"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"
Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.
Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.
Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
godaan pagi elio
Elio keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya, membiarkan tubuh atletisnya terpampang jelas. Tetesan air masih mengalir di sepanjang garis otot perutnya yang tegas, memberikan kesan maskulin yang begitu kontras dengan suasana kamar yang tenang.
Aratala, yang sedari tadi sibuk menenangkan diri, segera membuang jauh-jauh rasa malunya. Dalam hitungan detik, topengnya kembali terpasang sempurna. Ia tidak membiarkan momen "kerapuhan" semalam menguasai situasi; ia harus segera kembali ke perannya sebagai istri yang "cegil".
Ia bangkit dari tepi kasur, lalu berjalan santai mendekati Elio dengan senyum yang dibuat-buat semanis mungkin, meski tatapannya sedikit nakal.
"Wah, wah," gumam Aratala, sengaja menatap Elio dari atas ke bawah tanpa sedikit pun merasa canggung, seolah kejadian memalukan semalam hanyalah angin lalu. "Ternyata, kalau diperhatikan lebih dekat saat bangun tidur begini, kau jauh lebih sedap dipandang ya, Elio sayang?"
Aratala menghentikan langkahnya tepat di depan Elio, jemarinya yang lentik dengan berani menyentuh sedikit area bahu pria itu, merasakan tekstur kulit yang masih lembap. "Sudah dingin, atletis, kaya, dan sekarang... hot pula. Pantas saja banyak wanita yang rela antre demi jadi Nyonya Raymond."
Ia tertawa kecil, suara tawanya terdengar penuh provokasi, jauh berbeda dengan isakan pilu yang keluar dari tenggorokannya beberapa jam yang lalu. "Sayang sekali, semuanya sudah aku 'sewa' untuk sementara, kan?"
Elio hanya diam, menatap Aratala dengan alis terangkat. Meski tatapannya tetap dingin dan datar, ada kilatan kecil di matanya yang menunjukkan bahwa pria itu sedikit terkejut dengan perubahan drastis Aratala—dari gadis yang menangis di pelukannya, menjadi wanita yang begitu berani menggoda di depannya.
Elio tahu, ini hanyalah akting. Namun, melihat betapa cepat Aratala kembali ke "perannya", Elio merasakan dorongan aneh di dalam dirinya untuk sekali lagi meruntuhkan topeng tersebut.
"Simpan pujianmu itu untuk kontrakmu, Aratala," balas Elio dengan suara rendah yang mengintimidasi, namun ia tidak menarik diri dari sentuhan gadis itu. "Dan jangan terlalu percaya diri. Aku tidak akan tertipu lagi hanya karena kau tahu cara memuji otot perutku."
Aratala tertawa pelan, sebuah kekehan renyah yang sengaja ia buat untuk menutupi rasa gugup yang sebenarnya masih tertinggal. Ia menatap Elio yang masih berdiri tegak di depannya, lalu menarik tangannya dari bahu pria itu dengan gaya yang dibuat-buat anggun.
Elio tidak membalas tawa itu. Ia justru menatap Aratala dengan tatapan yang kembali menajam, seolah ingin mengingatkan bahwa waktu mereka untuk bermain peran sudah habis.
"Simpan tawa itu untuk nanti," ujar Elio dingin, matanya mengunci pandangan Aratala. "Pagi ini kita ada pertemuan dengan keluargaku di tepi pantai. Jangan lupa, Aratala, kau masih harus memerankan peranmu sebagai 'Nyonya Raymond' yang sempurna di depan mereka."
Elio melirik jam dinding sekilas sebelum kembali menatap Aratala. "Kita harus segera bersiap. Keluarga besarku tidak suka menunggu, dan aku tidak ingin reputasiku rusak hanya karena kau terlalu sibuk mengagumi dirimu sendiri atau otot perutku."
Tanpa menunggu jawaban, Elio berbalik dan melangkah pergi menuju ruang ganti, meninggalkan Aratala yang kini harus segera menekan seluruh rasa canggungnya dalam-dalam. Aratala tahu, tantangan sesungguhnya hari ini bukanlah menangani Elio, melainkan berhadapan dengan keluarga pria itu di bawah terik matahari pantai, di mana setiap gerak-gerik mereka akan dinilai dengan saksama.
🌴🌴🌴
Elio sudah duduk rapi di meja makan, menyesap kopi hitamnya dengan tenang, namun tatapannya sesekali melirik ke arah tangga. Begitu suara langkah kaki terdengar, ia mendongak.
Saat Aratala muncul, Elio seketika membeku. Ia terdiam cukup lama, membiarkan matanya menyapu penampilan gadis itu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Aratala tampak mempesona dengan pakaian pilihannya pagi ini—pakaian yang menurut standar Elio, terasa "kurang bahan" dan terlalu minim untuk dilihat orang banyak di acara keluarga.
Elio merasakan tenggorokannya tiba-tiba kering, memaksanya menelan ludah dengan susah payah. Ia harus mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap menjaga ekspresi datarnya agar tidak terlihat terpesona atau posesif di depan gadis itu.
