinasional yang berbasis jarak jauh (remote).
"Kalau yang remote ini bisa lo kerjain di kamar atas lo yang estetik itu, La. Jadi lo tetap bisa berperan jadi 'Ibu Kapten' palsu di bawah sambil ngumpulin pundi-pundi uang buat masa depan lo sama Devan," ujar Tasya dengan cengiran jailnya yang kembali muncul.
Rumah dinas itu pun kembali dipenuhi oleh riuh diskusi mereka. Mereka saling mengoreksi CV, menyusun surat lamaran dalam bahasa Inggris yang paling elegan, hingga tidak menyadari bahwa waktu sudah bergerak menuju pukul dua siang.
Di tengah kesibukan mereka menyusun strategi karier, Laila merasakan sebuah kenyamanan yang sudah lama tidak ia rasakan semenjak beban perjodohan ini menimpa pundaknya. Bersama sahabat-sahabatnya, di rumah modern yang awalnya ia takuti ini, Laila merasa ia perlahan-lahan mulai bisa mengambil kendali atas hidupnya kembali.
Meskipun ia tahu, setiap anak tangga yang ia naiki menuju kamar atas akan selalu mengingatkannya pada dua dunia yang sedang ia pijak secara bersamaan, dunia masa lalu bersama Devan yang ia simpan dalam pembatas buku perak, dan dunia masa kini bersama Arjuna pemilik rumah yang selalu berhasil meruntuhkan kewarasannya dengan tingkah tengilnya.
...Bersambung......