Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.
Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?
Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keruntuhan Hati Seorang Devan
Setiap sudut Jakarta di bulan Juli terasa begitu menekan, udara gerah yang bercampur dengan polusi jalanan berkumpul jadi satu sehingga membuat siapapun yang berada di luar merasa tidak nyaman.
Di lantai lima gedung perkantoran kawasan Sudirman, pendingin ruangan menyemburkan hawa dingin yang seharusnya mampu menenangkan kepala siapa pun yang bekerja di sana. Namun bagi Devan, hawa dingin itu justru terasa seperti pisau-pisau es kecil yang perlahan menyayat pori-pori kulitnya.
Di atas meja kerjanya yang terbuat dari kayu mahoni gelap, tumpukan berkas laporan analisis pasar kuartal kedua teronggok tak tersentuh. Layar monitor laptopnya menyala terang, menampilkan tabel Excel penuh angka dan grafik berwarna-warni yang biasanya dengan mudah ia lahap dalam hitungan jam. Hari ini, deretan angka-angka itu menjelma menjadi semut-semut hitam yang buram, bergerak acak di matanya Devan.
Tangan kanan Devan memegang sebuah pena premium berujung runcing. Alih-alih membubuhkan tanda tangan pada dokumen persetujuan vendor yang sudah ditunggu divisi logistik sejak pagi, jemarinya justru bergerak membentuk pola tak beraturan di atas selembar kertas kosong. Garis-garis tanpa arti. Sama seperti jiwanya saat ini acak-acakan, patah, dan kehilangan arah.
Laila sudah menikah.
Tiga kata itu berputar seperti kaset rusak di dalam kepalanya, berulang-ulang, tanpa jeda, setiap detik sejak dua hari yang lalu. Kalimat yang awalnya ia kira hanya sebuah mimpi buruk di siang bolong, kini telah menjelma menjadi sebuah realita yang mutlak dan tak terbantahkan.
Wanita yang selama bertahun-tahun ini menjadi tempatnya pulang, wanita yang jemarinya selalu pas dalam genggamannya, kini telah sah secara hukum dan agama menjadi milik pria lain. pria itu bernama Arjuna. Seorang perwira penerbang yang tak pernah Devan kenal sebelumnya, yang tiba-tiba masuk ke dalam kehidupan Laila atas dasar garis takdir dan keputusan keluarga yang tak bisa dilawan.
Devan meletakkan penanya dengan kasar hingga benda itu menggelinding dan jatuh ke lantai karpet. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Gelap. Namun dalam kegelapan yang ia ciptakan sendiri itu, bayangan Laila justru muncul dengan begitu jelas.
Devan bisa mengingat dengan detail bagaimana Laila tersenyum saat mereka menghabiskan akhir pekan di toko buku bekas, bagaimana aroma parfum vanila Laila yang lembut selalu tertinggal di jok mobilnya, dan bagaimana suara Laila malam itu, malam terakhir sebelum Laila sah menjadi istri orang terdengar begitu bergetar menahan tangis.
"Aku terpaksa melangkah sampai pelaminan demi kesehatan Papi. Tapi setelah setahun, begitu kondisi Papi benar-benar stabil dan dia sudah terbiasa melihatku mandiri, aku akan cari celah. Aku akan buat alasan ketidakcocokan yang logis biar kami bisa cerai baik-baik. Selama satu tahun itu, kita harus sabar. Kita backstreet dulu, ya? Tolong jangan menyerah sama aku."
Janji itu. Hanya janji itu yang kini tersisa dalam genggaman Devan. Sebuah janji yang terasa begitu rapuh, namun sekaligus menjadi satu-satunya tali waras yang menahannya agar tidak melompat jatuh ke dalam jurang kegilaan.
Satu tahun. Tiga ratus enam puluh lima hari. Bagi orang lain, mungkin itu hanya putaran waktu yang singkat. Namun bagi Devan yang harus terbangun setiap pagi dengan kesadaran bahwa kekasihnya tidur di bawah atap yang sama dengan pria lain, satu tahun terasa seperti keabadian yang menyiksa.