"Aratala," panggil Elio dengan nada yang ia buat sedatar mungkin, meskipun ada sedikit tekanan di sana. "Itu pilihan bajumu untuk bertemu keluargaku? Apa kau berniat membuat kakekku serangan jantung, atau memang sengaja ingin membuatku gila pagi ini?"
Ia meletakkan cangkir kopinya dengan denting yang cukup keras di atas meja, pertanda bahwa logika dinginnya mulai terusik oleh penampilan Aratala.
Aratala memutar tubuhnya dengan anggun di hadapan Elio, memamerkan pakaian yang memang ia pilih untuk memancing reaksi pria itu. Ada kilatan jenaka di matanya saat ia melihat Elio yang berusaha keras menjaga ketenangannya.
"Pantas, kan?" goda Aratala dengan nada ceria yang dibuat-buat, sengaja berputar sekali lagi di depan meja makan. "Ini namanya fashion, pa Elio. Lagipula, bukankah kau bilang aku harus menjadi istri yang 'sempurna'? Nah, istri yang sempurna di mata keluarga Raymond harus bisa menarik perhatian, bukan?"
Ia berjalan mendekat, lalu menarik kursi di depan Elio dan duduk dengan santai, mengabaikan tatapan tajam pria itu. "Atau... kau sebenarnya merasa terganggu karena bajuku terlalu cantik? Jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan siapa pun melirik selain kau, suamiku."
Aratala mengedipkan sebelah matanya, sangat menikmati bagaimana ia berhasil membuat napas Elio tertahan hanya dengan pilihan busananya. Ia tahu betul, semakin Elio terlihat terganggu, semakin sukses perannya sebagai Aratala yang tak terduga.
Aratala, yang menyadari Elio tidak akan meladeni godaannya, buru-buru menyambar tas kecilnya dan menyusul pria itu. Ia terpaksa sedikit berlari untuk mengimbangi langkah lebar Elio. Langkah kecil Aratala membuatnya harus mengerahkan tenaga ekstra, dan sesekali ia merutuk pelan di bawah napasnya.
"Sabar sedikit kenapa, sih! Kakimu itu sepanjang galah, sedangkan!" gerutu Aratala, nyaris terengah-engah.
Ia sesekali merapikan rambutnya yang sedikit berantakan akibat harus terburu-buru. Meski merasa kesal, ada kepuasan tersendiri di hatinya melihat Elio yang begitu berusaha menjauh—baginya, itu adalah bukti nyata bahwa pria itu sebenarnya terpengaruh oleh penampilannya hari ini.
🌴🌴🌴
Begitu pintu mobil tertutup rapat, suasana di dalam kendaraan yang mewah itu mendadak terasa jauh lebih sempit dan pengap. Elio duduk di balik kemudi dengan tatapan lurus ke depan, mencoba memfokuskan pikirannya pada jalanan di depan, namun atmosfer di kursi penumpang benar-benar menguji pertahanannya.
Saat Aratala duduk, gaun mini yang ia kenakan otomatis terangkat, mengekspos kaki jenjangnya yang mulus lebih jauh dari yang seharusnya. Belum lagi bagian atas gaunnya yang sedikit turun, menciptakan pemandangan yang sangat kontras dengan pencahayaan di dalam mobil—menampilkan belahan dada Aratala yang ranum dengan begitu provokatif.
Elio bisa merasakan napasnya tertahan. Ia melirik sekilas ke arah samping, dan otot rahangnya mengetat seketika.
"Aratala," suara Elio terdengar berat, serak, dan penuh peringatan. Ia mencoba mengatur napasnya yang mendadak tidak beraturan. "Apa kau benar-benar tidak punya niat untuk menarik gaun itu ke bawah? Atau kau memang sengaja ingin membuatku membatalkan acara keluarga ini hanya karena aku tidak tahan melihatmu seperti itu?"
Elio memalingkan wajah, mencoba menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang. Ia merasa seperti sedang duduk di samping bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Sementara itu, Aratala hanya menatapnya dengan senyum tipis yang penuh kemenangan, seolah menikmati bagaimana pria yang selalu bersikap dingin itu kini tampak begitu terganggu dan kewalahan menghadapi pesonanya.
"Kenapa harus ditarik?" sahut Aratala dengan nada polos yang dibuat-buat, sambil sengaja menyilangkan kakinya dengan lebih santai. "Ini kan baju untuk ke pantai, Elio. Bukankah kau bilang aku harus tampil mempesona di depan keluargamu?"
Elio hanya bisa menggeram rendah, memukul setir mobil dengan satu tangan untuk melampiaskan frustrasinya. Ia benar-benar harus berjuang keras agar tidak melakukan hal yang akan ia sesali nanti sebelum mereka bahkan sampai di lokasi pertemuan.
🌴🌴🌴
Udah centil bgt ga nih aratala 😚
jangan lupa like yaa🙏🏻😉
aduh mau di apain si cegil jangan kokop pula biar liur najis angel ilang
ko bisa sih Thor angel bebas masuk apa ga ada bodyguard satpam gitu