NovelToon NovelToon
Suami Yang Kau Dan Keluarga Mu Hina Adalah Pewaris Kaya

Suami Yang Kau Dan Keluarga Mu Hina Adalah Pewaris Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Demi menguji ketulusan, Aldi Pratama menyamar sebagai pria biasa selama dua tahun pernikahan. Namun, Kirana beserta keluarganya yang gila gengsi terus menghina dan merendahkannya. Batas sabar Aldi habis; ia mengungkap identitas aslinya sebagai pewaris tunggal konglomerat raksasa Pratama Group, menceraikan Kirana, dan memiskinkan keluarganya.
Kejatuhan itu seketika menghancurkan hidup Kirana—ibunya meninggal karena syok, adiknya dipenjara, dan ia harus bertahan hidup sebagai pedagang sembako miskin. Di titik nadir inilah Kirana bertobat total dan belajar bersyukur. Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali lewat program sosial. Meski dipisahkan jurang kasta yang permanen, Aldi diam-diam memberi perlindungan rahasia karena belum bisa melupakan Kirana sebagai cinta pertamanya, sementara Kirana menjalani takdirnya dengan keikhlasan dan penyesalan abadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 12: Hancurnya Sisa Kehormatan

Malam itu, kabar mengenai jatuhnya Aldi dari kursi Manajer Keuangan telah sampai ke telinga Ibu Ratna bahkan sebelum Aldi menginjakkan kakinya di rumah. Soni, melalui Riko yang sengaja mencari celah informasi, telah membocorkan segalanya dengan bumbu-bumbu yang sangat menyudutkan.

Saat Aldi membuka pintu depan, ruang tengah sudah dipenuhi oleh aura kemarahan yang meluap-luap. Ibu Ratna berdiri di dekat meja kaca dengan napas memburu, sementara Riko melipat tangan dengan pandangan menghina yang sangat kental. Kirana duduk di sudut sofa, menyembunyikan wajahnya yang sembab akibat tangis yang tak kunjung reda.

"Bagus ya! Pulang juga kamu akhirnya, Aldi!" pekik Ibu Ratna, suaranya melengking tinggi hingga menggema ke langit-langit rumah. "Dasar pria tidak tahu diuntung! Sudah untung kamu dijadikan manajer di perusahaan besar, malah nekat korupsi dan mempermalukan keluarga ini!"

Aldi meletakkan tas kerjanya di atas meja dengan tenang. Dia menatap ibu mertuanya tanpa ada rasa takut. "Saya tidak melakukan korupsi atau penggelapan dana apa pun, Ma. Itu hanya fitnah di dalam sistem kantor."

"Halah! Gak usah mengelak lagi, Mas!" potong Riko sambil maju selangkah, menunjuk-nunjuk wajah Aldi. "Soni sudah cerita semuanya ke aku! Kamu sengaja mencairkan dana vendor dua ratus juta karena panik ditagih cicilan rumahku dan uang arisan Mama, kan? Sekarang lihat akibatnya!

Jabatanmu dicopot, digeser jadi staf logistik gudang sampah di belakang! Gaji dipotong tujuh puluh persen! Kamu mau kasih makan apa Kak Kirana? Mau bayar pakai apa kuliahku semester depan?!"

Aldi melirik Kirana, berharap istrinya akan bersuara atau setidaknya menepis tuduhan murahan itu. Namun, Kirana tetap diam, bahunya bergetar hebat. Kirana benar-benar percaya bahwa Aldi melakukan tindakan nekat itu karena tekanan finansial yang dia lontarkan di kamar semalam. Keheningan Kirana menjadi belati paling tajam yang menusuk tepat di hati Aldi malam itu.

"Kirana," panggil Aldi, suaranya terdengar sangat parau namun dingin. "Kamu juga berpikir Mas melakukan hal rendah seperti itu?"

Kirana mendongak dengan mata merah berkaca-kaca. "Lalu aku harus percaya apa lagi, Mas? Buktinya nyata... token kamu yang dipakai. Kenapa kamu harus nekat kalau memang gak bisa memenuhi tuntutan Mama? Kenapa kamu gak bilang dari awal kalau kamu gak sanggup?!"

Aldi memejamkan matanya sejenak. Sebuah tawa hambar, hampir tak terdengar, keluar dari tenggorokannya. Ikatan keercayaan yang dia bangun selama dua tahun ini runtuh seketika hanya karena rekayasa seorang pria dari masa lalu istrinya.

"Baik," ucap Aldi, membuka matanya yang kini memancarkan kilat sedingin es. "Kalau itu yang kalian percayai, saya tidak akan membela diri lagi. Mulai besok, saya akan bekerja di gudang belakang."