Ketukan di pintu kaca ruang kerjanya membuyarkan lamunan Devan.
"Mas Devan? Permisi."
Rendra, asisten manajernya, melangkah masuk dengan ragu-ragu. Di tangannya ada sebuah map berwarna biru. Wajah Rendra tampak cemas, sebuah ekspresi yang jarang diperlihatkan pria itu karena Devan biasanya dikenal sebagai atasan yang sangat perfeksionis dan jarang membuat kesalahan.
"Ya, Ren. Ada apa?" Suara Devan terdengar serak, bahkan di telinganya sendiri terdengar asing. Ia berdeham kecil, mencoba mengembalikan wibawanya yang runtuh.
"Ini, Mas soal laporan tender untuk proyek Smart City di Bandung. Pihak direksi meminta berkasnya ditandatangani siang ini karena tenggat waktunya jam dua nanti. Apakah sudah sempat diperiksa?" Rendra bertanya dengan sangat hati-hati.
Devan mengerutkan kening. Proyek Bandung? Ingatannya mendadak kosong. Ia menatap tumpukan berkas di meja dengan tatapan nanar. "Bandung... oh, iya. Sebentar."
Devan menarik map biru yang disodorkan Rendra. Ia membuka lembar pertama. Matanya mencoba membaca untaian kalimat di sana, namun pikirannya justru melayang kembali pada kenyataan bahwa kekasihnya hidup bersama pria lain. Apakah pria itu memperlakukan Laila dengan baik? Apakah Laila menangis semalam? Apakah kado pembatas buku perak yang ia berikan sudah dibuka oleh Laila?
"Mas Devan?" panggilan Rendra kembali memutus benang pikiran Devan yang melantur terlalu jauh.
"Ah, iya. Ini..." Devan mengambil pena dari lantai, lalu dengan cepat membubuhkan tanda tangan di lembar dokumen tanpa benar-benar membacanya. Pikirannya benar-benar mati rasa.
Rendra menerima kembali map tersebut, namun matanya tidak bisa berbohong. Ia menatap Devan dengan pandangan menyelidik. "Mas Devan baik-baik saja? Wajah Mas pucat sekali dari kemarin. Kalau Mas sedang kurang sehat, mungkin bisa pulang lebih awal. Biar sisa rapat sore nanti saya yang handle dengan tim."
Devan memaksakan sebuah senyuman tipis yang terlihat sangat getir di wajahnya yang tirus. "Saya tidak apa-apa, Ren. Kurang tidur saja belakangan ini. Terima kasih. Kamu bisa kembali kerja."
Setelah Rendra keluar dan pintu ruangan kembali tertutup, topeng ketegaran yang baru saja Devan pasang langsung hancur berantakan. Ia mencengkeram rambutnya dengan kedua tangan, menunduk dalam-dalam hingga dahinya menyentuh permukaan meja kayu yang dingin. Air mata yang sejak pagi ia bendung akhirnya menetes juga, membasahi kertas kosong yang tadi ia corat-coret.
Hancur. Kata itu bahkan tidak cukup untuk menggambarkan apa yang tersisa dari dalam dadanya. Rasanya seperti ada sebuah lubang hitam besar yang menganga tepat di jantungnya, menyedot seluruh energi, kebahagiaan, dan semangat hidupnya hingga tak tersisa.
Bagaimana mungkin ia bisa fokus bekerja ketika separuh jiwanya telah direnggut paksa? Bagaimana mungkin ia bisa memikirkan keuntungan perusahaan ketika ia sendiri telah kehilangan hal paling berharga dalam hidupnya?
Setiap kali ia melihat ponselnya yang tergeletak di pojok meja, dadanya berdenyut menyakitkan. Tidak ada lagi pesan singkat di jam makan siang dari Laila yang menanyakan apakah ia sudah makan atau belum. Tidak ada lagi panggilan telepon malam hari yang berisi obrolan random tentang hari-hari mereka.
Ruang obrolan mereka kini membisu. Devan tahu ia tidak boleh menghubungi Laila sembarangan sekarang. Laila berada di bawah pengawasan Ayah dan suaminya sekarang. Salah langkah sedikit saja, posisi Laila bisa terancam, dan Devan tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika ia menjadi penyebab Laila menderita lebih dari ini.
"Satu tahun, La. Aku pegang janji kamu," batin Devan berbisik lirih, mencoba menyuntikkan sedikit kekuatan pada hatinya yang sekarat.
Ia harus kuat. Jika ia hancur di sini, jika ia menyerah dan kehilangan pekerjaannya, maka saat satu tahun itu berakhir dan Laila kembali, apa yang bisa ia berikan untuk wanita itu? Devan harus mempertahankan hidupnya, mempertahankan posisinya, agar ia tetap menjadi tempat bersandar yang kokoh ketika Laila pulang nanti. Tapi Ya Tuhan, menahan beban ini sendirian di tengah riuhnya kota Jakarta terasa begitu membunuh.
Devan bangkit dari kursinya secara tiba-tiba. Ia berjalan menuju jendela kaca besar yang langsung menghadap ke arah jalan raya di bawah sana. Mobil-mobil merayap pelan seperti semut di tengah kemacetan siang hari. Di atas sana, langit Jakarta tampak abu-abu tertutup polusi dan awan mendung yang menggantung rendah.
Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara gemuruh yang samar namun konsisten membelah langit. Suara itu semakin lama semakin keras. Devan mendongak, matanya menangkap siluet sebuah pesawat jet tempur militer yang sedang terbang tinggi, membelah awan menuju arah barat daya. Suara mesin jet itu bergemuruh dahsyat, menggetarkan kaca-kaca jendela ruang kerjanya.
Tubuh Devan menegang. Jantungnya berdegup kencang secara abnormal. Pesawat tempur pangkalan udara. Setiap kali melihat atau mendengar hal yang berbau militer, ingatan Devan langsung terseret pada sosok Arjuna. Apakah pria itu yang sedang menerbangkan pesawat di atas sana? Apakah pria dengan seragam gagah dan pangkat di bahu itu yang sekarang memiliki hak penuh atas Laila?
Rasa cemburu yang teramat sangat, bercampur dengan rasa tidak berdaya, menghantam dada Devan seperti godam berat. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan kuku-kukunya membenam menyakitkan ke telapak tangannya sendiri. Rasa sakit fisik itu ia gunakan untuk mengalihkan rasa sakit di dadanya yang sudah tidak tertahankan lagi.
Ia merasa sangat kerdil. Di hadapan institusi, di hadapan nama besar keluarga, dan di hadapan takdir yang sedang mempermainkannya, ia hanyalah seorang pria kantoran biasa yang mengenakan kemeja necis dan dasi rapi, namun sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk merebut kembali wanita yang dicintainya.
"Tunggu aku satu tahun," Devan menggumamkan kata-kata itu lagi, seperti sebuah mantra pengusir setan. Ia memejamkan mata, membiarkan gemuruh suara pesawat tempur itu menjauh dan perlahan menghilang dari langit Jakarta, meninggalkan dirinya kembali dalam keheningan ruang kerjanya yang dingin dan hampa.
Satu tahun ke depan akan menjadi musim dingin yang paling panjang dan menyiksa dalam hidup Devan. Namun, di antara puing-puing hatinya yang telah hancur lebur, ada satu percikan api kecil yang menolak untuk mati yaitu keyakinan bahwa Laila adalah miliknya, dan satu tahun lagi, pembatas buku perak itu akan menuntun Laila kembali ke pelukannya. Sampai saat itu tiba, Devan bersumpah akan terus berdiri, meski ia harus tertatih dan berdarah-darah di setiap langkahnya.
...Bersambung......