"Heh, Aldi! Dengar ya!" teriak Ibu Ratna lagi saat Aldi berbalik menuju tangga. "Kalau bukan karena Nak Rendy yang berbaik hati menahan kasus ini agar tidak dilaporkan ke polisi demi menjaga nama baik Kirana, kamu itu sudah membusuk di penjara! Tahu diri sedikit! Mulai besok, jangan harap kamu bisa bersantai-santai di rumah ini lagi!"

.

.

.

Hari pertama Aldi bekerja sebagai staf logistik rendahan dimulai dengan pemandangan yang sangat kontras. Tidak ada lagi ruang kerja ber-AC atau kemeja yang rapi. Aldi kini mengenakan seragam abu-abu kasar khas pekerja lapangan, berdiri di tengah kepulan debu dan tumpukan palet kayu di gudang bagian belakang PT Nusantara Mandiri.

Soni, yang kini resmi menduduki kursi Manajer Keuangan peninggalan Aldi, sengaja datang ke area gudang siang itu bersama beberapa staf administrasi, termasuk Kirana yang terpaksa ikut untuk mencatat inventarisasi aset lama.

"Wah, lihat ini teman-teman," cetus Soni dengan suara sengaja dikeras-keraskan agar didengar oleh para pekerja gudang lain. "Mantan Manajer kita cepat sekali beradaptasi ya. Memang tempat asli seseorang itu tidak akan pernah bisa dibohongi. Kalau kapasitasnya cuma kuli, mau dipasang jas semahal apa pun pasti bakal kembali ke tempat berdebu begini."

Para pekerja gudang yang tidak tahu apa-apa hanya bisa terdiam, sementara beberapa staf ikut tertawa kecil demi menyenangkan hati Soni yang kini jadi bos baru mereka.

Kirana yang berdiri di belakang Soni memalingkan wajahnya.

Dadanya sesak melihat Aldi yang sedang menggotong kotak kardus berat berisi berkas-berkas lama. Ada rasa perih yang teramat sangat melihat suaminya yang dulu dihormati, kini dijadikan bahan olok-olok di depan matanya sendiri.

Tiba-tiba, Rendy muncul dari lorong gudang dengan langkah tegap, dikawal oleh sekretaris pribadinya. Kehadiran sang CEO membuat Soni dan staf lainnya langsung membungkuk hormat.

"Bagaimana progres pemindahan berkasnya, Soni?" tanya Rendy dengan nada berwibawa, namun matanya langsung mengunci sosok Aldi yang sedang menyeka keringat di dahinya.

"Sudah hampir selesai, Pak CEO. Staf baru kita, Aldi, bekerja dengan sangat... rajin, sesuai dengan hukumannya," jawab Soni sambil tersenyum menjilat.

Rendy berjalan mendekati Aldi, berhenti tepat satu langkah di hadapan pria yang sebenarnya adalah pemilik sah atas seluruh aset yang disentuhnya saat ini. Rendy merogoh dompetnya, mengeluarkan selembar uang seratus ribu rupiah, lalu menjatuhkannya begitu saja ke atas lantai yang berdebu di dekat sepatu bot kerja Aldi.

"Kerja bagus, Aldi," ucap Rendy dengan nada mengejek yang sangat kental. "Anggap saja itu uang tip dari saya untuk keringatmu hari ini. Oh ya, omong-omong... besok malam saya mengadakan Gathering Kantor tahunan untuk seluruh jajaran pimpinan dan staf di Grand Ballroom Hotel Mulia. Karena kamu sekarang sudah turun pangkat menjadi staf logistik, sebenarnya kamu tidak masuk daftar undangan. Tapi..."

Rendy melirik Kirana dengan senyum penuh arti. "...saya izinkan kamu datang sebagai pelayan pembantu untuk menyiapkan peralatan dekorasi di sana. Datanglah, siapa tahu kamu bisa belajar bagaimana cara orang-orang kelas atas menikmati hidup."

Aldi melihat lembaran uang di lantai, lalu menatap Rendy. Tidak ada kemarahan di mata Aldi, melainkan sebuah tatapan kasihan seolah sedang melihat seorang terpidana mati yang sedang menikmati hari-hari terakhirnya.

"Terima kasih atas undangannya, Pak Rendy," jawab Aldi dengan nada yang sangat tenang, bahkan terlalu tenang untuk ukuran pria yang sedang diinjak-injak harga dirinya. "Saya pastikan... saya akan hadir di acara besok malam. Dan saya harap, Anda tidak melupakan kata-kata Anda hari ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!